
Setelah naik ke turnamen tingkat kedua, Orin terus membuat dirinya semakin mencolok. Dikarenakan kekuatan anginnya yang luar biasa kuat, aksinya dinilai sangat keren di setiap pertandingan faksi, hasilnya banyak orang yang mulai mengidolakan dirinya. Ia pun mendapatkan julukan sang jawara Kendali Angin.
“Hoi, Ola. Bukankah kau akan pergi untuk mencari anggota? Tingkat ketiga adalah pertandingan antar tim lo. Jika kita naik dan tidak memiliki anggota, apa yang akan terjadi pada kita?” Orin yang selama ini mengurus pertandingan faksinya mengeluh kepada Meiga.
Namun Meiga hanya mengacuhkan dirinya. Bukan berarti dia hanya diam saja selama ini, namun dia masih mengawasi orang-orang yang dijadikannya kandidat untuk timnya. “Oi apa kau mendengarkanku?”
“Huh, kau berisik sekali orin—Orin meneriakinya—Ada 3 orang yang menarik perhatianku. Sekarang aku masih mengamati mereka.” Jelasnya dengan malas. “Hoh, tak disangka kau gerak cepat ya?” Ucap Orin sambil mengelus janggutnya.
“Hadeh, kau ini bisa tidak berhenti menggangguku sehari saja. Pergilah, pertandingan mau dimulai lo.” Meiga kesal karena sifat kekanak-kanakan Orin tersebut. Orinpun tanpa rasa bersalah pergi meninggalkannya dengan raut wajah gembira.
Meiga akhirnya juga pergi untuk mengamati orang yang menarik perhatiannya belakangan ini. Dia pergi ke pusat kota untuk melakukan tugasnya tersebut. Ditengah kota, disebuah taman, seorang badut terlihat sedang mengemis kepada orang-orang yang lewat didepannya.
“Badai akan datang untuk mengubah kehidupanmu.” Kalimat tersebut diucapkan oleh sang badut kepada Meiga.
Semua orang disana hanya menganggapnya sebagai pengemis yang aneh, namun Meiga tidak demikian. Dia merasa ada makna yang begitu besar dibalik kata-kata tersebut. Meigapun mendekati dan mulai bertanya kepada sang badut. “Kalimat itu, apa artinya? Apa yang kau maksud adalah hidupku?” Tanyanya penasaran.
Sang badut itupun menjawab. “Tepat, aku sedang membicarakan hidupmu kedepannya.
Dengan cara yang tidak biasa, kau akan meninggalkan orang-orang terdekatmu. Pemicunya adalah kecemburuan yang akan tumbuh tidak lama lagi.” Meiga termenung atas jawaban sang badut itu. Diapun bertanya kembali kepada sang badut. “Kenapa dalam kata-katamu terdapat keyakinan yang begitu kuat?”
Sang badutpun tersenyum mendengarnya. Tapi tanpa menjawab pertanyaan Meiga, dia mengatakan sesuatu yang begitu mengejutkan.
“Dalam beberapa menit kedepan kau akan memberiku sebuah makanan. Lalu kau akan berkata, jadilah rekan satu timku di turnamen tingkat ketiga.” Hanya dengan jawaban itu, Meiga akhirnya sedikit mengerti tentang jawaban atas pertanyaannya.
“Kau bisa melihat masa depan?” tanya Meiga memastikan. Sang badutpun menjawab. “Hanya ada beberapa kejadian yang bisa kulihat dimasa depan. Tapi semuanya pasti akan benar-benar terjadi.” Dalam jawabanya itu, Meiga juga ingin memastikan beberapa hal kepada sang badut.
“Jadi itu adalah salah satu skill pasif milikmu, apa ada kriteria khusus untuk mengaktifkannya?”
“Ini benar-benar skill yang tidak berguna. Hanyalah skill pasif yang sama sekali tidak memiliki kriteria pengaktifan. Beberapa mimpi tiba-tiba selalu muncul dengan sendirinya dikepalaku, dan saat aku mengatakan kepada orang-orang, tidak pernah ada yang mempercayainya.” Jelas sang badut. Lalu Meiga menanyakan jawaban atas pengelihatannya tadi.
“Lalu, apakah kau akan bergabung dengan timku? Kau sudah melihatnya dari tadi bukan, seharusnya kau sudah memiliki jawaban saat ini.” Badut itu tertawa lepas dihadapan Meiga. “Kau ini benar-benar orang yang aneh. Kenapa kau mau repot-repot merekrut orang sepertiku?” tanya badut itu kembali. “Sejauh ini penilaianku tentang seseorang tidaklah pernah salah. Kau memiliki sesuatu yang begitu spesial di dalam dirimu.
__ADS_1
Mulai dari tungku roh, dan energi besar yang begitu asing tersebut. Aku bisa melihatnya walaupun secara samar.” Jawab Meiga dengan santainya. Badut itu kembali tertawa, tidak disangka sesuatu yang selama ini bisa disembunyikan dirinya dengan sempurna bisa dilihat dengan mudah oleh Meiga.
“Lalu apakah kau harus memaksaku untuk bertanya kembali?” badut itupun mulai berdiri dan menepuk pundak Meiga. “Baiklah, kurasa aku tidak akan menang darimu nona.” Sang badut memberikan jawabannya. Diapun dalam sekejab mengubah penampilannya menjadi begitu keren.
Ternyata yang selama ini dia perlihatkan hanyalah wujud palsunya. “Hee, jadi itu penampilanmu yang sesungguhnya.” Ujar Meiga.
Badut itu mengangguk menjawabnya.
“Perkenalkan, namaku Narta. Seorang petualang dari guild Benang Surya yang ada jauh di utara kerajaan ini. Ngomong-ngomong namamu?” Meiga memperkenalkan dirinya sebagai Ola. Dia juga tidak lupa mengingatkan Narta kalau dia seorang laki-laki dan bukan perempuan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Narta memastikan. “Seperti dirimu, aku telah mengawasi dua orang yang menarik perhatianku. Setelah ini aku berniat untuk merekrut mereka.” Jelas Meiga. Narta yang tertarik dengan hal itu langsung mengajak Meiga untuk segera menemui mereka.
“Ngomong-ngomong apa kau tahu tempat mereka berada saat ini?” Meiga bertanya. “Skill pasifku tidak aktif setiap saat sehingga aku bisa melihat seluruh masa depan.” Narta menegaskan. Meiga akhirnya mengajaknya pergi ke suatu bar didekat sana. Disanalah biasanya dua orang tersebut berada. “Hei bukankah kau mirip penguntit? Sampai tahu dimana mereka berada disetiap waktu.”
Meiga hanya tertawa jijik saat merasa bahwa itu ada benarnya. Merekapun melihat bahwa dua orang itu ada ditempat tersebut. “Bolehkah kami duduk disini?” Meiga meminta izin kepada dua orang tersebut. “Nona, kau terlihat begitu cantik lo. Lalu tuan ini adalah kekasihmu?” orang itu bertanya kepada Meiga.
“Dasar bodoh, itu tidak sopan lo!” tegur temannya. Mereka adalah Dedy dan Anie, seorang petualang dari daerah utara sama seperti Narta. Keduanya memiliki kemampuan yang tinggi, namun tidak ikut serta dalam turnamen ini. Setelah menegur Dedy, Anie pun meminta maaf kepada Meiga.
Namun itu bukannya menyelesaikan masalah, tapi malah memperburuknya. Anis merasa frustrasi karena penampilannya bahkan kalah telak oleh seorang lelaki. Saat itulah Meiga mulai membuka topik utamanya. “Sebenarnya ada sebuah alasan kenapa kami menemui kalian. Aku hanya ingin mengajak kalian bergabung dalam faksiku di turnamen tingkat ketiga.”
Suasana tiba-tiba berubah. Mereka berdua mulai menanggapi ini dengan serius. “Kenapa kau memilih kami untuk direkrut? Bahkan kami tidak pernah mengikuti turnamen tingkat pertama.” Jelas Dedy. “Aku tidak tahu apa alasan kalian tidak mengikuti turnamen tersebut.
Tapi tujuanku merekrut kalian hanya karena tertarik dengan kemampuan unik yang kalian miliki.” Meiga menegaskan kepada dua orang tersebut. Dedy tertawa mendengar jawaban Meiga. “Kemampuan unik? Memangnya apa yang bisa kau lihat didalamnya?” Tanya Dedy dengan nada menantang.
“Entahlah. Aku tidak menahu soal itu, tapi justru karena hal itu aku semakin ingin merekrut kalian.” Jawab Meiga dengan ekspresi senang. “Kalau kau bisa mengalahkan kami, maka kami akan dengan senang hati mengikuti dirimu.” Jawab Dedy dengan tegas. Meiga tanpa pikir panjang langsung menyetujui tantangannya.
Meiga pun mengajak mereka ke kuil lama untuk menghadapi tantangan tersebut. Sesampainya disana Narta mengajukan dirinya untuk menghadapi dua orang tersebut. “Apa kau yakin? Lalu bagaimana dengan kalian, apa kalian menyetujuinya?” tanya Meiga memastikan. “Hah, kau ingin melakukan pertarungan dua lawan satu. Bukankah itu terlalu sombong?”
“Tidak masalah, apa kalian keberatan?” Narta membalasnya dengan pertanyaan. Mereka akhirnya sepakat dan memulai pertarungan. Dedy langsung membuka menggunakan unique skillnya Berserker untuk menyerang Narta. Dibelakangnya Anie mendukung Dedy dengan skill dari role marksman miliknya yang menggunakan busur x sebagai senjatanya.
Sebuah kombinasi serangan yang begitu kompak terus dikeluarkan oleh mereka. Hanya dengan melihatnya sudah sangat tampak bahwa mereka telah melatih kerja samanya dalam waktu yang lama. Namun serangan-serangan mereka sama sekali tidak dapat menggores Narta. Sebuah gumpalan kawat keluar dari segala arah untuk menyerang duo tersebut. Sebuah skill yang sangat tidak normal itulah yang semua orang pikirkan.
__ADS_1
Bahkan Meiga sama sekali tidak menyangka bahwa ada kemampuan tidak jelas seperti itu di dunia ini. Walaupun serangan dari Narta ini begitu sederhana, tapi pola serangan yang dia gunakan sama sekali tidak bisa ditebak. Tidak hanya itu, kerusakan yang diberikan bahkan bisa dibilang sangatlah besar. Hanya dengan menggores bisa membuat mereka terluka seperti tersayat pedang.
Serangannya juga bisa membatasi lawan seperti Chain Shackles milik Meiga walaupun bentuknya agak berantakan. Dari apa yang tunjukkan dipertarungan ini hanya ada satu kesimpulan, Narta adalah individu yang begitu kuat. Bahkan dapat menimbulkan kesan mengerikan. Duo Dedy dan Anie tidaklah lemah, namun dia bisa dengan mudahnya mengatasi mereka.
Lalu dalam pertarungan itu, semua kemampuan yang ditunjukkannya hanyalah sebuah kemampuan dasar miliknya. “Oi, apa aku telah merekrut salah satu monster di dunia ini?” Gumam Meiga dengan heran. “Hahaha, bukan seperti itu Ola. Kemampuanku memang spesial, namun jika lawannya adalah dirimu tentunya aku akan kalah telak.” Narta menjelaskan.
Duo itu merasa heran kepada Meiga. Jika Narta yang mengalahkan mereka secara instan mengaku akan kalah telak jika melawan Meiga, lantas sekuat apa Meiga tersebut. Disisi lain Meiga juga menyadarinya, dia akan menang bukan karena dia sangat kuat, melainkan skillnya adalah lawan alami dari Narta.
“Kalau begitu seperti yang kami janjikan, kami akan bergabung denganmu di turnamen.” Meiga menyambut mereka dengan hangat dan mengajaknya untuk melihat salah satu anggotanya yang sedang berjuang di Coloseum.
“Dia adalah Orin, salah satu kekuatan utama tim kita. Lalu satu orang lagi adalah Zenin, seorang pendukung. Dia juga yang akan menjadi penyusun strategi tim kita.” Jelas Meiga. “Lalu si Orin ini? Apakah tidak terlalu kejam membiarkannya bertarung disetiap pertandingan?” Anie yang merasa heran pun berinisiatif untuk bertanya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan orang itu. Lagipula dia hanyalah seorang maniak tempur di tim kita. Bahkan saat dia sudah masuk ke arena mungkin dia akan lupa tentang tujuannya ikut turnamen.” Mereka tertawa sinis mendengar jawaban itu. “Kalau begitu dia pasti baik-baik saja ya.”
Pertandingan dari Orinpun telah berakhir dengan kemenangan penuh di hari tersebut. Dia juga kembali ke ruangan dan menyapa rekan-rekan barunya. Tentunya Anie lah yang menjadi tujuan pertama. “Hei, mereka orang-orang yang kau rekrut? Oh tuhan,tak kusangka kau akan menghadirkan seorang dewi di tim kami.”
Ucapnya sambil memegang kedua tangan Anie.
Orang ini benar-benar aneh, hanya itu yang bisa mereka simpulkan dari tingkah konyol Orin tersebut. “Karena kau sudah kembali aku akan pergi dulu ke suatu tempat. Kalian jika membutuhkan sesuatu tinggal bilang saja kepada Orin.” Meiga pun pergi meninggalkan mereka berempat.
**
Untuk menguatkan senjata harusnya ada beberapa kristal sihir yang dijual disini.
Brak!
Di sebuah toko perlengkapan Meiga tidak sengaja menabrak seorang gadis berambut hitam pendek yang lewat dibelakangnya. “Ah maafkan aku.” Ucap Meiga yang sedikit kaget. “Tidak masalah.” Jawab gadis itu singkat. Saat sang gadis hendak pergi, Meiga melihat suatu benda dijatuhkan olehnya. “Ini, sepertinya aku pernah melihatnya disuatu tempat?—Dia ingat harus mengembalikan benda tersebut—Nona, barangmu terjatuh.”
Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Meiga. Dia mengambil benda yang dijatuhkannya dan kembali mengucapkan terima kasih kepada Meiga. Suaranya begitu dingin membuatnya nampak begitu misterius. “Kalau begitu sampai jumpa.” Pamit gadis tersebut. Meiga hanya mengangguk saat menanggapinya.
Lambang pada benda itu, entah kenapa terasa begitu familiar bagiku? Apa mungkin hanya perasaanku saja ya.
__ADS_1