Creator

Creator
Serangan yang Menghancurkan Jiwa


__ADS_3

Tanpa mengerti bahaya sebenarnya dibalik malaikat cacat, banyak diantara mereka yang mulai meremehkan makhluk tersebut. ‘Makhluk-makhluk ini, walaupun mereka lemah tapi jumlahnya terlalu banyak.’ Kata-kata seperti ini banyak dikatakan oleh mereka para pasukan kerajaan. Namun sebenarnya, semakin banyak yang mati dari mereka maka akan semakin kuat yang tersisa.


Itu karena mereka memiliki sebuah kekuatan yang cukup unik, soul eater. Dengan memakan jiwa para temannya yang telah mati, mereka secara perlahan bisa berevolusi. Meski pertumbuhannya tidak sebesar saat mendapat mayat manusia, tapi kekuatan mereka cukup untuk memporak-porandakan suatu kerajaan dengan jumlahnya yang banyak.


Arrrgghh...!!


Banyak dari para orang yang meremehkan makhluk itu mulai ditindas balik oleh mereka. “Apa-apaan ini.., sebelumnya mereka tidak sekuat ini loh! Bagaimana bisa mereka bisa berubah secara drastis?” teriak salah seorang pasukan kerajaan. Itu juga mulai membuat panik banyak orang.


“Gawat, orang-orang mulai panik dengan situasi saat ini!” Ucap Lyn dalam hati.


Dia dengan cepat mulai mengambil tindakan untuk menenangkan mereka. “Semuanya dengarkan, bentuk kembali formasi kalian! Prioritas kita adalah menyelamatkan penduduk, jika kita para pasukan kerajaan juga ikut panik, maka tidak ada masa depan bagi kerajaan!”


Mendengar perintah itu, mereka mulai kembali pada formasinya masing-masing untuk menghadapi para makhluk tersebut. Namun disisi lain, Lyn juga menyadari keanehan dari mereka. “Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Padahal sebelumnya mereka bisa diatasi dengan mudah oleh para pasukan, tapi semakin berkurang mereka semakin kuat pula mereka.”


Saat itulah salah seorang wakil komandan balai penyerang datang kepadanya. “Lyn..,” orang itu tidak lain adalah Kohei. “Kohei.., apa yang kau lakukan disini?” tanya Lyn heran. Tentunya dia tidak datang kesana tanpa alasan khusus, dia yang telah mengetahui kebenaran di balik kekuatan makhluk-makhluk tersebut pergi ke setiap tempat untuk memperingatkan para pasukan.


“Kami telah berhasil mengidentifikasi keanehan dari mereka.” Katanya dengan tenang. “Apa katamu? Cepat beritahu aku!” Lyn memintanya untuk bertindak cepat. “Semakin banyak dari mereka yang terbunuh maka semakin kuat yang tersisa. Ini adalah salah satu kemampuan dari skill mereka, Soul Eater. Dengan melahap jiwa-jiwa dari rekannya yang telah tewas, mereka membuat dirinya berevolusi.”


“Soul Eater ya? Ini adalah sesuatu yang merepotkan. Lalu apa kau telah menemukan cara terbaik untuk menghabisi mereka?”


“Dari beberapa sumber yang kudengar, mereka sepertinya sangat tertarik dengan istana kerajaan. Jadi sebaiknya kita mengumpulkan mereka kesana dan menghabisinya dalam satu serangan.”


“Lalu, apa kau tahu serangan yang cukup kuat untuk memusnahkan mereka dalam satu serangan?” tanya Lyn memastikan.


“Kurasa ada satu sihir suci yang bisa mewujudkan hal itu, Brakage. Jika kita menggunakannya dengan seluruh energi spiritual dari pasukan yang ada, kurasa itu bukanlah hal yang mustahil.”


“Tapi pasukan yang memiliki atribut suci sangat terbatas bukan?”


“Itu benar, karena itu aku menuju ke setiap titik untuk mengumpulkan seluruh pasukan dari setiap militer bagian yang memilikinya.”


“Tunggu!” sebuah suara terdengar dikepala mereka, itu membuat mereka cukup terkejut.


“Atribut suci tidaklah mempan pada mereka. Sebelumnya aku bertemu Luna saat melawan mereka, tapi hampir setiap kekuatannya tidak bisa digunakan untuk melawan mereka. Para penyerang yang ada diistana sebelumnya juga mengatakan bahwa makhluk ini adalah seekor malaikat cacat. Walaupun dengan wujud mereka yang begitu buruk, jangan lupa kalau mereka tetap bukan sebuah makhluk kegelapan.


Jadi jika ingin menghancurkan mereka dengan sekali serang, maka gunakan sebuah serangan yang bisa membunuh sebuah jiwa!” itu adalah Raven yang berbicara dengan mereka lewat telepati. “Malaikat cacat katamu, apa kau serius dengan ini Raven?” kali ini sebuah bahaya yang luar biasa mulai dirasakan oleh Kohei.


“Memangnya aku punya waktu untuk bercanda denganmu bocah? Lagipula sekarang aku juga sedang menghadapi ribuan dari mereka sendirian didalam medanku.”


“Oi, Raven! Apa kau tidak tahu ancaman dari makhluk itu?” tanya Kohei kesal.


“Aku tahu itu. Karena itu aku menahan mereka dalam medan milikku. Selain itu, setelah mereka berevolusi sampai tahap tertentu mereka akan mulai menyatu satu sama lain. Dari yang kutahu saat ini, kekuatan mereka mungkin setara dengan roh tingkat legendaris!”


“Apa katamu! Jika itu benar maka kita harus segera memberitahu seluruh militer bagian.”


“Aku akan menyerahkan hal itu padamu Kohei. Saat ini aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk itu.” Raven menutup telepatinya setelah meninggalkan kata-kata tersebut.


Disana Lyn dan Kohei juga bergegas untuk mencari langkah selanjutnya untuk melawan mereka. “Lyn, aku serahkan yang disini kepadamu. Aku akan pergi ke balai perlindungan untuk meminta mereka mengatasi masalah ini.”


“Balai Perlindungan.., memangnya mereka bisa apa dalam hal seperti ini?”


“kau tidak tahu, mereka adalah orang-orang yang bisa menemui sang dewa secara langsung, tentunya mereka akan dapat mencari jalan keluar dalam masalah ini.”


“Baiklah jika memang seperti itu.”Lyn yang ditinggal pergi oleh Kohei mulai kembali membantu pasukannya.


“Jika terus seperti ini, maka kerugian yang kami alami akan semakin besar.” Pikir Lyn. Diapun memerintahkan pasukannya untuk mengambil jarak dari makhluk tersebut. “Gunakan sihir penghalang untuk mengurung mereka, lalu bantu aku dengan sihir pendukung kalian!” Lyn memerintahkan. Membiarkan mereka turun tangan langsung dalam situasi saat ini hanya akan memperbanyak jumlah korban, karena itu Lyn mencoba apa yang dilakukan Raven. Tapi berbeda dengan Raven, Lyn kali ini tidak benar-benar bertarung sendirian. Masih banyak pasukannya yang mendukungnya dari luar penghalang.


Fuuuuu...,

__ADS_1


Lyn menghela nafas mempersiapkan dirinya. “Kali ini akan kuhabisi kalian dengan cepat, Freeze!” Dalam sekejab seluruh yang ada dalam penghalang itu menjadi bongkahan es. Itu adalah kemampuan pamungkas miliknya, hanya dengan beberapa persen dari kekuatan sejatinya bisa dengan mudah untuk melenyapkan ribuan dari makhluk tersebut.


“Mustahil.., hanya dengan satu serangan langsung memusnahkan mereka dalam sekejab! Jadi inikah kekuatan dari wakil komandan yang konon memiliki kekuatan setara dengan komandan Raven, sungguh luar biasa.” Ucap salah seorang pasukan dengan begitu takjub.


Itu adalah kemampuan yang begitu hebat, namun jika digunakan dengan kekuatan penuh, itu juga bisa membahayakan penggunanya. Dengan pendinginan suhu yang begitu drastis, tentunya juga akan berefek pada diri pengguna. Jadi selama Lyn masih manusia, maka dia tidak akan bisa menggunakan kekuatan sejati dari kemampuannya tersebut karena bisa merenggut nyawanya sendiri.


“Sudah kuduga teknik ini akan langsung menguras tenagaku!” keluh Lyn setelah menghabisi seluruh malaikat cacat yang ada dihadapannya.


**


Dengan bantuan yang begitu kuat tadi, para pasukan mulai bergerak untuk melindungi para penduduk sipil. Tapi tidak dengan mereka berempat, karena tahu kalau banyak dari pasukan yang mulai bergerak untuk melindungi para penduduk, mereka bergerak untuk mencari temannya. Mereka berempat tidak lain adalah Orin, Narta, Anie dan Dedy.


Tapi saat itu juga Narta tiba-tiba mendapatkan sebuah pengelihatan masa depan yang begitu mengerikan. Diapun langsung mengingatkan teman-temannya. “Semuanya dengarkan aku, sebentar lagi sebuah pos perlindungan disekitar sini akan dimusnahkan oleh makhluk menjijikkan itu. Tingkat kekuatan dari makhluk ini juga berada ditingkat yang benar-benar berbeda dengan yang pernah kita jumpai sebelumnya. Meski begitu apa kalian akan mencari Ola?”


Pertanyaan itu membuat semua orang mulai bimbang. Mereka benar-benar mengkhawatirkan rekannya saat ini, tapi mereka juga punya kewajiban untuk melindungi para penduduk sipil. “Aku benar-benar mengkhawatirkan Ola saat ini. Tapi sebelumnya aku telah memutuskan untuk percaya kepadanya, karena itu aku akan pergi untuk menyelamatkan orang-orang di pos itu. Bagaimana dengan kalian?” Orin memastikan.


Mereka ternyata juga ikut dengannya, jika situasinya memang segenting itu maka bertindak dengan berkelompok akan mengurangi tingkat bahaya yang ada. “Narta, dimana tepatnya letak pos tersebut?” tanya Orin yang ingin segera bergegas.


“Tempat yang memiliki tugu air mancur ditengah pemukiman. Tempat itu juga dikelilingi oleh gedung-gedung yang cukup tinggi di sekelilingnya.” Narta menjelaskan apa yang ada dalam pengelihatannya.


Namun semua orang itu tidak pernah melihat seluruh tempat dikota yang memiliki gambaran seperti itu. “Narta kau serius kan mengatakan ini?” Dedy bertanya dengan nada meragukan. Itu juga membuat Narta tidak enak saat mendengarnya. Merekapun mulai mendebatkan hal tersebut. “Kalian tenanglah! Aku merasa Narta tidaklah salah.” Orin mencoba menengahi mereka.


“Orin, jika kau berkata seperti itu tentunya kau tahu tempatnya kan. Tapi kenapa kau bahkan tidak bisa mengingatnya?” Tapi Dedy yang telah kehilangan ketenangan juga mulai mengolok-olok dirinya.


“Tidak bisa mengingatnya? Ah itu dia, tempat ini bukan berada di tengah kota, melainkan di dalam akademi Meeden.”


“Akademi katamu? Kalau begitu ayo cepat,”—Narta mulai bergerak dan diikuti oleh ketiganya—“terakhir kali kita kesana hanya ada kepala akademi yang menjaga tempat itu. Walaupun ada beberapa pasukan yang datang untuk membantu evakuasi, firasatku tetap tidak enak untuk yang satu ini.”


“Kau benar. Selain itu, jika dilihat dari penyebaran pasukan, kelihatannya mereka lebih mengarah ke titik munculnya makhluk itu. Sedangkan letak akademi yang cukup jauh untuk dijangkau mereka dengan cepat, tentunya hanya akan kedatangan sedikit dari tim evakuasi.” Anie menambahkan.


Narta akhirnya memutuskan untuk mengajak ketiganya berpencar untuk mencari seseorang yang tersisa. Berlarian melewati lorong, memasuki setiap sudut kelas, bahkan membongkar reruntuhan telah mereka lakukan, namun sampai mereka bertemu disatu titik setelah penelusuran, disana sama sekali tidak ditemukan adanya sebuah tanda kematian.


Normalnya mereka merasa lega dengan hal tersebut, tapi mereka justru merasa begitu janggal dengan situasinya. Saat itu Dedy pun mengajukan diri untuk mencoba melacak mereka dengan kemampuannya yang tidak lain adalah transformasi manusia batu. Dengan skillnya tersebut, sebuah tambahan atribut berupa naluri binatang buas bisa digunakan olehnya.


“Bagaimana kalau kita mencoba mencari tahu makhluk yang menghancurkan tempat ini? Dengan kemampuan transformasi milikku kurasa itu akan berhasil.”


“Cepat lakukan! Masih ada sesuatu yang begitu mengganjal dalam hal ini, pakai segala cara untuk menemukan musuh maupun rekan yang ada disini.” Jelas Orin yang sudah tidak bisa lagi menahan kekhawatirannya.


“Baiklah. Kalau begitu, keluarlah Rock! Transformasi mode tempur, Rock Man!” Kulit dari Dedy secara cepat mulai mengeras setelah bersatu dengan rohnya. Sebilah kapak di masing-masing tangan muncul sebagai senjata, kulit keras dari batu sebagai zirah, dan insting yang tajam bagai binatang buas, ini adalah kemampuan terkuat yang dimiliki olehnya.


Dengan itu, Dedypun mulai mencoba mengalir dengan hawa area sekitar. Seperti menyatu dengan alam, dia mencari keberadaan dari sebuah wujud ancaman. Hampir diseluruh wilayah diakademi tidak ada sesuatu yang aneh, tapi saat dia sampai disuatu tempat, seketika bulu kuduknya langsung berdiri. “Aku merasa kita tidak boleh menyinggung makhluk ini!” Dedy mengatakan dengan penuh ketakutan diwajahnya.


“Dedy.., apa kau menemukan sesuatu?”


“Ya.., sesuatu yang jauh dari kemampuan nalar kita! Aku hanya merasa akan mati jika harus pergi menghadapinya!” Dedy menegaskan.


“Meskipun begitu, kita harus pergi untuk mencegahnya melakukan hal yang lebih buruk dari ini.” Meski tahu akan posisinya, Orin tetap bersikeras untuk mengajak mereka mendatangi makhluk tersebut. Mereka bertiga yang awalnya kurang yakin pada akhirnya juga menyetujuinya. Saat sudah dekat dengan tempat yang dituju, mereka baru mulai menyadari ada sesuatu yang aneh ditempat tersebut.


“Apa kalian merasakannya?” tanya Dedy yang merasa yakin akan terjadinya hal buruk disana.


Mereka menjawab ‘iya’ dengan serempak. Apa yang dirasakan dalam jarak itu bukan hanya aura kuat dari makhluk itu, tapi ada satu aura lagi yang hadir disana. Auranya memang cukup kuat, tapi terasa bahwa kondisi dari orang itu tidaklah baik. Saat itulah mereka melihatnya, sosok dari kepala akademi yang telah tewas ditangan makhluk tersebut.


Mereka tersentak saat menyaksikan hal tersebut secara langsung, tapi hal yang lebih mengerikan baru akan dimulai. Setelah membunuh kepala akademi, makhluk itu mulai menusuk tubuhnya hingga darahnya bercucuran. Makhluk itupun menyerap kering kepala akademi tanpa menyisakan secuil daging dan setetes darahpun. Saat itu mereka akhirnya mulai menyadari jawaban dari kejanggalan yang dirasakan sebelumnya.


“Hahahaha, jadi begitu ya. Pantas aku merasa aneh, bagaimana bisa dengan kehancuran seperti ini tidak ada korban jiwa.” Ucap Orin yang telah hilang ketenangan.


“Tak kusangka ternyata itu yang dia lakukan. Menyerap orang tanpa menyisakan sedikit dari tubuh maupun jiwanya. Sungguh mengesalkan!” Narta yang awalnya mencoba tetap tenang juga mulai kesal terhadapnya.

__ADS_1


Disamping itu, Dedy dan Anie juga telah kehilangan rasa takutnya karena amarah mereka yang mulai meluap. Sebagai petualang, walaupun kematian adalah hal biasa, tapi jika membunuh seseorang tanpa menyisakan apapun itu sangat kelewatan.


Akan kubunuh dia..!! Ucap mereka bersamaan.


Tanpa pikir panjang keempatnya mulai menggunakan kekuatan penuh untuk melawannya. “Bangkitlah wahai roh angin tingkat tinggi, Ri Gaoithe! Pinjamkan aku kekuatanmu. Mode tempur Gaoth an Scriosta!” Sebuah zirah yang begitu kokoh tercipta dari kekuatan spiritual roh milik Orin, dengan sepasang sayap yang memiliki 4 bilah pedang angin disetiap bagiannya.


“Wahai wujud asli dari senjataku, bangunlah dan habisi seluruh musuhku! X-Bow.” Anie juga menggunakan seluruh kemampuan terkuat yang dimiliki olehnya untuk melawan makhluk dihadapannya tersebut. Sebuah busur x yang begitu besar muncul entah darimana, dan senjata itu bisa menyerang tanpa perlu dikendalikan.


“Jika kau sudah mengeluarkan itu, berarti ini adalah pertaruhan yang begitu besar.” Dedy berdiri didepan ketiganya bersiap untuk menjadi tameng hidup bagi mereka.


“Makhluk seburuk dirimu bisa memiliki sebuah atribut suci, jangan bercanda!” Dalam waktu singkat kegelapan telah menyelimuti tubuh seorang Narta. Sebelumnya dia tidak pernah sampai terpaksa untuk menggunakannya, sebuah kekuatan yang amat dibenci oleh dunia ini, namun kali ini dia tidak punya pilihan lain. “Curse Skill, Mortality!” itu adalah sebuah kekuatan yang sangat besar dari sebuah kutukan yang bahkan kemampuannya bisa membunuh seorang makhluk spiritual tingkat menengah hanya dengan sekali sentuh.


ARRRGGGHHH..!!!


Menyadari bahaya akan kehadiran mereka, makhluk itu mulai bergerak menyerang. "Bunuh!" Dengan serempak mereka mulai melawan dengan kekuatan penuh.


**


Dengan mengorbankan segala yang dimilikinya, gadis itu melawan makhluk tingkat mitos itu sendirian tanpa rasa takut sedikitpun. Dia mengumpulkan seluruh kekuatan dalam pedangnya dan menyerang makhluk itu tanpa henti, tak perduli tubuhnya robek terkena cakar yang amat tajam ataupun tulangnya patah karena pukulan yang begitu keras, dia tetap berdiri pada keyakinannya.


“Masih belum cukup! Lebih cepat,”—Luna menebaskan pedangnya berturut-turut dengan kecepatan tinggi—“Sedikit lagi aku bisa menghabisinya!” Serangan berturut-turut yang dilakukan oleh Luna juga mulai membuat makhluk tersebut tidak bisa berkutik.


“Ughh..!” Tapi hasilnya seperti fakta yang ada, Luna memuntahkan darah dari mulutnya. Selama dia masih manusia tubuhnya tidak akan kuat untuk menahan kecepatan dari gerakan tersebut. 100 kali sayatan tanpa henti dalam satu menit, membuat tubuhnya perlahan mulai rusak dengan sendirinya. “Sudah batasnya ya? Hahahaha.., padahal sedikit lagi aku bisa menghabisinya, tapi kenapa! Kenapa hal seperti ini harus terjadi padaku lebih awal?” Disana Luna mulai kehilangan tenaga untuk berdiri lagi.


Disisi lain makhluk itu mulai beregenerasi dan mulai bangkit kembali. “Kurang beberapa serangan lagi aku bisa menghabisinya, sebelum dia bangkit kembali aku harus cepat melakukannya!” Luna memaksakan dirinya untuk berjuang sekuat tenaga, meski dengan tubuh yang berlumuran darah karena Luna sayatan, dan beberapa tulang yang telah patah karena pukulan, dia tetap berusaha bangkit dari tempatnya. “Jika menahan rasa sakit saja tidak bisa, maka seumur hidup aku tidak akan pernah bisa mengalahkannya!” Ucapnya lemas dan gemetaran karena lukanya yang begitu parah.


Namun makhluk itu menyerang Luna dengan kondisinya yang masih belum pulih total. Akibatnya dengan pasrah Luna menerima serangan itu dengan tubuhnya. “Apakah aku hanya sampai sini saja? Apa aku akan mati disini?” Kesadarannya juga mulai menghilang setelah serangan itu.


Lalu dalam sebuah tempat yang gelap, seseorang mengulurkan tangannya untuk menyelamatkan hidupnya. “Wajah itu, lalu rambut dan mata itu, apakah kau Meiga?"–Sosok yang ada dihadapannya hanya tersenyum saat Luna bertanya kepadanya—"Kenapa kau tidak kembali padaku jika kau selamat dari insiden itu?


Jawablah aku Meiga!” Luna bersikeras untuk menyampaikan perasaannya pada sosok tersebut. Namun dia sama sekali tidak dapat mendengarkan dirinya, itu karena Meiga yang dilihat Luna saat ini bukanlah Meiga saat ini melainkan hanya ingatan masa kecilnya.


Saat itulah sebuah sosok dari Meiga setelah dewasa muncul dihadapannya. “Ola.., bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Luna tanpa sadar.


“Berjuanglah Luna, aku yakin bahwa kau pasti bisa mengalahkannya. Apapun yang terjadi padamu, aku akan selalu ada dipihakmu!” suara yang begitu familiar itu mulai menenangkan hati Luna. “Sudah kuduga kau adalah Meiga.”—Luna mulai meneteskan air matanya—“Sudah bertahun-tahun lamanya aku menunggumu, tapi kenapa kau malah menyembunyikan identitasmu saat bertemu denganku?”


“Itu tidak benar loh Luna! Seberapa pintar aku menyembunyikan identitas, kau pasti langsung tahu kan kalau Ola adalah aku. Hanya dengan mengetahui kalau aku masih ada dalam hatimu saja sudah cukup bagiku.”


Dengan rasa rindu yang selama ini dipendamnya, Luna mulai memeluk sosok Meiga dalam kegelapan itu. “Sekarang bangkitlah Luna, aku yakin kau akan bisa menghabisi makhluk itu. Aku pernah berjanji akan selalu mengawasimu kan suatu saat nanti, dan sekaranglah saatnya. Apapun yang terjadi padamu setelah ini, akulah yang akan membantu dirimu untuk menanggung semua itu!” Dengan ucapan dari sosok Meiga yang begitu mendukungnya, Lunapun mulai bangkit dan mendapatkan kembali kesadarannya. Disisi lain sosok Meiga telah menghilang dari sisinya.


Luna pun sadar bahwa apa yang sebelumnya dia lihat hanyalah khayalan di alam bawa sadarnya.


“Meiga, teruslah perhatikan diriku, demi mencegah seseorang mengalami hal yang sama seperti kita waktu itu, aku akan melakukan apapun untuk mencegahnya. Kuyakin kau juga akan melakukan hal ini jika ada dalam posisiku, karena itu apapun yang terjadi padaku setelah ini, kuharap kau akan bisa merelakannya ” Sebuah kekuatan yang terbentuk dari energi kehidupan Luna mulai terkumpul pada pedangnya. Kali ini Luna benar-benar berniat menggunakan tenaga dan seluruh energi kehidupannya yang tersisa untuk menghabisi makhluk tersebut.



“Ini adalah kekuatan terakhir sekaligus seluruh perasaanku kepadanya. Kuharap kau akan menerimanya tanpa perlawanan,”—Luna mulai terbayang-bayang akan beberapa kenangan indah dimasa lalu—“Matilah, God’s Punishment!”


Grrrhhh..!!!


Sebuah tebasan dengan kekuatan penuh diarahkan pada makhluk tersebut, sebuah ledakan yang sangat besarpun terjadi malam itu. Selain itu, tak disangka ternyata serangan tersebut berhasil membuatnya terkikis habis dan mulai lenyap secara perlahan dihadapan Luna. Disisi lain Luna juga langsung terkapar karena efek dari serangan terakhirnya. Itu adalah serangan yang sangat kuat bahkan bisa langsung membunuh tubuh fisik maupun spiritual lawannya, namun resiko yang didapat juga tidak kalah besar. Dalam serangan itu, Luna harus menggunakan seluruh energi kehidupan miliknya untuk memaksimalkan serangannya. Hasilnya, mustikanya mulai hancur akibat efek samping dari serangan tersebut.


“Meiga, kuharap kau tidak akan larut dalam kesedihan setelah mengerti akhir dariku. Lalu kuharap perasaan ini bisa tersampaikan kepadamu, kaulah orang yang telah membuatku bisa bertahan sampai detik ini. Kau juga satu-satunya orang yang kucinta, karena itu aku minta padamu, jangan lupakan kenangan tentangku selama ini.”


Crack..!!


Saat itu, kesadaran Luna menghilang bersamaan dengan pecahnya pedang dan jiwa yang tertanam didalamnya, dan sejak saat itupun Luna Luminaries tidak pernah ada lagi didunia ini.

__ADS_1


__ADS_2