Creator

Creator
Jebakan, 'Ancaman Fear Exists'


__ADS_3

Sesaat setelah pasukan utama manusia masuk kedalam lembah yang ada dalam jalur selatan, tiba-tiba banyak sekali peluru sihir yang melesat kearah mereka. Para pasukan dari divisi pertahanan dengan cepat langsung merespon serangan itu dengan menciptakan sihir perlindungan tingkat tinggi keseluruh wilayah yang ditempati oleh para pasukan.


“Sudah kuduga hal ini akan terjadi.” Gumam salah seorang tetua balai pertahanan ditengah-tengah rentetan serangan tersebut.


Dari arah depan juga terlihat banyak sekali Killer Chameleon yang sedang melaju kearah mereka.


“Mengganggu saja... Holy Field!” sebuah medan suci yang sangat luas diciptakan oleh Mon dalam sekejab. Levelnya juga benar-benar berbeda dengan yang pernah digunakan orang lain sebelumnya. Kekuatan pemurniannya begitu kental dan kuat, bahkan membuat para Killer Chameleon yang merupakan monster roh tingkat tinggi langsung menjadi begitu lemah saat berada didalamnya.


“Beraninya mereka berdiri diatas kita, sungguh menjengkelkan!” Geram Tue yang menyadari kemunculan para monster. Iapun menghentakkan kakinya dengan keras, lalu tiba-tiba saja tebing yang ada dikanan dan kirinya langsung turun menjadi sejajar dengan tempat dia berpijak.


“Tak kusangka kau akan langsung menggunakan kekuatan berskala besar seperti itu.” Mon heran dengan tindakan yang diambil oleh Tue.


“Hmph... hanya menghadapi hal seperti itu langsung menggunakan kekuatan penuh, aku heran kenapa kau bisa dianggap lebih kuat dariku.” Keluh Wed yang mendengar percakapan mereka. Tanpa banyak bicara lagi, Wed langsung mengeluarkan panahnya dan membidik para Killer Chameleon itu dari kejauhan.


“Thunder Shoot..!” Sebuah tembakan anak panah yang begitu kuat ia lepaskan.


“Mirror..!” Lalu saat serangan itu sudah mendekati para Killer Chameleon, Thu menggunakan Unique skillnya untuk memperbanyak serangan tersebut dan membuatnya terus memantul menyerang mereka.


Tanpa butuh waktu yang lama, mereka berdua berhasil menghabisi semua Killer Chameleon yang berusaha menghalangi jalan mereka. Lalu setelah gangguan pertama dihabisi, mereka ‘para monster roh jahat’ menampakkan sosoknya yang berjumlah puluhan ribu.


“Ini akan cukup merepotkan, jumlah mereka saja sudah mengganggu apalagi kekuatan dari setiap individunya benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya.”


“Mon, jangan bilang kau takut dengan mereka?”


“Apa yang kau katakan Fri? Hanya ancaman tingkat tinggi tidak akan pernah bisa menghentikan kita para 7 penyembah!” Mon menarik keluar pedang dari sarungnya. Sebuah cahaya keemasan mulai menyelimuti seluruh bilah pedang tersebut dengan lembut, Mon pun mulai mengayunkan pedang tersebut dengan lembutnya.


“Holy Slash...!” Sebuah tebasan yang begitu kuat diarahkan pada barisan monster yang ada didepannya.


Bum...!!


Sebuah ledakan besar yang terjadi karena efek dari serangan tersebut, menciptakan sebuah asap yang begitu tebal disana.


“Apa itu mempan?” Ucap Fri yang meremehkan Mon.


“Apa yang kau bicarakan Fri, hanya makhluk kecil tidak akan bisa menahan seranganku!” Mon begitu percaya diri ketika menjawab pertanyaan Fri tersebut.


Namun apa yang dilihat Mon berbeda dengan yang ia pikirkan. Saat asap tebal itu menghilang, tampak seekor monster berbadan bungkuk sedang menampakkan dirinya dihadapan para pemimpin pasukan. Taring dan cakar-cakarnya yang tajam tampaknya dapat mengoyak daging dengan begitu mudah, mereka juga memiliki kulit dan ekor yang begitu keras sebagai pertahanan utama.


“Hoh... tak kusangka hanya seorang Lizardman dapat menahan serangan itu tadi!”


“Khikhikhi...”—Lizarsman itu tertawa—“tak kusangka ada seorang manusia yang sesombong dirimu!” Balas Lizardman tersebut.


Mereka berduapun saling menatap dengan begitu serius, dan saat itu juga keduanya benar-benar telah memulai perang tersebut.

__ADS_1


“Maju....!!”


“Serang....!!!”


Kedua pihak mulai menyerang satu sama lain di lembah tersebut. Hampir dari 10.000 pasukan utama mengeluarkan roh ilahinya sambil memacu kuda dengan cepat kearah pasukan monster. Dengan kecepatan dan semangat yang begitu tinggi, mereka mulai menghunuskan senjatanya masing-masing.


Hidup Manusia...!!!


Trang, trang... Zrakk...!!


Whut... whoooosh...


Blar...!!


Mereka saling bertukar serangan dengan begitu keras, walau hanya dalam hitungan menit korban yang tercipta dari kedua belah pihak sama sekali tidak sedikit. Meski dibilang pasukan monster jauh lebih kuat dari manusia pada tiap individualnya, tapi manusia juga tidak membiarkan mereka menggunakan kekuatan penuhnya dan langsung membunuh mereka saat ada kesempatan.


“Matilah kalian manusia sialan..!!”


“Kalianlah yang akan mati!” Kata-kata itu diucapkan oleh Thu yang telah bergerak untuk menghabisi para monster.


Klik...


Suara petikan jari yang nyaring tersebut membuat semua yang ada didekat Thu berhenti bergerak.


Blarr....


Tanpa memandang lawan ataupun kawan, sebuah sihir ledakan tingkat lanjut dikeluarkan oleh Thu dengan mudahnya. Serangan itupun dengan cepat langsung melenyapkan apa yang ada disekitarnya. Dan tentunya membuat beberapa jenderal dari para monster mulai mewaspadai dirinya.


Lalu seekor makhluk kerdil berwarna biru tiba-tiba muncul dihadapan Thu dan mulai mendekati Thu dengan polosnya, lalu saat berdiri tepat dihadapannya, makhluk itu mulai tersenyum lebar seolah sedang mengejeknya.


Monster ini, apa barusan dia sedang mengejekku? Tapi ini sangat aneh, aku sama sekali tidak merasakan hawa kehadiran miliknya, bagaimana bisa begitu?


“Kau barusan berpikir, ‘kenapa kau tidak bisa merasakan hawa kehadiranku’, apa aku salah?” tanya monster kerdil itu dengan santainya.


Thu sontak langsung menjaga jarak dari monster tersebut karena tidak berhasil memahaminya. Auranya tidak dapat dibaca, skill identifikasi juga tidak berhasil saat digunakan pada monster tersebut. Namun yang mengejutkan lagi adalah pemberitahuan dari sistem skill, saat lawan memiliki level lebih rendah dari dirinya maka pemberitahuan dari sistem adalah ‘tidak berlaku’, namun saat dia menggunakannya pada makhluk ini, untuk pertama kalinya pemberitahuan dari sistem skill mengatakan ‘diblokir’.


“Mustahil, diblokir! Aku baru kali ini mendengarnya, jangan-jangan level dari makhluk kerdil ini sudah berada jauh diatasku?” Pikir Thu yang mulai mewaspadai lawannya.


“Isi pikiranmu keluar dengan sangat jelas loh!”


Makhluk ini, jangan-jangan dia dapat membaca pikiran?


Monster itu lagi-lagi mengeluarkan senyum lebarnya yang membuat gigi-gigi besar itu terlihat dengan jelas. Thu yang berdiri dihadapannya tanpa sadar mulai berkeringat dingin, badannya pun juga mulai gemetaran tak beralasan. Tak hanya itu, detak jantungnya yang menjadi lebih cepat dari biasanya membuat dirinya menjadi sangat khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Perasaan ini, aneh... padahal sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku?


“Kau barusan bertanya-tanya mengenai apa yang terjadi padamu bukan? Kalau begitu aku akan memberitahumu apa arti dari semua itu!”


“....”


“Mungkin karena kau tergolong sangat kuat diantara para manusia, kau sudah melupakan istilah dari perasaan tersebut. Jantungmu berdebar kencang, seluruh tubuhmu dipenuhi keringat dingin dan mulai gemetaran, lalu kekhawatiran yang melewati batas. Istilah untuk perasaan itu tidak lain adalah rasa takut!”


“Rasa takut..., itu mustahil! Tidak mungkin salah satu dari 7 penyembah seperti diriku akan merasakan rasa takut kepada makhluk selain dewa!” Thu mencoba untuk membantah perkataan dari monster tersebut.


“Makhluk selain dewa? Lucu sekali... hanya seorang manusia merasa bahwa dirinya memiliki kekuatan setingkat dibawah sang dewa. Hahaha, kau sungguh adalah pelawak yang begitu handal!”


“Apa yang kau tertawakan, memangnya apa yang lucu, hah...?” Bentak Thu yang mulai kesal.


“Kaulah yang lucu!” jawab monster kerdil itu sambil menunjuk ke arah Thu.


“Jangan bercanda dasar monster bedebah!” Thu berinisiatif untuk memulai serangan, iapun mencoba mendaratkan beberapa serangan terhadapnya. Namun monster itu dapat menghindarinya dengan begitu mudah, bahkan setiap lintasan pedang dari Thu seakan terlihat jelas dimata monster kerdil tersebut.


Kenapa begini? Aku sama sekali tidak dapat mendaratkan serangan pada makhluk kerdil ini, bagaimana bisa?


“Apa kau akan terus menghindar sampai kau mati?” tanya Thu dengan kesal.


“Seharusnya sudah kubilang sebelumnya, semua isi pikiranmu keluar semua. Karena itu aku dapat membacanya dengan begitu mudah.”


“Jadi itu adalah kemampuan unique skill milikmu?”


“Bukan loh... itu hanya sebuah ekstra skill yang kumiliki. Lalu mengenai Unique Skill, perlu kau ketahui bahwa semua Unique Skill milikku telah berevolusi sepenuhnya ke Ultimate Skill pada beberapa saat lalu, jadi berhati-hatilah!”


Seketika punggung Thu terasa seperti disiram air es saat mendengar kata-kata tersebut.


Jadi perkataannya memang benar, yang kurasakan kali ini adalah ketakutan.


“Apa yang kau pikirkan itu sangatlah benar, itu adalah rasa takut. Dengan Ultimate Skill Fear Exists milikku, semua makhluk yang memiliki level yang lebih rendah dariku pasti akan merasakan ketakutan yang begitu kuat.”


“Jadi begitu... lalu, jika dalam ranah manusia, menurutmu ranah apa yang dapat menyaingimu?”


“Tentu saja kau tau sendiri jawabannya kan? Ranah yang berada diatas great sage, dengan kekuatan mereka yang tidak masuk akal. Tapi sayang sekali mereka tidak ada sama sekali diantara kalian!”


“Kalau begitu disini aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk menghadapimu seorang!” Ucap Thu yang telah membulatkan tekadnya.


“Kalau begitu aku akan membunuhmu dengan cara paling lembut untuk menghormati tekadmu itu!”


Sebuah duel yang akan menampakkan perbedaan kekuatan diantara kedua pihak akhirnya dimulai saat itu dan ditengah perang itu juga.

__ADS_1


__ADS_2