Creator

Creator
Teman Baru


__ADS_3

Setelah meninggalkan Raven yang membatu karena sebuah pertanyaan, Meiga pergi ke tempat pak Roni dan Sherly.


“Paman, bagaimana pembagian kelasnya?”


“Oh, disini kau rupanya. Aku mencarimu kemana-mana tadi.”


“Sesuai dengan permintaan. Anda akan menempati kelas biasa.” Sherly menjawab pertanyaan Meiga.


“Itu bagus. Lagipula aku tidak ingin mencolok disini.”


“Lalu ini untuk tanda pengenal dan kunci kamar anda.” Sherly memberikan barang tersebut kepada Meiga.


“Ah, terimakasih kak.”


“Untuk barang bawaan anda sudah diantarkan ke asrama, jadi tidak perlu khawatir.”


“Kalau begitu kami akan pamit dulu. Sisanya kau bisa menanganinya sendiri kan?”


“Tentu paman, terima kasih atas bantuannya.”


“Baiklah, sampai jumpa kalau begitu.” Pak Roni pamit undur diri dan diikuti Sherly dibelakangnya.


Meiga mengawasi mereka sampai keluar dari pintu gerbang akademi, lalu pergi menuju asramanya.


“A-anu,” seseorang berbicara kepada Meiga saat dalam perjalanan.


“Ah, maaf. Kau berbicara padaku?” tanya Meiga yang bingung.


“Iya benar. Apa kamu juga sedang menuju kamar 27?”


“Ah, itu benar. Jangan-jangan kau juga?”


“Hmm. Tapi aku agak buta arah, bisakah aku ikut bersamamu kesana.”


“Tidak masalah.”


“Ah, terimakasih.”


Anak ini agak pemalu, mungkin mendapat teman sepertinya akan mudah bagiku untuk menjadi tidak mencolok disini. Tujuan utamaku kemari adalah mencari Luna, dan sekarang aku sudah tidak perlu khawatir untuk itu.


Namun untuk situasi sebenarnya disini, entah kenapa ada yang menggangguku. Walaupun aku tidak tahu secara pasti tapi aku tidak boleh menurunkan kewaspadaanku disini. Lalu untuk kebenaran tentang kakak, aku seharusnya bisa mendapatkan beberapa jawaban disini.


“Anu, apakah aku boleh tahu namamu?”


“Aku Ola Albert. Namamu?”


“Aku Zenin. Senang bertemu denganmu Ola.”


“Tentu, aku juga senang bertemu denganmu.”


“Ngomong-ngomong Albert itu marga pebisnis terkenal itu bukan?”


“Oh, dia adalah pamanku. Walaupun aku tidak tahu banyak tentangnya, tapi dialah yang bertanggung jawab atas diriku disini.”


“Oh, begitu ya.”


“Kita sudah sampai.”


Itu adalah pemandangan yang sama sekali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Gghh, ini? Apakah kita tidak salah tempat.” Ucap Meiga dengan ekspresi tidak mengenakkan. Dia merasa yakin kalau tempatnya ada disini melihat pada peta yang dia bawa. Namun dilihat dari manapun itu hanyalah sebuah gudang.


“Ini gudang? Aggh! Ola, jangan-jangan ini adalah-.”

__ADS_1


“Ah, begitulah. Walau dilihat dari manapun ini adalah gudang, tapi kurasa memang inilah asrama kita.”


Keduanya merasa sedang dikerjain oleh akademi. Diawal mereka mengatakan bahwa dalam akademi status dibedakan melalui kemampuan. Dan para siswa biasa akan mendapat kelayakan. Namun, apa yang dilihat oleh mereka sekarang sama sekali tidak ada pencerminan dari hal tersebut.


“Ola, ayo kita masuk. Tidak masalah bukan berada ditempat seperti ini. Jangan-jangan kau tidak terbiasa dengan tempat seperti ini?”


“Tidak juga. Kalau begitu ayo kita masuk!”


Kraaak, Ola membuka pintu asrama yang agak peyot tersebut.


Duarr!! Tiba-tiba seseorang menyalakan petasan kertas dari dalam untuk menyambut mereka.


“Selamat datang di asrama 27. Perkenalkan aku Orin, seseorang yang menjadi ketua di asrama ini.”


Meiga hanya bisa menyimpulkan satu hal. Itu adegan yang sangat memalukan.


“Hah!! Apa akademi ini sudah gila. Bagaimana mungkin asrama laki-laki harus ditinggali bersama dengan seorang gadis.” Tanpa pikir panjang Orin mengatakan hal itu saat melihat Meiga. Dan sebaliknya Meiga juga tanpa pikir panjang langsung menggunakan elemen petir untuk mendiamkan orang bodoh itu.


“Siapa yang kau sebut gadis, dasar bodoh.” Ucap Meiga dengan kesal.


“Ahh, itu pasti sakit.” Zenin menambahkan.


“Ahh, cowok ternyata, hahaha.”


“Heal.” Zenin menyembuhkan Orin yang tidak bisa bergerak karena skill Meiga.


“Ah, terimakasih. Kau juga laki-laki bukan? Entah kenapa melihat wajah kalian. Aku merasa sangat terpesona. Biasanya aku tidak pernah salah dalam membedakan gender seseorang namun kali ini kurasa aku harus belajar lagi.”


“Aah, terserah dirimu ketua. Perkenalkan aku Ola, maaf untuk yang barusan. Tapi jika kau masih mau aku bisa memberikannya secara gratis.”


“Aku Zenin, mohon kerja samanya Orin.”


“Tentu!”


***


Pagi yang cerah. Para murid akademi berangkat dari asrama mereka masing-masing untuk mengikuti kelas.


“Lihat itu, para anggota kelas khusus!” salah seorang murid berbicara kepada temannya dengan takjub.


“Hei, menurutmu siapa yang paling keren di kelas khusus? Kalau aku nona Iris mungkin ya. Dengan paras yang begitu cantik dan talenta yang begitu besar bukankah dia adalah sosok yang hampir sempurna?”


“Kalau yang biasa bersama dengannya, siapa namanya? Bukankah nona Iris dulu pernah mengatakan kalau dia tidak pernah menang sekalipun melawannya?”


“Itu juga pernah dikatakannya ya? Tapi kurasa dia sangat jarang menunjukkan kemampuannya kan?”


“Pastinya ada alasan khusus bukan? Kalau menurut kalian bagaimana dengan anak kelas khusus yang bernama Kouta? Kalau aku tidak salah dengar, dia adalah salah satu anak yang tertunjuk menjadi pahlawan terpilih bukan?”


Disamping kehebohan para gadis Meiga, Zenin, dan Orin sedang berangkat ke kelas mereka. Meiga yang tertarik dengan topik pembicaraan tersebut berhenti lalu menyuruh Orin dan Zenin untuk pergi ke kelas terlebih dahulu.


“Aku ada urusan sebentar, kalian bisa pergi ke kelas terlebih dahulu.”


“Oke, tapi jangan sampai telat atau terlibat masalah lo Ola!”


“Aku tahu itu, Orin.” Meiga menuju ke tempat para gadis dengan meninggalkan sepatah kata itu kepada kedua temannya.


“Kurasa itu pembicaraan yang menarik, bolehkah aku ikut berbicara dengan kalian.” Para gadis tersebut tertegun karena pesona Meiga. Dan membiarkannya ikut dengan senang hati.


“Mengenai Kouta tadi, bisakah kau menjelaskannya lebih lanjut untukku?”


“Aku tidak keberatan untuk itu, tapi untuk detailnya aku sendiri juga kurang tahu.”


Gadis itu menjelaskan bahwa Kouta Zizalu, merupakan salah satu orang yang tertunjuk menjadi pahlawan terpilih. Dia adalah salah satu anggota elit kelas khusus yang ada di bawah kendali balai pertahanan.

__ADS_1


Menurut kabar burung dulu di bagian timur benua Norless pernah terjadi perang dahsyat dengan ras-ras lain dan kerajaan tetangga. Dikatakan bahwa dulunya disana adalah benteng yang dapat membendung segala serangan yang membahayakan kerajaan Meeden. Namun beberapa tahun lalu, semua tempat itu berhasil dikuasai.


Dari hal yang didengar gadis tersebut, Kouta adalah salah satu korban yang terselamatkan dalam insiden itu, lalu balai pertahanan mengasuhnya dengan metode khusus karena melihat talenta dalam dirinya. Beberapa saat yang lalu ada yang mengatakan bahwa seisi istana sedang dikejutkan oleh lahirnya benih pahlawan baru, dan yang dia maksud adalah Kouta.


“Benih pahlawan ya? Jika itu masih benih, itu artinya dia belum bangkit menjadi pahlawan sejati bukan?” Meiga melontarkan pendapatnya.


“Belum bangkit? Maksudmu?” para gadis itu tidak mengerti apa maksud Meiga.


“Itu benar, benih dalam diriku memang belum bangkit. Namun pertanyaannya, bagaimana kau bisa mendapatkan pengetahuan akan hal tersebut. Bisakah kau menjelaskannya kepadaku Lady?”


Sebuah respon yang membuat Meiga merasa sangat kaget, seakan punggungnya telah disiram dengan air dingin.


“Kau ya. Orang yang bernama Kouta itu?”


“Itu benar, ngomong-ngomong siapa kau ini? Sepertinya kau bukanlah orang yang bisa kuremehkan?” Kouta mengatakan perasaannya yang sesungguhnya kepada Meiga.


Salah seorang teman dari Kouta mendekati Kouta dan membisikkan sesuatu kepadanya.


“Hee, itu menarik. Analisis! Hmm, tak kusangka bahkan skill analisisku bisa tertolak juga.”


“Itu mustahil kan, Kouta?” Ucap temannya panik.


Itu adalah hal yang wajar baginya untuk panik, karena dalam kelas khusus dia adalah yang terkuat. Bahkan orang yang kuat seperti Luna dan Iris masih bisa ia analisis menggunakan skillnya. Namun jika itu tertolak maka tidak diragukan bahwa kemampuan lawan setara atau diatasnya. Sedangkan Meiga hanyalah seorang murid kelas biasa itu pastinya adalah hal yang tidak mungkin.


“Untuk hal itu biar aku sendiri yang akan memastikannya.”


“Maksudmu?”


“Bisakah kau memberi tahu namamu Lady?”


“Cihh, aku Ola Albert.”


“Aku tidak akan menahan diri walaupun lawanku adalah seorang gadis. Kalian yang tidak ingin terlibat sebaiknya menjauh dari sini!”


Kouta mengeluarkan pedangnya dan mulai menyerang Meiga.


“Apa yang kau lakukan? Ini di dalam akademi lo!” Keluhnya sambil menghindari serangan Kouta.


“Bisa saja kau adalah mata-mata dari kerajaan musuh, karena itu aku sendiri yang akan memastikan hal itu! Cross Cut”


Pedang milik Kouta mengeluarkan aura merah menyala dan dia melakukan serangan memotong silang. Itu adalah serangan yang terbilang cepat dan ganas. Tapi Meiga berhasil menghindarinya karena skillnya future predict.


“Cihh, dasar menyebalkan. Chain Creation. Chain Shackles.” Meiga menahan gerakan Kouta dengan skillnya.


“Skill penciptaan? Bagaimana mungkin?” Kouta sangat terkejut dengan skill itu, namun Meiga tidak menyadarinya. Dan berbalik menyerangnya.


“Lightning strike!”


“protection area!”


Meiga berharap dengan skill ini dia bisa membuat Kouta berhenti menyerangnya. Namun seseorang datang untuk menghentikan mereka.


“Sihir?” ucap Meiga terkejut.


“Bisakah kalian menghentikan hal bodoh ini?” Ucap Luna yang sedang berjalan ke tempat Kouta dan Meiga.


“Kau, yang ditaman waktu itu? Iris kaget.


“Kalian berdua mengenalnya?”


“Apa kau adalah Meiga?” Itu adalah pertanyaan yang diucapkan dengan tulus dari hati.


Ekspresinya tampak sangat sedih, bahkan Meiga tidak sanggup menatap Luna secara langsung.

__ADS_1


“Dasar murid kelas bawah! Beraninya kau membuat kekacauan di hari pertama sekolah. Selain itu, kau telah membuat masalah dengan anggota balai pertahanan. Aku tidak akan melepaskan begitu saja!” seorang anggota balai pertahanan datang dengan kemarahan besar kepada Meiga.


__ADS_2