Creator

Creator
Pertarungan Tingkat Tinggi 3


__ADS_3

“Bagaimana bisa.., kenapa kekuatanmu mendadak jadi sebesar itu?” Zero berteriak karena merasa terintimidasi oleh luapan energi milik Thu.


“Kenapa? Itu karena dewa ada dipihak kami, ini adalah segala yang kumiliki dan segala pemberian sang dewa!”


“.....”


“Lenyaplah, Hell Flare..!!” Dengan sisa kekuatan dan energi kehidupan Thu, Edle Seele meminjamkan skillnya untuk menghabisi Zero ditempat itu.


Arrrgghh...!!!!


Dia tersenyum melihat pemandangan dimana lawannya terbakar habis oleh api hitam yang sangat kuat. Pandangannya mulai kabur, tangan yang terkulai mulai melepas pedang tersebut, semua luka ditubuhnya membuat dirinya kehilangan pijakan. Setelah mengeluarkan segala yang dimilikinya, Thu menemui akhir hayatnya.


**


Blarrrr....!!!


Ditengah pertarungan antar petinggi pasukan, sebuah ledakan yang sangat besar begitu menarik perhatian mereka.


“Itu...” Luccy merasakan energi yang tidak asing dari energi tersebut.


“Sepertinya kita berdua telah kehilangan rekan yang kuat lagi dalam perang ini!” Mon membuka percakapan dengan Luccy saat melihat ledakan tersebut.


“Begitu ya! Lalu, bagaimana perasaanmu saat mengetahui akan hal tersebut?” tanya Luccy pada Mon.


“Entahlah... seperti apapun perasaan kami, jika itu sudah kehendak dewa, maka kami tidak bisa menentangnya!”


“Dewa dewa dewa terus, memangnya siapa kalian merasa sebegitu dekat dengan dewa?”


“....”


Slashhh....!!!


Whut, whuuk... trangggg...!!!


“Mon, tetaplah fokus! Ingatlah kalalu lawan kita bisa membunuh kita kapan saja.”


“Begitu ya.. mungkin memang sudah waktunya bagi kita 7 penyembah untuk digantikan oleh generasi selanjutnya.”


“Hmm.., apa kalian sudah mau menyerah?”


“Menyerah? Kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Demi era baru dan kedamaian Meeden, kami akan menemanimu sampai akhir dalam perang ini!”


Mon dan Fri pun mulai kembali menghadapi Luccy dengan sisa tenaga mereka. Sebuah perlawanan sia-sia, pasti hanya itu yang bisa dipikirkan oleh siapapun yang melihat pertarungan itu. Setiap kombinasi serangan yang dilancarkan pada Luccy tampak sama sekali tidak berdampak terhadapnya. Sebaliknya, saat Luccy melancarkan sebuah serangan tidak ada satupun kombinasi dari mereka berdua yang dapat menahannya.


Nafas keduanya sudah terdengar sangat berat, sisa tenaga yang dimilikinya juga tidak banyak. Mungkin hanya dengan menggunakan beberapa skill lagi, energi kedua orang itu akan habis sepenuhnya.


“Kenapa kalian sampai segitunya berjuang melawan diriku?” Tapi yang membuat Luccy heran adalah kenapa mereka terus berusaha melawan dirinya meski tahu bahwa mereka akan kalah.


“Entahlah... kami sendiri juga tidak akan menyangka bahwa kami akan melakukan hal bodoh seperti ini.”


Itu memang sebuah tindakan yang menyimpang bagi orang-orang seperti mereka. Sudah lama sejak terakhir mereka menampakkan diri didepan banyak orang. Dulu sebagai orang-orang berpengaruh dikerajaan Meeden, Mon dan Fri begitu disegani diantara para prajurit. Namun setelah balai perlindungan terbentuk dan keduanya mencapai ranah great sage, mereka seakan telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Bahkan mereka hanya melihat para manusia yang ada disekitarnya sebagai sebuah alat.


Tapi entah kenapa setelah melakukan banyak pertarungan dalam perang ini, sifat kemanusiaan mereka perlahan mulai kembali. Atau mungkin sifat itu terlihat karena mereka bertemu dengan makhluk yang sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan. Tapi keduanya bukanlah hal yang penting, prioritas utama mereka saat ini hanyalah mengalahkan makhluk yang ada didepannya dengan segala cara.


Meski begitu, pada akhirnya manusia akan mencapai batasan mereka. Tidak peduli seberapa pandai dan kuat mereka, jika lawannya adalah makhluk dengan kekuatan diluar nalar, maka hasilnya hanyalah sebuah kekalahan.


“Benar, itulah yang disebut batas! Tidak peduli sekuat apa tekad kalian, pada akhirnya kalian akan mencapai batasan. Tanpa tubuh dan energi yang masih prima, mustahil bagi kalian untuk mengalahkan diriku!” Kata-kata itu diucapkan Luccy dihadapan Mon dan Fri yang terbaring sekarat.


“Dengan ini akan kuakhiri!” Luccy mengayunkan pedang panjangnya tersebut untuk mengakhiri pertarungan dengan mereka.


...


......

__ADS_1


Namun yang mendapati hal tersebut bukan hanya mereka berdua, semua anggota dari pasukan dipihak manusia juga mengalaminya.


Seperti mereka, dan mereka, lalu mereka juga.


Berapa banyak kekuatan dari para pasukan dan elit yang digabungkan, hasilnya tetap akan sama. Pembantaian sepihak pasti akan terus berlanjut jika mereka tetap melawan. Selain karena sifat buruk dari para monster, dari awal kekuatan diantara kedua pihak memang sama sekali tidak setara.


...


“Selanjutnya apa yang akan kalian mainkan?” monster itu ‘Mad’ meronta-ronta karena dibatasi oleh serangan Narta.


Dilain sisi, Narta sama sekali tidak memiliki cara untuk mengalahkannya. Orin dan Anie telah dikalahkan sepenuhnya, Iris juga terluka parah. Lalu Luna yang sekarang tidak akan berguna dalam pertarungan itu.


Apa kami hanya bisa menunggu kekalahan, apa sama sekali tidak ada hal yang bisa dilakukan?


Narta juga memperhatikan kejatuhan pasukan Meeden dalam perang ini. Entah apa pemicunya, pergerakan dari para monster itu benar-benar berbeda dari sebelumnya. Seakan menjadi sangat bersemangat, mereka dengan cepat menumpas habis pasukan yang ada dipihak manusia. Bahkan para elit dan petinggi hampir dikalahkan sepenuhnya.


Ah, mereka sudah tidak berdaya, begitu juga mereka, lalu mereka, dan akupun sama. Mungkin sudah saatnya untuk menyerah, jika mereka terus berjuang maka tidak akan ada yang tersisa dari kami.


Zrakk...!!!


Ugh..


Ah sial, aku bahkan tidak dapat menyadari datangnya serangan tersebut. Apa aku akan mati? Lukanya tampaknya juga sangat dalam, apa aku bisa bertahan.


Zrakkk... Slashhh....


Crasshhh....!!!


Dhuk..... Dhuak...!!


Dia terus menghajarku, mustahil aku bisa bertahan dari serangan-serangan kuat seperti ini.


Pukulan, tebasan, dan segala serangan dilakukan secara membabi buta oleh monster itu. Narta yang menerima semua itu hanya bisa pasrah, bahkan dirinya sama sekali tidak memiliki ruang untuk mengelak. Tulang-tulangnya telah remuk, lalu dari sekian banyak organ dalam, hanya jantungnya saja yang masih utuh. Itupun juga tidak berfungsi dengan benar. Pikirannya juga kosong, saat melihat ekspresi kedua rekannya saat mendapati dirinya yang disiksa dengan begitu kejam.


Dengan tubuhnya yang telah begitu rusak, dan tenggorokannya yang dihancurkan, Narta mengerahkan sisa tenaganya untuk memberi peringatan pada Iris dan Luna yang sama tidak berdayanya disana.


“La-larilah!” Tangannya menunjuk kearah sebaliknya, air mata yang bercampur darah itu juga terus bercucuran, saat itu Narta mengerahkan seluruhnya untuk memberikan ucapan perpisahan demi keselamatan mereka.


“Luna, setidaknya kau harus berhasil selamat. Sebagian tubuhku telah hancur dan mungkin sudah tidak ada lagi harapan bagiku. Karena itu, setidaknya kau harus bisa selamat saat aku menahan monster ini.” Dengan luka parah itu, Iris memasang kuda-kudanya untuk menghadapi Mad.


“Ah... sampah sepertimu tidak seharusnya banyak tingkah.”


****...!!


Mad menusuk tenggorokan Narta dengan cakarnya hingga membuatnya semakin hancur. Ia pun berbalik kearah Iris untuk melakukan hal yang sama.


“Mustahil bagi kalian untuk kabur setelah berhadapan langsung denganku!” Dengan langkah yang begitu tenang, Mad menghampiri Iris dan Luna yang tengah berdiri didepannya.


“Sekarang, pergilah Luna!” Iris meneriakkan permohonannya dengan nada putus asa.


Dengan pemandangan tersebut berada dihadapannya, Luna sama sekali tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan Iris. Ia pun berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan hidupnya dari monster tersebut.


“Berusaha melindungi seseorang dengan diriku sebagai lawan, aku sungguh tidak bisa memahami pikiran manusia!”


Meiga, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pernah berpikir bahwa hari ini akan terjadi. Demi melindungi harapan dan perjuanganmu itu, setidaknya aku harus bisa menyelamatkan Luna disini. Aku juga minta maaf karena tidak dapat menepati janjiku untuk menerima kembalinya pedang itu.


Senyum itu begitu menawan, sorot matanya yang tertuju pada Mad juga sangat indah, detik itu Iris telah bersiap menghadapi kematiannya tanpa sedikitpun rasa penyesalan.


“Begitu ya... kau sudah mempersiapkan segalanya untuk gadis itu, untuk menghormati tekadmu itu aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit!”


Lalu sebuah tusukan dari cakar tajamnya itu menembus jantung Iris dengan begitu kuat dan begitu cepat.


Selamat tinggal, Luna! Kuharap kau dapat selamat dari semua ini.

__ADS_1


Mad tersenyum melihat perjuangan dari lawannya tersebut, iapun meletakkan Iris yang tak bernyawa secara perlahan. Tapi selama perang itu masih berlanjut, ia tetap akan membunuh lawan-lawannya. Mad pun mengalihkan pandangannya ke arah Luna yang sedang melarikan diri.


“Perjuangan kalian membuat diriku benar-benar terharu meski aku adalah seorang monster. Tapi sayangnya aku harus mengakhiri kalian ditempat ini juga demi berlangsungnya kehidupan dari ras kami. Dengan jarak ini, seharusnya aku bisa membunuhnya dengan sekali serang.”


Mad memusatkan mana dalam jumlah besar pada ujung cakarnya, dengan persepsi sihir dan matanya yang sangat tajam itu, dia bisa memastikan posisi Luna dengan sangat akurat.


“Maafkan aku anak manusia, meski tanpa ada dendam diantara kita aku tetap harus membunuhmu! True Stab..”


Titik keberadaan Luna telah dipastikan oleh Mad, serangan seperti garis lurus itupun berhasil mengenai Luna secara telak dan berhasil menembus dadanya. Beberapa organnya langsung hancur dalam satu serangan, dan harapan terakhir dari Iris pun telah lenyap sepenuhnya. Untuk kedua kalinya Luna harus dihadapkan pada kematian.


Disisi lain pertarungan itu, Kouta yang menyaksikan peristiwa tersebut langsung menjatuhkan pedangnya.


Perasaan, harapan, dan semua yang kujanjikan telah lenyap. Apa yang diharapkan dari perang ini, kenapa kerajaan mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka? Apakah memang tidak ada masa depan bagi kami?


Kouta pun merenungkan semua itu ditengah pertarungannya melawan Bleu. Dengan lenyapnya sosok yang dikagumi dan sekaligus ingin ia selamatkan, semua harapan dan semangat juang dari Kouta pun ikut lenyap. Dia berpikir mungkin inilah yang disebut dengan akhir. Sebagai orang yang dianugerahi kekuatan yang begitu besar, dia bahkan sama sekali tidak dapat melindungi hal-hal yang penting bagi kehidupannya. Ia yang dulunya disombongkan oleh pujian-pujian itu telah mulai berubah menjadi lebih baik karena mereka, tapi kenapa pada akhirnya akan menjadi seperti ini, pertanyaan itu tidak kunjung hilang dari pikiran Kouta. Bahkan dirinya yang sekarang seakan menjadi perwujudan dari penyesalan.


Jadi inikah yang disebut kegagalan? Ini juga yang disebut penyesalan. Tak kusangka aku akan merasakan semua itu secepat ini. Lantas untuk apa semua perjuanganku selama ini? Semua ujian dan pelatihan sebagai seorang pahlawan terpilih, pada akhirnya aku juga tidak berhasil melindungi dirinya.



Siapa? Apa maksudmu?



Kehidupan sebelumnya?



Entahlah... aku bahkan sama sekali tidak mengerti akan hal tersebut.



Beberapa hal, apa itu?



Wanita suci, memangnya kenapa dengan wanita suci?



Tidak selamat? Memangnya kenapa? Lagipula aku juga sudah tidak dapat melakukan apapun demi dunia ini!



Meski begitu, apa yang bisa kau harapkan dari orang gagal yang hanya haus akan pujian seperti diriku?



Pasti, apa itu?



Benih pahlawan memilih diriku? Jika memang benar aku memiliki semua potensi itu, demi janjiku, aku akan menyelamatkan wanita suci dan dunia inj seperti permintaanmu.



Lalu dalam alam bawah sadar itu, mereka saling menempelkan kedua telapak tangannya.


Pahlawan itu memberikan segala yang dimilikinya pada Kouta, lalu dia juga melakukan sesuatu terbesar pada dunia ini.



Apa maksudmu?

__ADS_1


Lalu sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari diri pahlawan tersebut. Sebuah perputaran waktu pun membuat Kouta kembali ke masa itu dan menghapus peristiwa yang ada di masa depan.


__ADS_2