
Semua orang menempati tempat yang disediakan dan mata semua orang mulai terfokus menuju ke satu titik, menandakan acara telah dimulai. Satu persatu perwakilan dari siswa lama dan baru mulai naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan kepada para wali murid dan siswa baru akademi Meeden.
Mereka adalah para elit yang memang dari awal sudah diberi pelatihan khusus oleh para anggota militer kerajaan. Jadi membandingkan kemampuan mereka dengan para murid baru hanyalah hal yang bodoh tentunya. Kumpulan siswa tersebut berada pada 1 tingkat diatas kelas unggulan, mereka disebut dengan kelas khusus.
Itu adalah acara yang membosankan, itulah yang dipikirkan oleh Meiga. Dia sudah sangat muak dengan hal-hal seperti itu dari sejak dulu. Memang bisa dibilang dia hanyalah bocah naif yang selalu menginginkan sesuatu secara instan.
Namun dari segi kemampuan individualnya sekarang, dia mungkin ada disebelah yang sama dengan mereka. Tapi mungkin akan ada beberapa siswa yang tidak bisa dikalahkannya tanpa mengerahkan semua kemampuannya. Tapi sekarang dia masih belum mempedulikan hal tersebut.
Meiga meninggalkan tempat duduknya dan pergi untuk mencari udara segar diluar. Pak Roni sebenarnya ingin menghentikannya, namun dicegah oleh Sherly.
Berhembusnya angin musim membuat bunga-bunga di taman ikut bertebaran. Terlihat seorang siswi akademi sedang memandangi sebuah bunga tabebuya yang berdiri kokoh ditengah para bunga dengan tatapan kosong. Hanya dengan melihat dari kejauhan itu membuat Meiga terpesona.
Dia ingin bergerak untuk menghampiri gadis tersebut. Namun salah seorang komandan ksatria suci mendekatkan dan mengajaknya berbicara.
“Taman ini begitu indah bukan? Apakah kau pernah merasa ingin sekali melindungi keindahan seperti ini?”
“Mungkin, aku pernah merasakannya. Namun pada akhirnya - .”
“Kau gagal untuk melindungi keindahan tersebut.” Orang itu menyela jawaban yang diberikan Meiga.
Meiga pun langsung reflek menoleh kepada orang tersebut. Itu bukanlah sosok yang asing baginya. Orang itu tidak pernah melakukan hal yang salah kepada Meiga, namun dari pandangan pertama Meiga sudah membencinya. Sosok itu adalah orang yang terakhir kali dilihatnya didesanya 6 tahun yang lalu, komandan ksatria suci, Raven.
“Kalau aku tidak salah anda, komandan ksatria suci kan?”
“Hoh, tak kusangka akan ada yang mengenaliku walaupun dengan pakaian biasa seperti ini. Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” Tanya Raven yang tertarik mengenai tanggapan Meiga.
“Itu mungkin saja, tapi mungkin lebih baik kalau menganggap itu tidak pernah terjadi.”
“Kenapa begitu? Bukankah pertemuan adalah hal yang baik?”
__ADS_1
“Hee, apa kau pernah berpikir seperti itu?” Meiga membalas pertanyaan Raven dengan sebuah pertanyaan.
“Hmm, sepertinya ada sebuah kemiripan diantara kita. Bisakah kau memberi tahu namamu?”
“Sebelum menanyakan nama seseorang, bukankah anda harus memperkenalkan diri terlebih dahulu?”
“Hahaha, maaf soal itu. Saat kau mengetahui bahwa aku adalah komandan ksatria suci, kukira kau sudah mengenal namaku. Perkenalkan aku Raven, tanpa marga. Segini saja sudah cukup bukan.”
“Aku Ola Albert. Anda siswa baru di akademi ini.”
“Hee, aku tidak menyangka hal itu. Dilihat dari auramu sepertinya kau cukup terlatih, apa aku salah?”
“Jangan menaruh harapan pada seorang manusia, kau hanya akan menyesalinya.”
“Kau benar, tapi hidupku sudah penuh dengan penyesalan, hanya menambah satu penyesalan bukanlah hal yang sangat merugikan bagiku.”
Meiga hanya tersenyum mendengar jawaban tersebut. Mungkin apa yang dikatakan Raven memang benar bahwa mereka memiliki sebuah kemiripan, namun karena Meiga tidak menyukai Raven, dia enggan untuk mengakui hal tersebut.
Saat dia mendekat kearah Meiga berada, orang-orang disana mengira kalau mereka adalah saudara kembar. Itu membuat para gadis iri dengan mereka. Sedangkan para laki-laki langsung jatuh hati tanpa pikir panjang.
Namun apa yang mereka lihat tidak sepenuhnya benar. Jika dilihat, penampilan mereka memanglah mirip. Tapi yang didatangi oleh gadis itu bukanlah Meiga, melainkan gurunya, Raven.
“Guru, kenapa anda tiba-tiba keluar pada saat acara baru dimulai? Selain itu apa yang guru lakukan disini?”
“Ah, aku hanya tidak betah di acara seperti ini. Jadi aku ingin pergi ke taman dan mencari teman bicara, kemudian aku bertemu dengannya.”
Gadis itu menoleh kearah Meiga. Dan pandangannya terhenti sejenak seakan menunjukkan ekspresi kaget saat bertemu dengan Meiga.
“Rambut pirang panjang, mata sebiru lautan. Kau-?”
__ADS_1
“Iris.” Meiga secara tidak sadar menyebut nama itu dihadapan gadis tersebut.
“Kenapa kau bisa tau? Kau sebenarnya siapa?” Iris merasa penasaran dengan Meiga. Dia sempat berpikir bahwa yang ada dihadapannya adalah sepupunya yang menghilang dalam sebuah insiden 6 tahun yang lalu. Namun Meiga menolak gagasan itu.
“Kau adalah perwakilan dari kelas khusus bukan? Tentu saja aku akan mengetahui namamu.”
“Ah, kau benar. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu. Ngomong-ngomong guru, Luna sekarang ada dimana?”
Raven tersenyum dan menunjuk ke arah bunga tabebuya, disanalah sejak tadi Luna berada. Berdiri memandangi bunga yang mulai berguguran tersebut dengan tatapan kosong. Saat itu juga Iris langsung pamit kepada Raven untuk menemui Luna.
“Kalau tidak salah, kau sudah berada disini saat aku baru keluar. Lalu sebelum aku keluar Iris belum memulai pidatonya sebagai perwakilan. Bagaimana kau bisa mengetahui namanya. Jangan-jangan kau juga-?”
“Sepenting itukah sebuah nama bagimu komandan?” Sebelum Raven selesai bertanya, Meiga menanyakan hal yang membuat Raven terdiam. Bagi orang lain itu mungkin pertanyaan biasa, tapi bagi Raven itu adalah sesuatu yang tidak bisa dia sangkal.
Dengan diamnya Raven akan pertanyaan Meiga. Meiga mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Disisi lain, Luna dan Iris sedang menuju kesana.
Itu adalah pandangan sekilas yang mengingatkan masa lalu bagi Luna. Dia menghentikan langkahnya sejenak karena terkejut saat melihat sosok yang begitu familiar baginya. Tanpa pikir panjang Luna mulai berlari mengejar sosok itu, namun kerumunan orang membuatnya tidak bisa mencapainya.
“Luna, kenapa kau tiba-tiba berlari seperti itu. Memangnya apa yang terjadi?” tanya Iris dengan ngos-ngosan karena mengejar Luna.
“Apa kau tahu tentang murid yang baru saja berbicara dengan guru?”
“Ah, dia adalah siswa baru disini katanya. Tapi entah kenapa aku berharap bahwa itu adalah dirinya.”
“Kau juga berharap seperti itu. Apakah dia mengatakan namanya kepadamu?”
“Tidak, aku juga lupa menanyakannya karena menemuimu tadi.”
“Kuharap aku bisa segera bertemu dengannya.”
__ADS_1
“Dia adalah murid akademi ini bukan, tentu saja akan ada kesempatan untuk menanyakan namanya.”
Disaat yang sama dan diwaktu yang sana, mereka berdua mulai mengharapkan satu hal yang sama, yaitu anak yang ditemuinya tadi adalah Meiga, teman masa kecilnya.