
Masa SMP
****
Raisya masuk kelas bersama Kirana sahabatnya. Raisya dan Kiranapun menyapa sahabat-sahabatnya yang lain. Raisya memiliki 5 sahabat yaitu Kirana, Hanin, Nikeu, Dinda & Reva.
Keempat sahabat yang lain sedang mengobrol. Raisyapun ikut mengobrol bersama mereka. Mereka membicarakan dimana mereka akan lanjut sekolah.
"kalian pada mau lanjut dimana?" tanya Raisya kepada sahabat-sahabatnya.
"aku SMA Nusa Bangsa" Jawab Hanin
"aku juga" kata Reva dan Dinda berbarengan.
"kalo kamu mau dimana Nik?" tanya Raisya pada Nikeu.
"aku sama Kirana di SMA Kencana" jawab Nikeu sambil melirik Kirana.
"kalo kamu dimana Rai?" Nikeu balik bertanya.
"katanya aku mau dimasukin ke boarding school" jawab Raisya
"ohh kirain boarding pass hahaha" kata Kirana sambil tertawa.
"boarding school mana nih?" tanya Hanin
"gak tau deh"
"Yaaah... Jauh dari Rio" ledek Reva sambil tertawa
Rio adalah teman sekelas Raisya. Sejak awal masuk, Rio sudah menyukai Raisya. Rio juga pernah menembak dan menyatakan perasaannya, tapi Raisya malah cuek tidak peduli. Raisya tidak ingin waktu belajarnya diganggu oleh satu virus yang bernama cinta. Memang, anak seumuran Raisya masih labil dan baru mengenal cinta. Saat Raisya menolaknya, Rio hanya bisa pasrah.
Rio kagum saat Raisya sedang latihan taekwondo. Raisya mengambil ekstrakurikuler taekwondo dan paskibra. Sedangkan Rio panahan dan paskibra. Dipaskibra, Raisya sering menjadi pembawa bendera(baki). Sedangkan Rio ssbagai pengibarnya. Kalau hari-hari besar, Rio dan Raisya lah yang bertugas mengibarkan bendera. Tak jarang, Rio sangat gugup ketika disamping Raisya. Lain halnya dengan Raisya yang biasa-biasa saja. Saking gugupnya, Rio sampai salah mengibarkan bendera sehingga benderanya terbalik.
****
Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba guru datang dan jam pelajaranpun dimulai. Pak Ahmad, guru matematika kelas IX masuk ke kelas Raisya.
Ditengah-tengah guru yang sedang menjelaskan, Rio malah mencuri-curi pandangan kepada Raisya. Raisya masih fokus dan tidak peduli. Dia pun tidak sadar dipandangi oleh Rio. Rio memandang Raisya sangat lama, sehingga dia tidak fokus pada pelajaran. Pak Ahmad yang melihat Rio yang tidak fokuspun langsung memanggil dan menegurnya.
"Rioo... Lagi ngeliatin siapa kamu?" Tanya pak Ahmad pada Rio.
Rio yang sedang memegang buku pun kaget. Sampai-sampai bukunya terlempar ke atas.
"E-enggak pak" jawab Rio sangat gugup.
"ngeliatin Raisya yaaa?" goda pak Ahmad. Sedangkan Raisya masih tidak peduli dengan sekitarnya dan masih fokus menghitung.
"Cieee... " sorak heboh satu kelas.
"sudah, sudah! Fokus! Minggu depan kita sudah mulai ujian!" kata pak Ahmad.
"Rio, coba tentukan hasil dari soal yang ada dipapan tulis" kata pak Ahmad pada Rio.
Rio mulai menghitung. Sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh menghitung, dia hanya pura-pura saja. Kemudian pak Ahmad memberinya spidol. Rio pun semakin berpura-pura menghitung dengan jari tangannya.
"Berapa jawabannya?" tanya pak Ahmad.
"67 pak" jawab Rio membuat seisi kelas tertawa.
__ADS_1
"salah Riooo... " kata pak Ahmad sambil tepuk jidat.
"siapa yang mau koreksi jawaban Rio beserta caranya?" tanya pak Ahmad membuat semuanya senyap.
Tiba-tiba Raisya mengangkat tangannya.
"saya pak"
"ya, Raisya silahkan maju" kata pak Ahmad sambil memberikan spidol.
Raisya menulis dipapan tulis sambil membawa buku catatannya. Raisya dikenal sebagai anak yang pintar dan cekatan. Dari SD, Raisya tidak pernah keluar dari 3 besar. Dan sejak kelas VII, dia selalu mendapar kelas awal. Tak heran banyak orang yang ingin berteman dengannya. Dan Banyak juga orang yang kagum oada Raisya.
Setelah menulis jawabannya dipapan tulis, Raisyapun kembali ke tempat duduknya. Sebelumnya, dia sempat melirik sinis Rio dan tersenyum sinis mengejek Rio. Bagaimanapun mereka saingan. Nama Rio selalu berada dibawah nama Raisya diurutan ranking kelas.
Meski dilirik sinis oleh Raisya, Rio tetap senang karena cewek yanv disukainya telah memandanginya.
"apakah jawabannya benar?" tanya pak Ahmad.
"benar pak" jawab satu kelas.
"jadi jawabannya 21 ya Rio, bukan 67 itu kejauhan" kata pak Ahmad sambil terkekeh.
"lebih fokus lagi ya Rio" ucap pak Ahmad sambil menepuk bahu Rio.
Selesai menerangkan, pak Ahmad pamit undur diri. Sebelum itu, pak Ahmad menanyakan sudah paham atau belum tentang materi yang telah diberikannya.
"oke sampe disini paham?" tanya pak Ahmad.
"paham pak" jawab satu kelas.
"kalau begitu kita cukupkan pelajaran hari ini, pertemuan selanjutnya kita masuk bab baru. Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh" tutup pak Ahmad kemudian meninggalkan kelas.
"Haii... Boleh pinjem pulpen gak?" tanya Rio sambil menunjukkan senyuman manisnya pada Raisya.
"gak ada" jawab Raisya jutek.
Kemudian, Rio hendak mengambil kotak pulpen Raisya. Namun reflek, Raisya menyentil tangan Rio.
"aww... Sakit" teriak Rio kesakitan.
"gak sopan banget sih, ngambil-ngambil punga orang!" kata Raisya sedikit marah.
"kan aku mau pinjem" rengek Rio
"dibilang gak boleh!" bentak Raisya
Satu kelas memperhatikan Raisya dan Rio. Mereka menjadi pusat perhatian.
Rio gemas dengan kelakuan Raisya yang sangat jutek padanya. Rio mendekatkan wajahnya ke Raisya sehingga jarak antara mereka hanya beberapa senti. Raisya menyadari itu tapi dia pura-pura tidak peduli. Riopun mencubit pipi Raisya.
"iihh... Gemes deh" kata Rii setelah mencubit Raisya.
"Ngapain sih cubit-cubit" kata Raisya sambil memukul tangan Rio.
"cieeeee... Cuit cuit... " teriak satu kelas membuat Rio tersenyum semringah.
Raisya sangat marah dengan kelakuan Rio. Raisya menggebrak meja dan membuat semuanya terdian senyap. Raisya keluar kelas. Dia berniat akan mencuci mukanya di WC. Tapi saat didepan pintu, dia tidak menyadari kalau ada pak Andi guru IPSnya. Tabrakanpun tak bisa dihindari.
"Braaaakk.... " buku-buku yang dibawa pak Andi jatuh.
__ADS_1
"maaf pak, maaf" ucap Raisya panik.
"iya gak apa-apa" kata pak Andi.
Raisya sedikit berlari menuju kamar mandi. Tiba-tiba pak Andi memanggilnya dan membuat Raisya mengerem mendadak.
"Raisya, mau kemana kamu?" tanya pak Andi.
"ke WC pak" jawab Raisya
"3 menit!!" perintah pak Andi tegas.
Raisya mencuci mukanya diwastafel kamar mandi. Dilihatnya bekas cubitan Rio masih membekas merah dipipinya.
"iisshh... Dasar! Apaan sih cubit-cubit"
gerutu Raisya sambil menatap dirinya dicermin.
Setelah mencuci muka, Raisya langsung kembali ke kelasnya. Ketika dia masuk kelas, semua mata tertuju padanya. Riopun melihar ke arah Raisya. Raisya duduk dibangkunya seperti semula dan mulai mengikuti pelajaran pak Andi.
"kamu kenapa sih?" tanya Kirana sahabatnya
"Si Rio tuh" jawab Raisya
"hahahahaha" Kirana tertawa lepas ketika Raisya menyebutkan nama Rio
"diih ketawa" kata Raisya jutek.
"dia nekad bangett soalnya" kata Kirana sambil terkekeh.
Pelajaranpun dimulai dari tadi. Kirana dan Raisya malah sibuk mengobrol. Sampai-sampai pak Andi menegurnya. Seperti bergilir, saat pelajaran pak Ahmad Rio yang kena tegur dan sekarang saat pelajaran pak Andi Raisya dan Kirana yang kena tegur.
"Raisya, Kirana... Lagi ngobrolin apa kalian??" tanya pak Andi.
Kirana dan Raisya pun tidak menjawab dan memilih diam karena mereka tau kalau pak Andi adalah guru yang killer.
"Ngobrolin Rio tuh pak!" celetuk salah seorang temannya. Raisya sangat geram dengan kelakuannya.
"cieee..." teriak sekelas.
Kiranapun menyenggol siku Raisya.
"sudah, sudah... Fokus! Minggu depan mulai ujian!" kata pak Andi yang kalimatnya persis dengan yang diucapkan pak Anmad tadi.
Assalamualaikum dear Reader's ♥
Apa kabar semuanya? Semoga selalu dalam lindungan tuhan YME.
Ini novel pertama aku lhoo... Jadi maaf banget kalo ada salah kata atau penyusunan kalimat yang kurang tepat. Maklum, authornya masih pemula:v
Novel ini juga masih on going, jadi kelanjutan ceritanya masih gantung.
Semoga para reader's tercinta suka yah sama novel aku. Mohon dukungannya. Jangan lupa vote & comment nya yah, satu vote dan satu komen kalian berarti banget buat aku:)
Terima kasih
Selamat membaca
__ADS_1
Author