Dear Letnan

Dear Letnan
Wisuda-45


__ADS_3

Hari ini, Raisya, Dinda dan beberapa temannya yang lain sidang skripsi. Sedikit menegangkan untuk Dinda karena harus bertemu Dean hari ini. Dean adalah pembimbing l skripsinya.


~Flashback on~


"Kamu cantik," Ucap Dean melihat Dinda yang serius mengetik skripsi.


Awalnya Dinda tidak menyadari apa yang dikatan Dean.


"Kamu cantik Din...," ucap Dean lagi sambil tersenyum menatap Dinda. Dinda menghentikan kegiatannya dan diam sejenak.


Jantungnya tak karuan.


"M-makasih pak," ucap Dinda tersipu malu.


--------------------


Setelah sidang skripsi, akhirnya ia dan Raisya lega. Raisya dan Dinda berjalan melewati koridor.


"Dinda," panggil seseorang dari belakang, spontan Dinda dan Raisya menoleh.


"Pak Dean?" Dinda mengernyitkan keningnya, jadi dari tadi ia jalan diikuti oleh Dean?


"Saya mau ngomong sama kamu," ucap Dean.


"Sya... Kayaknya gue kena masalah lagi, lu duluan aja deh,"


Merasa tidak enak, Raisya menunggu Dinda di depan parkiran.


"Ikut ke ruangan saya," titah Dean dengan berjalan cepat.


Dengan langkah yang terburu-buru, Dinda mengikuti langkah kaki Dean.


"Kenapa lagi pak? Skripsi saya salah lagi?" tanya Dinda di depan ruangan Dean.


"Saya mau bicara serius sama kamu," Dean menatap tajam Dinda.


"Iya apa?"


"Saya suka sama kamu,"


Deg...


Dinda membelalakkan matanya. Dean menarik pinggang Dinda sehingga mereka hampir tidak ada jarak.


"Kok gue baru nyadar kalo pak Dean ganteng?" batin Dinda.


"Setelah wisuda, saya akan lamar kamu,"


Rasanya jantung Dinda akan lepas sekarang juga.


"I-iya pak,"


"Saya akan permudah proses sidang kamu supaya cepat wisuda," Dean memeluk Dinda erat. Dinda hanya terdiam mematung tidak percaya apa yang terjadi.


Cukup lama Dean memeluk Dinda, Dean juga mengecup kening Dinda lama. Dinda hanya memejamkan matanya.


"B-bapak tulus cinta sama saya?" tanya Dinda membuat Dean kembali memeluknya.


"Iya, saya sangat tulus sama kamu. Saya akan terima semua kekurangan kamu,"


Dean melonggarkan pelukannya dan merogoh sesuatu di sakunya. Entah sejak kapan pria itu mengantongi cinci.


Dean meraih tangan Dinda dan memasangkan cincin di jari manis Dinda lalu mengecupnya.


You call me artist


You call me Idol...


Handphone Dinda berdering, ternyata itu adalah Raisya. Karena nada dering yang Dinda pakai adalah lagu 'Idol', Dean melepaskan pelukannya.


"Kamu Army?" Tanya Dean membuat Dinda malu. Dinda mengangguk dan tersenyum kuda.


"Apa bapak ilfeel kalo saya seorang kpoprs?" Dean menggeleng dan tersenyum.

__ADS_1


"Asal kamu happy saya tidak masalah," jawab Dean enteng.


"Oke, pak saya pulang yah... Raisya udah nunggu," Dinda meraih tangan Dean dan mencium punggung tangannya.


Dean mendengkus kesal, "Kayak bapak sama anak jadinya,"


Baru beberapa langkah Dinda meninggalkan Dean, Dinda berbalik dan mengecup singkat pipi Dean. Tentu saja Dean sangat kaget.


Dean terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala, "nakal ya,"


Dinda dengan degupan yang masih kencang sehingga saat sampai parkiran nafasnya tidak beraturan.


Dinda menepuk bahu Raisya yang berdiri membelakanginya.


"Lama amat sih ngapain?" ketus Raisya.


"Anu... Tadi urusannya agak lebar,"


"Udah yok balik," Raisya menarik tangan Dinda. Seperti biasa, Raisya menebeng ke Dinda agar lebih irit.


Raisya mencium aroma wangi yang sangat ia kenal. Tapi aroma itu berasal dari baju Dinda.


"Kayak baunya pak Dean," gumam Raisya.


"Din... Kok lu bau pak Dean sih?" tanya Raisya sambil menelisik bau yang ia cium.


"Ah masa sih?" Dinda berpura-pura tidak tau.


"Iya, lo habis dari ruangan pak Dean kan?" Raisya mencurigai ada sesuatu pada Dinda.


Dinda mengangguk.


"Lo masih perawan kan?" tanya Raisya yang khawatir terjadi sesuatu pada sahabatnya.


"****! Ya masih lah!"


"Lo gak di apa-apain kan sama pak Dean?"


Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya.


-------------


Hari ini, adalah hari wisuda Raisya, Dinda dan teman-temannya yang lain. Sejak 7 bulan lalu, Bagas pergi tugas ke Aceh. Jadi, ia tidak bisa menghadiri acara wisuda Raisya.


Raisya berdiri di panggung besar wisuda, berdiri diantara teman-temannya yang lain. Raisya masih berharap keajaiban Bagas bisa datang. Rindu? Tentu!


"Foto dulu yuk," Dinda menarik tangan Raisya ke spot foto yang sudah di sediakan.


"Gak ada kak Bagas, gak mau ah. Gue pengen foto sama kak Bagas," tolak Raisya.


"Heh! Lu wisuda cuma sekali. Gak akan diulang lagi, ayo!" tanpa persetujuan dari Raisya, Dinda menarik tangannya.


Mereka foto sendiri-sendiri diarahkan oleh fotografer. Kemudian, mereka berdua dan sekeluarga.


Kirana, Hanin, Nikeu dan Reva pun datang. Mereka berempat akan wisuda bulan depan.


"Congratulation on your graduation


sist...,"


Tak lupa, mereka pun ikut foto. Selesai foto, semua acara pun selesai. Raisya dan teman-temannya yang lain menuju parkiran.


"Eh Din, gue pengen cilok, anterin yuk. Gue beliin juga," Raisya menarik tangan Dinda keluar kampus.


"Gak usah, gue ada duit kok,"


Dinda dan Raisya membeli cilok diluar kampus. Dinda melihat banyak mobil truk TNI tiba-tiba melintas dan berhenti di depan kampusnya.


Selesai membeli cilok, Raisya dan Dinda kembali ke parkiran hendak pulang.


"Raisya," panggil seseorang yang suaranya sangat Raisya kenali.


Raisya yang hendak masuk mobil tidak jadi. Raisya menaruh ciloknya dan menghampiri pemilik suara itu tapi tidak menemukannya.

__ADS_1


"Raisya," panggilnya lagi.


Akhirnya Raisya menemukan seseoarng yang memanggilnya. Raisya berlari menghambur dan memeluknya. Ya, itu adalah Bagas. Keajaiban berpihak pada Raisya, orang yang ia harapkan akhirnya datang.


"Saya telat yah?" tanya Bagas.


Raisya menggeleng kuat dan kembali memeluk Bagas. Bagas membalas pelukannya. 7 bulan lebih Raisya tidak bertemu dengan Bagas.


Dinda, Kirana, Sahabat dan teman-temannya yang lain, menyaksikan pertemuan dramatis bak adegan film antara Bagas dan Raisya.


Bagas bertekuk lutut di hadapam Raisya di saksikan oleh teman-temannya.


"Will you marry me?" Bagas memberi buket bunga yang sedari tadi ia simpan.


Ternyata, Bagas membawa teman-teman di truk TNI. Ketika Bagas bertekuk lutut, teman-temannya keluar dan menyanyikan yel-yel khas TNI.


Terpesona aku terpesona


Memandang memandang wajahmu


Yang manis


Terpesona aku terpesona, memandang


Memandang wajahmu yang manis....


Raisya tidak bisa berkata-kata lagi. Perempuan mana yanh tidak baper kalau pacarnya seperti ini?


"Will you be my Persit?" tanya Bagas lagi.


Bagas mengambil kotak cincin yang ia bawa entah dari kapan.


Say ya, say ya, say ya...


Teman-teman Bagas bersorak dan diikuti oleh teman-teman Raisya.


"Say ya or no?" tanya Raisya kepada teman-teman Bagas dan teman-temannya.


Yaaaaaaaaa....


Semua menjawab 'ya' secara serentak. Raisya mengangguk dan tersenyum.


"Yeah! I'll be your Persit!" jawab Raisya mantap.


Semua teman-temannya bersorak dan bertepuk tangan. Tak lupa orang tua Raisya. Orang tua Raisya juga senang karena Bagas benar-benar serius kepada anaknya.


"Thank you...," Bagas memeluk dan mencium kening Raisys lama.


"Kita foto yah...,"


Akhirnya Raisya dan Bagas bisa foto bersama. Raisya yang memakai baju wisuda berselempangkan namanya dan gelarnya, sedangkan Bagas memakai baju loreng TNI.


Selesai foto, Raisya meminta Bagas agar dirinya pulang naik truk TNI. Apapun akan Bagas lakukan demi Raisya.


"Bun... Pulangnya duluan aja, aku mau pulang bareng sama kak Bagas naik truk TNI,"


"Iya, hati-hati ya... Nak Bagas bunda nitip Raisya ya,"


Raisya mencium tangan bundanya begitupun Bagas.


Bagas membantu Raisya naik ke truk TNI karena Raisya memakai jarik batik. Bagas dan Raisya duduk di paling belakang, ini adalah kemauan Raisya. Sedangkan teman-temannya tidak mau mengganggu Bagas dan memilih duduk di depan sedikit berjarak dengan Bagas.


Sesekali Raisya juga bercengkerama dengan teman-teman Bagas. Bagas menggenggam tangan Raisya.


"Bulan depan kita pengajuan yah...," ujar Bagas diangguki oleh Raisya sambil tersenyum.


...-------...


...End...


...Tapi boong kwkwk...


...Saia baper 😭😭😭😭😭😭😭...

__ADS_1


...Jangan lupa like:))...


__ADS_2