
Raisya membuka surat yang diberikan oleh Rayyan. Mata Raisya sudah berkaca-kaca. Dia menyesal sudah ngambek sama Rayyan.
Isi surat:
Assalamualaikum Raisya,
Raisya, disini kakak pamit mau tugas dipapua. Doakan kakak semoga semuanya lancar, selamat sampai tujuan dan selamat pas nanti pulang. Kakak minta maaf kalo kakak punya salah sama Raisya. Selama 15 hari sebelum satgas, kakak dipadatkan dengan latihan. Jadi kakak ga bisa pulang. Selama kakak gak ada, jaga diri kamu baik-baik yah... Maaf kakak gak bisa jaga kamu.
Wassalamualaikum
Rayyan Alfatih
****
Raisya menangis melihat surat ini. Surat singkat yang ditulis Rayyan untuknya. Tapi, kalau dia dapat surat apa adiknya juga dapat surat. Raisya langsung turun ke lantai bawah dan menuju kamar Aisyah.
"Ichaaa... Cha..." panggil Raisya sambil mengetuk pintu kamar Aisyah.
"buka aja kak, gak dikunci kok" teriak Aisyah dari dalam.
"Cha... Kak Rayyan berangkat kapan sih?" tanya Raaisya penasaran.
"tanggal 5 April"
"hah?"
"iya, kenapa?" tanya Aisyah bingung dengan kakaknya yang kaget.
"aku UN 5 April loh cha... " kata Raisya
"ya terus?"
"gaaakk"
"eh, kamu dikasih surat gak sama kak Rayyan?" tanya Raisya
"enggak"
"kakak dikasih? Isinya apa?" tanya Aisyah.
Raisyapun memberi suratnya kepada Aisyah. Aisyah membaca suratnya secara perlahan dan berusaha memahami maksud dari isi suratnya. Ada satu kalimat yang membuat Aisyah kaget.
"kak, maksudnya 'maaf kakak gak bisa jaga kamu' apa?" tanya Aisyah
"gak tau" tangis Raisya pecah.
Sebenarnya dia juga sayang pada Rayyan dan dia tidak mau kehilangan Rayyan. Sebenarnya hati kecil Raisya tidak mau Rayyan menjadi tentara, tapi mungkin ini sudah takdir. Karena, kakek dari Raisya juga meninggal karena tugas.
Saat Raisya umur 5 tahun, kakeknya menjanjikan Raisya dan keluarganya akan pergo ke Bali. Tapi setelah kakeknya pergi satgas. Raisya menanti kakeknya pulang. Namun, saat dia sekolah dipaksa pulang. Ternyata kakeknya meninggal. Pesawat kakek Raisya jatuh dan hancur. Semua yang berada dipesawatpun mati. Termasuk kakeknya.
Raisya tidak ingin kehilangan lagi.
****
Batalyon
Rayyan dan teman-temannya makan siang didepan batalyon. Ternyata Rayyan lupa tidak bawa handphone dan Rayyan lupa menaruhnya dimana. Rayyan kebingungan dan mencari dikantongnya namun tidak ada.
"kenapa Yan?" tanya Zaki melihat Rayyan kebingungan.
"hp gua" jawab Rayyan setengah panik.
"kenapa?" tanya Dandi teman Rayyan.
__ADS_1
"gue gak bawa, gue juga lupa naro dimana" keluh Rayyan.
"aduuuh, yaudah makan dulu. Insya allah aman kok masih sekitar batalyon kan?" kata Dandi.
"iya sih"
****
Didalam batalyon
"kringg kringg..."
Bunyi HP Rayyan karena ada panggilan. Yudha baru keluar dari ruangan kapten Ditto, dia mendengar ada handphone yang berdering. Tapi, saat melihat handphone miliknya mati tudak ada yabg menelponnya. Yudha berjalan lagi mencari sumber suara. Dia melihat handphone tidak tau milik siapa. Yudha melihat ada yang menelpon. Yudha tidak berani mengambilnya karena takut itu milik seniornya. Yudha mengintip siapa yang menelpon.
(Kurang lebih fotonya kayak gitu ya guys, sorry aku ga punya model:))
"weh! Cantik kali" kata Yudha ketika melihat foto profil wa Raisya.
"ambil gak yah, tapi takut" guman Yudha.
Akhirnya Yudha mengambilnya dan menyerahkan ke pusat pemanggilan.
Yudha sangat lega, semoga pemiliknya segera menemukannya.
****
Selesai makan, Rayyan langsung kembali ke batalyon berniat mencari HPnya. Saat sedang berjalan dengan temannya, tiba-tiba dia ditepuk oleh seseorang. Ternyata itu adalah Ardi, salah satu teman dikompinya.
"bang Rayyan, abang hilang handphone kah?" tanya Ardi pada Rayyan.
"nah iya, kau tau?" Rayyan bertanya balik.
"handphone abang ada dipusat pemanggilan. Tadi Yudha yg bawa" jawab Ardi.
"Chandra Angkasa Wirayudha, kan satu regu sama abang" kata Ardi
"oh oke, makasih ya" kata Rayyan sambil menepuk bahu Ardi dan segera bergegas ke pusat pemanggilan.
Saat dipusat pemanggilan, Rayyan langsung menanyakan HPnya. Dan benar saja, hpnya ada disana.
Rayyan melihat ada 5 panggilan tidak terjawab dari Raisya. Rayyan hanya tersenyum melihatnya.
Setelah dari pusat pemanggilan, Rayyan kembali ke barak. Dia berniatmenelpon Raisya. Saat Rayyan menelpon, Raisya langsubg menjawabnya.
"assalamualaikum" ucap Rayyan mengawali pembicaraan ditelpon.
"kakak..." Raisya langsung menangis mendengar suara Rayyan.
"eh... Kok nangis, jangan nangis..." kata Rayyan menenangkan Raisya.
"kakak tugas pas akh UN, akh pengen dianter kakak berangkat sekolahnya" rengek Raisya.
"iya, kan ada ayah" kata Rayyan
"kakak maafin Acha..." kata Raisya semakin menangis.
"iya iya, udah jangan nangis. Belajar yg bener" kata Rayyan menenangkan Raisya.
"kakak hati² yah, jaga diri baik²" kata Raisya sambil menahan tangis.
"iya kamu juga" kata Rayyan lembut.
__ADS_1
"yaudah kak, udah dulu yah wassalamualaikum" tutup Raisya
"Waalaikumsalam" jawab Rayyan.
Saat menelpon, Rayyan melihat ada temannya yang sedang menyendiri. Sedangkan teman-temannya yang lain sibuk dengan handphone-nya. Rayyan menghampirinya.
"oiitt... Sendiri aja!" kata Rayyan sambil menepuk bahunya.
"siap ndan" kata dia. Dia melihat handphone yang dipegang oleh Rayyan. Dia ingat kalau itu adalah hp yang ditemukannya diteras depan ruangan kapten Ditto tadi.
"mohon ijin ndan, apakah itu handphone komandan?" tanya nya.
"iya, ini handphone saya. Kenapa?" tanya Rayyan.
"tadi saya temukan handphone itu diteras depan ruangan kapten Ditto" jawabnya.
"ohh, kamu yang namanya Yudha kan?"
"siap ndan" jawab Yudha tegas.
"sudahlah, jangan panggil saya komandan, panggil Rayyab aja. Kita ini umurnya sama, hanya beda pangkat. Tapi kalo dihadapan yg lain kamj panggil saya harus komandan" kata Rayyan.
"tadi saya liat ada yang menelpon, itu pacar?" tanya Yudha mencari topik pembicaraan.
"oh, bukan. Itu adik saya, sudah saya telpon balik tadi. kenapa?" Rayyan selalj bertanya balik.
"nggak, cantik ndan" kata Yudha
"tuh kan panggil komandan lagi. Saya tuh sebenarnya gak suka dipanggil komandan. Kesannya itu saya terlalu berkuasa, terlalu tua" kata Rayyan sambil terkekeh.
"kamu berapa bersaudara?" tanya Rayyan pada Yudha.
"saya anak terakhir dari 5 bersaudara. Dulu saya punya adik, tapi 2 tahun lalu waktu saya pendidikan dia meninggal karena kecelakaan. Dia mirip sama adek abang" jelas Yudha sedikit berkaca-kaca.
"maaf bang, jadi curhat" kata Yudha.
"ohh, maaf². Jangan nangis dong, ksatria gak boleh nangis" Rayyan memberi penguatan pada Yudha.
"gak bang, cuma sedih kalo Inget adek. Adek abang namanga siapa?" tanya Yudha.
"namanya Raisya, Raisya Hermia Putri. Nama adekmu siapa?" jawab Rayyan.
"namanya hampir mirip bang" kata Yudha membuat Rayyan menengok ke arah Yudha.
"Naisya, Naisya Keyra Putri" tambah Yudha sambil menunduk.
"dah, jangan sedih. Kamu boleh anggap adek abang sebagai adekmu juga. Nanti pulang satgas aku kenalkan" kata Rayyan menghibur Yudha.
"coba mau liat foto adikmu ada?" tanya Rayyan
"nih bang" jawab Yudha sambil menunjukkan foto pada Rayyan.
Memang, adik Yudha sangat mirip dengan Raisya. Umurnyapun hanya beda satu tahun.
****
Satgas Papua
Hari dimana berangkat satgaspun tiba. Rayyan dan rombongannya langsung menuju ke lapangan udara terdekat. Hanya doa yang bisa Rayyan panjatkan dan berharap akan pulang dengan selamat.
Dikelas, Raisya sangat gelisah mengingat kakaknya yabg berangkat satgas hari ini. Raisya sedang melakukan ujian Nasional. Tapi dia tidak fokus. 90 menit waktu untuk menjawab soal, 20 soal pilihan ganda dan 10 soal esai. Karena Raisya banyak melamun, waktunya tinggal 15 menit. Sedangkan, soal yang belum dia kerjakan ada 15 juga. Raisya langsung buru-buru mengisi jawaban. Kemarin malam Raisya tidak bisa fokus belajar karena dia memikirkan kakaknya.
Pulang sekolah, Raisya sangat lega sudah melewati dua mata pelajaran ujian Nasional. Tadi adalah pelajaran yabg sangat Raisya tidak suka, IPS dan PKN. Raisya lebih suka pelajaran matematika dan sains IPA.
__ADS_1
Raisya merebahkan tubuhnya dikasur. Raisya ketiduran karena terlalu banyak pikiran.