Dear Letnan

Dear Letnan
Pernikahan Rayyan-40


__ADS_3

5 bulan kemudian...


Rayyan dan Nayla semakin dekat. Mereka memutuskan untuk menjalin ikatan pernikahan. Hari ini, Rayyan dan Nayla mengajukan persyaratan pernikahan.


"Rileks aja bebe!" Rayyan menggenggam tangan Nayla.


Nayla hanya tersenyum getir ke arah Rayyan.


"Kamu yakin?" tanya Nayla membuat Rayyan mengerutkan keningnya.


"Yakin gimana? Aku udah yakin lah," jawab Rayyan mantap.


"Kamu yakin milih aku? Aku kan dua tahun diatas kamu," jelas Nayla. Sepertinya Nayla sedang insecure.


Rayyan mengeratkan genggamannya


"Emang kalo jodoh, umur tuh nentuin banget ya?"


"Aku kan janda, kamunya masih perjaka," insecure Nayla semakin menjadi-jadi.


Rayyan mengecup punggung tangan Nayla, "Aku gak peduli itu, yang pasti aku sayang sama kamu," Nayla tersenyum mendengar ucapan Rayyan.


"Mas...,"


"Eum?"


"Aku...,"


"Kenapa?"


"Aku belum pernah di gauli sama Anton. Kita kan baru nikah 1 tahun, terus after wedding Anton di tugasin di pelosok Garut. Aku kalo mau hubungan sama dia selalu aja haid. Terus Anton jarang dirumah juga,"


Mata Rayyan membulat sempurna,


"Hah... Serius?"


Nayla mengangguk.


"Yeah! Ini rejeki aku," Rayyan berteriak kegirangan.


Nayla masuk ke ruang danki untuk di wawancara. Meskipun keringat dingin, Nayla bisa melewatinya. Ups, ini baru salah satu tahapan. Masih banyak syarat lain yang harus Nayla lakukan. Seperti rikes, pembinaan mental, dan lain-lain.


 


[H-2 Pernikahan]


"Bagusan kebaya yang mana beb?"


Nayla memilih-milih kebaya di butik bu Ayu. Sedari tadi, Rayyan hanya duduk memperhatikannya.


"Semuanya cocok kalo kamu yang pake," jawab Rayyan.


"Ih... Bagusan yang ijo atau putih?" tanya Nayla lagi.


"ijo aja, konsep pernikahan kita kan Olive green,"


"Tapi bagusan yang putih,"


"Tadi di suruh milih, gue bilang ijo dia maunya putih. Aduuhh... Dasar cewek!" keluh Rayyan dalam hati.


"Bang Rayyan yah?" seorang perempuan berumur belasan mengenali Rayyan.


"Iya, kamu kenal saya?" Rayyan seperti pernah bertemu perempuan itu.


"Aku Hanin bang, temen Raisya. Aku sering liat abang kalo main ke rumah Raisya," jawab Gadis itu ramah.


"Beb...," Nayla melihat Rayyan sedang mengobrol dengan seorang perempuan.


"Oiya, ini Nayla. Calon saya," ucap Rayyan melirik Nayla.


Hanin melihat Nayla dari ujung rambut sampai ujung kaki "Waahh... Cantik banget. Mbak blasteran mana?"


Nayla hanya terkekeh mendengar pertanyaan Hanin.


"Mana ada blasteran. Mamah abdi teh urang sunda asli, kalo papah urang Makassar," jawab Nayla.


"Demi apa?" Hanin masih tidak percaya.


"Iya atuh, Masih teu percaya?" tanya Nayla dengan logat sundanya.


Nayla menyodorkan undangan kepada Hanin, "Nih... Dateng ya... Nanti aku pake kebaya sunda. Ada Raisya juga kok,"


"Oke mbak, Mamah juga kan ngurus gaun mbak,"


"Oh... Jadi kamu anaknya bu Ayu?" tanya Rayyan.


"Iya hehe... Yaudah Bang, Samawa sampe akad yah," Rayyan dan Nayla tersenyum. Kemudian Hanin berlalu meninggalkan Nayla dan Rayyan yang masih memilih-milih gaun.


 


Tibalah hari bahagia yang dinanti Rayyan dan Nayla. Setelah proses yang ruwet, rumit dan panjang, akhirnya Nayla bisa menikah dengan prosesi pedang pora.


Nayla dengan balutan gaun berwarna green mint dan Rayyan yang menggunakan kemeja putih dibalut jas warna green army melewati pedang yang berbentuk seperti gapura itu.


Senyum tidak lepas dari bibir Nayla dan Rayyan. Tidak lupa, Raisya dan Aisyah di dandani untuk menyambut tamu atau istilahnya Pagar Ayu. Senang sekali Raisya, karena kakak pertamanya telah menikah. 


Raisya bertugas mendata tamu yang hadir di pintu masuk gedung. Sedangkan Aisyah berjaga di tempat makanan.


"Menang banyak lo Cha... Lo bisa makan. Gue gabut di depan," keluh Raisya sambil mengambil semangka dan membawanya ke tempat ia jaga.


"Yaelah, gue udah kenyang." balas Aisyah.


Raisya cukup kewalahan mendata tamu undangan yang hadir. Untungnya, Raisya tidak sendiri. Raisya di temani Azkia, yang tidak lain adalah sepupunya.


Raisya menaruh dagunya di meja. Raisya mulai bosan.


"huuh... Siapa yang nikah siapa yang repot," gumam Raisya masih menaruh dagunya di meja dan memainkan handphone.


Takk... Tak... Tak...


Suara tangan mengetuk-ngetuk meja. Raisya malas dan tidak peduli. Raisya mengira kalau itu ulah Azkia karena tamu undangan mulai sepi.


"Kia... Jangan di ketok-ketok apa mejanya," protes Raisya pada Azkia.


Azkia hanya diam. Seseorang itu tidak berhenti mengetukkan tangannya ke meja.


"Aiisshhh...," Raisya mendongak dan sedikit menggebrak meja.


"Tuliskan nama saya," titah laki-laki itu.


"K-kak B-bagas," ucap Raisya yang kagetnya luar biasa.

__ADS_1


Raisya segera menulis nama Bagas di buku catatan. Tangan Raisya gemetar, sehingga nama Bagas menjadi typo.


"Nama saya bukan Bagaskafa, tapi Bagaskara," Bagas tertawa kecil.


"Oh... Iya aku benerin," Raisya mencoret nama Bagas yang awalnya Bagaskafa menjadi Bagaskara.


"Lucu juga ya kamu," Bagas segera masuk ke dalam.


"Masa nama calon suami gak tau," gumam Bagas sambil mendengkus kesal. Tapi suara Bagas masih bisa di dengar oleh Azkia dan Raisya.


Pipi Raisya memerah seperti apel karena tidak sengaja mendengar gumaman Bagas.


"Pipi teteh kok merah?" tanya Azkia.


"Ah... Enggak kok." Raisya semakin tersipu.


"Itu mantan teteh ya?" pertanyaan Azkia saat ini membuat Raisya geram.


"Mantan mantan bapak lo!" sungut Raisya masih dengan pipi yang memerah.


Hanin menghadiri pernikahan Rayyan dan Nayla. Sengaja Hanin datang tidak bersama ibunya agar bisa bertemu dengan Raisya.


"Woiii..." Hanin menggebrak meja melihat Raisya yang mulai ngantuk dan menaruh pipinya di meja.


"Ish elah kaget anjir!" umpat Raisya kesal.


"Hei... Udah jadi ughtea jangan ngomong frontal," Hanin melirik Raisya yang memakai hijab.


"Setan kau,"


"Gue bukan setan astaga," Hanin memutar bola matanya malas.


"Iya lo bukan setan, tapi kelakuan lo kek setan!" sungut Raisya.


"Udah udah, lo jangan marah-marah. Gue ada kabar penting," Hanin sukses membuat Raisya penasaran.


"Paan?" tanya Raisya yang masih emosi.


"Gue tau kuburannya si Rio," ucap Hanin memelankan suaranya.


"SERIOUSLYY???" Raisya berteriak tidak percaya membuat tamu undangan menoleh ke arahnya.


"ssttt..." Hanin menyimpan telunjuknya di depan bibir.


"Kapan lo bawa gue kesana?" tanya Raisya tidak sabar.


"Remember when Anneth said... Mungkin hari ini, hari esok atau nanti," Hanin menggidikkan bahunya sambil terkekeh.


"Hiihh setan!"


"Udah ah, gue mau makan. Kan gue tamu istimewa. Babay..." Hanin masuk ke dalam meninggalkan Raisya.


Talkin' in my sleep at night, makin' myself crazy


Out of my mind, out of my mind


Wrote it down and read it out, hopin' it would save me


Too many times, too many times


Handphone Raisya berdering. Malas sekali Raisya saat melihat yang menelpon adalah Aisyah.


"Di suruh ke sini!" titah Aisyah sedikit berteriak karena sound-nya lumayan keras.


"Ngapain?" tanya Raisya dengan volume yang sebelas dua belas dengan Aisyah.


"Disuruh kak Bagas, As soon as possible!"


Deg


Raisya mematung beberapa detik. Untuk menelan ludah saja perlu tenaga yang ekstra. Raisya beranjak dari duduknya. Sedikit ragu untuk bertemu dengan Bagas. Raisya mulai masuk ke dalam gedung. Sosok tinggi tegap itu duduk di salah satu kursi undangan paling belakang.


Talkin' in my sleep at night, makin' myself crazy


Out of my mind, out of my mind


Handphone Raisya berdering lagi. Tapi kali ini Bagas yang menelponnya. Raisya memencet tombol hijau.


"Saya disini," ucap Bagas bahkan bisa terdengar kalau tidak pakai handphone.


Bagas menengok dan melihat Raisya mematung.


"Kamu kenapa diam? Cepat duduk di samping saya," titah Bagas melirik Raisya dan menepuk kursi di sampingnya.


Karena Raisya tidak bergeming, Bagas berdiri dan menghampiri Raisya.


Deg... Deg...


"Ayo," Bagas sedikit menarik tangan Raisya. Raisya juga tidak memberontak.


"Kakak kenapa ke Secaba?" tanya Raisya.


"What's wrong?" Bagas mengerutkan keningnya.


Mata Raisya mulai berkaca-kaca, "Bang Yudha habis dari Secapa dapet tugas di Papua dan habis itu bang Yudha meninggal," jelas Raisya.


Seulas senyum terbit dari bibir Bagas, "Jadi kamu khawatirkan saya?" tanya Bagas sedikit ge-er.


"Enggak kok," Raisya mengelak.


"Ah bohong kamu. Saya itu tentara, saya bisa liat mata orang bohong kayak gimana," Pipi Raisya kembali memerah.


"Tuh kan pipinya merah," goda Bagas. Raisya memalingkan wajahnya.


"Teu nyaho ah males aing mah," Bagas berusaha menggenggam tangan Raisya tapi tangannya di hempaskan. 


"Kamu marah sama saya?" tanya Bagas.


Raisya menatap Bagas dan menggeleng pelan.


"Hayo... Pacaran mulu," Rayyan tiba-tiba datang.


Raisya sedikit kaget, "Lo ngapain?"


Rayyan memicingkan matanya, "Dih, abis ganti baju gue. Liat kalian berdua pacaran, ya gue samperin lah,"


"Ijin ya bang," ucap Bagas terkekeh.


Rayyan tertawa, "Lanjutkan dek!"


Rayyan meninggalkan Raisya dan Bagas.

__ADS_1


"Adik saya bilang, kalo kamu chat saya pas saya di Secaba," pipi Raisya kembali memerah mendengar pernyataan Bagas.


"Pipi kamu merah, apa kamu punya alergi?" tanya Bagas semakin membuat pipi Raisya merah. Reflek, Raisya menutup pipinya dengan kedua tangan.


Raisya memanyunkan bibirnya, "Aku cuma mau bilang terima kasih sama maaf pas di rumah sakit aku ngusir kakak. Udah itu aja."


"eum... Saya mau ngomong sesuatu sama kamu," Raisya menoleh.


"Ngomong aja," Balas Raisya.


"Saya..." belum sempat Bagas menyampaikan sesuatu kepada Raisya, tiba-tiba ada Nayla menyuruhnya untuk foto bersama.


"Eh... Cantik ganteng... Ayo foto bersama dulu," ajak Nayla masih dengan balutan kebaya adat sunda.


Raisya dan Bagas foto di pelaminan Rayyan. Nayla bersekongkol dengan fotografernya agar posisi Bagas dan Raisya berdekatan.


"Yang ini ke sini, nah... Masnya sama mbaknya. Oke rapetin lagi, Nice." fotografer itu mengarahkan Raisya ke samping Bagas.


"Rapetin lagi mbaknya! Oke satu dua..." fotografer itu mengacungkan jempolnya.


"Sekali lagi gaya bebas." Semuanya bergaya suka-suka. Andalan Raisya bergaya dengan dua jari. Sedangkan Bagas menaruh tangan di dadanya dan melirik Raisya.


Raisya hendak kembali ke kursi tempat asalnya namun di cegah oleh Bagas.


"Saya belum selesai ngomong," Raisya kembali mematung.


Akhirnya Raisya duduk si kursi semula ia dengan Bagas.


"Mau ngomong apa?" tanya Raisya tanpa basa-basi.


"Saya cinta sama..." Bagas sengaja menghentikan ucapannya.


Raisya menaikkan satu alisnya, "sama?"


"Sama Putri," lanjut Bagas tersenyum seperti kuda.


"Owalah... Bilang atuh ke orangnya. Kok bilangnya ke saya," Raisya semakin acuh.


"Maksud saya Raisya Hermia Putri," Oke, kali ini pipi Raisya benar-benar memerah. Raisya memalingkan wajah dan menggigit bibir bawahnya.


"Saya tau kamu salting," ucap Bagas sambil terkekeh.


"Saya mau panggil kamu Putri aja yah?" Raisya menaikkan alis sebelah kanannya.


"Loh kok Putri?"


"Kalo kamu Putri, saya pangeran," jelas Bagas. Ini lebih tepatnya gombalan maut.


"Oh... Jadi kalo tentara buaya tuh kayak gini," Raisya memandang Bagas sinis.


"Mana ada saya buaya, orang saya manusia kok,"


Dark jokes


Raisya memutar bola matanya malas. Kadang, hati tidak sesuai dengan otak. Raisya yang acuh pada Bagas, dalam hatinya tersenyum girang.


"Saya juga," ucap Raisya menurut kemauan hatinya.


Bagas menaikkan satu alisnya, "apa?"


"Oh... Enggak, tadi saya salah ngomong," sepertinya saat ini hati dan otak Raisya sedang tempur.


Raisya merutuki dirinya, "Anjir kenapa gue jadi gini sih?" batin Raisya.


"Maksud kamu, kamu juga cinta sama saya?" yeah! Tebakan Bagas benar.


"Bukan!" Raisya masih saja mengelak.


"Terus?" Bagas tersenyum jahil.


"Gue juga bisa kali," ucap Raisya dalam hati.


"Saya cintanya sama Bima," Raisya meniru jurus yang di keluarkan ada oleh Bagas.


"Bima Bagaskara?" Bagas tertawa renyah.


This is first time Raisya melihat Bagas yang tertawa tanpa beban. Raisya juga ikut tertawa.


"Kalo kamu Bima, saya Sinta," Raisya mengeluarkan jurus yang tadi Bagas berikan.


Bagas kembali tertawa lepas, "Sejak kapan Sinta sama Bima? Dari dulu Sinta ya sama Rama,"


"****! Ini nih kalo pelajaran sejarah bolos mulu... Raisya... Raisya...," Raisya menahan malu dan kembali merutuki dirinya.


"Dari dulu Bima sama Raisya kan?" Oke, Raisya masih mencoba untuk membalas Bagas.


"Udah deh, kamu siap gak?" kali ini pertanyaan Bagas langsung to the point.


"Siap buat?" Raisya selalu tidak mengerti ucapan Bagas.


"Married with me," Bagas melirik Raisya.


Hati Raisya bergejolak, tapi pikirannya menolak karena ia masih kuliah.


"Aku masih kuliah," tolak Raisya halus namun terdengar tegas.


"I'll wait you, You're mine," Bagas menatap Raisya penuh arti.


"I'm your's," Balas Raisya menatap balik Bagas.


"Aku masih sembilan belas tahun kak, minimal S1 buat bisa setara sama kakak. Apalagi saingannya perawat, dokter, pramugari dan lain-lain," sepetinya kali ini Raisya curhat.


Bagas masih dengan posisi menatap Raisya,"Saya gak akan larang cita-cita kamu untuk raih gelar S1. Tapi sebenernya saya tidak masalah kalau kamu masih belasan tahun atau belum dapet gelar,"


"Itu terlalu cepat kak, aku masih belum siap dan aku juga gak mau pacaran," Raisya menunduk lesu. Ia terpaksa membohongi hatinya sendiri.


"Gak papa, saya tetap tunggu kamu." Bagas menggenggam tangan Raisya dan mengusapnya lembut.


 


Udah lah kalian berdua nikah aja, penduduk Bima Sakti pun merestui kalian. Eh betewe, masa gue baca ulang part inj gue baper sama gombalannya Bagas:v


Mau cerita sedikit, niatnya kemaren malem tuh up tapi gada kuota awokawokawok. Ini baru beli kuota dan baru bisa up sekarang xixixi


Nah sekarang kalian tau pengorbanan saya, intinya


Jangan lupa dukungan & komen:)))


Makasih banyak buat kalian yang nyimak cerita ini dari awal sampe sekarang. Tanpa kalian, aku males buat lanjut wkwkwk


Oiya, ini cerita pertama gue. Murni hasil karangan gue. Plis, yang mau plagiat minggir jauh-jauh. Kalo nemu ada yg plagiat, DM gue di ig @nxzllnbrx Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2