
"Perempuan itu...," gumam Raisya.
"Lo bukannya calon si Bagas?" tanya perempuan itu sangat to the point.
"Saya istrinya, kenapa emang?" tantang Raisya.
Bagas membawa kelengkeng dan buah pir kesukaannya.
"Sayang...," Bagas terdiam ketika melihat Raisya sedang berdebat dengan seorang perempuan yang ia kenal. Ya, itu adalah Sherin.
"Asal lo tau yah, harusnya Bagas tuh punya gue!" ucap Sherin sambil mendorong tubuh Raisya sehingga hampir menabrak sayur-sayuran.
Dengan sigap, Bagas menahan tubuh Raisya yang mendapat serangan dari Sherin.
"Cantik doang, sukanya sama laki orang!" ketus Raisya.
"STOP! KAMU INI APA-APAAN SIH RIN?" Bagas maju ke depan dan menyuruh Raisya mundur.
"Mas... Aku kan udah bilang kalo aku cinta sama kamu...," nada Sherin sedikit merengek.
"Saya sudah punya istri, tolong jangan ganggu saya lagi!" ketus Bagas lalu menarik Raisya dan membawanya menjauh dari Sherin.
Sherin menghentakkan kakinya ketika melihat Raisya yang dirangkul oleh Bagas.
"Liat aja nanti! Hiiihhh gue kesel bangettt!!" Sherin menjambak rambutnya frustasi.
Bagas merangkul Raisya, Bagas takut sekali Raisya akan marah. Dan benar saja, dari tadi Raisya hanya diam.
Bagas menghela napas panjang. Biarlah, mungkin Raisya kesal. Bagas akan menunggu sampai mood Raisya benar-benar baik.
Semua barang belanjaan sudah Raisya beli. Raisya masuk ke mobil dan disusul oleh Bagas. Dan mereka pun pulang. Bagas melirik Raisya yang sedang melihat ke luar jendela.
"Raisya...," panggil Bagas lembut.
Raisya tidak menoleh masih dengan posisi melihat ke luar jendela.
"Raisya...," panggil Bagas lagi. Akhirnya Raisya menyerah, ia tidak bisa mengabaikan Bagas.
"Apa?" tanya Raisya sedingin es.
"Jangan marah... Kan saya udah jelasin ke kamu...," Bagas menggenggam tangan Raisya.
"Iya iya tau," Raisya masih memasang muka juteknya.
"Terus, kamu kenapa masih cemberut gitu heum?" Bagas masih dengan sikap lembutnya.
"Gak papa," balas Raisya masih jutek.
"Saya tau, perempuan kalo bilang gak papa pasti ada apa apa ya kan?"
"Jujur aja...," lanjut Bagas tidak mau ada rahasia diantara mereka.
"Nanti aja kalo dirumah," jawab Raisya memberi sedikit angin segar untuk Bagas.
Mereka pun sudah sampai di batalyon, butuh beberapa meter lagi untuk masuk ke komplek. Sesampainya dirumah, Raisya mengambil sayur-sayuran yang ia beli tadi.
"Sini mas bantu, itu berat," Bagas berusaha membantu Raisya tapi dengan tegas ditolak oleh Raisya.
"Gak usah,"
Dengan susah payah, Raisya membawa dua tote bag besar ke dalam rumah.
"Awww...,"
Kaki Raisya terseleo ketika akan masuk ke rumah. Akibatnya, barang-barang yang dibawa Raisya terjatuh. Untungnya, dengan sigap Bagas menahan agar Raisya tidak jatuh.
Deg...
Sudah menikah, tapi rasanya masih saja tetap sama. Sama seperti saat pertama kali Raisya bertemu Bagas.
"Udah mas bilang, mas aja yang bawa. Kamu kenapa bandel sih?" Bagas membetulkan posisi mereka.
Akhirnya dengan bujukan Bagas, barang-barang belanjaan dibawa oleh Bagas. Bagas meletakkannya di meja makan.
Bagas melihat Raisya akan membuka hijabnya. Bagas memeluk Raisya dari belakang.
"Jangan marah...," ucap Bagas lirih.
Tidak tega juga mendiamkan Bagas terus-terusan. Bagaimanapun, sekarang Raisya sudah menjadi istri dan harus menghapus sifat egoisnya.
Raisya membalikkan tubuhnya menghadap Bagas. Deru nafas pria itu menerpa lembut wajah Raisya. Raisya tersenyum.
"Iya... Aku maafin mas, ya masa sih gak aku maafin," Raisya melepas pelukan Bagas dan mencium bibir Bagas.
Raisya berlari karena malu.
"Nakal yah," Bagas tertawa dan mengejar Raisya.
Raisya terus berlari sampai ia harus naik ke kasur untuk menghindari Bagas. Tapi, Raisya kalah dengan kecekatan Bagas. Bagas mendekap Raisya.
"Kena kau," ucap Bagas dengan nafas yang tidak beraturan begitupun Raisya.
"Ampun... Ampuni aku...," ucap Raisya masih ngos-ngosan.
"Rasakan jurus ninjaku," Bagas menggelitiki perut Raisya.
Raisya meronta di pelukan Bagas. Tanpa ampun, Bagas terus menggelitiki Raisya.
"Udah... Ampunn...," Raisya mulai lemas dengan serangan Bagas.
Akhirnya Bagas melepaskan dekapannya. Raisya bernafas lega.
Bagas duduk di ranjang dan menepuk tempat sebelahnya, mengisyaratkan agar Raisya tidur disampingnya.
Raisya menuruti perintah Bagas. Raisya tidur di sebelah Bagas dan tersenyum sambil terus memandangi wajah Bagas.
"Kenapa? Saya ganteng kan?" tanya Bagas sedikit kege-eran.
__ADS_1
"Gak," jawab Raisya ketus.
"Aku gelitikin lagi nih," ancam Bagas dengan kedua tangan yang sudah siap posisi.
"Ihh jangan...,"
"Yaudah makanya,"
"Makanya apa?"
"Bilang dulu,"
"Bilang apa?"
"Suami aku paling ganteng sealam semesta,"
"Oke, SUAMI AKU PALING GANTENG SEALAM GHAIB...,"
Raisya tertawa, lain halnya dengan Bagas yang sudah memasang wajah marah.
Bagas kembali menggelitiki Raisya. Raisya kembali tertawa. Perlahan, tangan Bagas menyusup ke baju Raisya. Raisya terdiam sejenak, membuat Bagas juga menghentikan aksinya.
"Mas...,"
"Kamu masih belum siap?" tanya Bagas menatap Raisya.
Raisya menggeleng pelan, "Slai stowberry...," pipi Raisya memerah, ia malu untuk mengatakan hal ini.
Bagas menaikkan satu alisnya, "Maksud kamu?"
Raisya tidak menjawab. Bagas membutuhkan waktu 3 menit untuk memahami maksud Raisya.
"Apa kamu haid?" tanya Bagas, sedangkan Raisya masih menunduk.
"Kamu haid heum?" Bagas dengan lembut menengadahkan kepala Raisya.
Raisya membuang pandangannya ke arah lain, "Sstt... Aku malu mass...," bisik Raisya sambil menyimpan jari telunjuknya dibibir Bagas.
Bagas tertawa lepas, "Ngapain kamu malu dek? Mas ini suami kamu...,"
Raisya memanyunkan bibirnya mendengar pernyataan Bagas.
"Mas kapan dinas?" tanya Raisya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu gak suka yah mas disini?" Bagas melepas pelukannya.
"B-bukan gitu mas, takutnya kan telat atau gimana,"
"Hmm... Iya sayang... Nanti mas dinas habis Dzuhur,"
Bagas membuka tangannya agar Raisya bisa tiduran.
"Mas insecure sama jam yang di pake kamu," ucap Bagas, sementara Raisya masih nyaman tiduran di lengan Bagas.
Raisya menatap Bagas, "Kenapa?"
Tangan Raisya terulur menyentuh pipi Bagas, menenangkan hati Bagas yang sepetinya tidak karuan.
"Kok mas bilang gitu sih? Gak papa, kan mas tentara," Raisya mengelus lembut rambut Bagas.
Bagas menghela napas panjang dan kembali memeluk Raisya.
"Makasihh... Makasih udah ngerti sama tugas aku,"
Raisya membalas pelukan Bagas, "Iya mas, kan aku persit,"
Drrrttt... Drrrtttt...
Bagas melepas pelukannya. Karena malas, Bagas menyuruh Raisya mengambilnya. Bagas melihat raut wajah Raisya yang berubah.
"Dari danki?" tanya Bagas.
Tanpa menjawab pertanyaan Bagas, Raisya mengangkat telponnya. Bagas sedikit kaget tapi...
"Mas... Kamu kok lebih milih dia daripada aku?" Raisya menaikkan volume telpon.
"Iya, mas Bagas lebih milih saya daripada perempuan gatel kayak lo!" ketus Raisya kemudian mematikan sambungannya.
Bagas sudah bersiap menghadapi Raisya.
"Blokir aja sayang," Bagas melihat wajah Raisya yang memerah karena kesal.
"Udah," balas Raisya ketus.
"Kalo kamu mau, pegang aja hp mas," tawar Bagas. Raisya mendelik tajam.
"Yaudah, hp aku juga kamu yang
pegang," final Raisya.
"Sebenernya, kamu itu kenapa sih sama dia? Kamu suka mas? Atau gimana?" tanya Raisya masih emosi.
"Dia yang ngerasa baper, padahal mas biasa aja," jelas Bagas.
"Makanya, jadi orang tuh jangan kecakepan! Ntar kalo mas diambil orang gimana? Aku sama siapa?" tanya Raisya dengan nada yang terdengar tinggi.
Bagas hanya tersenyum mendengar itu.
----------------
Malamnya, Bagas masih dinas. Sedangkan Raisya sedari tadi mondar mandir karena barang yang ia beli kurang.
"Beli gak yah, beli gak yah, kalo beli di warung depan bisa... Tapi udah malem takut nanti di marahin mas Bagas. Tapi kalo gak beli nanti sayurnya gak ada bumbunya," gumam Raisya yang bingung.
Dengan segala pertimbangan, akhirnya Raisya memutuskan untuk membeli bahan bumbu di warung depan batalyon. Toh hanya di depan.
"Asem 5000, cabe sekilo, bawang merah sama putihnya sekilo bu," ucap Raisya pada penjual itu.
__ADS_1
Untungnya, toko sayuran dan bumbu-bumbu ini sedang sepi. Jadi Raisya tidak perlu mengantri.
"Ini ya neng," penjual itu memberikan sebuah plastik sedang ke Raisya.
Raisya membayar kemudian hendak kembali lagi ke batalyon.
"Raisya...," suara itu, suara yang sangat melekat di ingatan Raisya.
Raisya terdiam.
Hhhggghh...
Pria itu mendekap Raisya. Sangat keras, sampai Raisya terdorong ke belakang. Raisya tersentak, karena sekarang ia adalah istri Bagas. Seenaknya saja main peluk-peluk istri orang.
"Abang kangen sama kamu Raisya...," ucapnya lirih sambil mengelus hijab Raisya.
Raisya melepas paksa pelukannya.
"Maaf," Raisya hendak lari tapi tangannya di cekal.
"Apa kamu bahagia jadi istri sersan?"
"Sudah saya bilang, pangkat, pekerjaan, profesi itu bukan alat pengukur kebahagiaan seseorang. Jelas saya bahagia!"
Tangan Raisya masih di cekal. Tuhan tolong singkirkan dia...
"Saya tau, dalam hati kamu masih mengharapkan Yudha kan?"
Raisya menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Gak, gak sama sekali,"
"Saya sedang mengincar adik kamu, kalau saya tidak bisa mendapatkan kamu, setidaknya adikmu toh," Rey tersenyum smirk.
Raisya semakin ketakutan. Rey mendekatkan tubuhnya, memeluk Raisya erat dan mengecup keningnya. Raisya meronta sekuat tenaga tapi tenaga Raisya kalah dengan tenaga Rey.
Raisya melepas paksa pelukan dan cengkraman tangan Rey.
"Jangan ganggu saya, adik saya dan keluarga saya! Gavin sama Aisyah udah tunangan, jangan ganggu!" teriak Raisya kemudian berlari ketakutan dari Rey. Rey hanya tersenyum smirk.
Dari kejauhan, ada yang memantau pergerakan Raisya dan Rey.
Raisya masuk ke rumah, Bagas masih belum pulang. Raisya mengunci semua pintu dan jendela rumahnya. Raisya menenangkan diri, ia masih ketakutan.
Tokk... Tok...
Raisya menoleh ke arah pintu. Agak ragu Raisya membukanya. Ia takut Rey benar-benar gila akan menyusulnya. Raisya melihat dari jendela terlebih dahulu. Syukurlah, pria loreng yang selalu melindunginya.
Wajah Bagas memerah, Bagas menutup pintu dan menarik tangan Raisya. Bagas berjalan mendekati Raisya dengan nafas yang tidak beraturan. Raisya menjadi semakin takut, ia mundur terus sampai punggungnya menabrak tembok.
"Kamu sama Rey ngapain heum?" kedua tangan Bagas mengapit tubuh Raisya yang terpojok di tembok.
"KAMU NGAPAIN SAMA REY??" Bagas membentak Raisya. Air mata lolos dari mata Raisya. Raisya sangat ketakutan.
"Kamu ngapain sama Rey heum?" Kali ini Bagas bertanya dengan nada lembut tapi tetap terdengar menyeramkan.
"Kamu selingkuh heum?" Bagas melahap habis bibir Raisya. Juga tangan Bagas yang menyusup dan meremas kasar kedua aset Raisya.
Raisya semakin menangis. Sementara Bagas masih dengan kecemburuan yang berapi-api.
"MAS! AKU HAIDD!" teriak Raisya tapi tidak di dengar oleh Bagas.
"Kamu masih nyimpen surat Dari Yudha kan?" Bagas mengacak-acak lemari Raisya.
"Ini kan?" Dengan tega Bagas menyobek kertas surat dari Yudha menjadi dua dan meremasnya sampai menjadi bola.
Raisya menangis dan berusaha mengambil surat dari Yudha. Itu adalah kenangan satu-satunya dari Yudha.
"Sekali lagi aku tanya, kamu ngapain sama Rey sayang??" Bagas sudah siap menindih tubuh Raisya.
"DIA CUMAN NANYA, APA KAMU BAHAGIA NIKAH SAMA SERSAN? AKU JAWAB, LEBIH BAHAGIA DARI APA YANG KAMU KIRA,"
Penjelasan Raisya sukses membuat Bagas terdiam.
"Dia bilang, dia kengen. Seenaknya gitu dia meluk aku. Aku berusaha lepas tapi tenaga aku gak sebanding," tangis Raisya semakin menjadi.
"Dia juga bilang, kalau dia lagi ngincar Aisyah. Terus kata aku, jangan dekati Aisyah, dia udah tunangan sama Gavin,"
"Terus kenapa kening kamu bisa dicium sama dia sayang?"
"Demi Allah mas, tangan aku gak bisa lepas, kamu liat tangan aku merah kayak gini. Ada bekas kuku yang dia tancep," Bela Raisya sambil menunjukkan tangannya.
Bagas melihat pergelangan tangan Raisya. Ya, ada bekas tancapan kuku di pergelangan Raisya. Bagas mengecupnya dan Bagas mendekap Raisya.
"Maaf sayang, mas gak tau. Kalo kamu keluar, jangan di atas jam 8 yah... Maaf tadi mas bentak kamu, jangan nangis...," Bagas menghapus air mata Raisya.
"Aku takut...," ucap Raisya di pelukan Bagas.
"Jangan takut sayang... Mas ada disini," Bagas mengelus rambut Raisya dan menghujani wajah Raisya dengan ciuman.
"Mas jangan cemburu, aku setia mas. Aku mau buang surat dari bang Yudha tapi itu satu-satunya kenangan dari almarhum...," Raisya mengelus lembut rambut Bagas.
"Iya sayang... Masa mas cemburu sama yang udah meninggal," ujar Bagas agak terkekeh.
"Mas tunggu kamu suci," lanjut Bagas membuat Raisya memanyunkan bibirnya.
'Cup'
"Jangan manyun," titah Bagas.
...--------...
...Author mau bikin pov malem pertama Raisya sama Bagas. Tapi please jangan di bayangin ya:'v gue takut dosa soalnya. Bikin gak yah? Masih bingung. Tapi kalo gue bikin please jangan di bayangin apalagi di praktekin. Gpp deh kalo yang udah nikah mah:'))...
...Oiya, part ini juga banyak adegan dewasanya, jadi mohon bijak ya;) Panjang ya? Soalnya tanggung kalo di potong. ...
...Jangan lupa like nya manteman. Kalau berkenan, komentar juga 😁😁😁...
__ADS_1