
Satu minggu latihan, akhirnya hari perpisahan sekolah pun tiba. Pagi pagi sekali, Raisya sudah bangun. Dia langsung sholat subuh, makan kemudian bersiap dengan seragam perpisahan sekolah yang diberi bu Linda. Ada rasa tak terima dari hati Raisya. Dia tidak ingin berpisah dengan teman atau sahabatnya.
Setelah rapih dengan busananya, Raisya langsung berangkat ke SMP Melati. Arif, ayah Raisya sudah siap menjalankan mobil dan berangkat ke gedung tempat perpisahan sekolah Raisya. Aisyah dan ibunya juga sudah siap. Sekitar 30 menit waktu yang harus ditempuh agar bisa sampai ke gedung itu.
~sekolah~
[07:30]
Raisya telah sampai digebang depan gedung. Raisya membuka pintu mobilnya, ternyata didepan gerbang banyak anak lelaki yang sedang menunggu teman-temannya. Anak laki-laki yang melihat Raisya turun dari mobil sangat terpesona meski Raisya belum dirias. Bagaimana tidak, balutan busana Raisya yang seperti gaun sangat membuatnya semakin anggun. Raisya juga memakai sandal yang agak tinggi agar nanti terlihat tidak kalah tinggi dengan Rio.
Raisya berjalan menuju ruang rias. Sebelumnya, bu Linda memberi tau seluruh muridnya kalau nanti dirias digedung itu dan bu Linda memberi tau letak ruangan riasnya.
Ayah & anggota keluarga Raisya menunggu dikursi tamu yang sudah disediakan panitia. Saat Raisya masuk ke ruang rias, Raisya melihat ada Iska dan Frisca. Sedangkan dipojok ada Hanin dan Reva sahabatnya. Iska dan Frisca sedang dirias. Sedangkan Reva dan Hanin telah selesai make up. Diruangan itu ada 5 orang tukang rias.
Sebelum dirias, Raisya menghampiri kedua sahabatnya itu yang sedang sibuk main handphone. Raisya hanya basa basi saja karena dia malas bertemu dengan Iska lagi.
"hei guys" Raisya menyapa mereka tapi mereka masih sibuk dengan handphone nya.
"heii... Pengantin" ucap Reva sambil terkekeh. Raisya memutar bola matanya malas.
"kalian dah dirias?" Raisya mencari topik pembicaraan. Dia menunggu Iska selesai.
"udah nih, cepetan sana giliran kamu. Pengantin juga" Reva menyuruh Raisya agar cepat dirias.
"iya, cepetan sana. Ntar kalo udah selesai kita potbar" tambah Hanin.
"udah sanaaa" Reva mendorong punggung Raisya sehingga Raisya terdorong ke arah tukang rias.
Tukang rias yang melihat Raisya pun menyuruh Raisya duduk dibangku rias.
"sini dek dirias" kata tukang rias itu.
Raisya melihat Iska belum selesai dirias dan sepertinya masih lama menunggu Iska selesai.
"nyesel gue dateng cepet²" gumam Raisya dalam hati.
Akhirnya Raisya mau dirias. Sedangkan bangku rias Raisya tepat disamping Iska. Raisya berusaha bersikap cuek. Sebenarnya Raisya tidak takut dengan Iska, hanya saja dia malas berdebat.
Iska sudah selesai dengan riasannya. Iska beranjak dari bangkunya dan akan pergi. Bukan Iska namanya kalau tidak mencari sensasi. Saat Raisya sedang dirias, Iska melirik sinis Raisya.
"mba, tolong dandanin yang cantik yah temen saya yang satu ini. Soalnya dia jadi pengantin" Kata Iska dengan nada mengejek sambil sedikit tertawa.
"eh, bukan temen deh.... " ucapnya terpotong kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telinga Raisya "tapi musuh...." lanjut Iska sambil tersenyum sinis.
Reva dan Hanin yang melihat kejadian itu geram dengan kelakuan Iska. Hanin menarik rambut Iska yang sudah rapih dengan konde.
"jangan macem-macem sama temen gue lu" ucap Hanin sambil menarik paksa konde Iska.
"ohh, jadi itu temen elu" Iska tak kalah geram dengan sikap teman Raisya yang satu ini. Diapun membalas dengan menarik rambut Hanin.
Raisya yang melihat temannya berantem panik. Tukang rias diruangan itu berusaha memisahkan antara Iska dan Hanin.
Keadaan semakin panas. Iska dan Hanin saling memaki. Hanin yang geram melayangkan pukulan ke wajah Iska dan tepat mengenai hidung Iska. Alhasil hidung Iska berdarah. Hanin juga seorang anak beladiri karate sabuk hitam sama seperti Raisya. Bedanya Raisya taekwondo dan Hanin karate.
Iska berlari ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang mengalir dari hidungnya. Hanin yang tadinya sudah rapih pun menjadi berantakan dan harus dirias lagi.
"Nin! Kenapa kamu bales dia sih?! Udah tau gila, ngapain dibales. Jadi gini kan, coba kamu ga emosi tadi. Gak bakal kayak gini jadinya" Raisya kesal dengan Hanin. Meskipun Hanin sudah membelanya, Raisya tidak ingin ribut dengan Iska. Kalau seperti ini, masalahnya akan menjadi panjang.
"ada apa ini?" bu Linda tiba-tiba masuk karena mendengar keributan dari ruang rias.
__ADS_1
Bu Linda kaget melihat kondisi Hanin yang berantakan.
"astaga... Hanin! Kamu ini kenapa?" tanya bu Linda. Hanin hanya menunduk.
"ga papa bu" ucap Raisya agar bu Linda keluar dari ruangan itu.
"mba, dipercepat yah riasnya. Jam 8 sudah akan mulai acara" perintah bu Linda kepada tukang rias. Kemudian bu Linda pun pergi.
Acara yang pertama sambutan-sambutan. Kemudian ada beberapa penampilan yaitu puisi dan pidato. Barulah nanti acara inti yaitu pelepasan siswa siswi kelas IX SMP Melati.
Raisya dan Hanin telah selesai dirias. Hanin, Raisya dan Reva langsung menuju ke tempat acara.
"Rai... Maapin gue, gue greget soalnya. Gue ga mau temen gue disakitin" ucap Hanin saat berjalan menuju tempat acara.
"iya, gue maapin" kata Raisya cuek.
Setelah turun satu lantai, akhirnya mereka sampai ditempat acara. Raisya, Hanin dan Reva kumpul didepan pintu masuk dan bersiap-siap.
Acara saat ini masih sambutan. Selesai sambutan ada puisi yang nantinya dibacakan oleh Kirana. Setelah puisi ada penampilan pidato dari Reva. Barulah inti acara dimulai.
Bu Linda memasang dasi pada leher Raisya dan topi dikepala Rio sebagai atribut yang nantinya sampai panggung akan dilepas oleh kepala sekolah.
Tiba saatnya acara inti dimulai. Sebenarnya Raisya sangat gugup. Tapi dia mampu mengendalikannya. Rio juga tak kalah gugup. Pasalnya Rio berjalan seperti pengantin dengan orang yang dia suka. Sampai dipanggung, ibu Lilis sebagai kepala sekolah melepas atribut yang dikenakan Raisya dan Rio sambil menangis dan memeluk Raisya dan Rio. Raisya dan Rio pun membalas pelukan ibu kepala sekolah itu. Momen haru pun terjadi.
Setelah acara inti selesai, ada beberapa penampilan dari kelas VII dan VIII. Tapi sebelumnya ada pembacaan siswa siswi terbaik SMP Melati dan pembacaan ranking.
"..... Peraih gelar siswa siswi terbaik SMP Melati 2018 adalah...." ucap MC terpotong agar semua orang penasaran. Tapi sepertinya sudah banyak yang tau, kalau yang menjadi icon pelepasan atribut adalah peraih gelar siswa terbaik.
"..... Raisya Hermia Putri dan Rio Fajar Nugraha... Ananda dipersilahkan maju kedepan" suara riuh tepuk tangan mengiringi langkah Raisya ke panggung yang disusul dengan Rio.
Mereka berdua pun mendapat bingkisan dan sebuah piala kaca. Tak lupa mereka foto dipanggung dengan bu Lilis kepala sekolah.
Raisya dan Rio turun panggung diiringi tepuk tangan lagi. Raisya melihat Iska meliriknya dengan mata yang sangat sinis. Iska mengulurkan kakinya dijalan yang akan dilewati oleh Raisya. Sehingga Raisya jatuh.
"urusan kita belum selesai" ucap Iska pelan namun didengar oleh Raisya.
__ADS_1
Para undangan yang melihat kejadian itu kaget. Rio membantu Raisya berdiri karena Raisya menggunakan sandal yang agak tinggi.
"kamu ga papa?" tanya Rio khawatir dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Raisya.
Raisya langsung menuju kursi keluarganya. Raisya sangat malu dan kesal.
"kamu ga papa kak?" tanya ibu Raisya, sedangkan Raisya sibuk mengibaskan tangannya ke baju agar debu yang menempel hilang.
"ga papa" jawab Raisya jutek.
Meski acara besar dan acara yang sakral, orang tua Iska tidak datang. Dia hanya ditemani oleh bibinya yang kebetulan tidak sedang sibuk, jadi bibinya bisa menemani Iska.
Setelah acara selesai, Raisya langsung pulang. Raisya juga kesal dan lelah.
Saat dimobil, Raisya mendapat pesan misterius dari seseorang.
+628396632085
Urusan kita belum kelar
^^^Acha Mia^^^
^^^Oke^^^
Raisya tau itu adalah Iska. Dia hanya menjawab singkat. Raisya menarik napas dan membuangnya kasar kemudian menyandarkan kepalanya dijendela mobil.
Sesampainya dirumah, Raisya merasakan handphone nya bergetar. Ternyata ada panggilan masuk.
+628396632085 calling you....
Raisya mengangkatnya
"halo?" ucap Raisya
"you must die..." suara disebrang sangat asing bagi Raisya. Ini adalah nomor Iska, tapi Raisya sangat kenal suara Iska.
"halo... Halo..."
Tiba-tiba sambungannya dimatikan. Raisya tidak takut dengan apa yang direncanakan Iska. Raisya justru tertantang.
"sebenernya apa yabg gue lakuin sih? Kalo kayak gini, sama aja gue perjuangin Rio sama ka Bagas" gumam Raisya.
Sebenarnya Raisya tidak memiliki rasa dengan Rio maupun ka Bagas. Dia hanya merasa nyaman karena Rio memperlakukan manis kepadanya dan sangat perhatian.
__ADS_1
"ambil aja tuh si Rio ama ka Bagas, gue ga butuh" gumam Raisya lagi sambil merebahkan badan ke kasur sementara dia belum ganti baju.