
Setelah pengajuan yang rumit, hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Raisya dan Bagas. Hari ini adalah hari resepsi pedang pora Bagas dan Raisya. Pernikahan Raisya dan Bagas hampir sama konsepnya seperti pernikahan Rayyan dan Nayla, bedanya Raisya mengusung konsep hijau Army dan pemandangan alam.
Yang merancang busana dan gaun Raisya adalah Hanin. Setelah kuliah, Hanin menjadi designer. Banyak juga yang memuji karya Hanin sangat bagus dan cocok dengan konsep pernikahan.
Bagas dan Raisya duduk di pelaminan, Raisya merasa tangan Bagas sangat dingin.
"Kenapa mas?" Raisya terus menggenggam tangan Bagas.
"Ah... Gak papa," balas Bagas sambil tersenyum tipis.
Sebenarnya Bagas gugup karena pertama kalinya ia duduk di pelaminan dengan Raisya dan akan tinggal bersama Raisya. Raisya mengecup punggung tangan Bagas dan tersenyum.
Tak lama, teman-teman Raisya datang dan mereka pun berfoto bersama. Masing-masing juga membawa pasangan, kecuali Hanin. Hanin ingin melanjutkan kuliah S2 nya di Singapura bulan depan.
"Lempar bunganya ke sini...," teriak Kirana.
Raisya dan Bagas akan melemparkan bunga.
"Satu... Dua... Tiii... Ga,"
Dinda menangkap bunha yang di lempar Raisya. Dinda tertawa sambil melirik Dean.
"Cepet nyusul Din...," teriak Raisya.
"Cepet ngisi, jadi ibu nanti," balas Kirana.
Wajah Raisya memerah, apalagi Bagas. Sudah seperti kepiting rebus wajah mereka berdua. Kirana tertawa lepas melihat ekspresi wajah Raisya.
"Mas...," panggil Raisya.
Bagas menoleh, "Eum?"
Agak ragu untuk Raisya menanyakan ini tapi pertanyaan ini selalu mengganggu pikirannya.
"Apa iya malem pertama itu sakit?" tanya Raisya dengan wajah polosnya.
Bagas tersenyum jahil, "Enggak kok, enak,"
"Enak? Apanya?" Raisya tidak mengerti ucapan Bagas.
"Malam pertama itu enak," bisik Bagas di telinga Raisya sambil tersenyum jahil.
"Mas udah pernah?" pertanyaan Raisya membuat Bagas membelalakkan matanya.
"Enggak lah, ini baru mau...,"
"Oohh... Tapi kata mbak Nayla malam pertama tuh sakit, terus berdarah gitu," ujar Raisya polos.
"Mau nanti malem?" tanya Bagas masih dengan senyum jahil.
"Aku sih nurut mas aja," jawab Raisya.
Setelah resepsi, Bagas dan Raisya untuk sementara ini tinggal di rumah dinas. Raisya membawa dua koper dan satu tas. Sangat banyak yang Raisya bawa. Sedangkan barang-barang Bagas sudah ada di rumah Dinas.
__ADS_1
"Sayang... Aku ada urusan sebentar, aku pergi dulu yah...," ucap Bagas mengacak puncak kepala Raisya.
Raisya memeluk Bagas dengan manja, "jangan lama-lama," rengek Raisya.
Dengan berat hati Bagas meninggalkan Raisya dirumah sendirian.
"Kalo semisal ada apa-apa langsung telpon mas aja yah," Bagas mengecup kening Raisya dan berjalan meninggalkannya.
Raisya masuk ke rumah dan membereskan barang-barangnya dan Bagas. Raisya membuka pintu lemari Bagas. Raisya merasa lemari Bagas sangat tidak rapih. Ia pun mengatur ulang pakaian-pakaian Bagas.
Raisya mengeluarkan semua baju Bagas, ada sebuah foto yang terselip dan jatuh. Sebuah polaroid, Raisya mengambilnya.
Raisya kaget, itu adalah foto Bagas bersama perempuan yang ia temui di rumah makan waktu itu. Foto yang berlatarkan Masjid Jamie Baiturrahman Aceh.
"Gak, gue gak boleh curiga. Siapa tau kan fansnya, mas Bagas kan selep," Raisya menepis semua pikiran negatif yang ada di kepalanya.
"Tapi ini mas Bagas sedeket itu," gumam Raisya.
"Simpen gak yah simpen gak yah?" Raisya menghitung kancing bajunya.
Akhirnya Raisya menyimpan foto itu di belakan casing hpnya. Tempat yang sangat tidak bisa di ketahui oleh Bagas. Besok akan Raisya tanyakan itu, kalau Bagas malam ini pulang, ya malam ini juga.
Tokk... Tok...
Mendengar suara ketukan pintu, Raisya membereskan baju yang berserakan. Raisya berlari dan membuka pintu. Benar saja, itu adalah Bagas. Tidak ada orang asing di wilayah ini, karena ini adalah komplek batalyon. Penjagaan batalyon juga lumayan ketat.
"Kamu belum tidur?" tanya Bagas melihat sekarang sudah jam 10 lewat.
Raisya mencium tangan Bagas dan menggeleng. Bagas masuk ke kamarnya.
"Iya, lagian lemari kamu gak rapih," jawab Raisya sekenanya.
Bagas menghela napas dan membuangnya pelan.
"Kenapa? Takut foto sama perempuan itu ketauan?" Raisya berkacak pinggang dan menaikkan dagunya.
Bagas menaikkan satu alisnya, "foto? Foto apa?"
Raisya mengambil hp dan membuka casingnya dan mengambil foto yang baru saja ia simpan.
"Ini apa?" tanya Raisya.
Bagas membelalakkan matanya dan mengambil paksa foto yang ada di tangan Raisya.
"Bukannya sebelum ke Aceh kamu bantuin skripsi aku? Bilang ke aku kalo kamu cinta, setia, halaahh bacot buaya!"
Ingat Raisya, kalian berdua baru saja melangsungkan resepsi.
"Saya jelaskan ini, dia rekan kerja saya di rumah sakit. Waktu itu saya di tugaskan mengamankan area rumah sakit karena akan ada vaksinasi," terang Bagas.
Raisya menangis, entah kenapa Raisya secemburu itu. Bagas menggenggam tangan Raisya namun tangannya di hempaskan.
Tak kehabisan akal, Bagas menggendong Raisya ala bridge style dan meletakkannya di kasur. Bagas menghapus air mata Raisya dan mengelus rambut Raisya.
__ADS_1
"Jangan cemburu... Nanti cantiknya ilang," ujar Bagas lembut.
Sekarang, Bagas berada di atas Raisya namun masih ada jarak diantara mereka. Raisya menarik Bagas dan memeluknya erat.
"Aku gak mau ada yang deket sama kamu selain aku," ucap Raisya lirih.
Bagas merubah posisinya menjadi menyamping. Bagas mendekatkan tubuh Raisya dan menangkup kedua pipinya.
"Enggak sayang...," untuk permohonan maaf, Bagas mencium lama bibir Raisya. Raisya pun membalas ciuman Bagas.
Perlahan, tangan Bagas menyusup ke baju tidur Raisya. Namun, Raisya merasa tidak siap dan mencegah tangan Bagas.
"Kenapa?" tanya Bagas. Raisya menenggelamkan kepalanya di dada bidang Bagas.
"Aku belum siap... Besok aja yah?"
Karena penolakan dari Raisya, Bagas pun tidak jadi melakukannya. Meski begitu, Raisya memeluk erat Bagas sehingga Bagas merasa nyaman meski nafsunya belum terpenuhi. Bagas mengelus rambut Raisya sampai ia terpejam dan mengecupnya.
------------
Paginya, Bagas mendapat shift siang. Ia pun menemani Raisya berbelanja di salah satu supermarket dekat batalyon.
Bagas selalu menggenggam tangan Raisya.
"Kamu udah list kan?" tanya Bagas ketika masuk ke supermarket.
"Udah, ini di kantong," jawab Raisya sambil menunjuk kantong celananya.
"Beli bumbunya di pasar?"
"Iya,"
Raisya sedang berada diantara sayur-sayuran yang segar. Di bantu Bagas, Raisya memilih sayuran. Bagas melepaskan genggamannya.
"Sayang... Mas boleh liat-liat kesana?" tanya Bagas dengan raut wajah yang sangat memohon.
Raisya mengangguk dan tersenyum, "Iya, tapi jangan jauh-jauh ya,"
Bagas melihat-lihat buah kelengkeng kesukaannya. Sedangkan Raisya masih memilih-milih sayuran. Raisya berjalan sambil melihat list yang ia pegang.
Bruukk...
Raisya menabrak seorang perempuan dan membuat barang-barang yang dibawanya berserakan.
"Maaf maaf," ucap Raisya sambil membantu perempuan itu membereskan barang-barangnya yang berserakan.
Saat Raisya menengadahkan kepalanya, Raisya kaget.
"Perempuan itu...?" guman Raisya.
...-------------...
...Pilih Mana? ...
__ADS_1
...Di baperin sama novel gue atau dia yang gak pasti?😝😝...
...Ngaku, bacanya sambil senyum kan? 😁😁...