
Setelah kurang lebih beberapa bulan menikah dengan Rayyan, akhirnya Nayla hamil. Sembilan bulan sudah bayi itu berada di perut Nayla. Seperti istri pada umumnya, Nayla ingin sekali proses persalinannya di temani oleh suami.
Tapi, minggu lalu Rayyan di tugaskan di Semarang. Mungkin, Rayyan tidak bisa menemani istrinya melahirkan.
"Kok Basah sih?" Nayla melihat rok yang ia pakai basah.
"Astaga pecah ketuban," Nayla langsung panik karena air ketubannya pecah.
Nayla mengambil handphone di atas meja riasnya dan menelpon ibu dan ibu mertuanya.
"Halo bun... Ketuban Nayla pecah...," ucap Nayla dengan Nafas yang tidak beraturan.
"Bunda kesitu ya nak... Sabar ya...,"
Meski ketubannya sudah pecah, Nayla tidak mengalami kontraksi atau mulas. Ini adalah pengalaman pertama kali Nayla, jadi Nayla tidak berpengalaman meskipun dirinya adalah dokter.
Tak lama kemudian, ibu dan ibu mertuanya datang dan melihat Nayla sudah basah terkena air ketuban.
"Ayo nak masuk," Nayla di tuntun oleh ayah dan ibunya.
Setibanya di rumah sakit, Nayla langsung diberikan tindakan.
"Ini bayinya terlilit tali pusar, kalau sampai Ashar bayi tidak keluar, terpaksa harus melakukan tindakan caesar," Ucap Hasna yang tidak lain adalah teman Nayla sendiri.
Nayla tidak habis fikir, "Hah kok bisa? Padahal setiap bulan saya kontrol,"
"Itu karena pergerakan bayi yang sangat aktif," balas bidan itu sambil mengatur selang infus.
Keluarga yang menunggu, berharap-harap cemas dengan kelahiran cucu mereka.
"Raisya, kamu ke rumah sakit. Mbak Nayla mau lahiran," ucap bunda Raisya di telpon.
"Iya bun... Aku lagi ketemuan nih sama dosen, gak bisa di ganggu gugat," balas Raisya sambil melirik ruangan dosennya.
"Iya, kalo kesini hati-hati ya," bunda Raisya memutuskan sambungannya.
Karena bayi tidak mau keluar dan tidak kontraksi, bidan menyuruh Nayla untuk sujud.
"Mbak, biar tali pusarnya gak kelilit, coba mbak sujud,"
Nayla turun dari tempat tidur dan mulai sujud. Sekitar 15 menit bidan itu menyuruhnya sujud.
"Sakiiittt...," teriak Nayla yang sudah merasakan sakit.
Raisya turun dari ojek online yang ia pesan tadi. Raisya langsung berlari ke dalam rumah sakit.
"Mbak, ruang bersalin dimana yah?" tanya Raisya kepada salah satu suster.
"Lurus aja mbak terus belok kanan," ucap suster itu.
Raisya berlari lurus dan belok ke kiri sesuai dengan arahan suster tadi. Dan benar saja, keluarganya sudah menunggu di depan ruang persalinan.
Nayla sudah mulai pembukaan. Bidan terus berusaha agar bayi Nayla keluar.
"Tarik napas bu... Dorong," Hasna memberi instruksi.
Raisya sedikit mendengar jeritan dan tangisan Nayla.
"Apa nanti gue kayak gini juga kalo dapet suami tentara? Check-up gak ditemenin suami, lahiran gak di temenin suami, apa-apa sendiri," guman Raisya merasa iba kepada Nayla.
"Aaaggrrhhh sakittt...,"
Karena ketuban Nayla pecah, saat melahirkan ketubannya habis dan Nayla kesusahan untuk mengeluarkan bayinya.
"Sedikit lagi bu... Ini udah keluar badannya,"
Selain ketuban pecah, terlilit tali pusar, Nayla juga pendarahan.
"Alhamdulillah, bayinya perempuan," ucap Hasna.
"Kok bayi saya gak nangis?" tanya Nayla yang mulai khawatir karena bayinya sudah biru.
"Ini karena si bayi meminum banyak air ketuban dan terlilit tali pusar bu... Saya akan sedot air ketubannya," Hasna membawa bayi Nayla ke ruangan khusus yang ada di samping ruang bersalin.
Hasna mencoba menekan bagian dada bayi Nayla agar air ketuban yang di telannya keluar. Sekuat tenaga Hasna lakukan, akhirnya upayanya membuahkan hasil. Dan akhirnya bayi Nayla menangis.
Hasna membawa bayi Nayla kembali kepada ibunya. Air mata Nayla jatuh karena terharu. Nayla mendekap putri kecilnya itu.
Dari luar, Raisya dan keluarganya mendengar tangisan bayi. Pertanda kalau bayi Nayla sudah lahir.
-----------------
__ADS_1
Rayyan merenung di batalyon tempat tugasnya yang baru. Rayyan memikirkan istrinya yang sedang hamil tua. Tak lama, ada yang menepuknya.
"Rapat atasan, ditunggu segera," ucap pria itu kemudian meninggalkan Rayyan.
Rayyan segera menuju ruangan rapat. Sekitar 10 menit lagi rapat akan dimulai.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... Saya ingin memusyawarahkan...,"
Drrtttt... Drrttr....
Handphone Rayyan berdering, ia juga membaca pesan di panel notifikasinya kalau Nayla sudah melahirkan.
"Serma Rayyan! Kenapa anda memainkan ponsel saat rapat?" tegur dankinya.
Rayyan berdiri dan bersikap hormat.
"Ijin komandan, maaf sebelumnya, istri saya melahirkan!" ucap Rayyan dengan lantang dan tegas.
Atasannya itu menghela napas panjang, bagaimanapun juga dankinya itu adalah seorang suami dan seorang ayah. Tidak tega ia melarang Rayyan menelpon istrinya.
"Saya beri waktu 15 menit," ucap dankinya itu.
Rayyan keluar meninggalkan ruangan. Teman-temannya menatap Rayyan sampai Rayyan keluar.
"Halo mas...," Nayla langsung menyorotkan bayinya.
Rayyan tidak bisa berkata-kata lagi. Air matanya menetes begitu saja.
"Makasih ya sayang... Maaf mas gak bisa nemenin kamu,"
"Gak papa mas, ini anak kamu yang paaaliiingg cantik,"
"Tadi normal kan?"
"Normal sih, tapi tadi tuh sempet ada kendala,"
Sebenarnya Nayla tidak mau membuat Rayyan khawatir.
"Kendala apa?" terlihat raut wajah Rayyan yang panik.
"Air ketubannya pecah terus habis, dedeknya kelilit tali pusar terus tadi aku pendarahan,"
Rayyan mengusap wajahnya gusar. Jahat sekali, disaat istrinya melahirkan tapi Rayyan tidak ada di sisinya.
"Enggak kok mas,"
"Aku mau adzanin,"
Rayyan mengadzankan anak pertamanya itu lewat video call. Suara adzan Rayyan terdengar sampai ruang rapatnya.
"Kamu mau kasih nama apa?" tanya Rayyan.
"Grizelle, artinya kuat. Dia kuat dan masih bisa bertahan walaupun lehernya kelilit, kamu?"
"Aku terserah kamu aja,"
"Di belakangnya kasih Putri Alfatih ya? Itu nama kamu,"
Rayyan melihat panggilannya sudah hampir 15 menit.
"Udah ya say... Aku di kasih waktu cuma 15 menit,"
Mau tidak mau, Nayla harus mengerti dengan pekerjaan suaminya.
--------------
Sekitar 5 bulan setelah Nayla melahirkan, Nayla sering berkunjung ke rumah Raisya dan Raisya juga sering bermain bersama baby Grizelle.
Besok adalah hari minggu, Nayla mengejak Raisya untuk jogging keliling komplek.
"Sya... Besok minggu, temenin mbak jogging yuk,"
Raisya yang sedang bercanda dengan Grizelle menoleh ke arah Nayla.
"Boleh tuh mbak, bawa baby Grizelle juga?"
"Iya dong, sekalian jalan-jalan,"
"Oke,"
[Minggu]
__ADS_1
Habis subuh, Raisya sudah bersiap dengan setelan olahraganya. Semalam, Nayla menginap di rumahnya sehingga bisa langsung jogging. Nayla membawa Grizelle di baby stroller. Meskipun sudah menjadi ibu, Nayla masih terlihat muda.
Raisya dan Nayla keluar mendorong baby stroller. Airpods tidak lepas dari telinga Raisya. Lagu-lagu blackpink mengiringi Raisya jogging.
"Mbak...," panggil Raisya, Nayla menoleh.
"Kok mbak mau sih punya suami tentara? Kan ditinggal terus," pertanyaan Raisya membuat Nayla heran.
Bukankah dulu Raisya adalah pacar Yudha yang juga tentara?
"Kamu kan mantannya bang Yudha?"
Raisya mengingatnya lagi. Ya, wajah Yudha.
"Hmm... Kan aku gak sampe nikah," ucap Raisya.
"Emang kamu gak mau punya suami tentara?"
Raisya mencerna pertanyaan Nayla.
"Aku... Se dikasihnya aja deh,"
"Lewat batalyon yuk, sekalian cuci mata,"
Raisya menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa persetujuan dari Raisya, Nayla berbelok ke arah kanan yang di depannya adalah batalyon tempat Rayyan tugas dulu. Dan Yudha juga.
Karena ini adalah hari minggu, banyak prajurit TNI yang sedang lari pagi juga.
"Mbak, balik yuk... Malu ih banyak cowok-cowok TNI," Raisya menggoyang-goyangkan tangan kakak iparnya itu.
Nayla hanya tertawa, "Biasanya juga sering ketemu TNI kan,"
Raisya mendengkus kesal.
"Eh, kamu haus gak?" Nayla tiba-tiba merasa haus. Ia lupa membasa air.
"Mayan sih mbak,"
"Tunggu di sini, mbak beli aqua dulu di seberang. Kamu jagain Grizelle yah," Nayla segera menyebrang.
Awalnya memang baik-baik saja. Tapi tiba-tiba Grizelle menangis dan membuat Raisya bingung.
"Aduuh... Udah ya jangan nangis dede Grizelle...," Raisya semakin bingung dibuatnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengambil Grizelle. Awalnya Raisya mengira kalau itu adalah Nayla.
"Kak Bagas," Raisya kaget dengan kemuncukan Bagas yang tiba-tiba.
"Kalo bayi nangis tuh langsung di gendong,"
Ntah kenapa, aneh sekali. Saat Grizelle di gendong oleh Bagas, Grizelle langsung diam. Grizelle juga memeluk leher Bagas dengan sangat gemas.
Bagas mengangkat Grizelle dan mencium perut bayi lucu itu. Grizelle tertawa lepas dan Bagas juga. Raisya hanya bisa melongo, melihat kedekatan Bagas dan Grizelle padahal mereka baru bertemu. Grizelle memukuk-mukul wajah Bagas sambil tertawa.
Nayla datang dari arah belakang.
"Siapa kamu?" tanya Nayla dengan ketus melihat anaknya di gendong.
"Saya Bagas mbak, pacarnya Raisya. Saya juga temennya bang Rayyan kok," Bagas masih bermain dengan Grizelle.
Nayla menarik Grizelle dari gendongan Bagas, "Jangan dekati anak saya, kamu ini penculik kan?" Grizelle menangis karena lepas dari gendongan Bagas.
Sudah jelas-jelas Bagas memakai kaos olahraga batalyon. Di belakang kaos itu juga tertulis batalyon ***.
"Saya teriak penculik nih," ancam Nayla.
"Ehh mbak jangan, dia temen aku. Dia juga tentara. Dinas di batalyon ini, temennya bang Rayyan juga," Raisya membela Bagas.
"Kata dia pacar?" Nayla bingung siapa yang benar.
"Mbak inget gak pas mbak nikah terus aku di suruh foto? Iya ini orangnya," Raisya menunjuk Bagas dan Bagas hanya tersenyum.
"Owalaaahhh... Saya kira orang jahat," Nayla tertawa karena sikapnya pada Bagas.
"Mana mungkin mbak...," Bagas juga ikut tertawa.
...♡♡♡♡♡...
Lopyu tritausen sama abang Bagas 😙😙 dewasa banget omaigaddd...
Semoga jodoh aku kyk Bagas Aamiin...
__ADS_1
Belum nikah aja udah ngerti sama bayi ulalalalaaaa...
Btw, jangan lupa komen dan dukungannya 😁😁