
...¤HAPPY READING¤...
******
Raisya telah sampai di rumah sakit. Yudha ikut masuk ke rumah sakit karena ingin menjenguk Rayyan.
Saat masuk ruangan Rayyan, Raisya melihat teman perempuan Rayyan masih ada di sana. Raisya tidak peduli dengan perempuan yang bersama Rayyan itu.
******
[Bagas]
Bagas sedang berjuang di Akademi Militer (Akmil) di Malang. Ini juga tempat bekas ayahnya dulu. Ayah Bagas mengharapkan anaknya bisa menjadi seperti dirinya. Bahkan, target yang harus di capai Bagas adalah meraih gelar Adhi Makayasa. Bagas berjuang dengan bersungguh-sungguh. Sebenarnya ia sudah mengenal dunia militer sejak kecil. Tapi, kerasnya dunia militer baru ia rasakan sekarang.
Menjadi casis di Akmil bukan hal yang mudah. Buktinya, tidak sedikit yang gagal. Sudah dari satu bulan yang lalu Bagas mengikuti tes dan pelatihan. Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Bagas. Hari ini adalah pengumuman kelulusan siapa yang berhak mengikuti pendidikan di Akmil.
Dalam hatinya, dia berpikir kalau dia pasti lulus. Tapi, saat namanya di sebut, dia justru tidak lulus. Antara kaget, bingung dan kecewa berkumpul jadi satu. Setelah pengumuman, Bagas berniat membereskan pakaiannya dan barang-barangnya. Ia mungkin akan pulang besok atau hari ini. Sebelumnya, dia nenyempatkan untuk menelpon orang tuanya.
"halo pak?"
"iya halo? Kenapa Gas?"
"bapak maafin Bagas pak," Bagas menahan air matanya agar tidak keluar.
"kenapa kamu?" tanya bapak Bagas.
"Bagas ga lulus pak," ujar Bagas lesu.
"lah ko iso Gas? Bapakmu iki komandan loh," terdengar dari nada bapak Bagas kecewa dan membuat Bagas takut. (lah kok bisa Gas? Bapak kamu ini komandan loh)
"iya pak, maafin Bagas. Tapi Bagas bakal ikut tes di Secata." jawab Bagas
"loh, kok di tamtama? Kenapa nggak di perwira atau Bintara aja?" tanya Bapaknya membuat lesu mendengarnya.
"Bagas takut gagal lagi pak," jawab Bagas lesu
"kalo kamu takut gagal, sampai kapanpun kamu ga akan bisa sukses nak... Coba dulu." saran bapak Bagas.
"enggak pak, Bagas mau di Secata aja. Kan di Batujajar Bandung, masih sama-sama Bandung pak." ujar Bagas.
*Secata\= Sekolah Calon Tamtama
"yaudah, terserah kamu kalo gitu."
"pak, ntar sore Bagas pulang naik kereta. Kemungkinan besok nyampe." Bagas melamun sebentar.
Bagas melihat status whatsapp. Ia melihat status whatsapp Raisya. Ternyata, kabar beberapa hari lalu kalau ada anggota kompi ayahnya yang terluka, ternyata itu Rayyan kakak Raisya.
Bagas ikut prihatin dan sedih. Untuk mengetahui keadaan kakak Raisya, Bagas berniat menelponnya.
******
Siang ini, kapten Ditto berencana untuk menjenguk Rayyan kembali. Selain Rayyan, ada 3 prajurit lainnya yang terluka. Sebelumnya ada 6 prajurit yang terluka. Tapi, 2 prajurit lainnya telah di panggil oleh sang pencipta alam.
Kapten Ditto masuk ke ruangan Rayyan. Ia melihat Rayyan dan satu anggotanya lagi. Ya, itu adalah Yudha. Yudha sedang menggandeng adik Rayyan. Melihat kedatangan kapten Ditto, Yudha melepaskan genggamannya dan berhormat kepada kapten Ditto. Rayyan yang melihatnya ikut hormat kepada kapten Ditto.
"bagaimana keadaannya, sertu Rayyan? Sudah membaik?" tanya kapten Ditto kepada Rayyan.
"alhamdulillah ndan," ucap Rayyan masih terdengar tegas.
"bagus kalau begitu," ujar kapten Ditto.
Saat kapten Ditto sedang mengobrol dengan Rayyan, handphone Raisya berdering. Ternyata itu adalah Bagas. Tumben sekali Bagas menelponnya, batin Raisya bertanya-tanya.
Ka Bagas calling you....
Melihat Raisya yang ragu, kapten Ditto yang membelakangi Raisya berbalik badan Menghadap Raisya.
__ADS_1
"angkat aja dek, siapa tau penting." ujar kapten Ditto yang di angguki oleh Raisya.
Raisya sedikit ke pojok untuk menjawab panggilan Bagas.
"halo kak, kenapa?" tanya Raisya
"apa kabar dek?" lain halnya dengan Raisya, Bagas malah bertanya kabar.
"alhamdulillah baik, kakak gimana?"
"alhamdulillah, oiya denger-denger kakak kamu sakit yah?" tanya Bagas langsung masuk ke inti pembicaraan.
"iya kak," Raisya hanya memjawab singkat.
"oiya dek, kakak ga lulus akmil. Jadi kakak mau ikut pelatihan di Bandung." ujar Bagas.
"oh yaudah, jangan nyerah kak." Raisya memberi sedikit semangat kepada Bagas.
"sebelum abang ikut pelatihan, kamu mau gak abang ajak jalan?" tanya Bagas membuat Raisya sedikit kaget.
"oh bisa bisa,"
"besok lusa yah," ucap Bagas lagi
"oke"
Panggilan pun berakhir. Raisya kembali di samping Yudha. Rayyan bertanya pada Raisya, siapa yang menelponnya.
"siapa dek?"
"ka Bagas bang," entah dari mana Raisya bisa menyebut nama Bagas di depan Yudha dan Rayyan.
"oh... Anak mana?" tanya Rayyan lagi.
"rumahnya deket sama batalyon kakak, bapaknya juga tentara kok," jawab Raisya sambil mengetik pesan pada seseorang.
"oh ya? Siapa nama bapaknya?" kali ini, bukan Rayyan yang bertanya, tapi kapten Ditto.
Sedangkan mata Raisya sih fokus di layar handphone nya.
"sekolah dimana temen kamu itu?" tanya kapten Ditto lagi.
"ga tau, katanya di akmil. Tapi tadi nelpon dia bilang kalo ga lulus," seolah di hipnotis, Raisya mampu menjawab dengan lancar semua pertanyaan yang di lontarkan kapten Ditto.
Kapten Ditto keluar dan pamit pulang. Rayyan mengintrogasi Raisya.
"Cha... Kamu tau, yang tadi kamu telpon itu, anak kapten Ditto," mendengar pernyataan Rayyan, Raisya membulatkan matanya.
"hah?! Emang iya?"
"iyaaa Raisyaaa...." jawab Rayyab gemas.
"kamu pacaran Cha?" tanya Yudha
"hah? Sama siapa?" tanya Raisya panik.
"anaknya kapten Ditto." jawab Yudha dingin.
"enggak kok," ujar Raisya.
*********
Sorenya, Bagas sudah berada di salah satu stasiun di Bandung. Ia meminta temannya, Farel untuk menjemputnya. Tidak enak kalau ia meminta ayahnya untuk menjemputnya.
"Gas... Dah lama yah?" tanya Farel sambil menurunkan kaca mobilnya.
"ga kok, sans aja," jawab Bagas enteng.
__ADS_1
Farel membantu Bagas mengangkut barang ke dalam bagasi mobil Farel. Setelah itu, Bagas naik dan Farel pun melajukan mobilnya.
"mikirin apa broo?" tanya Farel membuyarkan lamunan Bagas.
"oh enggak kok," jawab Bagas menutupi sesuatu.
"Raisya yah?" tanya Farel membuat Bagas terkekeh kecil.
"tau aja lu bro," ujar Bagas sambil terkekeh.
Sampai lah mereka di depan rumah besar milik Bagas. Farel langsung pamit pulang. Bagas langsung mengetuk pintu. Ternyata ibunya sedang ada di rumah.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Bagas." ibunya kaget melihat kedatangan anaknya itu.
"maafin Bagas bu, Bagas gagal." ujar Bagas sambil menangis di pelukan ibunya.
"ga papa nak... Kamu bisa coba lagi. Kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Kamu harus coba terus nak....," ucap ibu Bagas memberi semangat.
Tak lama kemudian, ayah Bagas pulang dan membawa sayur sop. Kebetulan ibunya tidak masak hari ini.
Saat di meja makan, ayah Bagas memendangi Bagas begitu tajam.
"kamu ada hubungan apa sama adeknya Rayyan?" tanya ayah Bagas membuatnya mengernyitkan keningnya.
"adek Rayyan??" tanya Bagas mengulangi kata terakhir yang di ucapkan ayahnya itu.
"Raisya," ucap ayah Bagas singkat namun tak luput dari pandangannya kepada Bagas.
"oh... Raisya.... Dia temen Bagas. Dia kakak kelasnya Tiara tuh," timpal Bagas sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
********
[sore]
Esok harinya, Bagas menelpon Raisya. Bagas akan mengajak Raisya jalan-jalan dan makan di kafe. Raisya sudah menunggu di halte depan rumah sakit. Setelah beberapa menit kemudian, Bagas datang dengan motor sport-nya. Bagas terlihat gagah dan tampan dengan motor sport-nya. Bagas memberi Raisya helm dab Raisya pun naik. Di jalan, Raisya dan Bagas terlihat seperti pasangan kekasih yang begitu romantis.
Bagas membawa Raisya ke kafe yang kemarin Yudha mengajaknya.
"kenapa?" tanya Bagas ketika melihat raut wajah Raisya yang sulit di artikan.
Ada rasa bimbang di dalam hati Raisya. Di hatinya di isi oleh 3 laki-laki sekaligus. Yudha, Bagas dan Rio. Entah kenapa Raisya menjadi nyaman dengan Yudha. Tapi di sisi lain, Rio selalu baik dan selalu ada untuknya. Dan Bagas, dia akan berjanji membahagiakannya.
"Cha... Kok ngelamun?" Bagas bertanya lagi karena melihat Raisya yang sedari tadi diam.
"eh enggak kok, lagi liat pemandangan aja. Cantik," ujar Raisya sambil tersenyum.
"iya, kayak kamu," timpal Bagas membuat pipi Raisya memerah. "kamu mau pesen apa?" tanya Bagas lagi.
"aku... Aku tiramisu cake aja," jawab Raisya.
Karena Yudha, Raisya menjadi suka dengan kue tiramisu. Ini juga kue tiramisu kesukaan Yudha.
"oke, aku pesenin yah." ujar Bagas.
"ka Bagas," panggil Raisya.
"hm?"
"kakak anaknya kapten Ditto? Yang komandan kompi B kan?" tanya Raisya.
"iyaa... Kamu kok tau?" Bagas bertanya balik kepada Raisya.
"waktu kakak nelpon aku, aku lagi ada sama kapten Ditto. Kapten Ditto lagi jenguk kakak aku," jelas Raisya.
Tak ada percakapan yang berarti diantara mereka berdua. Raisya sibuk memikirkan Yudha. Entah kenapa, sekarang Yudha yang memenuhi pikirannya. Yaaa.... Meskipun selisih umur mereka terpaut cukup jauh. Sedangkan Bagas, ia berpikir bagaimana caranya bisa jadi tentara dan membahagiakan Raisya.
__ADS_1
---------------------
...Kritik Sarannya boleh kakaq... ^_^...