
Setibanya dibatalyon, Yudha langsung ke ruangan komandannya.
Tok... Tok... Tok...
"masuk" titah Mayor Ridwan yang tak lain adalah danyon ***. Yudha pun masuk dan memberi hormat kepada Mayor Ridwan dan Mayor Ridwan pun membalasnya.
"saya akan mutasi kamu ke wilayah Bogor barat, ini suratnya kamu tandatangani sebagai persetujuan" Mayor Ridwan menyodorkan kertas itu.
"ijin komandan" Yudha mengambil kertas itu dan membacanya secara teliti.
"apa kamu siap?" tanya Mayor Ridwan.
"siap ndan! Ijin untuk menandatangani" tanpa pikir panjang Yudha menandatangani surat itu dan mengembalikannya lagi ke Mayor Ridwan.
"terima kasih, lakukan tugas ini dengan sungguh-sungguh" Yudha berjabat tangan dengan atasannya itu.
Yudha menghela napas panjang dan membuangnya kasar. Pikirannya melayang memikirkan satu gadis yang selalu ada di kepalanya.
"Apa gue bisa jaga dia? Sedangkan gue kaya gini terus?" batin Yudha.
"hey bro!" Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya membuat Yudha sedikit kaget. Yudha pun menoleh.
"ngapain lo ngelamun di tengah-tengah koridor gini?" tanya Radit yang tak lain adalah teman satu kompinya.
Yudha melirik ke kertas yang dia pegang dan Radit pun mengambilnya.
"waduh..." Radit membacanya dengan teliti. Yudha hanya tersenyum tipis ke arah Radit.
"bro! Gue tau perasaan lo. Jaga diri lo ya!" ucap Radit menepuk bahu Yudha dan berlalu pergi.
"makasih" balas Yudha singkat.
Yudha berjalan menuju barak. Ia berniat untuk menelpon Raisya dan mengajaknya jalan-jalan besok. Berat sekali bagi Yudha untuk jauh dari Raisya.
"kok bisa ya, gue yang keras kayak gini luluh cuma gara-gara satu cewek? " gumam Yudha.
Yudha melihat layar handphone nya dan membuka aplikasi whatsapp dan menelpon Raisya.
"halo bang? " Raisya mengangkat panggilan dari Yudha
"halo sya, saya mau bilang yang tadi sore" langsung menuju topik
"oh iya, abang mau bilang apa?" tanya Raisya
"saya..." Yudha mengumpulkan nyali untuk menyatakan perasaannya itu. Dia sudah tidak kuat lagi untuk memendamnya.
"....." tak ada sahutan dari Yudha.
"apa bang?" tanya Raisya mengecek apakah panggilan masih terhubung.
"saya sayang sama kamu" ucap Yudha dengan degupan jantung yang sangat kencang
"....." Raisya melongo dan menutup mulut dengan tangan kirinya.
"saya akan tunggu kamu" lanjut lagi
"t-tapi..." ucap Raisya ragu tapi segera dipotong oleh Yudha
"saya tau, kamu ga usah bales sekarang juga ga apa" Yudha merasa bersalah mengatakan ini kepada Raisya. Awalnya, Yudha hanya ingin menjadikan Raisya sabagai adiknya. Karena Raisya sangat mirip dengan almarhum adiknya. Tapi, ada rasa ingin memiliki dari Yudha. Rasa itu semakin hari semakin berkembang.
"aku juga" balas Raisya singkat
"aku juga apa?" tanya Yudha yang penasaran.
"aku juga sayang sama bang Yudha" Raisya memberanikan diri mengucapkan itu.
"besok lusa saya ditugaskan di wilayah bogor barat, besok hari terakhir saya. Kamu mau saya ajak nonton?" perih sekali hati Raisya, sudah di atas awan dan sekarang dijatuhkan. Apa kuat kalau ldr? Batinnya.
"boleh bang, besok juga aku ga ada kegiatan kok" Yudha tersenyum. Hanya kepada Raisya Yudha bisa tersenyum. Sifat asli Yudha cuek bahkan sangat cuek bisa luluh hanya dengan Raisya.
"oke, saya tunggu besok" panggilan pun berakhir.
Kebetulan, saat Yudha menelpon Raisya keadaan barak sedang sepi. Jadi Yudha bisa menyatakan perasaannya yang telah lama ia pendam.
Raisya seperti tidak percaya apa yang dikatakan Yudha. Jantungnya masih berdegup kencang, mengingat sang sersan yang sangat serius menyatakan perasaannya.
"bun... " panggil Raisya kepada bundanya yang sedang minum jus jambu di meja makan itu.
"apa?"
"bunda tau gak?" tanya Raisya menggantung.
"gak" jawab bundanya singkat.
"iih bunda mah" Raisya cemberut.
"iya apa?"
"tadi sore bang Yudha dateng bawa bunga isinya uang 20 ribuan, terus bang Yudha mau bilang sesuatu tapi komandannya nelpon" jelas Raisya masih menggantung.
__ADS_1
"terus?" tanya bundanya penasaran.
"tadi... Bang Yudha nelpon bilang kalo dia suka sama Acha, bang Yudha mau nunggu Acha" bundanya yang sedang minum jus jambu pun tersedak.
"beneran?" bunda Raisya sedikit tidak percaya.
"iya bun... Beneran. Terus bang Yudha besok ngajak aku jalan, soalnya lusa bang Yudha mutasi ke wilayah Bogor barat" jelas Raisya lagi.
"selamat deh buat kalian" ucap bunda Raisya sambil meminum jus jambunya.
"bunda ngijinin aku pacaran?" tanya Raisya.
"resiko patah hati kamu yang naggung" jawab bundanya santai.
[Besoknya]
Raisya sudah berdandan secantik mungkin. Bel rumah pun berbunyi, Raisya. Yudha dan Raisya sama-sama kaget karena pakaian mereka sama. Raisya memakai kaos putih celana hitam dan Yudha juga.
"lah couple" ucap Raisya.
"emang kita janjian yah?" tanya Yudha sambil terkekeh, Raisya hanya menggeleng dan ikut terkekeh.
"yaudah yuk jalan" ajak Yudha tanpa basa-basi.
"aku pamit ke bunda dulu ya bang" Raisya pamit kepada bundanya.
"Yudha gak ngopi dulu Nak?" tanya ibu Raisya dengan sangat ramah.
"enggak deh bun... Nanti aja, Raisya saya bawa ya bun..." Yudha pun ikut mencium tangan bunda Raisya.
"hati-hati ya..." ucap bunda Raisya.
Raisya masih bingung akan diajak kemana oleh Yudha. Tapi yang pasti this day is happy day for Raisya and Yudha.
"bang, kita mau kemana?" tanya Raisya.
"nonton mau gak?" Yudha balik bertanya.
"boleh" akhirnya, mereka pun berhenti di mall dan menonton film di bioskop.
"mau liat film apa?" tanya Yudha.
"Spiderman No Way Home" memang, akhir-akhir ini banyak orang yang ramai-ramai ke bioskop menonton film Spiderman No Way Home.
Yudha membeli dua tiket, sedangkan Raisya membeli popcorn. Saat balik badan, ternyata di belakang Raisya adalah Rio.
"kamu mau nonton juga Yo?" tanya Raisya basa-basi.
"oh enggak, kenalin ini bang Yudha pacar aku. Ini Rio bang, temen aku pas Smp tapi Sma juga bareng lagi hehe" Rio dan Yudha pun berjabat tangan.
"jadi lo ngilang tiba-tiba udah punya pacar?" batin Rio.
"Rio" panggil salah seorang temannya. "ayo masuk" ajaknya.
"gue duluan ya Cha... Bang" Rio pun meninggalkan Yudha dan Raisya.
Yudha juga membeli popcorn rasa original. Mereka pun masuk ke bioskop. Mereka mendapat kursi baris ke 5 dari depan. Tanpa Raisya sadari, Rio berada di kursi baris ke 7. Sehingga Rio melihat apa yang dilakukan Yudha dan Raisya.
"abang mau?" tanya Raisya karena Yudha sedari tadi memperhatikannya.
"suapin... Aaaaa..." Yudha membuka mulutnya.
"pesawat tempur.... Ngeeeeeengggg... " Yudha seperti anak kecil yang sedang disuapi ibunya. Melihat tingkah gemas Raisya, Yudha mencubit pipi Raisya.
"nih gantian, abang suapin" ucap Yudha memasukkan popcorn ke mulut Raisya. Mereka saling suap-suapan.
Dari jauh, Rio melihat kemesraan mereka berdua. Ada rasa sakit di dalam hatinya. Rio juga salah, Rio tidak segera menyatakan cintanya. Karena memang awalanya Raisya merasa ilfeel dengannya. Rio menarik napas dan membuangnya kasar.
"kenapa bro?" tanya temannya yang bingung dengan sikap Rio yang tiba-tiba menjadi aneh.
"gak papa bro, it's okay" jawab Rio santai.
Yudha menggenggam tangan Raisya. Raisya menatap Yudha dan Yudha balik menatap Raisya. Bahu Yudha pun menjadi sandaran yang paling nyaman saat ini. Disaat scene menegangkan muncul, reflek Raisya memeluk Yudha. Yudha hanya tersenyum.
"kamu takut?" tanya Yudha sambil menahan tawa melihat ekspresi lucu Raisya.
"ih, enggak. Aku cuma kaget" elak Raisya.
"kamu lucu" ucap Yudha tapi pandangannya lurus ke depan. Pipi Raisya memerah seperti apel matang.
Yudha menengok ke arah Raisya.
'cup' Yudha mencium bibir Raisya. Awalnya Raisya tersentak, tapi akhirnya Raisya menikmati first kiss nya itu. Ada rasa bersalah dalam diri Yudha karena mencium Raisya.
"abang udah berapa kali kayak gini?" pertanyaan Raisya membuat Yudha bingung.
"maksudnya?" Yudha mengerutkan keningnya tidak paham dengan pertanyaan Raisya.
"berapa kali abang ciuman?" tanya Raisya to the point. Mata Yudha membulat sempurna mendengar pertanyaan Raisya, tapi Yudha berusaha biasa saja.
__ADS_1
"baru kali ini, kenapa?" jawab Yudha jujur.
"sama yang dulu gak pernah?" tanya Raisya lagi dengan tatapan mata yang tajam. Yudha hanya menggeleng.
"enggak, percaya sama abang" Yudha menggenggam tangan Raisya untuk meyakinkannya.
Raisya menghela napas panjang dan tersenyum ke arah Yudha. Raisya pun kembali menyandarkan kepalanya di bahu Yudha.
Film pun selesai, mereka keluar dari bioskop. Selama di mall, Yudha selalu menggandeng tangan Raisya dan hampir tak pernah lepas.
"kamu mau main?" tanya Yudha mengarah ke time zone.
"Ayo! Kita beli tiket yah..." ketika membeli tiket, Rayyan menelpon Yudha. Yudha menatap layar handphone nya.
"siapa bang?" tanya Raisya.
"kakakmu" Yudha mencari tempat duduk. Raisya pun menyusul Yudha.
"halo kak Rayyan" Raisya sedikit merecoki Yudha.
"enak yah yang baru jadian... Gak kedapetan piket lagi" sindir Rayyan pada Yudha.
"yah... Kasian piket, gak bisa jalan sama ayang wleeee...." ejek Raisya sambil menjulurkan lidahnya.
"sana deh pergi... Gue ada urusan sama Yudha huss... Husss..." usir Rayyan seperti mengusir kambing.
Raisya hanya berdesis kesal.
"gak boleh! Bang Yudha punya aku! Masa kalian cowok sama cowok berduaan?" larang Raisya, sontak mereka berdua pun tertawa.
"cantik... Abang ada urusan, kamu main dulu yah" Yudha memberi pengertian kepada Raisya.
Entah apa yang mereka berdua bicarakan. Yang pasti mereka membicarakan soal pekerjaan. Raisya masuk ke time zone, sedangkan Yudha masih diluar. Sedangkan tiket Yudha masih dipegang oleh Raisya.
"astaga! Raisya kemana?" gumam Yudha.
Yudha menelpon Raisya tapi handphone Raisya di tas dan suasana time zone yang ramai karena weekend. Sedangkan Raisya sedang asik bermain claw machine.
"uuuhh..." Raisya menghela napas panjang dan duduk di salah satu mainan mobil.
Saat membuka handphone Raisya terkejut melihat Yudha yang menelponnya berkali-kali.
Bang Yudha💝 (6 Panggilan Masuk)
"astaga lupa! Bang Yudha ketinggalan!" Raisya menepuk jidatnya dan langsung menelpon Yudha.
Ditengah-tengah kecemasannya, handphone Yudha berdering. Yudha menghela napas lega karena Raisya menelponnya.
"halo dek, kamu dimana?" terdengar nada cemas dari Yudha.
Yudha dan Raisya tidak menyadari kalau sebenarnya jarak mereka sangat dekat.
"aku di time zone bang. Abang masuk sini" jawab Raisya.
"kan tiket abang ada di kamu" Raisya tertawa kecil mendengar ucapan Yudha.
"abang ada dimana? Aku ada di deket jalan masuk kok" Yudha menengok ke belakang dan Raisya menengok ke samping kanan. Mereka pun beradu pandang dan saling tersenyum. Raisya mendekati Yudha dan telpon pun dimatikan.
"ini bang, tiketnya" Raisya terkekeh saat memberikan tiket kepada Yudha. Yudha yang jail mendekatkan wajahnya ke wajah Raisya. Hembusan nafas Yudha pun menerpa wajah Raisya. Raisya hanya kikuk dan sedikit mendorong tubuh Yudha.
"banyak anak kecil" bisik Raisya, hal itu membuat Yudha tertawa.
Akhirnya mereka berdua pun masuk dan mencoba berbagai wahana. Dunia seakan milik berdua, siapapun yang melihat mereka berdua pasti akan tersenyum.
"dek... Udah sore, pulang yuk" ajak Yudha karen nanti malam ia harus berangkat.
"ooke... Abang berangkat kapan?" tanya Raisya.
"nanti malem" mereka pun keluar dari mall.
Raisya berusaha mengerti keadaan Yudha sekarang, meski dia masih ingin berlama-lama dengan Yudha.
Tak lama, motor Yudha sudah berada di depan rumah Raisya.
"makasih ya bang, nanti kalo abang udah di Bogor jangan lupa kabarin Acha" ucap Raisya.
"siap komandan!" jawab Yudha sambil hormat. "salamin buat bunda kamu ya Cha, abang belum packing soalnya" Yudha pun melajukan motornya dan meninggalkan Raisya.
---------------------------------------------------------
Sehari, dua hari, tiga hari dan sudah hampir 3 minggu Raisya jalani tanpa Yudha. Meski begitu, mereka tetap berkomunikasi via whatsapp atau telpon. Tapi, sudah 2 minggu ini Raisya tidak mendapat kabar dari Yudha.
Raisya sedikit cemas dengan Yudha. Tapi Raisya berusaha untuk positif thinking. Mungkin di daerah tugas Yudha tidak ada sinyal, pikir Raisya.
----------------
TBC
Kalo ngekill satu pemain kayaknya enak, tapi siapa ya...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya;)