Dear Letnan

Dear Letnan
Jangan Ambil Kakak- 15


__ADS_3

...Konten ini mengandung bawang!! Harap memakai kaca mata agar mata anda tidak berair!!...


...Budayakan like sebelum membaca!...


...*********...


Raisya sangat malu, ternyata yang dia peluk bukan Hudan. Raisya mencuci mukanya di wastafel kamar mandi. Muka Raisya memerah karena malu.


 


Yudha kembali ke posisi siap siaganya. Yudha tidak menyadari kalau ada senyum yang mengembang di bibirnya. Di sebelah Yudha ada Ardi. Ardi yang melihatnya langsung melirik tajam ke arah Yudha. Yudha yang menyadari hal itu tersenyum kecut pada Ardi.


Tak lama dokter datang di susul dengan Raisya.


"permisi, saya ingin memeriksa kondisi pak Rayyan." dokter itu membelah barisan para pasukan TNI yang menjaga Rayyan itu.


Kemudian, para pasukan TNI memberi jalan kepada dokter itu agar bisa lewat.


Raisya yang melihat ada dokter langsung menghampiri ruang rawat kakaknya.


"misi-misi," Raisya memaksa masuk ke barisan para pasukan TNI itu.


"sebenernya ka Rayyan kenapa sih? Kasih tau coba. Masa saya yang adeknya ga tau-menau sih," protes Raisya pada salah satu anggota TNI.


Namun prajurit TNI itu tidak menjawab pertanyaan Raisya dan masih dengan posisi siap tegapnya.


"haiishhh.... Jawab dong, punya adab gak sih?! Ditanya sama orang ya jawab!" Raisya semakin emosi.


Ibu Raisya yang melihatnya langsung menarik Raisya.


"Raisya, kamu gak boleh gitu nak," kata ibunya sambil menarik lengan Raisya namun di hempaskan olehnya.


"bunda! Kakak kenapa sih?! Bang Hudan! Kasih tau Raisya," Raisya bertanya lagi tapi ibunya mendadak diam. Hudan juga sebenernya tidak tau apa yang terjadi. Yang ia tau Rayyan berada di rumah sakit dengan kondisi kritis tidak lebih dari itu.


Kapten Ditto (komandan Rayyan) yang melihat itu ikut prihatin. Komandan Rayyan memerintahkan Yudha untuk memberi tau Raisya.


"Yudha... Kamu kasih tau apa yang terjadi," tepuk kapten Ditto pada Yudha yang masih dengan posisi siap.


"siap." ucap Yudha tegas.


Yudha pun keluar dari barisan dan menghampiri Raisya yang sedang berdebat dengan Raisya.


"Raisya... Abang mau ceritain kenapa kakak kamu bisa kayak gini," Raisya pun langsung menengok ke arah Yudha.


"dari mana abang tau nama Raisya?" tanya Raisya namun Yudha hanya tersenyum.


"ibu, saya akan membawa Raisya ke taman rumah sakit untuk menjelaskam apa yang terjadi," Yudha meminta izin terlebih dahulu kepada ibunda Raisya.


"iya nak, kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi yah....," ibunda Raisya mengizinkan Yudha.


Kemudian Yudha berjalan duluan. Raisya yang tertinggal jauh pun langsung mengejar langkah lebar Yudha.


"bang... Tungguin." Raisya sedikit berteriak kepada Yudha. Yudha yang melihat Raisya tertinggal jauh langsung berbalik dan meraih pergelangan Raisya.


Merasa tertarik, Raisya meringis kesakitan.


"aaww...,"


Yudha berhenti dan menengok ke arah Raisya yang kesakitan. Karena kulit Raisya putih, pergelangan Raisya memerah karena di cengkram kuat oleh Yudha.


"sakit?" tanya Yudha membuat Raisya jengkel.

__ADS_1


"gaaak," jawab Raisya kesal.


"oohh...," respon Yudha cuek.


Yudha langsung berbalik badan dan langsung berjalan ke arah lift. Raisya yang kesal menhentakkan kakinya kesal. Ia pun mengejar Yudha agar tidak tertinggal.


"haduuh... Kalo jalan jangan cepet-cepet dong om, udah kayak di kejar musuh aja" protes Raisya yang masih terengah-engah di dalam lift.


Mendengar hal itu Yudha mengernyitkan keningnya. Bukan karena protes dari Raisya, tapi panggilan Raisya kepadanya.


"Om? Emang saya keliatan tua ya?" tanya Yudha pada Raisya. Raisya hanya terkekeh kecil.


"enggak bang" jawab Raisya sambil tersenyum ke arah Yudha.


Sampailah mereka di lantai satu. Yudha langsung meraih jemari Raisya. Kali ini Yudha tidak mencengkam lengan Raisya lagi. Entah kenapa, Raisya merasa nyaman tangannya di genggam oleh Yudha. Yudha membawanya ke taman rumah sakit.


Raisya duduk di kursi besi yang ada di taman itu. Yudha duduk di sebelah Raisya.


"gimana bang?" tanya Raisya mengawali pembicaraan.


"apanya yang gimana??" Yudha malah bertanya balik membuat Raisya kesal sekaligus gelap.


"kakak kenapa bang??" Raisya bertanya lagi.


"Jadi di Papua kami kontak senjata. Salah satu rekan kami ada yang tertembak. Rekan kami yang tertembak itu kami bawa ke post TNI terdekat. Daerah kontak senjata itu di gunung dan sangat banyak jurang dan jalanannya yang terjal. Saat kami membawa rekan kami yang terluka, kakak kamu jatuh ke jurang." jelas Yudha panjang lebar.


Raisya menatap mata Yudha yang sedang menatap bintang.


"terus?" Raisya penasaran.


"kami gak sadar kalau kakak kamu jatuh...," lanjut Yudha terpotong karena melihat Raisya yang menunduk sedih. "saat kami sampai di post, kami di absen oleh danru. Ternyata kurang satu anggota lagi dan itu adalah kakak kamu. Kami disuruh mencarinya. Ternyata, kawan kami yang masih ada di daerah kontak senjata membawa Rayyan." lanjut Yudha.


Yudha melihat Raisya menunduk meneteskan air mata. Raisya yang melihat dirinya di perhatikan oleh Yudha langsung mengusap air matanya.


"kami kira Rayyan tertembak. Posisi Rayyan sudah bersimbah darah. Tapi ternyata Rayyan masih setengah sadar. Rayyan jatuh dan kepalanya terbentur batu. Rayyan berteriak sekuat tenaga. Akhirnya, anggota regu yang masih di sana mendengar suara Rayyan dan turun ke jurang mengambil Rayyan." lanjut Yudha.


Yudha melihat bahu Raisya terguncang dengan wajah yang ditutup kedua tangannya. Yudha langsung tutun dari kursi dan bertekuk lutut dihadapan Raisya. Yudha meraih telapak tangan Raisya. Raisya menunduk tidak ingin menatap Yudha.


Yudha mengulurkan tangannya dan mengusap air mata Raisya. Setelah mengusap air mata Raisya, Yudha meraih telapak tangan Raisya dan mengelusnya pelan.


"kakak kamu baik-baik aja dek...," Yudha menenangkan Raisya yang masih terisak.


Melihat Raisya yang terus terisak, Yudha kembali ke kursi dan memeluk tubuh mungil Raisya. Saat itu Raisya merasa nyaman di peluk oleh Yudha. Raisya menenggelamkan kepalanya ke dada bidang milik Yudha. Yudha mengelus rambut panjang Raisya. Yudha juga ikut meneteskan air mata karena ia rindu pada sang adik.


Yudha segera mengusap air mata yang mengalir dari mata tajamnya tak ingin di lihat oleh Raisya.


Setelah tangisan Raisya mereda, Yudha sedikit melonggarkan pelukannya. Yudha melihat wajah cantik Raisya yang samar-samar temaram malam. Yudha menangkup kedua pipi Raisya dan menghapus air matanya lagi.


"udah yaaa... Jangan nangis lagi, ntar cantiknya ilang lhooo...," goda Yudha pad Raisya. Raisya yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya.


Raisya melihat jelas wajah tampan milik Yudha. Seketika Raisya ingat dengan mimpinya di perjalanan bersama Hudan tadi. Tapi... Raisya tidak mau bercerita langsung dengan Yudha.


Yudha fokus memandang bintang yang cerah menghiasi langit. Raisya juga fokus dengan pikirannya. Sekarang mereka fokus dengan pikiran masimg-masing.


"kamu mirip adek abang," ucapan Yudha itu membuat Raisya kaget dan menengok ke arah Yudha.


"adek?" tanya Raisya yang bingung.


"iya, adek abang meninggal pas abang pendidikan," ucap Yudha sambil melihat ke arah langit.


"kalo boleh tau, adek abang kenapa bisa meninggal?" tanya Raisya penasaran.

__ADS_1


"pas dia mau pulang sekolah, dia gak liat ada truk. Dia meninggal ketabrak truk." jawab Yudha sambil menatap Raisya sendu.


"maaf bang," ucap Raisya tidak enak karena membuat Yudha sedih.


"dia mirip sekali dengam kamu, dari sorot matanya, perilakunya, sampai namanya pun hanya beda satu huruf sama kamu,"


"siapa namanya?" tanya Raisya lagi.


"Naisya" jawab Yudha sambil melihat wajah cantik Raisya.


Disaat yang bersamaan, ada angin yang melewati mereka. Dan membuat sebagian rambut Raisya ikut terbawa angin, sehingga wajah Raisya sedikit tertutup oleh rambutnya.


Yudha yang melihat wajah Raisya yang tertutup rambut, mengulurkan tangannya menyelipkan rambut Raisya ke teliganya. Saat itulah terjadi kontak mata yang cukup lama. Yudha melihat bola mata coklat milik Raisya yang samar-samar. Raisya juga melihat bola mata tajam milik Yudha.


Raisya yang sadar langsung mengalihkan pandangannya dan mencari topik pembicaraan.


"aku mau liat foto adik kakak boleh?" tanya Raisya sedikit tersenyum membuat Yudha juga ikut tersenyum.


"ini."


Yudha menyodorkan handphone miliknya. Ia menunjukkan foto yang pernah ditunjukkan kepada Rayyan.


"hmm... Aku ga bisa menilai bang" ucap Raisya membuat Yudha tertawa dan gemas dengan Raisya.


"ya iyalah, kan kamu yang punya muka dek. Abang juga kalo ada yang bilang mirip abang ga bisa nilai sendiri. Itu kan pandangan orang lain dek" jelas Raisya.


"bang..."


"heemm?"


"ka Rayyan ga pernah nelpon tau" kata Raisya membuat Yudha menegok ke arahnya.


"masa sih? Abang pernah liat kakak kamu nelpon kok. Mungkim yang jawab bunda kamu, terus kamunya lagi sekolah." jelas Yudha. "abang juga jarang nelpon kok, soalnya ga ada sinyal di sana" lanjut Yudha.


Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Aisyah memanggil Raisya.


"ka Acha...," panggil Aisyah panik.


"kenapa Cha?" tanya Raisya yang bingung, begitupun dengan Yudha.


"ka Rayyan... Itu... Anu....," Aisyah tidak bisa menjelaskan kepada Raisya. Lidahnya sangat kelu.


"apaaa?" Raisya sangat geram dengan jawaban Aisyah.


"ayooo ke ruangan ka Rayyan lagi." Aisyah menarik tangan Raisya. Mau tidak mau Yudha mengikutinya dari belakang.


Raisya, Yudha dan Aisyah telah sampai di depan ruang rawat Rayyan. Seketika tubuh Raisya membeku mendenger monitor detak jantung Rayyan yang hanya garis lurus. Raisya tidak kuat menahan tangis. Raisya bertekuk lutut di depan kaca ruang rawat Rayyan.


"gak mungkin! Ini gak mungkin! Tuhaaan... Tolong jangan ambil kakak...." teriak Raisya sambil meremas rambutnya.


Yudha ingin menenangkannya tapi ya... Sudahlah. Mungkim Raisya ingin menangis.


Raisya menunduk sambil terisak. Tiba-tiba, dia mendengar suara monitor detak jantung Rayyan kembali seperti semula. Raisya yang mendengarnya langsung terdiam dan berdiri melihat ke arah Rayyan. Orang-orang yang ada disekitar Rayyan langsung diam tidak percaya. Raisya sangat tenang. Raisya merasakan ada yang mengelus bahunya. Bukan Yudha, ternyata itu adalah ayahnya yang datang tiba-tiba.


Raisya langsung memeluk ayahnya. Raisya tidak ingin kehilangan Rayyan. Rayyan adalah satu-satunya penjaga Raisya. Bukan hanya penjaga Raisya, tapi penjaga keluarganya. Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya bagian dari penjaga negara?


Raisya tersenyum ke arah Yudha. Yudha pun membalas senyuman Raisya.


...---------...


Tegang gak? Tegang gak? Yaaa tegang lah masa enggak:)

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komennya yaaa:)


Semoga para reader's suka sama part ini:) Maaf yaaa kalo masih banyak yang salah


__ADS_2