Dear Letnan

Dear Letnan
Kembaran?-36


__ADS_3

Raisya masih belum percaya kalau Yudha meninggal. Raisya membaca ulang chat-nya dengan Yudha. Raisya kembali menangis. Semua teman-temannya mengucapkan bela sungkawa.


"yang sabar sayang..." ucap bundanya sambil memeluk Raisya.


Setiap 2 hari sekali, Raisya berkunjung ke kuburan Yudha. Ya... Meskipun agak jauh. Hari ini Raisya kembali mengunjungi kuburan Yudha dan membawa setangkai bunga mawar.


Raisya melangkahkan kakinya. Masih banyak bunga-bunga segar yang menghiasi kuburan Yudha. Raisya berjongkok dan mengusap nisan kuburan Yudha. Lagi-lagi, Raisya menangis. Raisya meletakkan bunga mawar yang dibawanya.


"abang... Kan abang udah janji mau nemuin Raisya... Kok abang gini sihh" ucap Raisya sambil menangis.


Saking seringnya Raisya ke kuburan Yudha, sampai-sampai penjaga kuburan hafal dengan Yudha.


"abang... Hiks hiks..." tangis Raisya kembali pecah ketika mengingat hal sweet yang Yudha lakukan pada Raisya.


"Raisya..." suara berat yang Raisya sangat kenali.


"abang... Raisya ikhlas abang pergi... Abang yang tenang yah..." suara itu persis seperti suara Yudha. Hal itu membuat Raisya ketakutan.


"Raisya..." panggilnya lagi.


"abang jangan becanda dong... Aku tau abang suka becanda... Tapi candaan abang jangan dibawa ke kubur juga" Raisya semakin takut dan enggan untuk menengok.


"saya enggak becanda Raisya" balasnya.


Raisya berdiri pelan-pelan dan menengok ke belakang. Seseorang itu persis seperti Yudha dan tersenyum ke Raisya.


Raisya mundur ke belakang dan hampir menginjak kuburan Yudha. Raisya juga hampir jatuh namun di tahan oleh Rey. Ya, laki-laki yang persis dengan Yudha itu adalah Reynaldi, kakak kandung Yudha.


Raisya menutup matanya dan terus bergumam, "bang Yudha yang tenang yah..." tangan Raisya memegang lengan Rey, sementara tangan Rey menahan pinggang Raisya agar tidak jatuh.


"saya bukan Yudha" balas Rey.


Raisya membuka matanya dan melihat Rey masih memakai baju dinasnya. Akhirnya Raisya percaya itu bukan Yudha, karena ia melihat name tag Rey.


"saya Rey... Reynaldi Adhiyasa" Rey menjulurkan tangan.


"Raisya" Rey dan Raisya berjabat tangan.


"saya sudah tau kamu dari Yudha" ujar Rey.


"abang ini... Siapanya bang Yudha?" tanya Raisya penasaran dan sukses membuat Rey tertawa.


"saya kakaknya Yudha" jawab Rey masih dengan sisa-sisa tawanya.


"oalaaahh pantesan mirip" ujar Raisya. "tapi, bedanya bang Yudha sama bang Rey apa yah?" Raisya mengamati wajah Rey dan mengingat wajah Yudha.


"gak ah, saya sama Yudha beda jauh" balas Rey sambil terkekeh.


"nah iya... Itu..." akhirnya Raisya menemukan perbedaan Yudha dan Rey.


"apa?" tanya Rey.


"bang Rey punya lesung di sebelah kanan, bibir bang Rey lebih tipis. Kalo bang Yudha lesungnya di pipi kiri" Raisya mendeskripsikan secara rinci.


Rey mengangkat satu alisnya, "sedetail ini kamu"


"bang Rey..." panggil Raisya.


"heum?" sahutnya.


"kenapa bang Yudha gak di makamin di Padang?" tanya Raisya.


"itu memang kemauan Yudha dikuburkan di Bandung" jawab Rey.


"ya tuhan... Bantu lah aku move on dari bang Yudha... Jauhkan aku dari bang Rey yang membuat hamba selalu ingat bang Yudha ya tuhan..." Raisya berdoa di dalam hati sambil menelisik wajah Rey.


"kamu kenapa ngeliatin saya terus?" tanya Rey membuat Raisya memalingkan wajahnya.


"oh enggak..." jawab Raisya singkat.


"saya tau kamu belum bisa move on dari Yudha" ujar Rey membuat Raisya menengok ke arahnya.

__ADS_1


"kok abang tau?" Raisya sangat terheran-heran.


Rey tertawa menampakkan gigi rapihnya.


"eh... Kayaknya aku pernah liat abang deh..." Raisya mengingat-ingat kapan ia bertemu Rey.


"dimana hayooo?"


"oh... Abang temennya bang Hudan yah?" Raisya mengingat acara resepsi Hudan beberapa bulan lalu.


"nah iya... Kamu liat saya?" tanya Rey.


"sekilas"


"saya liat kamu, mau saya sapa tapi... Saya gengsi hahahaha" jujur sekali Reynaldi ini.


"udah yuk pulang, udah sore" Rey menggenggam tangan Raisya.


Raisya sedikit mengerjap, bahkan genggaman Rey sama seperti Yudha. Sifat dan sikapnya persis sekali. Kebetulan, tadi Raisya ke kuburan Yudha naik angkutan umum. Raisya masih takut membawa motor di jalan raya.


Rey membukakan pintu mobilnya untuk Raisya.


"silahkan masuk tuan putri" ucap Rey sambil menunduk dan menaruh tangan di dadanya. Raisya mendelik, Rey terkekeh melihat sikap lucu Raisya.


Raisya masuk ke mobil dan di susul oleh Rey. Di perjalanan, Raisya hanya fokus melihat jalanan namun sesekali ia menatap Rey. Rey yang sadar, menatap balik Raisya.


"astaga... Tatapannya mirip bang Yudha..." gumam Raisya.


Lama tidak saling bicara, akhirnya Raisya memulai pembicaraan, "eh, aku belum ngasih tau rumah aku"


Rey melirik Raisya, "saya sudah tau rumah kamu, saya juga kenal sama Rayyan" balas Rey.


"WHAT THE..." Raisya tidak percaya dengan ucapan Rey. "Wah... Fiks sih ini mah kembaran bang Yudha..." ujar Raisya heboh.


Rey tertawa melihat tingkah gemas Raisya, "kamu mirip adik saya"


"oiya, bang Yudha juga serinh bilang begitu" ujar Raisya.


"Naisya kan?" nama itu masih melekat di ingatan Raisya. Ya memang, hanya berbeda satu huruf dengan namanya.


Beberapa saat kemudian, mobil Rey terparkir di depan rumah Raisya.


"ini rumah kamu kan?" tanya Rey, Raisya mengangguk sambil terheran-heran.


Raisya masuk diikuti Rey. Dan muncul lah Rayyan yang kebetulan tidak sedang dinas.


"woaahh... Abang kanit" Rey dan Rayyan berjabat tangan.


"abang mayor..." balas Rey sambil tertawa.


"ada sersannya bang, sersan mayor bukan mayornya doang" seketika mereka berdua pun tertawa.


"masuk-masuk" Rayyan membuka pintu untuk Rey. Dan Rayyan juga menyiapkan minum untuk Reynaldi.


"kemarin Hudan nikah lo hadir Yan?" tanya Rey.


"Iyalah, dia kan sepupu gue" jawab Rayyan.


"lo kapan nyusul Yan?" tanya Rey membuat Rayyan berdecak kesal.


"lo kapan?" Rayyan bertanya balik.


"nunggu Raisya siap" jawab Rey santai.


"jadi kalian? Woaahh... Lu nyamber punya adek sendiri Rey?" kalau Rayyan kaget, bagaimana dengan Raisya. Raisya hanya bisa melongo.


"dia tuh bilang ke gue suruh jaga Raisya, gue juga udah tau banyak Raisya dari Yudha. Yaa... Gue mah udah siap, tinggal Raisya nya aja" jelas Rey.


Raisya merasa, Yudha hidup kembali dengan nama yang berbeda.


"iya deh... Yang kanit mah" ejek Rayyan membuat Rey mendengkus kesal.

__ADS_1


"Mayor... Mayor..." balas Rey.


"amin... Gue mayor, makasih doanya Rey" Rayyan dan Rey tertawa.


"lu tanya geh, si Raisya udah siap belum?" ucap Rayyan. Rey melirik Raisya yang menunduk.


"Acha masih belum bisa buka hati, tunggu beberapa waktu. Yaa... Meskipun bang Rey mirip bang Yudha" jawab Raisya.


"saya tau perasaan kamu" ucap Rey kembali ke mode baku.


"yaudah deh, gue mau pulang Yan. Titip Raisya" Rey pamit kepada Rayyan. Rey tersenyum ke arah Raisya dan Raisya membalasnya. Senyumannya... Yudha. Mirip sekali.


-----------------------------


[Setelah Kuliah]


Raisya duduk di kursi ruang tamu. Pikirannya masih tentang Rey. Raisya masih mengingat-ingat ucapan Rey.


"permisi... Paket..." tiba-tiba tukang paket memencet bel rumah Raisya.


Raisya menerimanya, "perasaan gue gak pesen paket di olshop deh" Raisya membolak-balik paket itu.


Raisya segera masuk ke kamar dan membuka isi paket itu.


Tertulis


Dari Praka Bima Bagaskara


Untuk Raisya Putri


Di dalamnya, ada kerudung 3 buah rancangan designer ternama dan 1 gamis ruffle dan 1 lagi gamis plisket. Di lipatan gamis, terselip sepucuk surat.


Assalamualaikum Raisya...


Gimana kabarnya? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT.


Saya turut berduka atas meninggalnya Letda Wirayudha. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan... Aamiin...


Raisya... Saya tidak ingin bertele-tele. Saya tau kamu masih belum bisa melepas letda Yudha. Tapi, dari saya SMA saya sudah menyukai kamu. Saya tunggu kesiapan kamu...


Kalaupun kamu bukan jodoh saya, dan siapapun jodoh kamu saya mohon... Tutup aurat kamu. Saya hadiahkan gamis dan hijab untuk kamu. Semoga kamu suka.


Salam Hangat


Praka Bima Bagaskara.


Raisya membacanya secara cermat dan teliti. Raisya di landa kebingungan. Antara Rey dan Bagas.


---------------------


Hari ini rencananya Rayyan akan mengajukan proses nikah batalyon.


"ayang, berkas-berkasnya udah lengkap kan?" tanya Alizya.


"udah, ayo ke batalyon" Rayyan menggandeng tangan Alizya.


--------------------------------------


Oke, segitu dulu deh...


Pokoknya lu harus istikhoroh Cha...


But, kan Alizya mau nikah sama Rayyan. Berarti Bagas jadi adek iparnya Rayyan.


Semoga Yudha Husnul Khotimah 😭😭 Author aja gak ikhlas apalagi Raisya 😭😭😭


Jangan lupa dukungan dan komennya. Minimal dukung deh:) kalo komen terlalu ribet.


Follow juga akun author yaaa;)


💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2