Dear Letnan

Dear Letnan
Takut-44


__ADS_3

Akhir akhir ini, Raisya sibuk dengan skripsinya. Pusing? Sudah pasti. Apalagi skripsinya beberapa kali di coret.


Hari ini Raisya akan melanjutkan untuk mengetik skripsi bersama Dinda. Dinda mengajak Raisya untuk nongkrong di salah satu cafe sambil mengurus skripsi.


Raisya duduk di kursi samping kaca. Cafe ini berdominasi kaca. Sementara Dinda memesan minuman.


"Mau apa Cha?" tanya Dinda sedikit berteriak.


"Americano aja," sahut Raisya.


Tak lama kemudian, seorang pelayan membawakan Americano dan thai tea ke meja Raisya dan Dinda.


"Makasih mbak," ucap Raisya, pelayan itu hanya mengangguk.


Raisya mulai membuka laptopnya, begitupun Dinda.


Dinda menghela napas panjang dan membuangnya kasar, "tu dosen emang bener-bener ye,"


Raisya melirik Dinda, "udah lah... Kita kerjain aja,"


Dinda yang sedang meneguk thai tea pun tersedak.


"Caranya?" Dinda mengernyitkan keningnya.


"Kok nanya sih? Ya selesain lah skripsinya," sungut Raisya.


"Katanya kerjain?" Dinda memutar bola matanya malas.


Raisya menepuk jidat, "Kerjain skripsinya pinter! Bukan ngerjain dosennya,"


"Eh Sya, tapi gue akuin tuh dosen ganteng, tapi kalo lagi sewot tuh nyebelin bet mukanya," ujar Dinda.


Raisya tertawa, "Jangan gampang kepincut lo,"


"Gak dih najiss!"


"Ekhem ekhem...,"


Seorang pria duduk tepat di samping kursi Raisya. Jaraknya tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Sontak, Raisya dan Dinda menoleh.


"Astaga... Semoga dia gak denger apa yang gue omong tadi...," gumam Dinda pelan.


"Sejak kapan dia ada di situ?" tanya Raisya sedikit berbisik, Dinda menaikkan bahunya.


Pria yang duduk di samping Raisya mendekat ke Raisya dan Dinda.


"Kalian lagi ngerjain apa?" tanya Dean yang tak lain adalah dosen Raisya dan Dinda.


Entah ada masalah hidup apa dosen yang satu ini, selalu saja membuat Dinda repot. Dan imbasnya adalah Raisya. Raisya juga sering terkena masalah oleh dosen itu. Walau hal sepele, dosen itu tetap memperlebar masalah.


"Ngerjain bapak," jawab Dinda.


"Hah? Apa kamu bilang?"


"E-enggak pak, tadi salah bilang si Dinda, ya gak Din?" Raisya menyenggol siku Dinda.


Dinda mengangguk cepat, "I-iya pak,"


Dean kembali duduk di tempatnya semula.


Tringg...


Bel notifikasi berbunyi. Dinda melihat chat dari notifikasi Raisya.


"Dari ayang tuh...," Dinda menggoda Raisya yang sedang fokus mengetik.


"Raisya udah punya pacar?" batin Dean.


Kak Bagas


Sya... Kamu dimana?


td saya ke rumah kata


bunda blm balik dari kampus.


Kmu masih di kampus? Saya


jemput ya?


^^^MiaAcha^^^


^^^Gak usah kak, aku^^^


^^^lagi main ke rumah temen^^^


^^^hehe^^^


Kak Bagas


Apa saya boleh ketemu kamu


sekarang?

__ADS_1


Raisya berpikir sejenak. Dirinya sedang mengerjakan skripsi, dan takut kalau Bagas akan ia abaikan.


"Kenapa Sya?" Dinda melihat wajah Raisya berubah.


"Kak Bagas minta nemuin aku, terima gak ya?" tanya Raisya bingung.


"Pacar lo abdi negara, temuin aja lah. Suruh dia kesini biar gue jadi nyamuk," Dinda tertawa saat menekankan kata terakhir.


Raisya berdecak kesal.


Plaaakkk...


Raisya menampar tangan kanan Dinda.


"Udah gue tepak nyamuknya,"


^^^MiaAcha^^^


^^^(share location)^^^


^^^Aku disini kak, sama Dinda^^^


^^^/Read^^^


Bagas sudah di depan cafe dimana Raisya dan Dinda berada. Bagas segera masuk. Raisya masih fokus dengan laptopnya.


"Sya...," Panggil Dinda.


Raisya menengok ke samping kiri. Sosok tinggi tegap itu masih memakai pakaian dinas. Bagas melirik kursi sebelah Raisya. Ada orang, tapi itu adalah... Dean.


"Dean kan?" tanya Bagas melihat Dean yang sedang menyeruput latte.


"Bagas?" Mereka berdua berpelukan. Mungkin saking lamanya tidak bertemu.


"K-kalian saling kenal?" Raisya dan Dinda sama-sama kaget.


"Dean ini teman saya pas di tamtama, tapi sayangnya dia gak lulus dan ngambil kuliah di harfard university," terang Bagas.


Raisya dan Dinda sama-sama melongo. Tidak menyangka kalau selama ini dosennya adalah lulusan universitas terbaik luar negeri.


"Bapak ketemu Maudy Ayunda gak?" tanya Dinda penasaran.


"Beda sekolah saya sama Maudy. Kalo Maudy kan di Stanford,"


"Wiih... Dosen yah," Bagas menepuk-nepuk bahu Dean.


"Perwira," balas Dean terkekeh.


"Kak Bagas di tempat aku aja, biar sama Raisya. Tapi gak jauh dari pak Dean," Dinda berdiri hendak pindah tempat duduk.


"Saya gampang kak, di sana masih kosong. Di situ juga," ujar Dinda menunjuk kursi yang kosong.


Akhirnya Bagas duduk di depan Raisya.


"Kamu duduk di depan Dean aja, biar deket sama Raisya. Kalo ada yang perlu di diskusikan kan enak,"


Dinda membelalakkan matanya. Hah? Dia duduk dengan 'dosen galak itu'?


"Oh... Ternyata Bagas pacar Raisya," batin Dean.


Dean memanfaatkan Dinda untuk bisa mendekati Raisya. Ia juga selalu mencari masalah dengan Dinda yang nantinya akan menyalur kepada Raisya.


Meanwhile:


Ku cinta padamu namun kau milik teman tamtama ku dilema hatiku...


"Duduk aja," titah Dean pada Dinda. Dengan gemetar, Dinda duduk di depan Dean. Seberusaha mungkin Dinda tidak gugup mengerjakan skripsinya di depan dosennya sendiri. Jantung Dinda berdegup kencang, entah apa itu. Mereka berempat seperti... Double date.


"Cantik juga," ucap Dean dalam hati ketika melihat Dinda yang fokus pada laptop.


Raisya sedari tadi fokus pada laptopnya sampai-sampai Bagas terabaikan. Bagas juga memilih diam tidak berbicara karena takut mengganggu konsentrasi Raisya.


Perlahan tapi pasti, Raisya menyelesaikan tugas skripsinya itu. Tidak harus seharian mengurus skripsi. Merasa cukup, Raisya menutup laptopnya dan meregangkan tubuhnya.


Raisya lupa kalau di depannya ada Bagas.


"Kalau capek gak usah si paksa cantik...,"


Kata terakhir Bagas membuat pipi Raisya memerah lagi.


"Hobi banget yah bikin gue salting," batin Raisya.


"Ehh... Maaf kak, astaga sampe lupa," Raisya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gak papa,"


"Itu kakak pesen apa?" Raisya memulai topik pembicaraan.


"Ini espresso,"


"Owalah... Ini Americano," Raisya menunjuk minuman di tangannya.


"Kamu tau gak?"

__ADS_1


"Apa?"


"Kenapa Americano pahit?" Bagas bersiap memberikan gombalan mautnya.


"Karena emang cita rasanya gitu," jawab Raisya seadanya. Tidak salah memang.


"Salah,"


"Terus?"


"Ya kalo manis cuma senyuman kamu," Yeah! Bagas berhasil membuat pipi Raisya merah.


Raisya tersipu malu, tidak. Jangan tergoda dengan rayuan maut buaya.


"Buaya Gimbal!" Ketus Raisya.


"Raisya...," Bagas meraih dan mengelus punggung tangan Raisya.


Bagas menatap dalam Raisya begitupun Raisya.


"Saya memang sudah janji akan menghadiri wisuda kamu, tapi sepertinya saya tidak bisa. Saya akan dikirimkan ke Aceh," jelas Bagas.


Deg...


"No no no... Don't say that," Raisya tidak mau, tidak mau hal yang sama terulang lagi.


"Maaf Raisya... Pertengahan bulan ini saya akan diterbangkan ke Aceh," ucap Bagas lirih.


"Ayo kita pulang!" Raisya menyeret Bagas meninggalkan Dinda dan Dean yang hanya berdua di cafe.


Raisya menghempaskan tangan Bagas saat sampai di depan mobil. Untungnya hari ini sepi, jadi kemungkinan tidak ada yang melihatnya.


Raisya meneteskan air matanya lagi, ia tidak mau hal yang sama terulang lagi. Beginikah kisah cinta bersama tentara?


"Kakak gak pernah tau perasaan


Raisya... Semuanya ninggalin Raisya karena tugas. Bang Rayyan, bang Yudha, Ayah, bunda, kak Bagas...," tangis Raisya semakin menjadi-jadi.


Bagas tidak tega melihat Raisya. Bagas mendekap Raisya. Raisya memukul-mukul kecil dada bidang Bagas.


"Maafin Saya Raisya... Kamu harus kuat. Kamu harus bisa... Saya yakin kamu kuat," Bagas mengelus kerudung Raisya.


"Aku ngerti kak... Aku cuma... Takut," Raisya menekankan kata terakhir.


Bagas semakin memeluknya erat.


"Saya bantuin skripsi kamu ya?" Bagas menangkup kedua pipi Raisya.


"Serius?" Raisya masih memanyunkan bibirnya.


"Iya, mau dimana? Tamkot? Cari cafe yang lebih privat? Atau kamar saya?" goda Bagas.


"Tamkot aja,"


Bagas membukakan pintu mobil untuk Raisya. Mereka pun menuju taman kota.


Raisya melepas tangan kiri Bagas dari tangan kemudi dan menggenggamnya erat. Bagas tersenyum tipis.


"Janji pulang oke?" Raisya menatap Bagas dalam.


"Iya cantikk...," Bagas mengecup punggung tangan Raisya.


"Janji?" Raisya menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Bagas.


Raisya tidak mau kejadian terulang lagi. Pulang dengan berkalangkan bendera merah putih.


Sampailah mereka di taman kota. Raisya menggendong tasnya dan berjalan beriringan dengan Bagas. Mereka mencari tempat duduk yang pas.


Bagas menemani Raisya mengetik skripsi. Tangan Raisya tidak pernah lepas dari genggaman Bagas. Sesekali Bagas mencubit, meremas atau mengecupnya. Raisya membiarkan saja apa yang dilakukan Bagas.


"Udah ah gak mood, pulang yuk,"


Tidak sampai 30 menit Raisya di taman kota, ia sudah merasa bosan. Akhirnya Raisya pulang di antar oleh Bagas.


Sampailah Bagas di depan rumah Raisya. Saat Raisya turun, Bagas juga ikut turun. Raisya sudah membuka gerbangnya dan hampir masuk, tapi ia berbalik lagi dan berhambur memeluk Bagas. Bagas sedikit terdorong ke belakang karena serangan dari gadis itu.


Raisya kembali meneteskan air mata. Raisya trauma dengan apa yang terjadi pada Yudha. Raisya berharap ada keajaiban saat wisuda nanti. Berharap Bagas tiba-tiba datang.


"Kalo mau berangkat tugas bilang ya," ucap Raisya.


"Iya... Nanti saya kabari. Saya akan bawa kamu juga ke bandaranya kalau kamu gak sibuk,"


"Siap komandan," Raisya berhormat kepada Bagas. Dibalas sikap hormat lagi oleh Bagas.


Bagas mengecup kening Raisya dengan lembut dan lama. Membuat gadis itu sedikit tenang.


Raisya menyuruhnya pergi duluan. Raisya terus melambaikan tangan dan tersenyum melihat kepergian Bagas.


------------


Apa aku kuat kalo punya pacar abdi negara? 😭😭 gak mau ditinggal.


Tapi litteraly aku iriiiii sama Raisyaaaa

__ADS_1


Aku juga nulis ini tuh pake perasaan, jadi kayak menghayati peran Raisya awokawokawok:v


Jangan lupa dukungan dan komennya🌚🌝


__ADS_2