
"kamu mau pulang bareng?" tanya Alex menawarkan tumpangan kepada Iska.
Iska mengganggukinya. Iska dan Alex sedang mabuk berat, tapi Alex masih bisa menahannya. Alex mengantarkan Iska sampai ke apartemennya. Alex masuk ke dalam mengikuti Iska sampai kamarnya. Iska hendak mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Alex yang melihatnya langsung kalap. Alex masuk ke kamar Iska dan mendorong tubuh Iska ke ranjang. DAN APA YANG TERJADI?? ---SKIP NANTI OTAKNYA GA BERES
Matahari pun terbit. Iska terbangun dan sangat kaget mwlihat Alex yang tertidur disampingnya. Iska juga kaget melihat dirinya dan Alex telanjang.
"darah?" gumam Iska melihat noda darah di sprei kasurnya. Iska pun membangunkan Alex.
"Alex... Bangun..." ucap Iska.
Alex mengerjapkan matanya. Alex kaget melihat Iska yang hanya dibalut selimut dan kaget dirinya telanjang.
"semalem kita ngapain?" tanya Alex
"lo harus tanggung jawab Lex..." ucap Iska.
Alex tidak peduli dengan Iska. Alex beranjak dari ranjang tempat tidurnya. Alex mengambil baju yang terlempar akibat permainan tadi malam. Kemudian Alex memakai baju dan meninggalkan Iska.
"alex... kamu harus tanggung jawab..." teriak Iska kesal
Dimobil, Alex melihat ada 25 panggilan tidak terjawab. 10 panggilan dari ibunya dan 15 panggilan dari teman-teman satu gengnya. Gibran memberi pesan singkat kepada Alex kalau Devian menjadi korban tabrak lari. Alex juga sangat kaget. Dia juga menyesal telah melakukan perbuatan yang tidak seharusnya kepada Iska.
"Aaaaggghhrrr..." teriak Alex kesal.
Alex sampai di apartemannya. alex masuk dan melihat ibunya sedang duduk di ruang tamu.
"habis darimana kamu?" tanya ibu Alex. Ibu Alex memcium bau alkohol yang sangat menyengat.
Plaaaakkk....
Ibu Alex menampar Alex.
"kamu mabuk?" tanya ibu Alex
"gak usah banyak omong! Dulu ayah juga gitu" jawab alex.
"berani nentang ibu kamu yah" ucap ibunya kesal
Alex membereskan barang-barang bersiap pulang ke Indonesia.
"mau kemana kamu?" tanya Ibu Alex. Alex tidak peduli dengan ucapan ibunya.
Alex mandi menyegarkan tubuhnya. Setelah itu, Alex membawa koper dan tasnya pergi ke bandara. Ibunya masih saja mengoceh.
[Rumah Sakit]
Vanessa dan Hudan ke rumah sakit. Mereka berdua berencana menemui paman dan bibi Devian.
"pak... Bu... Sebelumnya saya minta maaf, kami sudah melakukan penyelidikan dan olah TKP, kami juga sudah memeriksa CCTV setempat. Tapi pelaku masih belum kita temukan bu... Pak... Saat kami cari plat nomor di daftar STNK juga tidak ada, kemungkinan pelaku sudah mengganti plat nomornya dan kemungkinan kejadian ini sudah direncanakan. Tapi tenang saja pak, bu... Kami akan usut tuntas masalahnya" jelas Vanessa.
"Iya ibu polisi... Kami hanya bisa bantu doa" ucap bibi Devian
Vanessa memberikan bukti rekaman CCTV kepada paman dan bibi Devian. Sangat jelas yang menabrak Devian adalah mobil sedan berwarna putih.
[Penjara]
Hari ini, Wawan mendatangi Angga ke penjara. Ia ingin memberi tau kalau misinya sukses ia lakukan.
"bagus! Meskipun Devian belum tentu mati, setidaknya dia kritis" Ujar Angga
"tapi gue takut di penjara Ga..." ucap Wawan
"tenang aja... Itu urusan gue" Ucap Angga ringan.
"oke... Lu bisa jamin gue gak masuk penjara?" tanya Wawan yang ragu
"bisa... Gampang itu mah" Jawab Angga
[Kumpul Geng Danger]
Hari ini, Wawan mengajak anggota gengnya untuk berkumpul di sebuah cafe. Ini karena rencana Wawan yang telah berjalan dengan lancar. Wawan mentraktir teman-temannya di cafe.
"Woiii bro..." sapa Dimas
"Oy..." sapa Wawan
"gimana rencananya? Lancar?" tanya Crist
"lancar dong... Mental dia gue tabrak" jawab Wawan sambil tertawa lepas.
Di cafe yang sama, Gibran duduk di pojok sedikit jauh dari geng danger. Gibran mendengar jelas obrolan mereka. Wawan tidak menyadari kalau ada Gibran. Gibran masih menyimak pembicaraan antara mereka. Gibran mengambil handphone-nya dan merekam apa yang dia dengar. Jarak antara mereka tidak terlalu jauh. Sehingga masih jelas apabila direkam.
"mental dia woi pas gue tabrak... Fly kayak Dimas kalo lagi mabuk hahahaha" ujar Wawan sambil tertawa
""bisa dipastiin kritis tu bocah" timpal Crist
"rencana buat jual properti mereka udah, bunuh ketua gengnya juga udah... Sekarang apalagi?" tanya Wawan sambil menatap ke depan.
Mata wawan membulat ketika melihat laki-laki yang memakai topi duduk disebrang agak jauh darinya.
Merasa di perhatikan, Gibran mematikan rekaman handphone-nya. Gibran keluar dari cafe itu dan langsung mengabari teman-temannya. Wawan memantau Gibran sampai Gibran masuk mobilnya dan pergi.
"ngeliatin apaan lu?" tanya Crist
"gue liat Gibran tadi... Tapi samar-samar gitu" jawab Wawan
"Gibran Atenos?' tanya Dimas, Wawan mengangguk
"kejar Wan!" teriak Crist
mereka pun beranjak dari cafe dan mengejar Gibran.
"Tunggu! Lu tau mobil Gibran yang mana?' tanya Dimas
"gak tau" jawab Wawan polos
"Goblok! Bisa lebih goblok lagi gak lu?" teriak Dimas kesal
"tapi gue tau warna mobilnya" ujar Wawan
__ADS_1
"apa?" tanya Dimas
"item" jawab Wawan
"lah.... Mobil item banyak woi! Mobil gue juga item" ujar Crist
"yaudah... Kita coba cari dulu deh" kata Wawan.
Gibran menghubungi teman-temannya. Teman-temannya menyarankan agar Gibran melapor kepada Vanessa atau Hudan. Gibran pun menurutinya.
"Halo bu... Saya Gibran teman Devian... Saya menemukan bukti siapa pelaku penabrak Devian" Ucap Gibran to the point
"ohh... Oke... kamu datang saja ke rumah saya. Soalnya saya udah selesai dinas" kata Vanessa.
vanessa men-share lokasi rumahnya. Gibran pun menancap gasnya menuju rumah vanessa.
"kayaknya itu mobil Gibran" ucap wawan
"kita ikutin aja terus" Wawan dan gengnya mengikuti kemana gIbran pergi. Gibran merasa da yang janggal.
"dari tadi mobil ini ngikutin gue terus... apa jangan-jangan ini mobilnya Wawan yah" gumam Gibran
Gibran melajukan mobilnya dengan kecepatan yang agak tinggi. Namun, mobil geng Danger tetap mengikutinya. Ginran membelokkan mobilnya ke gang. Gibran akan lewat jalan tikus agar lebih aman.
"eh... Mobil Gibran mana?" tanya Wawan
"****! Kita kehilangan jejak!" umpat Dimas
"Kita harus cari sampe ketemu!" ucap Wawan
Karena lewat jalan tikus, Gibran sampai dirumah Vanessa lebih cepat. Gibran menekan tombol bel rumah Vanessa. Vanessa pun membuka gerbangnya.
"oh... Gibran silahkan masuk" ucap vanessa
"maaf bu... apa saya boleh numpang parkir di garasi ibu?" tanya Gibran karena merasa dirinya diincar.
"oh... Iya boleh..." kata Vanessa
"jadi kenapa?" tanya Vanessa
Gibran menjelaskan apa yang terjadi.
"motif dia bunuh Devian tuh apa?" tanya Vanessa
"saya juga gak tau bu, Tapi ini rekamannya" jawab Gibran sambil memberi handphone-nya untuk dijadikan bukti.
"sekarang kamu ikut saya ke polres" ujar Vanessa
Vanessa dan Gibran pun pergi ke polres dengan mobil yang berbeda.
[Rumah Sakit]
Devian berada di ruang ICU. Paman dan bibinya berharap-harap cemas melihat Devian. Semalam, Revo yang menjaganya. Azan subuh pun berkumandang. Devian mendengar suara azan itu. Devian mencoba membuka matanya , samar-samar dalam penglihatannya melihat seseorang duduk di sofa sambil bermain handphone. Devian berusaha duduk tapi tidak bisa.
"Aaagghhh..." Devian mengerang kesakitan.
Mendengar suara Devian, Revo langsung mendekat kepada Devian.
"Raisya mana?" tanya Devian
"kenapa emang?" Revo bertanya balik
"gue ada urusan..." jawab Devian sambil tersenyum tipis
Merasa aneh, Revo memanggil paman dan bibi Devian.
"ya ampun Dev... Sabar yah... kamu pasti sembuh kok..." ujar bibinya
"Devian mau Raisya bu..." Rengek Devian
Bibi Devian menelpon Raisya untuk memintanya datang ke rumah sakit.
"Raisya... Devian minta kamu dateng ke rumah sakit, kamu bisa dateng ga?" taya bibi Devian
"Raisya mau sekolah tante... Emang sekarang banget" jawab Raisya
"Iya.... Kali ini aja..." ucap bibi Devian
"oke tante... Aku mau kesitu" Karena merasa ada yang gawat, Raisya langsung menuju ke rumah sakit. Kebetulan, Rayyan sedang ada di rumah. Jadi Rayyan bisa mengantar Raisya ke rumah sakit.
"Kak... Anterin aku ke rumah sakit. Temen aku ada yang kecelakaan" ucap Raisya
"Okee... Ayok" ajak Rayyan
Setelah sampai dirumah sakit, Raisya langsung ke ruangan Devian.
"Devian..." Panggil Raisya saat melihat Devian yang terbaring lemas.
"Kita keluar dulu yah...." Ucap bibi Devian.
Paman, bibi dan Revo pun keluar dari ruangan Devian. Raisya duduk di samping ranjang Devian. Devian meraih tangan Raisya.
"Cha... Sekali lagi Devian minta maaf, kamu mau maafin aku kan?" Tanya Devian, Raisya hanya mengangguk.
"Cha... Ini terakhir kalinya aku bilang sama kamu kalo aku suka sama kamu... Apa kamu masih benci aku?" Tanya Devian lagi. Raisya menggenggam tangan Devian yang sedang mengelus punggung tangannya.
"Dev... Gue udah maafin lu, gue gak benci sama lu. Lu harus janji sama gue... Lu sehat, lu kuat, lu bisa lawan rasa sakit lu dan lu percaya kalo lu bakal sehat kayak biasa" Ucap Raisya.
"Gue gak bisa... Maafin gue..." Ucap Devian
Raisya menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk mata Devian.
"Dev... Gue mohon... Lu pasti bisa... Ntar kita pacaran kalo lu sembuh" ujar Raisya sambil mengecup punggung tangan Devian.
"Maafin aku cantik.... Aku emang gak pantes buat kamu, semoga kamu dapet yang lebih baik dan yang terbaik... Good bye" ucap Devian dengan tangan kanan yang memegang pipi mulus Raisya.
Tiiiiiiiiiiiitttt.....
Suara monitor detak jantung Devian berubah menjadi garis lurus. Tangan kanan Devian jatuh namun diraih oleh Raisya.
__ADS_1
"Dev.... Devian bangun...." Teriak Raisya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Devian. Raisya meneteskan air matanya ketika melihat wajah Devian yang mulai memucat. Paman dan bibi Devian hanya bisa pasrah menerima takdir.
Langkah kaki terdengar dari arah koridor. Suara itu semakin dekat.
"Devian mana?" tanya Alex terburu-buru.
"Devian udah gak ada..." Jawab Revo lesu
"Lu kemana aja?! Temen lu sekarat lu malah gak ada!" Teriak Raisya.
"Maafin gue... Gue telat" ucap Alex sambil menundukkan kepalanya.
Setelah menerima laporan dari Gibran, hari ini polisi akan menangkap tersangka. Yaitu Wawan. Polisi ke sekolah Wawan dan masuk ke kelas Wawan. Polisisudah meminta izin kepada kepala sekolahnya.
"Selamat pagi adik-adik... maaf sebelumnya mengganggu waktunya, di kelas ini ada yang bernama Wawan Setiawan?" tanya pak Dion.
"ke WC pak..." sahut salah seorang siswa.
Wawan membuang air kecil di WC. Ketika hendakkembali ke kelas, mata Wawan langsung terbuka lebar ketika melihat polisi yang berada di kelasnya.
"Ohh... Yasudah, terima kasih adik-adik" ucap pak Dion
Pak Dion keluar dari kelas Wawan. Di saat itu juga pak Dion melihat Wawan yang mematung di koridor kelas.
"itu orangnya!Kejaaaarrr!!" teriak pak Dion kepada anggotanya.
Terjadilah kejar-kejaran antara polisi dan Wawan di koridor sekolah. Wawan berlari sekuat tenaga.
"Potong jalalnya! Mencaaarrr!!" pak Dion memberi komando
Wawan mulai kelelahan dan bingung harus lari kemana lagi karena di depannya tembok. Wawan terjebak di koridor yang buntu.
"saudara Wawan Setiawan! Anda sudah terkepung! Sebaiknya anda menyerahkan diri!" teriak salah seorang anggota polisi.
Polisi sudah menyiapkan senapan, berjaga-jaga kalau sampai Wawan kabur. Wawan terpojok tidak bisa melawan. Akhirnya Wawan pasrah dan menyerahkan diri. Kedua tangan Wawan diborgol oleh polisi.
"Wawan kenapa yah?" tanya teman-temannya dikelas
"iya, sampe dikejar-kejar polisi gitu" timpal yang lainnya
"maklum lah... Anggota geng... Plaing kena razia balap motor" timpal temannya yang lain
Pak Dion menerima kabar kalau Devian meninggal tadi mlam di rumah sakit. Sesampainya di polres, Wawan langsung dibawa ke ruang introgasi.
"jadi kenapa kamu bunuh Devian?" tanya pak Ditto
"saya gak bunuh pak... Saya gak sengaja nabrak" Jawab Wawan mengelak
Pak Dion memperlihatkan rekaman CCTV, jelas sekali kalau Wawan sengaja menabraknya. Kalupun tidak sengaja, kenapa Wawan lari tidak bertanggung jawab?
"ini sudah jelas kalo kamu sengaja nabrak Devian" Meskipun sudah di desak, Wawan masih belum mau untuk mengakui kesalahannya.
"saya menerima kabar kalo Devian meninggal... Kamu bisa di ancam hukuman berlapis loh..." Ucap pak Dion
Pak Dion kemudian mengeluarkan bukti rekaman saat di kafe.
"ini ada buktinya... Kamu masih mau ngelak?" tanya pak Dion
Setelah di introgasi kurang lebih 1 jam, akhirnya Wawan mengakui kesalahannya.
"Oke pak saya ngaku kalo saya yang nabrak Devian... Tapi saya di suruh orang pak" Jawab Wawan
"jangan mengelak lagi kamu!" ucap pak Dion
"bener pak... Saya disuruh Angga... Sekarang Angga ada di penjara pak" bela Wawan
Setelah mengintrogasi Wawan, pak Dion membawa Wawan ke lapas. Pak Dion akan mewawancarai Angga.
__________
Pagi ini, Devian di makamkan di pemakaman umum dekat rumahnya. Hampir semua teman Devian hadir dalam pemakaman Devian. Termasuk Raisya.
"Maafin gue Dev.... Gue telat banget datengnya" ucap Alex di batu nisan Devian.
__________________
Setelah bertemu Angga di lapas, pak Dion langsung mengintrogasi Anggga. Awalnya, Angga mengelak. Tapi akhirnya Angga mengakui kesalahannya. Mereka berdua pun di bawa oleh pak Dion ke keluarga korban atau keluarga Devian. Dengan tangan yang di borgol, Angga turun dari mobil dan mengikuti langkah pak Dion. Alangkah kagetnya Angga ketika melihat paman dan bibi Devian.
"Angga..." ucap bibi Devian yang kaget
"jadi kamu yang bunuh adik kamu sendiri?" tanya paman Devian
"jadi selama ini?" ucap Angga terpotong
"maksud kalian apa ini?" tanya pak Dion yang bingung.
"jadi gini pak, dulu pas masih kecil Devian kita bawa karena kita gak punya anak dan Devian itu keluarganya hancur pak. Dan Angga itu kakaknya" Jelas paman Devian
"Tapi seinget saya nama adek saya Fian, bukan Devian" ucap Angga
"iya, nama Fian kita ganti menjadi Devian" timpal bibi Devian
Terlihat wajah menyesal dari Angga. Angga menjelaskan kenapa ia harus membunuh Devian.
"Jadi kamu salah membunuh orang? Harusnya kan yang kamu bunuh Alex bukan Devian. Devian hanya ketua geng sementara" ucap pak Dion
"iya pak, saya bunuh adik saya sendiri" timpal Angga sambil berkaca-kaca.
Angga dan Wawan terjerat hukuman seumur hidup karena kasus ini. Angga menerimanya karena merasa bersalah membunuh adiknya sendiri. Sebelum masuk lapas, Angga meminta izin kepada polisi untuk berziarah ke kuburan Devian.
"maafin gue Dev... Gue gak bisa jadi kakak yang baik dan gue malah nyakitin lu" ucap Angga di batu nisan DEvian.
Setelah tau apa masalahnya, Alex juga menyesal. Karena seharusnya dia yang terbunuh bukan Devian. Tapi karena ibunya memintanya untuk menemani ke Australia, Devian lah yang menjadi sasaran.
"lo meninggal sebagai perisai gue Dev..." gumam Alex
-----------------------------------------------------------------------
Akhirnya Up juga....:)
__ADS_1
Ada yang nunggu cerita aku gak yahhh..??
jangan lupa dukungannya manteman