Dear Letnan

Dear Letnan
Mimpi-39


__ADS_3

Malamnya, Raisya sudah keluar dari rumah sakit. Dokter menyatakan kalau Raisya sudah terbebas dari penyakit ginjal. Meski begitu, jahitan operasi masih belum kering dan Raisya selalu merasa nyeri ketika hendak duduk.


Raisya menuju kamarnya dan membuka lemari. Raisya mengambil kerudung dan gamis yang di beri oleh Bagas.


"Ih... Bagus juga," gumam Raisya ketika melihat pantulan dirinya di cermin.


"Ntar besok aku mau pake kerudung ah ke kampus," Raisya memutar dirinya di cermin.


"Ngapain Sya?" tanya Rayyan ketika lewat kamar Raisya.


"Lagi nyoba-nyoba aja," jawab Raisya.


"Kamu beli di mana? Anjay designer nya Dian Pelangi," ujar Rayyan melihat merk kerudung yang Raisya pakai.


"Ini mah di kasih," jawab Raisya masih fokus dengan gamis ruffle-nya


"Sama siapa?" Rayyan mengerutkan keningnya.


"Kak Bagas," jawab Raisya tanpa melirik Rayyan sedetikpun.


"Owalah..." Rayyan keluar meninggalkan Raisya.


Setelah mencoba-coba semua gamis dan kerudung yang Bagas beri, Raisya mengambil wudhu dan melaksanakan sholat isya, setelah itu di lanjut sholat istikhoroh.


Allahumma inni astakhiruka bi 'ilmika wa astaqdiruka biqudrotika, wa as aluka min fadhlikal 'adziim. Fainnaka taqdiru wala aqdiru wa ta'lamu wala a'lamu wa anta 'allamul ghuyub.


Allahumma in kunta ta'lamu anna hadzal amro khoirun li fii diinii wa ma'asyi wa 'aqibati amri, faqdurhu lii yassirhu lii tsumma baarik lii fiih. Wa in kunta ta'lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diinii wa ma'asyi wa 'aqibati amri. Fashrifhu 'anni washrifnii 'anhu. Waqdur lil khoiro haitsu kana tsumma ardhinii bih


Robbanaa atinaa fiddunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, waqinaa 'adzabannaar.


Raisya membaca doa yang sudah ia tulis di kertas dengan tulisan latin. Hati Raisya lebih tenang dari biasanya.


"Ya Allah... Sudah berapa kali aku berpaling darimu." gumam Raisya mengingat semua dosa yang ia pernah lakukan.


Raisya merasa ngantuk. Beberapa kali ia menguap. Raisya melepas mukenanya dan merebahkan tubuhnya ke ranjang. Beberapa detik kemudian, Raisya sudah terlelap.


[Mimpi Raisya]


Entah Raisya sedang berada di mana, tapi dirinya memakai baju perang khas kerajaan jaman dulu. Raisya menaiki kuda dan membawa beberapa busur panah.


Di depannya, seorang laki-laki tinggi tegap mengawalnya dan sama-sama membawa busur panah.


"Apa kamu sudah dapat buruan?" tanya laki-laki itu tanpa menengok Raisya.


"Tidak." jawab Raisya.


Laki-laki itu turun dari kudanya. Dan berbalik menghadap Raisya.


"Bang Yudha" gumamnya.


"Saya butuh daun ini untuk obat." ujar Yudha dan memetik beberapa daun yang ia butuhkan.


Setelah mengambil beberapa daun, Yudha menaiki kudanya lagi dan kembali melanjutkan perjalanan.


Ketika jalan hutan terbelah menjadi dua, kuda Yudha tiba-tiba berhenti. Mau tidak mau Raisya dan kudanya juga ikut berhenti.


"Ada apa?" tanya Raisya dan turun dari kudanya.


"Tugasku sudah selesai," jawab Yudha singkat lalu dengan anehnya tiba-tiba menghilang.


"Hey... Jangan tinggalkan saya... Kamu tega ninggalin saya sendiri di sini??" raung Raisya sambil menangis ketakutan.


Tubuh Raisya lemas dan terperosot ke bawah. Sedangkan kudanya hanya diam tidak meronta melihat pemiliknya menangis.


Raisya merasakan ada yang memeluk tubuhnya.


"Jangan takut, saya ada di sini. Saya akan antar kamu pulang," ucapnya sambil mengelus rambut Raisya.


Raisya bingung karena laki-laki yang di peluknya memakai baju hijau loreng, "Siapa kamu?"


"Saya bertugas untuk menjaga kamu selamanya,"


Laki-laki itu menaikkan Raisya ke kudanya dan laki-laki itu yang mengendalikan kuda Raisya.


Sesekali laki-laki itu menengok dan tersenyum ke arah Raisya.


"Dimana laki-laki tadi?" tanya Raisya. Laki-laki yang di maksud adalah Yudha.


Laki-laki itu tidak menjawabnya dan memilih bungkam.


------------------


Raisya terbangun dari mimpinya. Keringat Raisya bercucuran. Raisya masih berpikir apa arti mimpi yang baru saja di alaminya.


Raisya mengambil handphone-nya dan menelpon Kirana.


"Ngapain lu nelpon gue malem-malem gini?"


"Ran, besok habis lu pulang kuliah ke rumah gue ya. Gue mau cerita,"


"Sekarang aja kalee,"


"Tadi gue mimpi...,"


"Eh... Stop stop, kali mimpi horor gue gak mau. Ini udah malem anjir,"


"Gak horor sih sebenernya cuman aneh aja,"

__ADS_1


"Yaudah besok aja,"


"Lu gak tidur?"


"Lagi nungguin chat dari Na Jaemin,"


"Idih... Emang Na Jaemin tau kalo lu idup?"


"Kalo kemaren gue jadi nonton Na Jaemin mah dia tau gue idup. Gue mau nonton barisan paling depan,"


"Iya iya... Awas lu kalo kesiangan masuk kampus,"


"Iyaaa... Tidur lo"


Sambungan dimatikan oleh Kirana. Raisya berusaha mengingat-ingat wajah yang membawanya pulang tapi tidak bisa. Raisya hanya bisa mengingat baju yang dipakai laki-laki itu. Seragam hijau loreng khas tentara.


-----------------------


Raisya ingin sekali berterima kasih atas gamis dan kerudung yang Bagas berikan dan meminta maaf atas kejadian di rumah sakit. Raisya juga tidak enak hati kepada Bagas.Untungnya, Raisya masih menyimpan nomor Bagas. Nomor itu berfoto profil Bagas  sedang menembak.


"Kayaknya nomornya masih on," gumam Raisya.


Raisya mengumpulkan niat dan keberanian untuk men-chat Bagas.


^^^MiaAcha^^^


^^^Kak Bagas,^^^


^^^makasih ya gamis ^^^


^^^sama kerudungnya, aku suka^^^


^^^Hehe😁^^^


Kak Bagas


Kak Bagasnya gak ada,


Hpnya dipegang adiknya


^^^MiaAcha^^^


^^^Ini Tiara? ^^^


Kak Bagas


Iya kak hehe


^^^MiaAcha^^^


^^^Kak Bagasnya kemana?^^^


Kak Bagas


Kak Bagasnya lagi sekolah


lagi di Secaba


^^^MiaAcha^^^


^^^Bintara Batujajar?^^^


Kak Bagas


Iya kak, masih wilayah


Bandung kok


^^^MiaAcha^^^


^^^Yaudah deh, makasih^^^


^^^infonya ya Tiara🙏😊^^^


Kak Bagas


Iya kak, nanti aku


titipin salamnya😉


^^^MiaAcha^^^


^^^Siap! Makasih ya... ^^^


Raisya lemas seketika, melihat chatnya dengan Tiara. Seperti dejavu. Ada rasa khawatir dalam hati Raisya.


"Bang Yudha sekolah secapa terus dapet satgas di papua. Astaga! Aku gak boleh negatif thinking"


^^^MiaAcha^^^


^^^Jangan lupa^^^


^^^Ke rumah gue! ^^^


Kirana😤


Iya iya bawel.

__ADS_1


Sorenya, Kirana mampir ke rumah Raisya. Raisya langsung menarik tangan Kirana ke kamarnya.


"Kok di kunci? Gue mau di perkosa?"


"Anjir, gue masih waras bege!"


Pintu, jendela, semuanya di tutup.


"Mau cerita apa gece!"


Raisya menjelaskan apa yang ia mimpikan semalam dan menjelaskan kalau Bagas sedang di Secaba.


"Lo sadar gak? Kalo yang suka sama gue tuh semuanya meninggal?"


"Hah? Emang iya?"


"Yang pertama Rio, dia punya penyakit jantung dan dua ginjalnya di kasih ke gue,"


"terus?"


"Yang kedua Devian, dia korban tabrak lari. Dia pernah confess ke gue,"


Kirana melirik sahabatnya yang sepertinya rapuh.


"Dan yang ketiga bang Yudha, dia gugur di satgas papua,"


Kirana mengelus punggung Raisya beraturan.


"Gue tuh sebenernya bukan fakgirl, gue bingung kadang orang-orang ngira gue fakgirl,"


"Don't hearing each other sist,"


"Si Rio, dianya yang ngejar-ngejar gue. Gue sering pulang bareng karena gue gak enak nolaknya. Terus Devian, dia usiiilll... Banget. Ternyata dia suka sama gue. Terus kak Bagas, tiba-tiba aja dia minta gue tunggu dia lulus dari pendidikan militernya," Jelas Raisya panjang lebar.


"kalo Gavin?"


"Gavin tuh selalu nolongin gue, dia always ada buat gue. Apalagi kita sering kerja bareng. Apa-apa bareng, gue jadi kebawa suasana. Padahal dia punya adek gue. Waktu itu gue ngerasa jahat banget sama bang Yudha," lanjut Raisya sambil tertawa getir.


"Why You Sad, Friend?"


"Gue tuh ngerasa kayak orang pembawa sial, bajingan dan gak pantes buat di cintai," Raisya mulai mengeluarkan air matanya.


"Mana ada orang pembawa sial di dunia ini Sya... Itu mungkin Allah tuh ngasih kesempatan buat calon lu," ucap Kirana sedikit menasehati.


"I'm a bad people sist... Rio yang segitu baiknya rela donor ginjalnya buat gue. Sedangkan gue sampe sekarang belum ziarah ke kuburannya. Dan gue pun gak liat wajah Rio for last time," Bahu Raisya mulai terguncang.


Kirana memeluk Raisya.


"Ya... Itu kan lu nya lagi kritis mau di operasi di rumah sakit,"


"Awalnya gue kira Rio cuman donor satu ginjal, ternyata dia kasih dua ginjal ke gue,"


"Maybe Rio tuh pengen jadi bermanfaat buat orang lain, makanya dia donor semua ginjalnya ke lu. Lagian kan penyakit Rio udah akut, semua organnya juga udah rusak,"


"Gue takut nanti yang suka sama gue bernasib sial juga,"


"Kalo jodoh mah di manage sama yang di atas weh. Sebelum ijab kabul terucap, lu berhak milih siapa yang pantes buat temen hidup lo,"


"I know..."


Hati Raisya seakan tertutup.


"Eh Sya... Gue masih mikir mimpi lo, lo bilang yang pertama ngawal lo bang Yudha. Terus di serahin sama laki-laki pake baju tentara 'kan?"


"iya,"


"I Think that is Bagas,"


"Dari mana lo tau?"


"Dari ciri-cirinya,"


"Gue gak mau... Gue gak mau suka sama orang lagi. Fall in love so sick bebe!"


"Ntar gue bantuin lo sama kak Bagas,"


"


What for?"


"Jodoh lu lah, kok what for sih?"


"terserah deh." Raisya menghembuskan nafas pelan.


Kirana memberi motivasi-motivasi untuk Raisya, seperti motivator kelas kecamatan. Apapun agar Raisya kembali sehat.


"thank you, girl. You're my very best friend," Raisya memeluk Kirana yang akan pulang.


"You're Welcome bebe!" Kirana melambaikan tangan dan pulang dari rumah Raisya.


🙌🙌🙌🙌🙌


Sumpah ya, gue nulis ini tuh bodo amat. Bodo amat mau ada yang typo kek kalimatnya salah kek atau apa. Nanti kalo gue sempet gue repisi. Yang jelas gue mau hiatus bulan ini ntah tanggal kapan, dan niat gue tuh buat nyelesain novel ini. Kalo gak sekarang kapan lagi coba. Apalagi nanti gue hiatusnya 6 bulan. Lima taun yang akan datang juga gak bakal kelar ni novel kalo gue ulur terus.


Oke, apapun yang gue tulis semoga kalian suka huhu... Mungkin agak sedikit berantakan dan blepotan. Jangan lupa dukungannya and komennya.


Oiya, makasih loh ya udah baca dari awal sampe sini. Tanpa kalian tuh gue males lanjutin laginya:")

__ADS_1


__ADS_2