Dear Letnan

Dear Letnan
GUGUR-35


__ADS_3


Disaat Yudha lagi senang-senangnya, ada bawahan yang menyuruhnya menghadap ke mayor Ridwan. Apa lagi ini? Apa harus ada tugas lagi?


"ijin, letda Yudha dipanggil oleh mayor Ridwan ke ruangannya" Yudha pun bersikap hormat dan segera ke ruangan mayor Ridwan.


Bang Yudha💝


Tunggu abang ya sayang...


Mungkin abang ada sedikit urusan.


^^^MiaAcha^^^


^^^It's okay and no problem letnan^^^


Sebelum Yudha masuk ke ruangan mayor Ridwan, Yudha menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Raisya.


Yudha mengetuk pintu ruangan Mayor Ridwan. "masuk"


Yudha memberi hormat kemudian mayor Ridwan membalasnya.


"kamu adalah salah satu prajurit terbaik di batalyon ini, saya tidak ragu menerjunkan kamu ke medan tempur. Karena kamu sudah naik pangkat menjadi letnan dua, saya hadiahi kamu satgas di papua" ujar mayor Ridwan pelan namun terdengar sangat tegas.


"siap ndan!" sebenarnya hati Yudha sakit. Ya, mungkin dia tidak akan bisa bertemu Raisya lagi.


Tunggu, apa maksudnya? Kan masih ada hari esok atau nanti.


"malam ini, saya berangkatkan kamu dan beberapa prajurit lainnya. Satgas ini hanya satu bulan. Selamat bertugas! Semoga Allah selalu melindungimu dan prajurit lain" Yudha berjabat tangan dengan danyonnya itu.


Yudha keluar dari ruangan mayor Ridwan. Yudha menghela napas dan membuangnya kasar.


Yudha berjalan menuju barak. Sebelum pergi, Yudha menelpon kakaknya Reynaldi yang juga seorang abdi negara, namun bedanya Reynaldi di kepolisian atau polri.


"assalamualaikum bang..." untungnya Reynaldi tidak sibuk sehingga bisa langsung mengangkat teleponnya.


"waalaikumsalam Dha... Kenapa? Tumben nih" tidak biasa-biasanya Yudha menelpon.


"malam ni aku tugas bang... Di papua" ujar Yudha sedikit bergetar.


"oh... Hati-hati ya Dha... Allah pasti melindungi kau" balas Reynaldi.


"abang aku titip Raisya" nada bicara Yudha lain dari biasanya.


Reynaldi memang belum pernah bertemu dengan Raisya. Tapi, Yudha selalu bercerita tentang Raisya. Rey juga sering melihat postingan Yudha bersama dengan Raisya. Ia juga mem-follow akun instagram Raisya.


"ah, kau ni Dha... Kayak mau kemana sajo" balas Rey dengan logat minangnya. Ya, Reynaldi biasa dipanggil 'Rey'.


"ku mohon ya bang?" Yudha berencana melamar Raisya setelah ia tugas di papua.


"iyaaa... Udah kau jangan khawatir. Urusan itu aman" balas Rey santai.


"thanks a lot brother, aku mau lamar dia nanti habis tugas ni. Jangan kau ambil juga si Raisya ye, awas kau kalau macam-macam" Ancam Yudha.


"letda Yudha..." tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang, Yudha pun menoleh. Ternyata ia adalah teman satu kompinya. "ya"


"persiapan senjata dan peralatan di lapangan, ditunggu segera!" ucapnya tegas dan langsung berbalik badan meninggalkan Yudha.


"udah dulu ya bang, aku mau persiapan" Yudha akan mengakhiri sambungannya.


"iyo, semoga sukses kawan!" Yudha mematikan sambungannya dan segera bergegas ke lapangan.


Sedikit latihan ringan Yudha lakukan bersama beberapa prajurit lain. Setelah latihan, Yudha bertemu dengan Rayyan.


"semoga sukses Dha..." Rayyan setengah memeluknya dan menepuk bahu Yudha.


"apa Raisya tau ini bang?" tanya Yudha.


"dia belum tau, nanti saya kasih tau" jawab Rayyan.


"pulang tugas saya ingin melamar Raisya bang..." ujar Yudha.


"ya, saya tau perasaan kamu. Sudah tugas saya untuk menjaga Raisya" Rayyan tersenyum getir pada Yudha. Rayyan juga pernah merasakan bagaimana bertaruh nyawa di papua. Nyawa seperti tidak ada harganya disana.


Yudha membalas senyuman Rayyan dan menepuk bahu Rayyan kemudian meninggalkannya.


 


Raisya mondar-mandir tidak karuan. Hatinya kacau kembali. Kenapa Yudha tidak datang-datang? Ya memang, ini lah resiko memiliki pacar abdi negara.


"mungkin bang Yudha lagi ada tugas dadakan" gumam Raisya.


 


Sudah tiga hari Raisya tidak mendapat kabar dari Yudha. Apa Yudha benar-benar jalan dengan Iska dan menghianatinya?

__ADS_1


Suara motor vixion khas Yudha terparkir di depan rumah Raisya. Raisya segera berlari ingin memeluk Yudha.


"bang Yudha!" yang dipeluknya sangat kaget. Segila ini kah Raisya?


"Yudha Yudha mata lo peyang!" ah... Ternyata itu adalah Rayyan.


"kok kakak bawa motor bang Yudha?" tanya Raisya.


"Yudha lagi tugas" jawab Rayyan singkat dan segera masuk ke rumah.


"ohh... Kok gak bilang aku dulu sih? Tugas dimana emang?" tanya Raisya lagi.


"gak perlu tau! Ini rahasia negara!" ketus Rayyan. Sebenarnya Rayyan tidak mau memberi tau, karena nanti Raisya akan sedih. Apalagi mengingat kejadian beberapa tahun lalu, Rayyan yang ditugaskan di papua dan pulang dengan keadaan yang tidak baik-baik saja.


"pala lo rahasia negara!" sungut Raisya.


Tak lama, ada Hudan yang berkunjung ke rumahnya dan membawa seorang perempuan.


"gue kenal kayaknya" gumam Raisya.


"masuk sini, siapin minum Cha" Raisya mengambil sirup rasa jeruk dan menyandingkannya kepada Hudan dan perempuan yang di sampingnya.


"jadi gini Yan... Gue mau nikah sama Vanessa, dia temen gue. Tapi dia di satuan lalu lintas" jelas Hudan.


"ah iya! Itu kak Vanessa" Raisya mengingat kejadian saat Devian tertabrak. Dan disitulah Raisya bertemu dengan Vanessa, sedangkan Vanessa tidak mengingatnya.


"oh iya... Ini undangannya" Hudan menyodorkan undangan pada Rayyan.


"wooahhh... Udah pengajuan nih?" Rayyan terkejut Hudan tiba-tiba menikah.


"udah dong... Gece nyusul Yan" ejek Hudan.


Hudan dan Vanessa pamit pergi. Mereka akan membagikan undangan untuk keluarga dekat saja, sisanya


ya... Asisten.


Raisya melihat undangan itu. Ternyata resepsinya 3 hari lagi. Raisya ikut senang karena Hudan segera menikah dan ia akan mendapatkan keponakan.


 


[Pernikahan Hudan]


Sebagai rekan kerja, Rey menghadiri acara pernikahan Hudan. Setelah selesai melaksanakan pedang pora, semua rekan kerja berfoto di panggung pelaminan bersama pengantin.


Rey melihat Raisya sedang berbincang dengan laki-laki seumuran dirinya. Rey tau, kalau itu adalah kakak Raisya. Sesekali Raisya tertawa memperlihatkan gigi gingsulnya yang membuatnya sangat manis.


"astaga! Dia kan punya adekku" Rey menggeleng-gelengkan kepala.


Raisya tidak tau keberadaan Rey dan tidak mengenali Rey. Oiya, Rey juga pernah bertemu dengan Rayyan dan mengenalnya. Tentu saja, Yudha yang mengenalkan Rey pada Rayyan.


"kenapa yah Raisya ada di acaranya Hudan?" batin Rey bertanya-tanya. "mungkin Raisya saudara jauh Hudan" gumam Rey.


Tak lama, Rey pulang bersama dengan anggota yang lain. Raisya menengok ke samping kanan, tepat dimana Rey berdiri. Mereka berjarak kurang lebih 10 meter.


"kok mirip bang Yudha sih? Tapi... Masa bang Yudha pindah jadi polisi" batin Raisya.


Rey bersalaman dengan keluarga Hudan dan Vanessa kemudian pulang. 


Raisya berdiri dari duduknya dan mencari-cari sosok yang mirip Yudha itu.


Rayyan yang menyadari ada keanehan dari adiknya pun bertanya,  "kenapa Cha?"


"ah... Gak papa" Raisya menyembunyikannya.  Rayyan ikut berdiri dan menengok mencari-cari apa yang membuat Raisya penasaran tapi tidak menemukannya.


Acara pun selesai, Raisya dan keluarganya pulang ke rumah. Raisya melihat kontak Yudha yang online sekitar 3 minggu lalu.


 


[Kuliah Raisya]


"lo kenapa sih ngelamun terus? Lu tau kan bu Ratna tuh dosen killer" Ujar Dinda yang tidak lain adalah sahabat Raisya saat SMP.


"iya iya... Gue gak ngelamun lagi nih" jawab Raisya malas.


Handphone Raisya bergetar tanda pesan masuk. Eh, itu bukan pesan. Itu notifikasi berita dari detik news. Raisya membacanya dari jendela apung.


Beberapa TNI dari batalyon *** gugur di papua...


Mata Raisya berkaca-kaca melihatnya. Perasaannya sudah tidak enak.


"apa selama ini bang Yudha satgas?" gumam Raisya sambil berusaha untuk tidak menangis.


"lo kenapa Cha?" tanya Dinda yang melihat sahabatnya tiba-tiba bersikap aneh.


"gak papa kok" jawab Raisya santai sambil tersenyum.

__ADS_1


 


Siang menjelang sore, Raisya selesai dari kelas kuliahnya dan menunggu angkutan umum yang lewat di halte kampusnya.


Tiiit... Tiiit...


Suara klakson motor matic yang berhenti di hadapannya. Seseorang dengan seragam loreng itu membuka kaca helmnya. Raisya sudah berharap kalau itu adalah Yudha, ternyata itu adalah Rayyan.


"gece naik!" terdengar nada terburu-buru dari Rayyan.


Raisya menuruti perintah Rayyan.


"kita mau kemana?" tanya Raisya namun tidak dijawab oleh Rayyan.


Mata Rayyan panas memerah. Tidak lama, motor Rayyan terparkir di suatu pemakaman. Banyak tentara yang hadir disana.


"hah? Ngapain lo bawa gue kesini?" tanya Raisya bingung.


~flashback~


"LARI KE ARAH TIMURR..." teriakan itu di turuti oleh Yudha dan prajurit lain.


"0112 tembak ke arah lawan" perintah Yudha kepada prajurit yang bersamarkan 0112.


Di daerah ini, ada dua regu dari dua batalyon yang berbeda sedang berjuang memberantas KKB.


"LETDA YUDHA MENEPI!!" teriak seorang prajurit namun Yudha masih fokus membidik lawan.


Tuuusss...


Peluru tajam menusuk punggung kanan Yudha dan sepertinya menembus. Yudha langsung terjatuh.


Revan, kawannya yang kemarin juga tugas di Bogor berusaha menyadarkan Yudha.


"BANGUN DHAAA... BANGUN... RAISYA NUNGGU DI LAMAR SAMA LO DHA... LU HARUS BERTAHAN..." teriak Revan. Tangan Lettu Revan sudah berlumuran darah Yudha


"bilang sama Raisya, gue sayang sama dia. Gue minta maaf... " ucap Yudha tersengal tapi masih bisa ia ucapkan. Revan menggeleng-gelengkan kepala.


Kepala Yudha yang dipangku oleh Revan seketika dengan lemas menghadap kanan.


"BANGUN DHA... BANGUN..." Revan menggoyang-goyangkan tubuh Yudha. Namun tidak ada respon.


Tak lama, helikopter datang menjemput prajurit yang gugur. Kurang lebih ada 6 orang prajurit yang gugur.


Revan menggendong tubuh Yudha. Kaos lorengnya ia sobek untuk memperban luka Yudha agar darahnya tidak berceceran. Dengan tenaga yang tersisa, Revan menaikkan Yudha ke helikopter di bantu prajurit lainnya.


Revan mengingat semua kebaikan Yudha pada masa hidupnya. Air mata menetes namun buru-buru ia hapus.


 


Raisya melihat mata Rayyan yang memerah. Raisya mendekat ke liang lahat dan disusul oleh Rayyan. Rayyan merangkul pundak Raisya.


Raisya masih bertanya-tanya. Ketika peti akan di masukkan, terlihat jelas satu prajurit yang membawa foto Yudha.


"HORMAT SENJATA... GERAK" beberapa peluru dilepaskan di udara


"HAH? BANG YUDHA? JADI... " tubuh Raisya lemas, pandangan Raisya gelap.


Raisya pingsan, untungnya ada Rayyan disitu. Sehingga Rayyan langsung membawa Raisya pulang.


Diseberang, ada Rey yang melihat Raisya pingsan. Ia ingin membantunya. Tapi... Ya sudahlah, kan ada Rayyan. Rey mengingat pesan terakhir Yudha 'untuk menjaga Raisya' tapi bagaimana?


 


Rayyan menemani Raisya sampai ia tersadar.


"bang Yudha... Bang Yudha..." keringat Raisya bercucuran namun Raisya masih belum sadarkan diri.


Rayyan bisa merasakan apa yang Raisya rasakan. Akhirnya Raisya sadar.


"kak Ray... Tadi aku mimpi buruk... Bang Yudha..." ujar Raisya sambil terisak. Raisya mengira kalau itu adalah mimpi.


Rayyan memeluk Raisya agar lebih tenang.


"itu bukan mimpi Sya... Kamu yang sabar yah..." Rayyan mengelus rambut panjang Raisya.


"jadi bang Yudha...?" Raisya menatap Rayyan tidak percaya. Raisya menangis sejadi-jadinya.


 


...Haii Reader's...


...Berakhir disini aja atau lanjut lagi? 😁...


...Kalo Yudha gak ada Raisya sama siapa dong? :(...

__ADS_1


...Harus vote pokoke...


...Gak dukung, gak komen, Gak lanjut😜...


__ADS_2