
"halo sayang, gimana dong Rayyan udah ngajuin nikah batalyon. Tapi tadi sih... Danyon nya kagak ada, jadi di tunda besok" ujar Alizya.
"iya... Kamu tenang aja" ucap laki-laki itu santai.
"Mas Anton mah gitu... Kalo Nayla tau gimana?" tanya Alizya sambil memanyunkan bibirnya.
Nayla adalah teman bahkan bisa di bilang sahabat dekat Alizya.
"kamu gak perlu khawatir tentang Nayla" Anton adalah suami Nayla, setelah Nayla gagal menikaj dengan almarhum Yudha. Orang tua Nayla menjodohkannya dengan Anton.
Setelah mereka menikah, tidak ada bumbu-bumbu romantis sama sekali. Anton dan Nayla sibuk masing-masing.
"oke, awas ya kamu" ancam Alizya.
Alizya dekat dengan Rayyan hanya untuk persembunyiannya dari Nayla agar ia tidak curiga. Namun sialnya, Rayyan tulus jatuh cinta pada Ailzya.
"sayang kamu kesini dong" suara Anton sedikit mendesah.
"kenapa emang?" tanya Alizya.
"mau jatah" desis Anton.
"oke my sexy doctor" jawab Alizya terkekeh.
-------------------------------
Akhir-akhir ini, Raisya tidak nafsu makan. Pikirannya kembali pada Yudha. Yudha yang selali ia pikirkan. Bagaimana bisa, takdir secara tiba-tiba memisahkannya.
Raisya di paksa makan oleh ayahnya. Setelah makan, Raisya kembali ke kamarnya. Ada cairan hangat yang keluar dari hidungnya.
"darah" gumam Raisya.
Raisya segera mengambil tissue dan mengelapnya. Raisya merasakan sakit yang begitu hebat di perut bagian kanannya. Darah dari hidungnya pun tidak berhenti keluar. Raisya mulai merasakan pusing. Dan pandangannya mulai kabur.
----------
Seperti biasa, pagi ini Nayla dinas di rumah sakit bersama suaminya.
"hai Liz..." sapa Nayla ketika bertemu Alizya.
Anton berjalan di belakang Nayla. Anton mengacungkan jempol ketika berpapasan dengan Alizya.
Sudah mulai ramai antrian di rumah sakit. Nayla segera ke ruangannya. Nayla adalah dokter ahli bedah. Ada 2 operasi yang ia lakukan hari ini.
--------------
Rayyan melewati kamar Raisya. Pintu kamar Raisya sedikit terbuka. Awalnya Rayyan melenggang tidak menghiraukan. Tapi Rayyan tersedar dan mundur ke kamar Raisya.
"Sya... Ada kasur kok tidurnya di lantai?" tanya Rayyan.
Rayyan mendekati Raisya yang memunggunginya.
"Raisya..." teriak Rayyan.
Rayyan segera menggendong Raisya ke dalam mobilnya. Ayah dan Aisyah di mobil satunya. Sedangkan bundanya memangku kepala Raisya di kursi belakang.
Mobil Rayyan terparkir di salah satu rumah sakit di Bandung, rumah sakit yang pernah di singgahi Rayyan saat dirinya kritis dan menjadi saksi bisu awal mula Raisya mengenal Yudha. Kurang lebih setengah jam dari rumah. Darah dari hidung Raisya tidak henti-hentinya mengalir.
Rayyan menggendong Raisya ke ruang UGD.
"dokter tolong adik saya" ujar Rayyan.
Rayyan melihat name tag doktet itu. Nayla. Nayla segera menaruh Raisya di brankar dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Nayla mengeluarkan stetoskop miliknya dan mulai memeriksa Raisya.
Nayla sedikit membuka baju Raisya. Telihat perut bagian kanan Raisya memar dan sedikit bengkak. Nayla menekannya pelan.
"ini perlu tindakan operasi" gumam Nayla sembari memasangkan infus di tangan Raisya. Sepertinya, Nayla lupa dengan Raisya.
"kenapa dia dok?" tanya salah satu suster.
"gagal ginjal, ini sudah akut. Ini perlu donor ginjal" jawab Nayla dengan gemetar.
Nayla keluar dari ruang pemeriksaan. Ia menemui keluarga Raisya.
"ibu bapak... Ini perlu tindakan operasi, pasien mengalami gagal ginjal dan harus segera mendapatkan donor ginjal" terang Nayla.
"kok bisa dok?" tanya Rayyan karena Raisya memang baik-baik saja.
"apakah ini gejala pertama?" tanya dokter Nayla.
"ya... Sebelumnya tidak seperti ini" jawab Rayyan.
"ini sudah akut pak" dokter cantik itu pergi meninggalkan keluarga Raisya.
~Flashback~
"aduhh..." Raisya meringis sambil memegangi perut bagian kanannya.
"kenapa Sya?" tanya Dinda.
"gue pipis dulu ya... Kalo ada dosen bilanh gue ke wc" Raisya berlari ke wc.
Tidak biasa-biasanya sebelum kencing ia merasakan sakit perut sebelah.
Raisya melihat urine nya bercampur dengan darah. Raisya sedikit gemetar melihat itu.
Raisya kembali ke kelas. Benar saja, sudah ada dosen di sana.
"permisi bu... Saya habis dari toilet" ucap Raisya sedikit membungkuk.
__ADS_1
"duduk" titah dosennya itu.
Raisya kembali duduk seperti semula.
Dinda melihat wajah Raisya sangat pucat, "lo kenapa Sya?"
"hah? Gak papa. Kenapa emang?" Raisya bertanya balik.
"lo pucet" jawab Dinda singkat. "Eh iya, Kirana and the geng ngajak makan siang di KFC" lanjut Dinda.
"oke, gue nebeng ke lu" balas Raisya samb terkekeh.
"eh Din..." panggil Raisya. Dinda lalu menengok ke arah Raisya.
"lo pernah pipis campur darah gak?" tanya Raisya.
Dinda menggelengkan kepalanya, "enggak, lo pernah?"
"barusan" jawab Raisya singkat.
--------------
Dinda membonceng Raisya ke KFC. Dan benar saja, Kirana dan yang lainnya sudah menunggu. Raisya ikut duduk disana.
"Rai... Lo..." ucap Kirana terhenti.
"apa?" tanya Raisya penasaran.
Raisya merasa ada cairan hangat di hidungnya.
"ihh mimisan" ujar Nikeu sambil bergidik.
Raisya mengambil tisu dan mengelapnya.
"abis ini lo periska ke dokter, gue anterin!" ketus Dinda. Dinda adalah salah satu teman Raisya yang posesif.
"iya iya" jawab Raisya malas.
Pulangnya, Raisya di antar oleh Dinda. ****! Dinda memarkirkan motornya di sebuah klinik. Raisya dan Dinda masuk ke klinik itu.
"lu jelasin aja gejalanya" bisik Dinda.
Raisya berbaring di brankar klinik. Dokter memeriksa bagian perut Raisya.
"kencingnya campur darah?" tanya dokter tampan itu.
"iya dok" Setelah selesai di periksa, Raisya pun turun dari brankar.
"mungkin kamu agak kaget liat ini" dokter itu menyodorkan surat diagnosa.
"penyakit ginjal?" Raisya tidak percaya.
"lo jangan kasih tau ya sama bunda, ayah and kak Rayyan" ujar Raisya, Dinda hanya mengangguk.
---------------------
Rayyan dan Aisyah pulang ke rumah untuk mengambil pakaian Raisya, ayah, bunda, dirinya dan Aisyah.
"kak..." panggil Aisyah sedikit berteriak.
"apa?" Rayyan langsung menghampiri adiknya itu.
"ini, tadi aku nemu ini di lemari kak Acha... Nyelip di baju" jelas Aisyah.
Rayyan membaca kertas itu dengan seksama. Itu adalah surat diagnosa Raisya. Rayyan hanya bisa geleng-geleng.
Ketika di rumah sakit, Rayyan bertemu Alizya sedang merawat pasien juga. Tiba-tiba muncul Nayla dari belakang.
"ohh... Jadi Aliz udah punya ayang..." ejek Nayla sambil menyenggol siku Alizya.
Alizya tersipu malu.
"oh, kamu keluarga pasien yang tadi kan?" tanya Nayla, Rayyan mengangguk. "saya sudah mendapat donor ginjal" lanjut Nayla. Mata Rayyan berbinar.
"terima kasih dok" ucapnya.
-----------
Hari ini, Nayla melakukan tindakan operasi. Pendonor ginjalnya, memiliki penyakit jantung. Semua organnya sudah terkontaminasi kecuali ginjal. Ini adalah suatu keajaiban tuhan.
"gue kayak pernah liat nih" gumamnya melihat wajah Raisya. "ah, Yudha" ia teringat dengan Yudha, Nayla berencana akan menanyakan Yudha kepada Raisya. Karena sejak kejadian itu, ia lost contact dengan Yudha.
Operasi berjalan dengan lancar. Cangkok ginjal sudah berhasil Nayla lakukan. Sekarang, menunggu Raisya siuman.
Malamnya, Nayla pulang ke apartemen miliknya. Ia pulang sendiri naik taxi online sedangkan Anton sudah pulang duluan.
Nayla memencet tombol lift dan memilih angka lima. Tak lama, terbuka lah pintu lift. Nayla hendak membuka kamar apartemennya.
"dikunci" gumam Nayla. Mungkin suaminya tertidur sehingga apartemennya di kunci. Tapi jam 8 malam masih terlalu sore untuk tidur.
Nayla membuka pintu apartemennya dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa, gelap. Nayla menyalakan lampu dan ke kamarnya. Kamarnya gelap juga. Nayla menyalakan lampu kamar.
"astaga!" Nayla hampir tidak percaya, Anton sedang tidur bertelanjang dada dengan Alizya.
Nayla menarik selimut yang menutupi mereka berdua. "lont*! Gue kira sahabat malah hianat" Nayla menarik tangan Alizya yang memeluk Anton dan menampar Alizya. Anton terbangun dan terkejut.
"sayang aku bisa jelasin" ujar Anton, Nayla semakin membabi buta.
"heh! Denger ya pelakor, kurang apa sih cowok lu yang kelewat batas ganteng dan lo malah kayak gini" ujar Nayla sambil menjambak rambut Alizya.
__ADS_1
"heh denger ya! Anton tuh gak pernah cintpa sama lo!" sungut Alizya sambil menarik balik rambut Nayla.
"bener! Aku gak pernah cinta sama kamu! Lagian kan kita di jodohin" timpal Anton membela Alizya.
"cowok bangsat! Gue istri sah lo" Nayla menampar Anton.
"saya talak kamu, saya ceraikan kamu" ucap Anton. Air mata lolos dari mata Nayla. "pergi kamu, kemasi barang-barang kamu! Ini apartemen saya!" nada bicara Anton pelan namun menyakitkan.
Tak butuh waktu lama untuk mengemasi barang-barangnya. Alizya hanya memperhatikan Nayla.
"tunggu pembalasan saya Alizya!" Nayla membanting pintu kamar apartemennya dan keluar menyeret koper dan menangis.
Nayla berencana pulang ke rumah maminya.
--------------------
Mata Raisya perlahan terbuka melihat langit-langit rumah sakit. Raisya menengok ke samping kanan, terlihat seorang laki-laki sedang tidur dengan posisi duduk.
"kak Rayyan" panggil Raisya sekuat tenaga.
Merasa ada yang memanggilnya, Rayyan terbangun dan melihat Raisya yang sedang menatapnya.
"kamu udah mendingan?" tanya Rayyan. Bukan dengan kalimat 'kamu udah sadar?'
"ya... Gitu" jawab Raisya sekenanya.
"kenapa kamu sembunyi-in penyakit dari kita?" tanya Rayyan terdengar seperti ingin marah.
"aku... Takut" jawab Raisya ragu.
"jangan ulangi lagi" tegas Rayyan. "gue mau manggil bunda sama dokter" Rayyan beranjak meninggalkan Raisya.
Tak lama, bunda datang bersama dokter.
"udah mendingan Sya...?" tanya bundanya. Raisya tersenyum dan mengangguk.
"dokter Nayla" gumam Raisya yang melihat dokter cantik bak blasteran itu memeriksa kondisinya.
"iya, saya Nayla. Kamu Raisya kan?" tanya Nayla. Seolah melupakan kejadian Yudha dan Raisya dan kejadian tadi malam.
"bagaimana kabar Yudha? Dari waktu itu, saya lost contact" tanya dokter Nayla niatnya basa-basi.
Wajah Raisya berubah murung mendengar nama Yudha.
"bang Yudha udah meninggal" jawabnya lemas.
"oh... Maaf. Saya bukan bermaksud..." ucap Nayla di potong oleh Raisya.
"gak papa dokter" balas Raisya sambil tersenyum.
"saya minta maaf atas kejadian itu" ujar Nayla.
"iya dokter, saya sudah memaafkannya" balas Raisya.
"cepat sembuh ya" Nayla mengacak puncak kepala Raisya dan keluar dari ruang rawat Raisya.
Rayyan sedang berada di luar.
"saya ingin menyampaikan sesuatu" ucap Nayla kepada Rayyan.
"silahkan" balas Rayyan.
Nayla menjelaskan secara rinci apa yang di lakukan calon istrinya itu. Rayyan marah, tangannya mengepal. Ingin sekali Rayyan marah tapi ia masih bisa mengendalikan emosinya.
Mata Nayla berkaca-kaca, namun sesegera mungkin ia hapus.
Setelah mendengar penjelasan Nayla, tanpa pikir panjang Rayyan menuju ruangan Alizya yang tidak jauh dari ruangan Raisya.
Rayyan mendobrak pintu dan memperlihatkan Alizya sedang bermain handphone.
"saya batalkan pernikahan kita, saya batalkan pengajuannya" ucap Rayyan dengan nafas yang memburu.
"bagus" balas Alizya tanpa menatap Rayyan.
Rayyan melenggang pergi dari ruangan Alizya. Dengan pikiran kacau ia kembali ke ruangan Raisya.
Rayyan melihat ada seorang tinggi tegap memakai baju loreng berdiri di depan pintu ruangan Raisya.
"cari siapa?" suara berat Rayyan berhasil membuatnya kaget.
"izin saya ingin bertemu Raisya" Bagas bersikap hormat kepada Rayyan.
"silahkan kamu temui Raisya dan bilang ke kakakmu jangan jadi lont*" ucap Rayyan membisikkan kalimat terakhir.
Bagas hanya bingung ada apa Rayyan dan kakaknya sampai ia di bawa-bawa.
--------------
Nih, buat kalian yang minta Raisya sama Bagas😗
Kesempatan emas banget ygy buat Bagas. Semoga itu jodoh lu Gas, meski saingan lu kanit sabhara :v tinggal Raisya aja yang milih, maunya sama siapa.
Kalian Tau gak sih?
Notif dukungan kalian tuh bikin aku semangat lanjut cerita ini. So, don't forget to support me ya... Oiya, kalo ada typo atau gimana bilang ya...😉
Keep spirit for me huhu
Find me at Instagram
__ADS_1
@tnarmyeay