Dear Letnan

Dear Letnan
Dear Cantik-42


__ADS_3

Paginya, Bagas kembali ke batalyon. Teman-temannya bingung karena Bagas babak belur. Apa yang terjadi pada Bagas?


^^^Bagaskara^^^


^^^Raisya...^^^


^^^Saya mau minta tolong, kirim^^^


^^^nomor bang Rayyan🙏🙏^^^


Raisyantik


(Suaminya dokter Nayla)


Itu ya kak kontaknya


^^^Bagaskara^^^


^^^Makasih banyak Sya🙏^^^


Bagaimanapun juga, Bagas harus menyelesaikan masalahnya dengan Rey. Tidak bisa terus-terusan seperti ini. Agar lebih damai, Bagas meminta tolong kepada Rayyan.


^^^Bagaskara^^^


^^^Assalamualaikum bang,^^^


^^^saya Bagas.^^^


Bang Rayyan


Waalaikumsalam,


Ada yg bisa saya bantu?


^^^Bagaskara^^^


^^^Saya ingin meminta tolong bang,^^^


^^^kemarin malam saya dipukuli oleh^^^


^^^Bang Rey, karena saya dekat dengan Raisya^^^


Bang Rayyan


Telpon saya sekarang.


Tanpa ragu, Bagas mengadukan masalah ini kepada Rayyan. Bagaimanapun juga, masalah harus diselesaikan.


Bagas menelpon Rayyan untuk memberi penjelasan. Rayyan sedikit kaget dan tidak percaya.


"Kalo gitu, kamu temui saya di rumah Raisya yah," ucap Rayyan di seberang telpon.


Sejak dirinya menikah, Rayyan tinggal di rumah miliknya sendiri. Hasil menabung dari SMA. Rumahnya lumayan jauh dari batalyon tempat Bagas tugas, oleh karena itu Rayyan mengajaknya ke rumah orang tuanya saja atau rumah Raisya agar lebih dekat.


"Siap bang! Terima kasih." Bagas memutus sambungannya.


Bagas bersiap untuk pergi ke rumah Raisya. Karena akan bertemu Raisya, sebisa mungkin Bagas terlihat rapih. Meskipun banyak luka memar dan lebam di wajahnya, kharisma Bagas tidak luntur. Rahang yang tegas, manik hitam yang terkesan tajam, hidung mancung dan alis yang sedikit tebal. Membuat siapapun akan kagum melihat Bagas, tak terkecuali Raisya.


Rayyan sudah berada di rumah orang tuanya. Rayyan bersedia membantu Bagas.


"Kok tumben suaminya dokter Nayla ada disini?" Raisya memicingkan matanya melihat Rayyan tiba-tiba duduk di sofa.


"Dandan yang cantik, pangeran lu mau kesini," balas Rayyan agak ketus.


"Pangeran?" Raisya masih tidak mengerti dengan ucapan Rayyan. Siapa pangeran yang di maksud?


Sekitar 20 menit kemudian, bel rumah berbunyi. Batin Raisya bertanya-tanya, siapa tamu yang di bawa Rayyan?


"Lo bukain geh gerbangnya," titah Rayyan.


Raisya memutar bola matanya malas, "mager bet ye jadi orang,"


Terpaksa, Raisya membukakan pintu gerbang rumahnya. Sosok tinggi tegap itu membuka helmnya. Sedikit berantakan rambutnya tapi tetap terkesan tampan.


"Kak Bagas?"


"Iya,"


Raisya melihat luka lebam di sudut bibir Bagas. Reflek, Raisya menyentuhnya.


"Ini kenapa kak?"


Mungkin karena sakit dan nyeri, Bagas menepis tangan Raisya sampai-sampai tangan Raisya membentur besi gerbang.


Raisya terpekik, "aaww...,"


Raisya memegangi tangan kanannya. Sungguh, Bagas bukan berniat seperti itu.


"Maaf, saya gak sengaja," Ucap Bagas mengelus punggung tangan kanan Raisya.


"Sakit ya?" Raisya masih terpekik kesakitan.

__ADS_1


'cup'


Bagas mengecup punggung tangan kanan Raisya. Raisya sedikit tersentak dengan sikap Bagas.


"S-saya g-gak papa kok kak," ucap Raisya dengan gugup.


"Kamu lucu," Bagas tertawa melihat tingkah laku Raisya.


"Ayo kak, masuk. Gak enak kalo diluar," Raisya masih menutupi kegugupannya.


Raisya masuk rumah disusul dengan Bagas.


"Oh, ini yang di maksud pangeran," guman Raisya sambil tersenyum.


Bagas menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya semalam. Itulah yang mengakibatkan luka memar dan lebam di wajah dan tubuh Bagas.


Raisya yang duduk di samping Rayyan pun terkejut dengan penuturan Bagas.


"Gila banget si Rey," gumam Raisya.


"Apa kamu gak melaporkan saja ke polisi?" tanya Rayyan.


"Sedikit lucu kalau tentara melaporkan polisi, saya masih berbaik hati bang. Kalau saya lapor ke polisi, karir bang Rey di kepolisian bisa terancam," jelas Bagas sambil tertawa getir.


"Lagian, luka saya juga bisa di obati. Kalau karir bang Rey kan dia rintis dari SMA. Sayang kalau berakhir tidak terhormat," lanjut Bagas.


Kurang baik apa Bagas, sampai dia bisa berpikir demikian?


Deg


Raisya tertegun dengan kata-kata Bagas. Hatinya sungguh bersih dari dendam. Jauh berbeda dengan Rey.


"Bungkus bawa pulang!" batin Raisya, sepertinya ia tidak salah memilih calon.


"Saya akan antar kamu ke rumah Rey, saya juga akan suruh dia meminta maaf atas perbuatannya," ujar Rayyan.


"Terima kasih bang," Rayyan berjabat tangan dengan Bagas.


"Sya... Gue sama pangeran lu mau ke rumah Rey. Lo gak usah ikut ya?" pipi Raisya kembali merah karena kata 'pangeran' yang di sebutkan Rayyan.


"Iya, ngapain juga gue ikut," Raisya mengantar kakaknya dan Bagas sampai depan rumahnya.


Bagas tersenyum kepada Raisya. Raisya sedikit salah tingkah. Jujur saja, senyuman Bagas lebih manis dari Matcha Starbucks.


[Rumah Rey]


Ini rumah, tapi sebenarnya ini adalah asrama kepolisian. Bagas turun dari motor N-max miliknya dan di susul oleh Rayyan.


3 kali ketukan, akhirnya sang pemilik rumah pun muncul. Rayyan menatap Rey dengan tatapan datar. Rey melihat siapa yang ada di belakang Rayyan.


Rey mengernyitkan keningnya, "ada apa?"


"Saya ingin bicara sama kamu," ucap Rayyan dengan nada yang sangat tegas.


"Mari masuk," ucap Rey yang masih cukup ramah.


Rayyan menjelaskan kedatangan dirinya. Tapi, Rey tidak ingat apa yang ia lakukan. Mungkin karena faktor minuman yang ia minum.


"Saya akan coba ingat-ingat lagi," Rey mengingat-ingat awal ia di klub.


"Ya, saya ingat. Itu saya dalam kondisi mabuk," ujar Rey jujur.


"Kamu harus minta maaf pada Bagas, meski begitu Bagas tidak mau melaporkan ini ke polisi. Dan saya menjadi penengah untuk jalan damai,"


Bagas menatap tajam mata Rey.


"Maafkan saya, saya khilaf saya tidak akan mengulangi lagi. Dan saya akan biarkan Raisya bersama orang yang tepat," Bagas melihat penyesalan yang cukup dalam dari mata Rey.


"Permintaan maaf saya terima, jangan ulangi lagi. Jadikan ini sebagai pelajaran," Bagas berjabat tangan dengan Rey.


Meskipun Rey jauh diatas Bagas, tetapi Rey cukup menghormati Bagas. Kalau saja Bagas juga terbawa emosi, bisa saja Bagas melaporkannya ke polisi dan Rey akan di pecat.


"Sebagai hukuman, kamu harus membayar biaya pengobatan Bagas," ucap Rayyan.


"Saya bersedia, nanti akan saya transfer." Rey menyetujui kesepakatan antara dirinya dan Bagas.


Bagas pamit pulang karena urusannya dengan Rey sudah selesai dan berakhir damai.


"Nitip Raisya," Rey berjabat tangan dengan Bagas dan setengah memeluknya.


"Siap! Itu sudah tugas saya," Bagas menepuk bahu Rey sebagai tanda teman.


"Saya tunggu undangannya," ucap Rey sambil terkekeh.


"Siap, itu pasti," Balas Bagas.


Bagas menuju motornya dan memakai helm. Bagas dan Rayyan menyalakan klakson motornya ketika akan pergi dari rumah Rey.


"Kamu gak salah pilih orang Sya..." guman Rey menatap Bagas dan Rayyan pergi.


[Rumah Raisya]

__ADS_1


Beberapa menit setelah Bagas dan Rayyan pergi, bel rumahnya berbunyi lagi.


Raisya berdecak kesal, "Hiiih... Siapa sih?"


Raisya membuka pintu gerbangnya. Terlihat sosok laki-laki dengan seragam loreng TNI.


"Bisa bertemu dengan Raisya?" tanyanya.


"Ya, saya sendiri,"


Pria itu memberikan sebuah amplop kepada Raisya.


"Saya temukan ini di bekas lemari Yudha di barak. Tertulis ada nama kamu disitu," ucap pria itu tanpa basa-basi.


"Saya juga tugas bareng dengan Yudha saat di Papua. Saya yang mengangkat jasad Yudha, Yudha berpesan kepada saya, sampaikan salam untuk Raisya dan bilang kalau dia sangat menyayangi Raisya," lanjut pria itu.


Raisya melihat tulisan nama di baju loreng pria itu. Revan Satya, itu yang Raisya baca.


"Terima kasih," ucap Raisya.


Revan tersenyum tulus, "sama-sama," motor Revan langsung menjauh dari rumah Raisya.


Raisya masuk ke kamarnya dan membaca surat dari almarhum Yudha.


Dear Cantik...


Cantik...


Abang memang tidak pandai merangkai kata, tapi cantik pasti percaya kalau abanv hanya cinta sama kamu. Ntah harus dengan cara apa abang bisa meyakinkan hati kamu.


Abang memang gak seromantis cowok-cowok diluar sana, yang selalu ngajak pacarnya di malam minggu. Untuk bertemu saja susah. Selalu ada 'tugas negara' yang menghalangi kita.


Apapun yang terjadi nanti, abang akan tetap cinga sama kamu. Abang harap kamu juga. Tolong pegang kata-kata abang, abang gak pernah ada niatan sedikit pun untuk cari perempuan lain. Dan abang terlalu sibuk untuk itu. Abang berpesan, supaya cantik jangan mudah goyah dari fitnah, isu atau rumor yang menjelekkan abang.


     Sebisa mungkin abang akan terbuka


     sama kamu.


Jika kau memang milikku, kau beruntung. Tapi aku jauh lebih beruntung karena bisa memilikimu. Jika kau memang mau bersamaku, kuatlah, setialah, sabarlah, tunggulah, doakanlah. Jadilah rumah pulang yang paling nyaman untukku. Karena kamu adalah penyemangat tugasku.


Salam Rindu♡


Chandra Angkasa Wirayudha


...



...


Hati Raisya kembali remuk. Mengingat fitnah Iska terhadap Yudha. Maskipun hati Raisya seperti tersayat, kali ini Raisya tidak menangis.


"Ini kayak balesan dear letnan," gumam Raisya.


Memang, Yudha menulis itu karena ia membaca surat dari Raisya.


Wejangan Yudha itu akan ia terapkan bersama orang yang akan menjadi pendampingnya nanti.


Raisya menyimpan kertas itu di dalam lemari miliknya. Jujur saja, ini adalah pertama dan terakhir kalinya Raisya melihat tanda tangan Yudha.


"Assalamualaikum," Rayyan masuk ke rumahnya.


"Waalaikumsalam," teriak Raisya dari lantai dua.


"Lah kok kak Bagasnya gak ada?" tanya Raisya melihat Rayyan yang pulang sendirian.


"Cieee... Nanyain," Rayyan menaik turunkan alisnya.


"Hiiihh...," Raisya kembali ke atas.


^^^MiaAcha^^^


^^^Kak Bagas udah mendingan?^^^


Kak Bagas


Alhamdulillah, udah lebih baik😁🙏


^^^MiaAcha^^^


^^^Jangan lupa diobati ya kak♥^^^


Jantung Bagas berdegup tidak karuan. Melihat chatnya dengan Raisya. Tidak menyangka Raisya akan memberi perhatian kepadanya. Apalagi emoticon love yang Raisya berikan.


Sebenarnya Raisya ragu untuk mengechat Bagas. Tapi ya sudahlah.


 


Segitu dulu yah... To be continued.


Kiwkiw... Bagas sama Raisya makin deket. Pepet trooosss mazehh jangan sampe lepass...

__ADS_1


Jangan lupa support and komennya manteman♡♡


__ADS_2