Dear Letnan

Dear Letnan
Kacang Ijo-46


__ADS_3

Hari ini, Raisya dan Bagas akan melakukan pengajuan pernikahan di batalyon. Semua berkas-berkas sudah Raisya bawa.


"Aduuhh... Ribet banget sih," gumam Raisya sambil menyeka keringat karena hari ini sangat panas.


Bagas menggenggam tangan Raisya, "Sabar ya... Baju persitnya udah ada kan?"


"Udah...,"


Bagas merasa sangat lapar karena hari sudah siang dan tadi pagi ia tidak sarapan.


"Sya...," panggil Bagas.


"Kenapa kak?" Raisya menoleh, kenapa wajah Bagas pucat?


Raisya menghentikan langkahnya. Raisya mulai khawatir dengan Bagas.


"Kok pucet kak?"


"Saya laper, makan yuk," ajak Bagas.


Sengaja, hari ini Bagas membawa motor agar ketika pulang bisa menerobos macet. Raisya dan Bagas menuju parkiran dan melajukan motornya ke rumah makan terdekat.


"Kamu mau makan apa?" tanya Bagas.


"Aku... Apa yah, bingung,"


"Ayam geprek mau gak?"


"Oke,"


Mendapat persetujuan dari Raisya, ia membelokkan setir motornya ke rumah makan ayam geprek. Cukup ramai rumah makan ini karena jam makan siang.


"Kamu duduk duluan, saya yang pesen," ucap Bagas.


Raisya mengangguki perintah Bagas dan mencari tempat duduk yang nyaman. Setelah memesan, Bagas duduk di kursi depan Raisya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut Raisya, Raisya hanya diam dan memperhatikan pengunjung rumah makan.


Sedari tadi, Bagas memperhatikan Raisya, tapi tidak di sadari oleh Raisya. Akhirnya, Raisya dan Bagas saling bertatap.


"Saya boleh minta sesuatu dari kamu?" tanya Bagas membuat Raisya penasaran.


"Apa?"


"Apa kamu bisa ngubah panggilan saya dari kak ke mas?" tanya Bagas. Tidak enak di dengar kalau Bagas di panggil 'kak' oleh Raisya. Sedangkan mereka akan menikah.


Raisya tersenyum dan mengangguk, "Oke mas,"


Tak lama, pelayan membawakan dua ayam geprek ke meja Raisya dan Bagas. Raisya mengucapkan terima kasih, kemudian di angguki oleh pelayan itu.


Pesanan Raisya dan Bagas sedikit berbeda. Kalau Raisya ayam geprek sambal matah, sedangkan Bagas ayam geprek sambal original.


"Mas cobain deh," Raisya menyuapkan nasi dan ayam ke mulut Bagas.


"Nih, kamu mau coba juga?" Bagas menyodorkan piringnya.


Raisya memanyunkan bibirnya, "dasar gak peka!" dengan emosi Raisya memasukkan nasi ke mulutnya.


Bagas mengangkat satu alisnya, "gak peka gimana?" tanya Bagas yang terbilang sangat polos.


Raisya mendengkus kesal, "suapin!! Tadi udah aku suapin juga,"


Bagas tertawa dan tersenyum, "owalahhh... Bilang dong,"


Awal-awal memang romantis, tapi bagaimanapun juga Bagas seorang TNI. Kehidupan keras dunia militer membuatnya sangat kaku. Apalagi baru pertama kalinya Bagas sedekat itu dengan perempuan. Ya, hanya Raisya.


Bagas menyuapkan nasi dan ayam ke mulut Raisya. Raisya masih saja cemberut.

__ADS_1


"Udah lah... Jangan cemberut... Aku ciun nih?" bujuk Bagas dengan menaikkan volume di kata terakhir. Hal ini membuat pengunjung menengok ke arahnya.


Pipi Raisya memerah seperti kepiting rebus. Raisya memukul pelan tangan kiri Bagas dengan tangan kirinya.


"Mas malu...," ucap Raisya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Makanya jangan ngambek," balas Bagas sambil terkekeh.


Mereka pun selesai makan, Raisya mencuci tangan sedangkan Bagas menjaga tas Raisya. Mereka akan bergantian.


"Mas Bagas kan yah?" tanya seorang perempuan.


"Iya, mbak siapa?" tanya Bagas merasa dirinya tidak mengenali perempuan itu.


"Saya Sherin, yang waktu itu tugas di rumah sakit Aceh," ucap wanita yang bernama Sherin itu.


Bagas mengingat-ingat waktu dirinya tugas di Aceh. Tanpa persetujuan dari Bagas, Sherin duduk di kursi depan Bagas atau kursi Raisya.


"Sekarang lagi sibuk apa Mas?" tanya Sherin.


Raisya mengambil tisu dan mengeringkan tangannya di Hand dryer. Raisya hendak kembali ke tempat duduknya. Raisya melihat Bagas sedang duduk berdua dengan perempuan berambut coklat.


"Mas...," ucap Raisya sedikit shock tapi berusaha biasa saja.


"Ini siapa Mas?" tanya Sherin, bukankah harusnya Raisya yang bertanya seperti itu?


"Ini calon saya, kita baru saja proses pengajuan," jawab Bagas, Sherin sama sekali tidak berinisiatif berpindah tempat duduk. Bukankah itu tempat duduk Raisya?


Sherin melirik sinis Raisya, "Oh... Calon, cantik juga sih,"


Raisya juga melirik sinis Sherin. Mereka pun beradu sinis.


"Lulusan mana calon kamu?" tanya Sherin seperti merendahkan Raisya.


Raisya bersedekap di depan Sherin, "Ekhem... Mbak bisa pindah tempat? Ini tempat saya,"


Bagas melihat wajah Raisya yang kesal dan akan marah.


"Oke, saya pindah. Harusnya kamu itu gak sebanding sama Bagas!"


Raisya melototkan matanya, "Maksud lo apa?" Raisya menaikkan dagunya.


Sherin hanya berdecih.


"Sya... Udah udah...," Raisya berusaha menenangkan Raisya.


Karena Raisya emosi, Raisya mengambil tas selempang miliknya dan meninggalkan Bagas. Bagas mengejar Raisya.


"Sya..., saya tau kamu marah, maafin saya...," Bagas mencoba meraih tangan Raisya namun dihempaskan.


Raisya menahan air matanya namun tidak bisa. Bagas memeluk Raisya dari belakang. Raisya semakin menangis. Bagas membalikkan tubuh Raisya dan kembali memeluknya.


"I'm jealous," ucap Raisya masih tersedu-sedu.


"Aku tau, kan kita mau nikah... Aku cuma cinta sama kamu. Percaya sama aku, aku pertama kalinya deket sama perempuan ya kamu," Bagas meraih tangan Raisya dan meletakkannya di dada sebelah kirinya.


Raisya merasakan degupan jantung Bagas.


"Serius?" Raisya masih saja cemberut.


"Iya sayang...," Bagas mengecup singkat bibir Raisya. Hal itu membuat hati Raisya meleleh.


"Maafin aku yah?" Bagas menggenggam kedua tangan Raisya.


Raisya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Yaudah, pulang yuk," ajak Bagas.


Mereka pun pulang. Sebelumnya, Bagas memberhentikan motornya di salah satu warung bubur kacang hijau.


"Saya pengen kacang ijo," ucap Bagas melihat wajah bingung Raisya.


Raisya menelan ludahnya kasar. Raisya sangat benci dengan kacang hijau.


"Makan disini mas?" tanya Raisya, Bagas mengangguk.


Raisya melangkahkan kakinya ke warung kacang hijau itu dengan ragu.


"Kamu mau apa?" tanya Bagas.


Raisya menggeleng, "Aku gak suka kacang ijo," tolak Raisya.


Bagas mengangguk paham dan mereka pun mencari tempat duduk. Bubur kacang hijau pun sudah ada di depan Bagas. Bagas menyantapnya, Bagas melihat Raisya yang sedari tadi melamun.


"Kamu kenapa gak suka kacang ijo?" tanya Bagas sambil menyantap bubur kacang hijau di depannya.


"Gak enak, tampilannya kayak tahi


ayam," jawab Raisya sambil menutup mulut.


Sontak, Bagas yang akan menyuapkan kacang hijau ke mulutnya tidak jadi karena mendengar jawaban Raisya.


"Coba deh, ini gak seburuk yang kamu kira," Bagas menyodorkan sendok ke mulut Raisya.


Raisya menggeleng kuat dan menolaknya. Melihatnya saja sudah membuat Raisya tidak berselera.


"Saya baru tau kamu gak suka kacang ijo," ujar Bagas. Raisya hanya melirik.


"Gak suka kacang ijo tapi suka kacang ijo," Balas Raisya. Bagas tidak mengerti dengan perkataan Raisya.


Bagas menaikkan satu alisnya, "Maksudnya?"


Raisya menunjuk ke arah dada Bagas. Bagas melihat ke dadanya. Raisya hanya terkekeh melihat Bagas yang kebingungan. 4 menit Bagas baru paham apa yang di maksud Raisya.


"Maksud kamu seragam saya?" tanya Bagas menebak teka-teki Raisya.


Raisya tertawa, "bukan seragamnya sih, orangnya," Raisya membisikkan kata terakhir.


Bagas tersenyum. Jadi yang di maksud Raisya adalah kacang hijau julukan TNI.


"Sayang...," Bagas memanggil Raisya dengan sebutan yang berbeda. Merasa dipanggil Raisya menoleh.


"Jangan suka ngambek yah... Percaya sama aku, aku itu tentara. Setia, gak mungkin selingkuh...," ujar Bagas terdengar sedikit lirih.


Raisya meraih tangan Bagas dan mengelusnya.


"Iya aku percaya kok, tadi aku cuma kebawa emosi. Lagian dia kayak ngerendahin aku gitu," ucap Raisya.


"Apapun yang orang judge, saya akan tetap cinta dan sayang sama kamu," Bagas menatap dalam Raisya.


Raisya mengangguk dan tersenyum, "aku percaya itu Mas...,"


...-----------...


...Happy Reading allπŸ˜™πŸ˜™...


...Gais, mo nanya. Kan author ngekill...


...Rio, Devian sama Yudha, kira-kira...


...author ditangkep polisi gak yahh?? Author dosa gak yah??...

__ADS_1


__ADS_2