
"Sya... Gue otw ke rumah lo," ucap Hanin dari seberang telpon.
Raisya mengerutkan keningnya, "Mau ngapain?"
"Katanya mau ke kuburan si Rio, gimana sih dasar pikun!"
"Sekarang banget ya?" Raisya menghela napas dan membuangnya kasar karena saat ini Raisya sedang me time.
"Lu lagi ngapain sih?"
"Dengerin lagunya Lalisa,"
"Money?"
"Bukan, Lalisa,"
"Gue tau lagunya Lalisa, judulnya apa?" Hanin mulai geram dengan jawaban Raisya.
"Judulnya Lalisa... Astaga... Dari tadi gue bilang,"
"Lalisa mah penyanyinya kan? Judul lagunya weh,"
Ingin sekali Raisya menoyor kepala Hanin. Sedari tadi tidak nyambung ke pembicaraan.
"Yang Lalisa love me Lalisa love me, ntar deh gue kasih link lagunya," Raisya sudah malas debat dengan Hanin.
"Oke oke... Siap siap lu, gue mau nganter lu ke kuburan Rio habis itu gue balik lagi. Jangan lupa siapin duit buat lu pesen grab,"
Hanin hanya akan mengantar Raisya ke pemakaman Rio. Nantinya, Hanin akan pulang karena bu Ayu menyuruhnya menjaga butik.
"Oke, lu belum kelar jaga butik yah?"
Hanin memutar bola matanya malas, "Sampe abad depan juga gak bakal kelar gue jagain butik,"
"Oke, lu gak usah banyak bacot. Gece kesini!" Raisya memutuskan sambungannya.
Sekitar 15 menit kemudian, Hanin membunyikan klakson motor maticnya didepan rumah Raisya. Raisya segera turun dari lantai 2.
"Mau kemana Sya? Rapih banget,"
Bunda melihat Raisya yang terburu-buru.
"Aku mau main dulu bund, sama Hanin," Raisya pamit dan mencium punggung tangan bundanya.
"Hati-hati..." teriak bundanya namum sepertinya di abaikan oleh Raisya.
Raisya menepuk pundak Hanin yang sedang bermain handphone.
"Yok berangkat!"
Hanin memicingkan matanya, "enak bet dah, lu kira gue ojek lu,"
Raisya memutar bola matanya, "lu ngajak ribut lagi? Udah lah ayo! Tunggu apa lagi sih?"
Raisya memakai helm yang dibawakan Hanin dan naik ke motor maticnya. Kali ini, Hanin seperti ojek pribadi Raisya.
"Jauh banget ya?" tanya Raisya di sela-sela perjalanan.
"Gak juga sih, deket kok ama kampus lo. Tapi gak deket banget,"
"Deket ama kampus? Kuburan mana?" batin Raisya.
Setelah kurang lebih 30 menit, akhirnya motor Hanin terparkir di depan tempat pemakaman umum.
"Ini kan kuburannya bang Yudha," guman Raisya dan mengingat saat pertama kali Rayyan membawanya ke sini.
"Ayo masuk," Hanin menarik tangan Raisya karena sedari tadi Raisya melamun.
"Kuburan bang Yudha disini juga," ujar Raisya.
Langkah Hanin terhenti mendengar ucapan Raisya.
"Yaudah lu sekalian ke kuburan bang Yudha," ucap Hanin tidak mau repot.
Hanin dan Raisya berhenti di salah satu kuburan yang bernisankan kayu penuh dengan bunga peziarah.
"Lu baca," titah Hanin, Raisya membaca nisan itu.
"Gue masih gak percaya," Mata Raisya mulai berkaca-kaca.
"Itu kan kuburannya bang Yudha?" tanya Hanin menunjuk kuburan yang berjarak sekitar 7 meter.
Raisya mengangguk.
"Belah sana kuburan Devian," Hanin mengangkat dagunya, karena takut tidak sopan kalau harus menunjuk.
"Lo tau dari mana? Kita kan SMA nya beda sekolah," Raisya menatap Hanin yang berdiri di belakangnya.
Hanin hanya terkekeh kecil, "Devian tuh tetangga gue,"
"Terus lu tau dari mana kalo Rio di kuburin disini?"
__ADS_1
"Gue cari tau, buat lo," Hanin menekankan kata terakhir.
Ya, hanya untuk Raisya Hanin sampai rela mencari tau letak kuburan Rio.
"Dapet dari siapa?" Raisya masih penasaran.
"tiga orang yang suka sama gue, Rio, Devian sama bang Yudha, semuanya meninggal dan di kuburin di tempat pemakaman yang sama," gumam Raisya.
Hanin menghela napas, "BEM kampus gue, sodaranya Rio,"
"Siapa? Gue mau kenalan juga,"
"Nanti gue kasih nomornya ke lu," Hanin berbalik hendak pulang.
"Nin... Gue takut... Jangan tinggalin gue," Raisya mencegah Hanin pulang.
"Nanti kamu pulang dengan saya,"
Ini bukan Hanin yang menjawabnya, tapi Bagas. Ternyata diam-diam Bagas mengikuti Raisya.
Raisya menengok ke samping kanan. Benar saja, sosok tinggi tegap itu berdiri di samping kanan Raisya.
"Nitip Acha kak," Hanin segera menuju motornya.
"Siap! Itu sudah tugas saya," jawab Bagas mantap seperti sedang berhadapan dengan komandannya.
Raisya menatap Bagas.
"Saya akan antar kamu pulang," ucap Bagas seolah tau perasaan Raisya.
"Rio... Makasih ya... Tanpa lo, gue gak mungkin sehat kayak gini. Lo orang paling baik yang pernah gue temuin," guman Raisya seraya menaburkan bunga diatas kuburan Rio.
Raisya berdiri dibantu oleh Bagas.
"Makasih,"
Raisya berziarah ke kuburan Yudha. Langkahnya diikuti juga oleh Bagas. Raisya langsung bersimpuh dan menangis di depan kuburan Yudha.
Bagas ikut berjongkok dan memeluk Raisya. Baju Raisya sedikit kotor karena menyentuh tanah yang agak basah karena hujan tadi malam.
Meskipun Raisya menangis tersedu-sesu, tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Raisya.
Bagas mengelus punggung Raisya.
"Kalo kamu nangis kayak gini, bang Yudha pasti sedih,"
Raisya berbalik badan dan memeluk Bagas. Bagas membalas pelukan Raisya.
"Satu lagi ya, kita ke kuburan temen aku," Raisya berdiri dan menaburkan bunga di atas kuburan Yudha.
"Hati-hati," ucap Bagas takut Raisya terpeleset karena tanah kuburan yang lumayan licin.
Raisya hanya menabur bunga di kuburan Devian.
"Ayo pulang," ajak Raisya dituruti oleh Bagas.
"Rok aku kotor gak papa kan?" Raisya merasa tidak enak dengan Bagas.
Saat di pintu keluar pemakaman, datanglah Rey. Sepertinya ia akan berziarah ke kuburan Yudha.
Rey menghentikan langkahnya ketika melihat Raisya dan Bagas.
"Ini pacar baru kamu Sya?" tanya Rey melirik Bagas.
Bagas mengeratkan genggamannya.
"Iya, kenapa emang?" sungut Raisya.
"Asikk... Gue diaku pacarnya," hati Bagas kegirangan.
"Kok kamu mau sih sama tamtama?" pertanyaan Rey sangat merendahkan Bagas.
"Dia bintara bukan tamtama," sungut Raisya.
Meskipun yang direndahkan adalah Bagas, Raisya tetap saja tidak terima.
"Oh, jadi kamu lebih milih yang bintara yah dari pada yang kanit sabhara,"
Sedikit berjinjit Raisya menampar keras pipi Rey. Raisya tidak terima Bagas di perlakukan seperti itu.
"Udah Sya... Udah...," Bagas berusaha meredam emosi Raisya.
"Pangkat gak nentuin tingkat bahagia seseorang! Bahkan kalo pangkatnya setinggi langit tapi akhlaknya minus kayak lo tuh percuma. Lebih baik tukang becak yang akhlaknya lebih baik dari lo,"
Rey tidak habis fikir dengan Raisya.
"Tunggu pembalasanku!" Rey mengepalkan tangannya.
Raisya menyeret tangan Bagas ke mobil dan buru-buru meninggalkan Rey.
"Hih... Baru jadi kanit sabhara aja udah sombong, gimana nanti kalo udah jadi kapolda... Amit amit jabang bayi," sepanjang perjalan pulang, Raisya mengoceh dan mendumel tidak jelas.
__ADS_1
Bagas hanya geleng-geleng.
"Kamu kenapa sih emosi banget? Kan yang direndahin saya. Dari tadi juga saya diem aja,"
"Gue paling gak suka sama orang yang bangga banggain pangkatnya. Pangkat, jabatan, kesuksesan, semuanya tuh dari Allah. Coba kalo Allah tuker hidupnya sama tukang becak? Gimana? Pasti dia udah ngeluh banyak banyak," Bagas terenyuh dengan kata-kata Raisya.
Kesimpulan yang dapat Bagas ambil adalah, jangan sombong. Karena semua itu berasal dari Allah.
"Tapi kok, mirip banget ya sama almarhum bang Yudha?" kepala Bagas penuh dengan pertanyaan itu.
Raisya menepuk jidatnya, "yaiyalah... Kan dia abangnya, bang Yudha
adeknya,"
"Pantas saja, apa kamu pernah dekat?" rasa penasaran Bagas masih belum usai. Kenapa Rey tiba-tiba bertanya seperti itu? Seperti orang yang sedang cemburu saja.
Raisya menggeleng keras tidak terima.
"Dia nanyain terus kapan aku siap, aku gak pernah siap buat nikah sama dia," curcolnya.
Bagas tersenyum penuh, "kalo sama saya siap?"
"Siap!" jawab Raisya mantap.
"Okeh," Bagas tersenyum girang.
"Eh... Salah ngomong," Raisya masih saja mengelaknya.
"Sudahlah... Jangan bohongi diri sendiri," ucapan Bagas membuat pipi Raisya memerah.
Sampailah Raisya dirumah besar miliknya.
"Makasih ya kak," Raisya tersenyun kepada Bagas.
Bagas mengangguk dan tersenyum.
"Hati-hati," teriak Raisya saat mobil Bagas menjauh dari rumahnya.
----------------------------
[Malamnya]
Rey masih tidak habis fikir dengan Raisya. Pikirannya selalu melayang ke Raisya. Malam ini Rey mendatangi klub untuk minum dan melupakan Raisya.
"Raisya... Raisya... Kamu kenapa mau sama bintara? Kan aku kanit sabhara...," Rey mulai ngefly karena efek minuman itu. Bicara Rey juga mulai melantur.
💙💜💛💚
Ibu Bagas akan memasak sup ayam kesukaan Tiara untuk makan malam. Bagas dan Tiara sedang menonton tv diruang keluarga.
Ibu Bagas melihat garam habis, "Ra... Tolong beliin garem nak... Garemnya habis," teriaknya dari dapur namun terdengar sampai ruang keluarga.
"Gak mau bu... Udah malem, Ara takut," tolak Tiara.
Ibu Bagas menghampiri Bagas yang sedang menonton tv.
"Kak, tolong beliin garem yah. Udah habis, kamu kan cowok jadi kamu aja yah. Di alfamart deket perempatan," Ibu Bagas memberinya uang.
Bagas membeli garam di alfamart dekat perempatan. Setelah membayarnya, tiba-tiba Bagas ditarik ke sebuah gang kecil pinggir alfamart.
"Jangan berani-berani deketin Raisya lagi! Raisya punya gue!" teriak Rey seperti kesetanan.
Bagas mencium bau miras dari mulut Rey. Rey memukuli Bagas bertubi-tubi. Dengan kekuatan yang tersisa, Bagas membalas serangan Rey.
"Ck! Jabatan doang kanit sabhara, tapi kelakuannya gini. Masih mabuk-mabukan," darah segar mengalir dari bibir Bagas.
"Gue bilang, jangan deketin Raisya!" teriak Rey kemudian mendorong Bagas hingga tersungkur dan meninggalkannya.
Dengan kekuatan yang tersisa, Bagas berusaha berdiri. Ia mengelap darah yang mengalir dari bibirnya.
"****! Gue masih baik gak laporin lu ke polisi! Hah lucu! Tentara laporin polisi," Bagas bersandar sebentar di tembok bangunan tua.
Setelah dirasa cukup tenaga, Bagas berjalan menuju alfamart dan menyalakan mesin motornya.
"Ya Allah Bagas... Kamu kenapa nak?" tanya ibu Bagas melihat kondisi Bagas yang babak belur.
"Gak papa bu...," Balas Bagas dan hendak masuk ke kamar.
"Ibu kompres ya... Siapa yang berani ngelakuin kayak gini sama anak ibu?" ibu Bagas sampai tak habis fikir.
"Orang gila tiba-tiba nyerang bu," jawab Bagas sekenanya.
"Lain kali hati-hati,"
---------------------
Segitu dulu yah... Happy Reading all♥♥
Disini, Author bukan menjelekkan instansi polisi, tentara atau apapun yang ada di dalam cerita ini. Ini hanya fiksi belaka, jadi mohon maaf kalo ada kata-kata yang gak berkenan. Itu semata-mata author buat supaya cerita ini kelihatan nyata.
Semoga kalian suka ~♥♥♥~
__ADS_1
Masih banyak juga typo, sesegera mungkin author repisi.
Jangan lupa dukungan dan komennya manteman😙😙