
ddrrtttt.... ddrrrttttt
anting canggih yang dipakai Bu Gita bergetar menandakan ada pesan masuk di handphone yang disembunyikannya
" huftt.. untung saja shira tak menyadarinya" batin Bu Gita
saat ini mereka sedang makan malam bersama di kamar kost Shira yang sederhana.
"ibu kenapa? kok kelihatannya ada yang dipikirkan? apa ada yang sakit?' tanya shira khawatir melihat perubahan tiba tiba pada wajah Bu gita
"ahh tidak nak, ibu tak apa apa," Bu Gita tersenyum
"kamu pintar banget masaknya, selama mama disini kamu selalu masak, maafin mama ya, ngerepotin kamu, pulang kerja masih harus repot masak lagi" ujar Bu gita menunjukan kekagumannya pada gadis di depannya ini
__ADS_1
"Alhamdulillah kalo mama suka masakan aku, aku senang banget", mata shira berbinar. baru kali ini dia merada hidupnya sangat berarti, hidup bersama seorang ibu yang selama ini tidak pernah dimilikinya.
"begini rasanya jadi seorang anak yang disayangi" gumam Shira bahagia
Bu Gita terpana mendengar ucapan shira, semua pertanyaan yang memenuhi pikirannya bermunculan kembali,
"siapa gadis ini sebenarnya" batin Bu gita
Bu gita masih terus menatap punggung gadis yang sekarang lagi mencuci piring bekas makan mereka tadi,
"dia sangat rajin dan tulus menerima ku disini, apa nanti saat dia mengetahui siapa aku sebenarnya dia akan membenciku?" batin Bu Gita
sementara itu Shira melirik sekilas kearah Bu gita, wanita itu tampak berbeda beberapa hari ini, sepertinya ada sesuatu yang lagi dipikirkan, "hmmm semoga beliau baik baik saja" Shira berdoa dalam hatinya untuk wanita itu
__ADS_1
ddrrtttt... ddrrtttt
handphone Shira yang ada diatas meja bergetar, Shira menatap layar di handphonenya dan bergegas mengangkatnya
"ya hallo selamat malam pak, hanya itu yang terdengar oleh Bu Gita sesaat sebelum shira keluar kamar untuk melanjutkan obrolan nya di telpon.
"dia lagi bicara sama siapa? apakah dia sudah punya pengganti bian? apakah itu kekasihnya yang telpon? hmm..kalo aku sedikit menguping pembicaraan mereka mungkin tak apa ya? "pikiran nakal Bu Shira mulai beraksi,
"aku harus tahu apa yang terjadi selama ini, jika benar semuanya ini kesalahpahaman, aku akan meluruskan semuanya, gadis itu sangat baik, aku tidak boleh terus membuatnya menderita!" batin Bu Gita sambil perlahan membuka pintu untuk mendengarkan percakapan Shira
"terimakasih atas bantuan bapak, saya lega mengetahui mereka baik baik saja, mohon maaf saya akan terus merepotkan bapak bulan selanjutnya, iya pak...tolong terus informasi kan ke saya apapun yang terjadi dengan keluarga saya" ujar Shira sembari menutup telponnya
"Alhamdulillah y Allah, keluarga ku semuanya sehat, pak..bu, Shira akan terus berusaha menjaga kalian walaupun sekarang Shira jauh, kalian sudah Shira anggap orangtua kandung sendiri" Shira bicara sendiri setelah telpon ditutup, dan tanpa dia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya, mata Bu Gita, yang sedari tadi mendengar semua yang dia ucapkan, seketika Bu Gita lemas, apa yang ditakutkannya terjadi, dia telah salah menghukum seseorang yang sama sekali tidak tau menahu apa kesalahannya. dia takut menghadapi kenyataan ini, dia takut mendapatkan kebencian dari Shira, gadis yang telah dibuatnya hancur masa depan dan impiannya.
__ADS_1