
Bu gita menatap nanar putranya yang baru datang. Setahun lebih dia tak melihat wajah putra nya itu, hanya berkomunikasi lewat pesan dan sesekali menelepon. Bu gita tahu kalo bian sedang terluka waktu itu, makanya dia ingin memberikan waktu sendiri untuk anaknya.
Tapi apa yang dilihatnya kali ini menimbulkan perih di hatinya. Bian tampak lebih kurus dengan penampilan yang tak rapi. Dia yang biasanya terkenal sangat peduli dengan penampilan sekarang tampak lusuh, meskipun aura ketampanannya masih terlihat jelas.
"Selamat datang kembali nak" sambut Bu gita sambil memeluk putranya itu.
Bian mencium tangan mamanya dan memeluk wanita itu.
"Gimana perjalanannya, lancar kan?" tanya Bu gita sembari mengamit lengan putranya membawa masuk keruangan keluarga.
"Alhamdulillah ma, lancar" jawab bian singkat.
"Mama gimana? sehat?" tanya bian.
"Alhamdulillah nak, mama sehat" jawab Bu gita.
"Aku mandi dulu mah" bian pamit dan berlalu dari pandangan mamanya.
Bu Gita merasakan banyak perubahan dalam diri bian. Putranya yang dulu ceria dan menghidupkan suasana sekarang lebih banyak diam.
"Maafkan mama nak" gumam Bu gita yang melihat punggung bian perlahan menjauh dan hilang dibalik pintu kamar.
__ADS_1
.
.
.
Bian memasuki kamarnya.
Kamar ini kembali mengingatkan memori nya lagi tentang shira. Dekorasi kamar inipun tak banyak berubah.
Bian mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan semua kegalauan. Dia mengeluarkan ponselnya, melirik sekilas wajah itu dan bergegas masuk kekamar mandi.
Selesai membersihkan dirinya, bian kembali turun kebawah menemui mamanya untuk makan malam.
"Mah, apa semua baik? kenapa aku diminta kesini lagi?" tanya bian.
"Selesaikan makan dulu ya, habis itu ada yang mau mama bahas" jawab mamanya.
.
.
__ADS_1
.
Bian merosot di lantai saat mendengar apa yang baru saja diucapkan mamanya.
Fakta bahwa shira adalah sasaran yang salah atas dendamnya, penderitaan shira dari kecil akibat perbuatan keluarga angkatnya, hingga penderitaan yang kian bertambah setelah kegagalan pernikahannya dengan bian.
"Dia bukan anak pembunuh itu, bahkan dia sering disiksa oleh keluarganya, hanya dijadikan alat penghasil uang".
Seharusnya bian melindungi shira yang rapuh bukan malah menghancurkannya.
Bian kembali teringat di awal pertemuan nya dengan shira di kampus, wajah gadis itu lebam seperti bekas pukulan, tapi bian sama sekali tak memperdulikan nya.
Bian meremas kuat jemari tangannya sendiri tak mampu membayangkan penderitaan seperti apa yang shira terima atas perbuatan bian. Penderitaan yang seharusnya tak pantas didapat Shira.
Bu gita masih terisak di depan bian, dari tadi air mata nya tak berhenti mengalir saat menceritakan semuanya fakta tentang shira.
Belum semua diceritakannya, bian yang tampak hancur dan menangis membuat Bu gita menahan diri untuk menceritakan fakta lebih lanjut. Mengenai kehamilan shira masih belum diketahui bian.
"Tunjukkan aku alamat shira sekarang mah, aku harus menemuinya, aku harus meminta maaf kepadanya" ucap bian dengan nada suara bergetar penuh amarah.
"Ini sudah malam nak" Bu Gita mencoba menahan bian.
__ADS_1
"Aku gak bisa menunggu mah, cukup waktu yang buat aku berpisah dari shira, aku akan melakukan semuanya sendiri mulai saat ini, mama tidak perlu ikut campur lagi" nada bian terdengar getir.