Dendam Cinta CEO Tampan

Dendam Cinta CEO Tampan
jantung ga mau diajak kompak


__ADS_3

"apakah kamu buru buru anak muda? mari kita berbincang dulu!" ajak ananta,


shira heran dengan sikap bapaknya itu, tak pernah sekalipun dia bersikap ramah kepada teman teman shira


bian mengeluarkan ekspresi yang tak terbaca, dia menyunggingkan sedikit senyum pertanda menyetujui


"tentu pak, dengan ditemani secangkir kopi tentu obrolan kita akan lebih sempurna" ucapnya


"baiklah, aku akan ke dapur menyiapkan kopi, kalian duduklah dulu!" Shira menyahuti ucapan bian


"makasih neng cantik" ucap bian menggoda Shira


Shira yang malu segera berlalu ke dapur untuk menyiapkan suguhan buat tamu istimewanya, sementara itu bian dan pak ananta duduk di kursi yang ada di teras rumah tersebut


"apa kau punya hubungan khusus dengan putriku?" tanya ananta menyelidik


"iya pak, kedatangan saya kesini sekaligus bermaksud meminta izin sama bapak, saat ini kami baru saja berpacaran" ujar bian menjawab pertanyaan ananta


"kamu tau kan, dia anak gadis saya yang paling saya sayangi, saya mau yang terbaik buat dia, tidak sembarang orang bisa mendekatinya" ananta berusaha mengintimidasi bian


"bapak berbicara dengan orang yang tepat, saya adalah presiden direktur sebuah perusahaan, saya bisa memberikan apapun yang Shira dan keluarganya inginkan" balas bian tak kalah mengintimidasi


bian yang tau sedari awal ananta sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan uang berusaha menarik perhatiannya dengan menunjukkan kekayaannya

__ADS_1


bian tahu, dengan cara itulah ananta bisa dia kuasai, dan mempermudah jalannya mendekati Shira


"wow, menarik anak muda, kau pasti sangat kaya, tak kusangka putriku yang bodoh itu bisa mendapatkan tambang emas seperti dia" ananta bergumam takjub


"silahkan diminum, kak, bapak" shira bergabung dengan membawa nampan berisi minuman dan menaruhnya di meja didekat bian


"makasih cantik" bisik bian


Shira kembali tersipu malu


"apa itu mobilmu?" tanya ananta yang sedang menunjuk mobil yang terparkir di depan mereka


"iya pak" jawab bian


"hmmm, kalian ngobrol lah dulu, aku mau melihat mobil mewah itu" ucap ananta tanpa malu


"kamu kenapa, kok sedih?" tanya bian yang melihat perubahan raut wajah shira


"ma, maafkan atas sikap bapak kak"


"tak apa, aku senang bapakmu menerima ku dengan baik" ucap bian kepada shira


"gadis ini sangat berbeda dengan si breng*** itu" bian bergumam dalam hati

__ADS_1


karena malam sudah semakin larut dan bian melihat beberapa kali Shira menahan kantuknya, maka bian memutuskan untuk pulang, walaupun sebenarnya dia ingin terus bersama shira, ada perasaan nyaman yang menyelimuti bian saat berada didekat shira


bian berdiri dari duduknya dan berkata kepada Shira


"udah larut malam, aku pulang ya, besok ke kampus bareng aku ya, aku jemput kamu kesini!" ucap bian


shira tersenyum dan mengangguk


"apa aku merepotkan?" tanya shira lagi


"repot kenapa?" bian balik bertanya


"kan rumah kakak dengan rumah ku berbeda arah, kalo ke kampus jemput aku, kakak jadi bolak balik" terang Shira


"ga ada kata merepotkan buat kamu" bisik bian gemas dengan kepolosan Shira


"makasih kak" ucap Shira


deg... deg jantung bian kembali berontak mendengar ucapan shira


"huffttt,, kenapa sih dia bertingkah semanis ini" rutuk bian dalam hatinya


"ini juga jantung kenapa sih, berdebar debar gak jelas, ga kompak banget sama misi aku" bian melanjutkan merutuk dirinya sendiri

__ADS_1


"kak, kakak tak apa apa?" tanya shira yang bingung melihat reaksi bian yang meremas remas tangannya sendiri


"eh, hehehe ga apa apa neng, aku pamit ya" ucap bian sambil berlari menuju mobilnya, bian takut debar jantungnya akan terdengar oleh Shira, dia memilih segera pergi dari rumah shira


__ADS_2