
Subuh menjelang, walaupun shira baru beberapa jam memejamkan matanya tapi karena kebiasaannya yang selalu bangun untuk sholat malam, secara otomatis tubuhnya pun sudah memiliki alarm sendiri.
Shira merasa tangan hangat memeluknya, dan dia tersadar saat tak ada satu lembar pun pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Ya Allah, apa yang telah kami lakukan" guna shira.
Dia bergegas hendak berlari ke kamar mandi, tapi baru saja dia berdiri inti tubuhnya terasa sangat sakit hingga dia terjatuh dari ranjangnya yang cukup tinggi.
BRUKKKK...
Suara itu membangunkan bian yang tengah terlelap dalam tidurnya.
Bian segera bergegas menghampiri shira, "aaaaargghhhh kak bian" teriak shira saat dia yang sedang berjongkok melihat sesuatu yang menggantung di tubuh polos bian yang sedang berdiri.
Bian yang sadar kalo dia dalam keadaan tanpa busana segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, padahal selimut itu juga sedang dipakai setengahnya untuk menutupi tubuh shira.
Karena bian menarik selimut itu dengan keras hingga terlepas dari tubuh polos shira dan langsung menunjukkan pemandangan indah yang membuat bian menelan salivanya.
"Arghhhh...kak bian" Shira kembali berteriak.
__ADS_1
Bian kebingungan, dia mengambil jas yang semalam dipakainya dan memberikan kepada shira. Postur tubuh shira yang mungil membuat jas itu cukup untuk menutupi sebagian tubuhnya, setidaknya alat vital yang ada di bagian dadanya tidak lagi terlalu terekspose oleh mata mesum bian.
Shira berusaha kembali bangkit menuju kamar mandi, perih yang dirasakannya membuatnya meringis. Bian yang berniat membantu tidak diijinkan oleh shira.
"Stop, jangan mendekat!" teriak shira galak.
Bian terus mengawasi shira yang kepayahan, dia telah memakai celana pendeknya saat ini.
Karena gemas dengan cara berjalan shira yang terseok Seok menuju kamar mandi, bian tanpa meminta ijin terlebih dahulu langsung menggendong Shira.
Suasana mereka saat ini sangatlah intim, shira yang memakai jas besar tanpa dalaman dan menampakkan sebagian paha mulusnya sedang digendong menuju kamar mandi oleh seorang bian yang tampan dan bertelanjang dada.
Andai saja mereka adalah pasangan yang sah tentu tidak akan se canggung ini situasi yang mereka alami sekarang.
Bian duduk diatas ranjangnya, dan termenung memikirkan perbuatan yang telah dilakukannya bersama shira.
Saat dia hendak mengambil pakaian yang berserakan tak sengaja mata bian melihat bercak darah di sprei tempat kegiatan panas mereka semalam. Bian merasakan ada yang hangat mengalir dihatinya. Dia merasa bangga terhadap gadisnya itu.
"Terimakasih telah memberikan semua yang telah kamu jaga kepadaku" batin bian.
__ADS_1
Beberapa saat bian menunggu, shira keluar dari kamar mandi sambil menunduk. Dia telah menggunakan pakaiannya yang semalam. Suasana canggung masih menyelimuti mereka, tidak ada percakapan apapun yang terucap dari bibir mereka berdua.
Bian menatap Shira dan melihat mata gadis itu sembab, sepertinya habis menangis.
"Apa dia masih kesakitan" batin bian.
Bian memutuskan untuk membersihkan dirinya dulu di kamar mandi, nanti dia akan mengajak shira berbicara.
Tak berapa lama bian keluar dari kamar mandi, dia melihat shira yang sudah selesai sholat dan sedang berdoa. Shira memang selalu membawa mukenah kemanapun dia pergi.
Terdengar Isak tangis diantara doa shira.
"Ampunilah hamba mu ini ya Allah, hamba telah berbuat dosa besar" lirih shira.
Bian yang tak tahan melihat kesedihan shira segera merangkulnya dari belakang.
"Maafkan aku, aku gak bisa menjaga kamu, aku bersalah telah merusak kamu, maafkan aku sayang" ucap bian sambil terus memeluk Shira.
"Kamu sudah mendapatkan semuanya dari aku, ciuman pertamaku, bahkan harta aku yang paling berharga, berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku kak" mohon Shira kepada bian.
__ADS_1
Bian mengecup kening shira dengan lembut, "aku janji akan menikahi kamu secepatnya, aku tidak akan meninggalkan kamu" ucap bian menenangkan shira.
Mereka pun berpelukan saling menenangkan diri masing masing.