
Bian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju alamat shira yang telah ditunjukkan oleh mamanya.
Tokk...tokkk... berkali kali bian mengetuk pintu rumah itu tapi tak ada sahutan dari dalam.
Bian melihat jam tangannya, 22.00..
"Apa dia sudah tidur?" batin bian bertanya tanya.
"Mas, nyari neng shira ya?" akhirnya tetangga kontrakan shira yang merasa terganggu menyapa bian.
"Iya bu, apa shira ada didalam?" tanya bian.
Perempuan setengah baya itu memperhatikan penampilan bian, selama shira tinggal disini tak pernah ada satu orang laki laki pun yang mengunjungi.
"Neng shira kerja, dia lembur, besok pagi baru pulang" jawab ibu itu.
"Shira kerja dimana bu? boleh saya tahu?" tanya bian lagi. Dia benar-benar tak mau melewatkan satu detik pun, dia berencana menyusul shira ke tempat kerjanya.
"Saya tidak tau, pokoknya jadi cleaning service aja, tapi entah dimana" jawab ibu tau.
Deg...
__ADS_1
Hati bian perih saat mengetahui shira nya menjadi seorang gadis cleaning service untuk menyambung hidup.
"Makasih Bu" ucap bian sembari melangkah gontai kembali menuju mobilnya.
"Bodoh kamu bian, bodoh, kenapa tak menyelidiki dulu siapa shira sebenarnya.
Kenapa tega meninggalkan dia sendirian, argghhhh" bian mengumpat dirinya sendiri.
Bian memutuskan menunggu didalam mobilnya sampai shira kembali. Sampai dini hari tak sedikitpun mata bian terpejam, perjalanan jauh London-indonesia tak membuat tubuhnya lelah sama sekali, pikirannya menerawang kemana mana.
Adzan subuh yang berkumandang membangunkan bian dari tidurnya. Ya, pria itu terlelap baru satu jam yang lalu. Saat bian memutuskan untuk sholat ke mesjid terdekat dia melihat sebuah motor masuk melintas di pekarangan rumah shira.
Hati bian berdebar-debar tak karuan, ini saatnya dia kembali bertemu dengan wanita kesayangannya. Dia tahu shira pasti sangat membencinya, tapi dia harus tetap mencoba untuk mendapatkan maaf dari gadis itu.
Ojek online yang mengantar shira telah pergi, shira memutuskan pulang dengan ojek online karena ini masih sangat pagi untuk pulang dengan angkutan umum seperti biasanya. Karena dia lembur menggantikan temannya hanya untuk beberapa jam, jadilah dia pulang pagi seperti sekarang ini.
Saat shira tengah sibuk mencari kunci didalam tasnya, ada sebuah suara yang memanggilnya, suara yang sangat dia kenal.
Shira menoleh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Shira" bian kembali memanggil shira dan mencoba melangkah mendekatinya.
__ADS_1
Baru saja beberapa langkah bian berjalan dia menangkap perubahan aneh pada gerak gerik shira.
Nafas Shira tersengal-sengal, dia memegangi dadanya, wajahnya pun tampak pucat, dan sebelum bian sampai dihadapannya.
Brughhhh....
Shira ambruk dan terbentur ke lantai.
"Shira" bian berteriak histeris. Dia tak menyangka sebegitu hebatnya reaksi tubuh shira saat bertemu dengannya.
Tanpa pikir panjang, bian membopong tubuh shira menuju mobilnya. Dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Bian menggenggam erat tangan shira selama dalam perjalanan, dingin tubuh shira membuatnya semakin panik, tak terasa bian menangis hingga terisak melihat kondisi shira yang begitu lemah.
"Aku mohon maafkan aku, bertahanlah, bertahanlah demi aku sayang," Isak tangis bian selama di perjalanan.
Tak henti bian menciumi tangan shira, berharap wanita tersayang nya itu baik baik saja.
Sesampainya di rumah sakit bian berlari sekencang mungkin dengan tubuh shira dalam gendongannya.
"Tolong istri saya, tolong selamatkan istri saya" bian berteriak histeris.
__ADS_1