
"Tuan, nyonya besar tidak sadarkan diri"
Bian tersentak membaca pesan masuk dari asisten rumah tangganya.
Dengan kecepatan penuh bian melaju mobilnya menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh sopir mamanya.
Sejak mamanya pulang kembali ke Indonesia, bian belum menemuinya, karena sibuk dengan urusan persiapan pernikahannya yang akan berlangsung besok pagi.
Bian memang memutuskan untuk tinggal di apartemen pribadinya lagi, sama seperti waktu papanya masih hidup. Dia memang memilih hidup mandiri dan tidak mengandalkan harta orang tuanya.
Tetapi karena tidak ada yang menemani mamanya semenjak kepergian papa, akhirnya bian memutuskan untuk tinggal bersama mamanya lagi.
Setelah pernikahan bian berencana membawa shira tinggal di apartemennya, memulai hidup baru berdua bersama istri tercintanya.
Sungguh rencana yang sangat indah..
.
.
.
" Bagaimana keadaan ini saya dokter?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut bian saat bertemu dokter di ruangan perawatan ibunya.
__ADS_1
"Ibu anda mengalami depresi cukup berat, sehingga mengakibatkan kesehatannya terganggu, buatlah beliau terus bersemangat, dan jangan membantah perkataannya, karena dalam kondisi seperti ini, hanya dukungan keluarga lah yang bisa membuatnya sembuh" ucap dokter menjelaskan.
"Baik dokter, terimakasih" ucap bian.
Bu Gita saat ini sudah dipindahkan ke ruangan khusus VVIP dengan peralatan pembantu pernafasan di sekelilingnya. Hati bian hancur melihat keadaan mamanya seperti ini.
Besok adalah hari pernikahannya, bian masih dilema dengan kondisi mamanya yang terbaring lemah tak berdaya.
Beberapa jam menunggu akhirnya mama bian sadar, hal pertama yang dimintanya kepada bian adalah membatalkan pernikahannya.
Bian dengan cepat menggelengkan kepalanya, dan keluar ruangan itu. Dia meminta vano dan aura asistennya untuk tetap menjaga mamanya selama dia pergi.
Bian pergi untuk menenangkan diri, tak disangka mamanya begitu terobsesi dengan balas dendam, hingga berpengaruh terhadap kesehatannya seperti ini.
.
.
"Bos, mama loe gak mau makan dan minum obat, beliau juga menolak diinfus, beliau tidak mau mendapatkan perawatan" pesan dari vano menyentak bian. Secepat kilat bian berlari ke mobilnya dan menuju ke rumah sakit.
Sebelum sampai di ruangan mamanya bian bisa mendengar teriakan histeris dari seseorang yang sangat dikenal suaranya oleh bian. Mamanya ya mamanya yang tak pernah seperti ini sebelumnya sekarang berubah drastis. Yang biasanya lemah lembut sekarang terus berteriak dan mengeluarkan kata-kata kasar.
Bian tak percaya bahwa wanita anggun yang sangat disayanginya itu berubah seperti ini. Hati bian sakit melihatnya.
__ADS_1
"Ma, tenanglah, " ucap bian mendekati mamanya.
"Kamu anak durhaka, kamu pengkhianat, kamu lebih memilih jal*** itu daripada mamamu sendiri" teriak Bu Gita kepada bian.
"Ma, jangan seperti ini" bian memohon.
"Batalkan pernikahan mu atau mama akan mati dihari pernikahan itu" nada penuh ancaman keluar dari mulut ibunya itu.
"Ok, ok baiklah, bian akan membatalkan pernikahan bian besok. Sekarang mama tenang dan jangan mempersulit dokter merawat mama" ucap bian.
"Kamu janji?" tanya Bu gita.
"Iya mah, bian janji, bian akan mengikuti perintah mama, asalkan mama juga janji, segera sembuh dan semangat lagi seperti biasa" bian memaksakan senyumnya.
"Huffttt" terdengar helaan nafas berat keluar dari bian.
Mamanya sudah tertidur pulas, tinggallah dia diselimuti kegalauan, hari pernikahan yang dinantikannya bersama shira besok akan menjadi neraka baginya.
Bian memandangi foto shira yang tersenyum dilayar ponselnya.
"MAAFKAN AKU"
Bian melempar ponsel itu hingga pecah berkeping-keping. Sama dengan hatinya yang saat ini patah tak berbentuk. Keputusan telah diambil, dia akan membatalkan pernikahannya besok.
__ADS_1
Flashback off