Dendam Cinta CEO Tampan

Dendam Cinta CEO Tampan
pengakuan jujur 2


__ADS_3

"Bian mencintai Shira mah"


Seketika muka Bu Gita memerah, wanita yang selalu nampak lembut dan bersahaja itu akhir akhir ini memang sering terpancing emosi, ini disebabkan karena dendam kematian suaminya yang mendadak itu.


"Kamu jangan bercanda, kamu jangan main main, mama gak suka!" teriak Bu Gita dengan lantang


"Bian gak main main mah, bian mau jujur sama perasaan bian mah.


Shira tidak seperti bapaknya mah, dia sangat baik, dia bahkan hanya dimanfaatkan oleh bapaknya itu" bian berusaha menunjukkan kebaikan shira kepada mamanya


"Mama gak peduli, kamu harus menghancurkan gadis itu, biar ayahnya yang ******** itu tau gimana rasanya sakit hati" Bu Gita bergetar menahan emosinya yang meledak


"Ma, tolong jangan seperti ini mah, bian gak mau memilih antara mama ataupun shira, kita pikirkan cara lain untuk menghukum orang yang membunuh papa, tapi yang pasti bian tidak akan melanjutkan ide kita untuk menyakiti Shira mah" tegas bian


BRUKKKK...Bu Gita menggebrak meja makan. Gadis itu telah membuat kamu jadi berubah begini, dia membuat kamu menjadi durhaka kepada mama, membuat kamu melupakan sakit yang kita rasakan karena perbuatan keluarga sial itu" Bu Gita terus berteriak histeris


Bu Gita beranjak pergi meninggalkan bian yang terdiam di depan meja makan, beliau membanting pintu sangat keras menandakan kemarahan sangat besar sedang menyelimutinya.

__ADS_1


"hufttt.." bian menghela nafas kasar


Makanan yang ada didepannya sama sekali belum disentuh, pikirannya kalut melihat reaksi dari mamanya tadi, sebegitu besar kebencian mama kepada shira dan keluarganya, bian takut menghadapi masa depan yang sedang direncanakan dengan shira nanti.


Bian mengambil kunci mobil dan memutuskan untuk menemui seseorang di kota itu. Orang yang hampir selalu dia kunjungi saat tiba di London, Tante aura dan om Wisnu. Mereka adalah sepupu dari almarhum papa bian. Mereka memutuskan menetap di London bertahun-tahun dan hidup bersahaja tanpa sokongan materi dari keluarga besarnya.


"Mah, bian keluar dulu ya" ucap bian dibalik pintu kamar mamanya.


Bian sudah berusaha mengetuk pintu berkali kali tapi tidak ada sahutan dari mamanya, dia memutuskan untuk menunggu emosi mamanya reda, karena itulah dia memutuskan berpamitan dari belakang pintu saja, bian yakin mamanya pasti mendengar.


Bian memencet bel didepan pintu tersebut, tak lama keluarlah seorang wanita anggun dengan penampilan sederhana namun tampak cantik. Tante aura..


"Bian..ini beneran kamu? aduh kok gak ngabarin mau kesini, kan tante bisa siapkan masakan enak buat menyambut kamu" heboh Tante aura


"Bian lagi ada urusan didekat sini tante" bian menjawab sambil tersenyum


"Ayo masuk sayang, om ada didalam, kebetulan hari ini lagi santai"

__ADS_1


Bian dan tante aura melangkah masuk kedalam rumah sederhana itu.


Setelah menyapa pamannya yang sedang santai di ruang keluarga,. mereka bertiga melanjutkan obrolan ringan.


"Mama juga ada disini om, di apartemen" ucap bian memberitahu om nya


"Hmm, kak Gita sehat kan?"


"Secara umum kondisi kesehatan mama sebenarnya tidak ada masalah om, cuma semenjak kepergian papa mama jadi sedikit temperamental, gampang marah marah om" bian menuturkan kegundahan hatinya.


"Mama masih dalam proses menerima kenyataan yang buruk nak, teruslah dampingi mama, jangan biarkan beliau sendiri, saat ini hanya kamu yang dimilikinya, jadi kamu harus tetap semangat y, jangan sampai ikut terpancing" nasehat om wisnu.


"Sebenarnya kedatangan bian kesini ada yang mau bicarakan om" ucap bian lagi


"Bicaralah! om punya banyak waktu untuk mendengarkan"


......

__ADS_1


__ADS_2