
"Isshhh, kakak drama deh" sahut shira menanggapi sindiran bian
Bian terkekeh melihat reaksi kekasihnya itu. Dia tak pernah benar-benar marah kepada bian, selalu bisa memaafkan apapun kesalahan bian.
Bian menghentikan mobilnya di pinggiran sebuah danau. Saat ini sudah menjelang senja, pemandangan di danau itu sangat lah indah.
Pantulan jingga cahaya matahari memunculkan semburat keindahan yang seolah olah muncul dari dasar danau.
Shira yang sedang berdiri menikmati suasana itu merasakan bian memeluknya dari belakang. Deru nafas Bian terasa meniup tengkuknya yang membuatnya merinding geli.
"Aku mau bawa kamu ke suatu tempat, ayo ikut aku!" bian menarik tangan shira menuju ke sebuah villa di sekitar daerah situ.
"Wah indah sekali kak" ucap shira terkagum kagum melihat pemandangan indah dari atas villa yang berada persis di tengah danau itu.
Tempat ini merupakan lokasi wisata eksklusif bagi para kaum kelas atas, dan bagi bian sangatlah mudah untuk mendapatkan akses masuk kedalamnya.
__ADS_1
Bian kembali memeluk shira yang sedang berdiri di depan jendela menikmati temaram senja.
Tangan bian melingkari pinggang shira dari belakang sambil menggenggam sesuatu yang sudah dipersiapkannya dari London.
Bian memutar tubuh shira menghadap kearahnya.
"Hari ini aku melamar kamu untuk menjadi tunangan aku, dan 3 bulan lagi saat hari ulang tahun kamu aku akan meminang mu untuk jadi istri aku" bian mengucapkan kalimat itu sambil menyelipkan sebuah cincin berlian cantik ke jari manis shira.
Shira tidak menyangka akan dilamar se romantis ini oleh orang yang sangat dicintainya.
Tanpa sadar airmatanya tumpah. Dia sangat bahagia.
Bian mengecupi kedua kelopak mata shira.
"Selama bersama aku, tidak akan kubiarkan ada airmata" bisiknya
__ADS_1
Mata mereka saling menatap penuh cinta, bian menarik tengkuk shira untuk menikmati bibir manis favoritnya itu. Sementara satu tangannya yang lain mulai menjelajahi bagian bagian sensitif di tubuh shira.
Suasana yang syahdu mendukung naluri mereka sepasang insan yang saling merindu itu untuk melepaskan hasrat selama ini.
Shira yang terbawa suasana akan kelembutan sikap bian dan memang haus akan kasih sayang, pasrah saat pria itu menuntunnya berbaring di ranjang yang ada di ruangan tersebut.
Perlahan namun pasti, satu persatu pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua telah berceceran di lantai, bian terus menstimulasi titik titik sensitif di tubuh shira, hingga desahan desahan manja keluar dari bibir gadis itu.
Tak ada satu inchi pun dari tubuh shira yang tak luput dari kecupan bian saat ini. Shira yang hanyut dalam buaian tak menolak sama sekali saat tubuh polos bian menindihnya.
Dan saat bian meminta ijinnya untuk memasuki lebih dalam kewanitaannya shira dengan sukarela mengiyakan.
"Sayang, apakah boleh aku memintanya sekarang?" terdengar suara bian yang serak menahan geloranya.
Shira menatap dalam mata bian yang saat ini berada diatasnya, Shira meyakini kalau bian tak akan pergi meninggalkannya, shira yakin bian sangat mencintainya, hingga anggukan lemah itu menjadi jawaban yang mendorong bian berbuat lebih dalam lagi malam itu.
__ADS_1
Desahan demi desahan menggema di ruangan itu, berkali kali mereka memacu tubuhnya meraih kenikmatan, sakit yang awalnya dirasakan shira saat ini berubah menjadi kenikmatan yang membuainya.
Hawa nafsu membuat mereka lupa bahwa seharusnya perbuatan ini belum sepantasnya mereka lakukan. Shira yang dari dulu sangat menentang se* bebas sebelum pernikahan termakan oleh omongannya sendiri. Kenikmatan sesaat telah mengambil alih akal sehatnya.