Dendam Cinta CEO Tampan

Dendam Cinta CEO Tampan
memori bahagia 4


__ADS_3

bian mengemudikan setir mobilnya dengan kecepatan tinggi, tangannya menggenggam erat kemudi tanda dia menahan amarah, tak sekalipun dia menoleh melihat luna yang sedang ketakutan di sebelahnya


sementara itu Luna yang tak tau harus berbuat apa hanya diam dan sesekali melirik kearah bian, cowok itu terlihat sangat marah, membuat nyali Luna menciut seketika


bian dengan tiba tiba menghentikan mobilnya yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi, membuat Luna yang tidak siap dengan kondisi itu terbentur ke dashboard di depannya


"aduhhh sakit, bian kamu hati hati dong!" dengan gaya manjanya Shira mengusap jidatnya yang tadi terbentur.


"gue ga pernah memukul cewek selama ini, apa perlu loe orang pertama yang merasakannya?" ucap bian mengintimidasi luna


"kenapa loe semarah ini sih sama gue? pelayan itu cuma gadis rendahan, jangan terlalu tegang lah sayang!" jawab Luna membela dirinya


"dengar Luna, awalnya gue ga pernah berpikir gadis secantik loe bisa berbuat sekasar itu pada orang lain, perbuatan loe kali ini benar-benar membuat gue ilfill sama loe, cewek kayak loe ga pantas gue pertimbangkan untuk jadi pendamping gue.

__ADS_1


sekarang loe turun dari mobil gue!" ucap bian,


Luna mengedarkan pandangannya, ternyata bian mengantarkannya pulang, saat ini dia sudah berada di depan gerbang rumahnya


"bian, jangan gini dong!" mohon Luna


"masa gara gara cewek itu loe nyakitin gue seperti ini?" bujuk luna dengan manja


bian membuka pintu mobilnya dan berjalan membuka pintu mobil tempat luna duduk saat ini, setengah memaksa dia menarik tubuh Luna untuk segera turun dari mobilnya


huffttt.... bian menghela nafas kasar, dia sendiri pun bingung atas reaksi emosinya saat ini, kenapa dia bisa semarah ini kepada orang yang menyakiti shira?


seharusnya dia bahagia melihat gadis itu menderita di depan matanya,

__ADS_1


" aku akan kembali ke cafe memastikan dia baik baik saja" batin bian


"ahh ngapain sih aku harus memikirkan cewek itu, biarin aja dia, pasti dia sekarang lagi bersedih, atau mungkin sudah kehilangan pekerjaannya" hahahaha bian tertawa sendiri berusaha menghibur hatinya yang gelisah.


tapi semakin dia menolak perasaan khawatirnya semakin besar pula keinginannya untuk segera menemui gadis itu, seorang gadis yang sudah mencuri fokus pikirannya beberapa hari ini, tanpa bisa ditolak, hati bian merindukan shira.


bian melihat jam ditangannya, "masih jam 9 malam, apa dia sudah pulang? bian sibuk menimbang nimbang sendiri perasaannya, argghhhh...bian berteriak menghembuskan rindu yang menyesakkan dadanya belakangan ini


malam ini jalanan ibukota sangat ramai, bian tak sabar memacu kendaraannya menuju cafe tempat Shira bekerja,


"duhhh gara gara sekarang malam minggu, orang orang ini memenuhi jalan" bian terus menggerutu karena terjebak kemacetan, dia tak sabar untuk segera sampai di cafe tempat Shira bekerja, dia ingin memastikan gadis manis itu baik baik saja


tiiiiittttt...tiiittttt...

__ADS_1


suara klakson dari kendaraan di belakangnya mengagetkan bian yang sedang melamun, segera bian menancap gas mobilnya setelah berhasil melewati kemacetan yang melelahkan tadi.


tak berselang lama bian berhasil memarkirkan mobilnya persis di depan cafe tempat Shira bekerja. bian menarik nafas lega saat melihat cafe itu belum tutup, tak sabar dia menunggu gadis pujaannya keluar dari sana


__ADS_2