
Bian berjalan mondar mandir saat dokter tengah melakukan pemeriksaan terhadap shira. Bian terus mengintip dari dinding kaca berharap dia bisa melihat shira.
"Paman Rino" bian melihat seseorang berpakaian dokter berlari panik memasuki ruangan tempat shira sedang ditangani.
Sekilas dokter rino, melihat kearah bian.
"Kau anak muda, tunggu aku setelah ini, kita harus bicara" ucap dokter rino dengan kemarahan.
Sebenarnya bian bingung dengan ucapan pamannya itu. Sudah lama mereka tak bertemu, tetapi aura kebencian muncul di wajah pamannya itu. Setahu bian, dia tidak pernah terlibat masalah dengan pamannya itu.
Ahh sudahlah, bian hanya ingin fokus memikirkan shira.
Setengah jam berlalu, dokter rino keluar dari ruangan shira dan kembali memberikan tatapan membunuh kepada bian.
"Kau ikuti aku!" perintahnya.
Bian memilih menurut dan mengikuti dokter rino sampai keruangannya.
Plakkkk...
dokter rino menampar bian, kemarahan yang disimpannya dari tadi akhirnya diluapkan juga.
__ADS_1
"Bukan begitu caranya laki laki memperlakukan wanita bian, kau buang begitu saja dia, kau biarkan dia menderita sendirian" dokter rino meluapkan emosinya menggebu gebu.
"Buat apa kau temui dia lagi?, saat ini dia dalam terapi pemulihan mentalnya, dia tidak bisa dikagetkan tiba tiba seperti itu, kau hampir saja membunuhnya" lagi lagi dokter rino memberikan penjelasan yang membuat bian shock.
"Paman, aku bermaksud meminta maaf kepadanya, tapi tak kusangka reaksi akan separah ini" bian mwnco menjelaskan permasalahannya.
"Jantung shira lemah bian, dia tak seperti dulu lagi, sedikit saja kejadian yang menyebabkan trauma nya muncul akan membahayakan nyawanya, bahkan bisa membunuhnya" ucap dokter Rino.
"Trauma?" apa yang terjadi dengan shira paman? bian mulai merasakan ada sesuatu yang janggal pada shira.
"Kau tak tahu? lalu kenapa kau meminta maaf kepadanya?" dokter Rino mengernyitkan dahinya menghadapi bian.
"Itu saja? apa kau yakin,?" pertanyaan dokter rino seakan memanci rasa ingin tahu bian lebih dalam.
"Paman, bisakah aku mendapatkan semua yang belum aku ketahui?" bian memohon.
"Hmmm, dasar anak muda, untung saja kau keponakan ku, kalau tidak pasti kau sudah ku laporkan ke polisi, atas tuduhan menghamili seorang gadis dan tidak bertanggung jawab" .
Duarrrrrr...
Jantung bian serasa meledak mendengar ucapan dokter sekaligus pamannya itu.
__ADS_1
"Ma..maksud paman?" bian berusaha mencerna.
Dalam dua hari kepulangannya ke indo sudah terlalu banyak fakta mengejutkan yang dia dapatkan. Otak nya sudah tidak mampu berpikir dengan jernih.
"Kau meninggalkan shira saat dia sedang hamil, orang tua nya memaksanya untuk menikah dengan pria tua dan dijadikan istri keempat, itu semua karena ingin menutupi malu atas perbuatan mu" dokter Rino menunjuk bian agar memberikan rasa penyesalan kepada laki laki itu.
"Apa? shira hamil?" bian berusaha menolak penjelasan dari dokter Rino.
"Kau mau aku teruskan?" tanya dokter itu lagi.
Bian mengangguk dan berusaha memfokuskan dirinya kembali.
"Tenangkan dulu dirimu, karena apa yang aku akan ceritakan akan semakin membuat mu menyesal" ancam dokter Rino.
Bian duduk di sofa yang ada di ruangan dokter itu, tubuhnya gemetaran. Rasanya untuk berdiri pun di kesulitan.
Dokter Rino menyerahkan sebotol air mineral kepada ponakannya itu.
"Kau minumlah, wajahmu sudah seperti kain kafan" ejek dokter itu.
"Terimakasih paman" bian meminum air itu dan bersiap menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan pamannya itu.
__ADS_1