Dendam Cinta CEO Tampan

Dendam Cinta CEO Tampan
penyesalan yang menyakitkan


__ADS_3

"*Laki laki tua yang menjadi suami shira itu ternyata seorang yang sakit jiwa, setiap hari shira disiksa dan disakiti. Tetapi hebatnya wanita itu, dia masih bisa mempertahankan kandungannya, saat keluarga dan suaminya melakukan berbagai cara untuk menggugurkan kandungannya dia bisa bertahan.


Dan kau tau bian, shira belum pernah disentuh sama sekali oleh suaminya itu, dia lebih memilih disiksa asalkan tubuhnya tetap aman dari jamahan laki laki itu".


Dokter rino melempar beberapa foto kearah bian. Tubuh bian langsung ambruk saat itu juga, dia melihat foto itu dengan tatapan tak percaya.


"Itu kondisi terakhir shira saat kepolisian menemukannya, menurut ART dirumah itu, sebelum polisi datang perut shira yang tengah hamil besar ditendang dan diinjak oleh laki laki itu. Shira mengalami kejang dan tak sadarkan diri saat itu juga. Janinnya tak dapat diselamatkan dan shira koma hingga hampir satu bulan". Dokter Rino tak lagi melanjutkan ceritanya karena melihat kondisi bian yang terpuruk.


"Paman, kenapa kau tak memberitahukan ku tentang kondisi shira?" tuntut bian.


"Saat awal aku tak mengetahui sama sekali kondisi shira, karena bukan aku yang menanganinya. Kau tahu kan, aku seorang dokter yang mengobati psikologis pasien. Aku baru mengetahui semuanya saat melakukan terapi beberapa bulan ini kepadanya.


Kupikir kau tak akan kembali, dan shira meminta ku untuk tidak memberitahu mu. Dia hanya ingin menghilangkan trauma nya saja, dia tak menaruh dendam kepada mu" ucap dokter rino.


"Shira saat ini berbeda dengan yang dulu, dia menutup diri bahkan berusaha menghindar dari penglihatan orang orang. Dia lebih nyaman sendirian tanpa orang lain, kau hebat bian, kau berhasil menghancurkannya" sindir dokter Rino.

__ADS_1


Bian merasakan sebagian dari nyawa melayang. Tubuhnya terus gemetaran dan berkeringat.


"Shira, hamil,aku membunuh anakku sendiri" kata kata itu terus berputar putar dibenak bian saat ini.


"Paman, bagaimana kondisinya saat ini? izinkan aku menemui nya paman" bian memohon.


"Dia masih dalam pengaruh obat penenang, untuk sekarang kau boleh menemuinya, tapi saat nanti dia sadar paman minta kau jangan pernah muncul dihadapannya. Patuhi itu atau kau akan mendapatkan nya dalam keadaan tak bernyawa.


Trauma yang dialami shira adalah masalah serius bian, kau tak bisa main main dengan kesehatannya.


"Aku pamit paman" bian segera berlari memasuki ruangan perawatan shira.


Sampai di depan pintu bian terpaku, langkah nya terasa berat melihat shira yang tengah tertidur dengan bantuan alat pernafasan di sekujur tubuhnya.


Bian memberanikan diri memegang tangan shira. Terasa dingin dan lemah, tangan itu tampak lebih kurus dibandingkan setahun yang lalu. Bian tak lagi bisa menahan dirinya, dia mengecupi tangan shira, dia terisak, air mata membasahi tangan yang terus dipegangnya dengan posesif itu.

__ADS_1


Dokter rino yang memantau dari luar interaksi antara bian dan shira hanya bisa diam. Dia tak tahu harus berbuat apa.


"Di matanya tampak jelas dia sangat menyayangi shira, tapi kenapa dia tinggalkan? dasar anak bodoh" gumam dokter Rino.


Tubuh shira tiba tiba mengejang saat bian hendak memeluknya, monitor jantung yang terpasang di sebelah nya pun menunjukkan gelombang yang tak beraturan.


Bian panik dan berteriak histeris. Dokter Rino segera masuk dan mengusir bian dari ruangan itu.


"Kau lihat dia sekarang, bahkan dalam keadaan tidak sadarpun tubuhnya bereaksi saat didekati, pergilah dan jangan coba menemui nya lagi, atau kau akan melihat jasadnya terbujur kaku" ucap dokter rino tajam.


Suster dan dokter di ruangan itu bekerja keras mengembalikan kondisi shira ke keadaan normal. Sementara bian terduduk lemas dilantai, didepan ruangan itu.


Habis sudah harapannya, dia benar benar sudah kehilangan shira.


T_T

__ADS_1


__ADS_2