
malam berlalu begitu indah buat Shira dan bian, mereka berdua saat ini sama sama tersenyum di kamarnya masing masing.
pak ananta pun bersikap manis kepada shira malam ini, walaupun shira pulang sedikit terlambat tidak ada bentakan yang keluar dari mulutnya, tak biasanya seperti itu
Shira memeluk guling di kamarnya sambil memegang bibirnya yang tadi dikecup bian, bahagia.. hanya bahagia yang saat ini menemaninya, akhirnya seseorang datang dalam kehidupannya dan membuat hari harinya lebih indah dan berwarna, begitu pula dengan bian.
saat ini pemuda tampan itu tak bisa tidur, wajah Shira dengan senyum manisnya serta tingkah malu malunya menguasai pikiran bian, dia merasakan rindu tak tertahan kepada gadis itu, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah
"sadar bian,,sadar..ingat misi loe" bian merutuk dirinya sendiri
karena tak kunjung bisa memejamkan mata, bian berinisiatif keluar dari kamarnya, dia mau mengambil minum di dapur untuk membasahi tenggorokannya
"mama.." bian melihat mamanya saat menuruni tangga hendak ke dapur
bian langsung menghampiri mamanya yang sedang menangis memeluk foto almarhum papanya.
"mama kenapa menangis?" tanya bian khawatir
"mama rindu papa nak" jawab mamanya sesenggukan
"papa udah tenang mah disana, kita doakan saja ya!" ujar bian
"tidak,,papa tidak akan tenang sebelum pembunuh sialan itu hancur, kita harus menghancurkan keluarga mereka, kita harus bikin mereka menderita seperti apa yang mereka perbuat kepada keluarga kita!" mama bian berteriak histeris
__ADS_1
bian sangat bersedih dengan reaksi mamanya, sebenarnya bian mulai ragu dengan misinya untuk menghancurkan shira dan keluarganya, bian bingung dengan perasaannya saat ini
"kamu udah janji mau balasan dendam papa nak, kamu jangan lupakan itu!" mama bian kembali histeris
bian langsung memeluk mamanya, "iya ma, bian akan balaskan dendam papa, bian janji mah, bian janji" ucap bian menenangkan mamanya
"hufftt.." bian menarik nafas berat
"kalian sudah bikin Mama merasakan sakit seperti ini, aku akan menghancurkan kalian semua!" gumam bian penuh dendam, bian menutup matanya saat bayangan senyum shira muncul di ingatannya,
"bersiaplah kamu gadis bodoh" seringai bian
bian kembali ke kamar setelah berhasil menenangkan mamanya, wanita itu saat ini telah tertidur pulas di kamarnya,
bian melihat sekilas jam dinding kamarnya
bian mengambil handphone yang ada di nakas sebelah ranjangnya, mengetik sesuatu...
"apakah kamu sudah bangun?"
bian mengirimkan pesan kepada shira,
ddrrtttt... ddrrtttt...5 menit berselang ada balasan pesan di handphone bian
__ADS_1
"sudah kak, baru saja selesai sholat malam, kenapa kamu bangun sepagi ini? balasan pesan dari Shira
"kamu harus tanggung jawab, aku belum tidur sama sekali, karena kamu terus gangguin aku" bian kembali mengirim balasan kepada shira
"maaf kak, tapi sayangnya aku merasa tidak melakukan kesalahan" balas Shira lagi
bian tersenyum membaca pesan balasan shira, karena tidak sabar dia segera menelepon shira
"hallo kak" terdengar suara shira yang lembut menjawab dari seberang telepon
"hallo sayang, aku merindukanmu" ucap bian
" istirahat lah kak, nanti kamu bisa sakit kalo tidak tidur" ucap Shira
deg..degg... perhatian kecil dari shira mampu mendebarkan hati bian
"iya sayang, tapi aku kau dengar suara kamu dulu"
tak berapa lama saat mereka tengah asyik bertelepon terdengar suara adzan subuh
"kak, ayo kita sholat dulu" shira mengingatkan bian
"ya udah, kita sholat di kamar masing-masing ya, tunggu bentar lagi aku akan jadi imam sholat kamu di kamar kita" bian mengucapkan kalimat yang bikin shira tersenyum
__ADS_1
"amin, udah ya kak, assalamualaikum" shira buru buru menutup teleponnya, jantungnya berdebar-debar sangat kencang saat ini mereka sama sama tersenyum saat ini, di dua tempat yang berbeda
ahh indahnya cinta mereka