
hari demi hari berlalu begitu indah, tak terasa sudah 6 bulan hubungan antara bian dan shira terjalin, selama itu tak pernah sekalipun bian menyakiti shira, wanita itu benar benar merasa sangat beruntung disayangi oleh seorang bian aryasatya.
perlakuan keluarga angkat shira pun kepadanya banyak berubah, mereka tak lagi sekasar dulu, itu karena mereka mendapatkan banyak keuntungan sejak shira berpacaran dengan bian,
tanpa sepengetahuan shira, ananta sering meminta uang ataupun benda kepada bian, dia selalu beralasan untuk kebutuhan shira, dan bian pun tak terlalu mempermasalahkan soal semua yang diberikannya untuk keluarga shira, karena kekayaan yang bian miliki tak akan habis 10 turunan
bian sebenarnya mulai melupakan misinya untuk membalas dendam keluarganya kepada keluarga shira. dia begitu terlena dengan cintanya kepada shira, gadis itu begitu apa adanya dan tak pernah sekalipun membuat bian repot, bahkan selalu memberikan perhatian kecil kepada bian yang membuat pria itu tak bisa membendung perasaan cintanya yang begitu besar kepada shira
kehidupan bian yang dulu hura Hura dan selalu bergonta ganti pasangan sekarang sudah jauh berubah, bian tak lagi berminat dengan gadis gadis cantik yang menggodanya. bian tak lagi menghabiskan malam di club, dia lebih memilih menghabiskan waktu dikamarnya saat malam hari, bertelepon ria dengan kekasih pujaan hatinya.
bian pun telah menyelesaikan kuliahnya, tinggal menunggu wisuda saja, hingga saat ini dia fokus untuk mengelola perusahaan besar milik keluarganya, karena bian anak laki laki satu satunya dari keluarga aryasatya maka menjadi CEO adalah jabatan yang harus dijalankannya.
__ADS_1
drttt...drtttt suara handphone bian bergetar pertanda ada panggilan masuk. saat ini dia sedang bersantai di kamarnya sambil mengecek laporan perusahaan di laptopnya.
"Ya hallo ma"
"kamu kapan mau menghancurkan keluarga penjahat itu?" terdengar suara mamanya yang tanpa basa basi menanyakan perkembangan misi yang sedang mereka jalani.
bian tersentak dengan ucapan mamanya yang kembali menyadarkan akan misinya yang belum tercapai.
saat ini mamanya sedang berada di London Inggris untuk mengurus aset keluarga yang ditinggalkan mendiang papanya, sekaligus untuk menenangkan diri setelah kepergian papanya yang tragis.
"mama masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan disini, dan kamu belum jawab pertanyaan mama tadi, kamu gak lupa kan dengan tugas kamu untuk membalas kematian papa?" mama bian kembali menegaskan.
__ADS_1
"Iya ma, bian gak lupa, mama tenang aja, pasti segera kita lihat kehancuran mereka" terdengar keraguan dalam ucapan bian kali ini.
"Ya sudah nak, mama tunggu secepatnya kabar itu, kamu beristirahat lah!" perintah mamanya sebelum menutup obrolan dan sambungan teleponpun dimatikan
Bian mengacak acak rambutnya untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Disatu sisi dia terjebak dengan perasaannya sendiri kepada Shira, dia terlanjur nyaman berada di samping gadis itu, dan dia mulai melupakan dendamnya untuk membalas kematian papanya. Yang diinginkan dia saat ini adalah terus melihat senyuman Shira dan membahagiakan gadis itu.
"Argghhhh"...bian berteriak gundah.
"bodoh banget sih gue, kenapa coba gue kebawa perasaan gini, jadi ribet semuanya" bian merutuk dirinya sendiri
Malam semakin larut tapi tak sedikitpun bian merasakan kantuk, suasana hatinya saat ini sungguh buruk, peringatan dari mamanya tadi terus terngiang-ngiang di benaknya.
__ADS_1
Akhirnya menjelang subuh bian terlelap karena kelelahan berpikir.