Dendam Cinta CEO Tampan

Dendam Cinta CEO Tampan
Tekad untuk mempertahankan cinta


__ADS_3

Ddrrtttt...drtttt...


Getar handphone bian berhasil mengusik mimpinya, tanpa melihat siapa yang menelepon bian langsung menjawab telepon itu.


"Hallo"


"Assalamualaikum kak bian, kakak dimana? gak jemput akunya hari ini?" terdengar suara lembut dari ujung telepon yang sukses membuat kantuk bian hilang.


"Eh sayang, maaf kakak ketiduran, jam berapa sekarang?" tanya bian yang masih belum loading.


"Kakak habis lembur ya?, aku udah di kampus kak, karena ada kuis pagi".


"Aku cuma ngabarin kakak aja"


Bian mengucek mata untuk menghilangkan sisa kantuknya, dilihatnya jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


"Owh ya ampun aku kesiangan yang, maafin ya, aku gak bisa tidur, baru tidur habis subuh" bian menjelaskan kondisinya kepada shira

__ADS_1


"Kakak lagi mikirin apa? lagi ada masalah?" tanya shira khawatir


"Biasalah yang masalah di kantor, justru masalah aku paling berat itu mikirin kamu, aku rindu berat sama kamu" goda bian


"Hahaha.. genitnya sayang aku nih" Shira ikut menimpali godaan bian


"Ya udah aku masuk kelas dulu kak, sebentar lagi kuliah mulai" pamit Shira


"Iya sayang, belajar yang bener ya, cepat lulus biar segera aku lamar jadi nyonya bian aryasatya" goda bian lagi


jantung Shira hampir loncat mendengar ucapan bian, wajahnya bersemu merah


Tutttt...tutttt


sambungan telpon terputus. Shira gak bisa mengendalikan hatinya, karena itu dia buru buru mematikan teleponnya, dia takut detak jantungnya akan terus mempersulitnya karena mendengar gombalan bian.


Sementara bian tersenyum sendiri dikamarnya membayangkan wajah shira yang bersemu merah karena digoda. Ahhh membayangkan itu saja sudah cukup mengembalikan mood bian pagi ini, tubuhnya terasa ringan dan hatinya tentu saja bahagia. Bian telah memutuskan untuk sementara mengabaikan perintah mamanya. Yang ingin dilakukannya saat ini hanyalah mengumpulkan kebahagiaan sebanyak mungkin bersama shira kekasih tersayangnya. Dan jika sampai saatnya nanti mereka berpisah biarlah takdir yang bicara.

__ADS_1


Bian memutuskan untuk mandi dan bergegas ke kantornya, semenjak kematian papanya dia tentu saja disibukkan dengan dunia bisnis warisan papanya, sesekali bian dan mamanya juga ikut berbagi tugas memantau puluhan cabang perusahaan mereka yang berada di dalam dan luar negeri. Dan karena hal inilah bian jarang berjumpa dengan shira, rutinitas antar jemput pun sudah mulai banyak terlewatkan, tapi komunikasi diantara mereka tak pernah berkurang, setiap malam sebelum tidur bian dan shira selalu bertatapan melalui video call. Bian sungguh merindukan kekasihnya saat ini, aroma vanilla dari tubuh shira selalu bisa menghilangkan jenuhnya hidup bian.


Sesampainya di kantor bian langsung disambut sekretaris sekaligus sahabatnya devano, mereka memang bagaikan kembar Siam, selalu bersama di kampus maupun di kantor, mungkin saja yang tidak mengenal mereka akan mengira mereka pecinta sesama jenis. Karena dimanapun bian berada disitulah ada vano.


"Bos,ada banyak meeting hari ini dari pagi sampai sore!" ucap devano mulai membacakan kegiatan bian


"hufttt..pagi sampai sore ok, tapi gue ga mau lewat dari jam 6, gue mau jemput shira, udah kangen gue" sahut bian


"Yaelah, pacar pura pura aja Ampe segitunya loe belain" ledek vano


Bian melempar tatapan tajam tak suka dengan ucpaan Vano barusan.


"Hehehe, sorry bos, becanda" vano nyengir melihat bos di depannya yang seolah ingin menerkamnya.


"Loe jangan main api bos, takutnya loe terbakar yang repot gue lagi" nasehat vano sembari berlalu keluar dari ruangan bian


Bian merasa ucapan vano kali ini ada benarnya, dia telah bermain main dengan perasaannya, dia harus menghentikan semua ini, dia bertekad akan menemui mamanya dan mempertahankan Shira.

__ADS_1


__ADS_2