
Bian memutuskan untuk memantau akun sosial media shira. Gadis itu memang cukup sering mengupdate kegiatannya di sosmed.
Mata bian terbelalak saat melihat banyak postingan dari orang orang yang di taq ke akun Shira, ada beberapa video dan potongan berita online tentang sebuah kecelakaan.
Bian memfokuskan dirinya menyimak apa saja yang ada disana, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sebuah foto shira sedang diangkat kedalam ambulans. Wajah Shira dan beberapa bagian tubuhnya penuh luka dan berdarah. Foto itu cukup jelas terpampang disana.
Bian segera menelepon asisten sekaligus sahabatnya vano, "buruan loe cari tau apa yang terjadi sama shira, gue tunggu kabarnya secepat mungkin!" perintah bian tanpa basa basi saat telepon baru tersambung
Ketakutan bian benar terjadi, gadis kesayangannya itu memang tak bisa ditinggal terlalu lama, dia begitu lemah jika sendirian, selama ini bian lah yang selalu menjaganya. Dan rasa bersalah menyusup kedalam hati bian saat ini. 5 hari dia menghilang dari shira, pasti gadis itu kebingungan, bian mengepalkan tangannya menahan amarah, dia merutuk dirinya sendiri karena telah berbuat bodoh mengabaikan shira.
Tak lama handphone yang ada di genggamannya berbunyi, segera bian mengangkat benda tersebut di deringan kedua
__ADS_1
"Shira kecelakaan bro, dia diserempet mobil saat pulang dari cafe tempat kerjanya 2 hari yang lalu. Kondisinya saat ini tidak terlalu parah, hanya perlu perawatan ringan, dan udah gak dirawat di rumah sakit lagi" vano melaporkan secara detail informasi yang didapat dari anak buahnya.
"Besok pagi gue balik ke Jakarta, siapkan semua dokumen yang diperlukan untuk kepulangan gue secepatnya!" perintah bian lagi ke vano
"Siap bos" ucap vano menyahuti perintah bos sekaligus sahabatnya itu
Bian menatap layar handphonenya, ada seorang gadis manis yang sedang tersenyum malu disitu, ya foto shira yang diambil diam diam oleh bian saat ini menjadi penghuni layar handphonenya. Bian selalu merasa damai saat melihat senyuman itu.
Pagi menjelang, bian terbangun saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Rasanya baru beberapa jam dia tertidur, tubuhnya sangat lelah, tetapi saat mengingat ada banyak urusan yang harus diselesaikan hari ini, terutama permasalahan dengan mamanya yang belum kunjung menemukan titik terang bian akhirnya bergegas bangun.
Mamanya saat ini melancarkan aksi mogok bicara, dia tak menyahuti sama sekali apapun yang bian bicarakan, bian tak menyerah, dia yakin hati mamanya akan luluh dengan perjuangannya.
__ADS_1
"Pagi ma" bian mendekati meja makan dan mencium pipi wanita yang sangat disayanginya itu.
"Bu Gita, mama bian tak berekspresi apa apa, dia tetap mengunyah makanan yang ada di piringnya.
"Mama masih betah disini?, kapan mama balik ke Jakarta?" tanya bian lagi
Mamanya tak bergeming, diam seribu bahasa.
"Hmmm"...tarikan nafas Bian terasa berat.
"Bian pagi ini balik ke Jakarta mah, banyak pekerjaan yang harus bian selesaikan" ucap bian hati hati.
__ADS_1
"Ya pulanglah, tapi yang perlu kamu ingat, mama tidak mengijinkan gadis sial itu merebut hati kamu, apapun yang terjadi walaupun tanpa kamu mama tetap akan membalas dendam" ucap Bu gita sambil berlalu dari meja makan.
Bian mengepalkan tangan menahan emosinya, dia tak menyangka hati mamanya sekeras batu, sangat sulit untuk dirubah.