
"Mah, bian boleh masuk? tanyanya setelah membuka pintu kamar yang tidak dikunci oleh mamanya.
"Bian pamit mah, penerbangan sudah disiapkan, satu jam lagi akan take off" ucap bian
Bu Gita masih tidak bergeming, dia saat ini duduk menghadap jendela dan memunggungi bian.
"Maafkan bian mah" bisik bian sambil memeluk mamanya dari belakang.
Walaupun bian terkenal dengan pencitraannya sebagai seorang CEO dengan aura dingin yang mampu mengintimidasi para musuh musuhnya, tetapi jika berhadapan dengan orang yang disayanginya dia akan bertingkah sangat manja, seperti bocah kecil yang tidak segan bergelayut manja. Seperti saat ini dia berusaha mendapatkan maaf dari mamanya dengan jurus manjanya.
Dengan shira pun bian bertingkah layaknya anak kecil, sangat manja dan menggemaskan. Tapi sekali saja wanitanya diganggu orang lain, dia akan kembali mengeluarkan aura devilnya, menghancurkan semua musuh dengan tangannya sendiri.
"Pergilah!" ucapan singkat dari wanita paruh baya kesayangannya itu mampu memunculkan senyum di wajah bian.
"Makasih mah, mama jaga kesehatan ya, bian sayang mama!" ucapnya kembali memeluk wanita itu.
*7 jam berlalu*
Bian mengetuk ngetik jarinya tak sabar menunggu pesawat yang ditumpanginya landing sempurna. Perjalanan panjang yang ditempuhnya didalam pesawat sama sekali tidak membuat tubuhnya lelah, bahkan untuk memejamkan mata saja dia tak mampu.
Semangatnya untuk menumpahkan rindu kepada kekasih hatinya begitu membuncah, dia melupakan rasa lapar, kantuk dan lelah yang saat ini melandanya.
"Segera kerumah Shira!" perintah bian saat memasuki mobil yang sudah menjemputnya di bandara.
Didalam mobil bian tak hentinya menggenggam sebuah kotak kecil berbentuk hati yang sedari tadi disimpan di kantong jasnya.
__ADS_1
"Bersiaplah sayang, aku akan menghalalkanmu" gumamnya sambil tersenyum
Tak berapa lama sampailah mobil bian diteras depan rumah Shira. Situasi dirumah tampak sepi dengan pintu yang tertutup.
Tokkk....tokkkk...
Bian mengetuk pintu beberapa lama
CEKLEKKK...Pintu terbuka
Bian mematung melihat gadis yang sangat dirindukannya berada didepannya saat ini. Sebagian dahi Shira tampak ditutup perban.
"Kakak" ucap Shira lirih saat melihat siapa yang bertamu kerumahnya
"Kak, jangan terlalu kencang pelukannya, aku ga bisa nafas!" bisik shira setelah beberapa lama bian memeluknya dan tak tampak hendak melepaskan.
Bian tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Ditangkupnya wajah yang sangat dirindukannya itu dengan kedua telapak tangannya.
"Aku merindukanmu sayang"
Cup...
Bian mulai memberikan ciuman lembut di bibir Shira. Semakin lama semakin dalam dan menuntut.
Shira memukul dada bian yang kembali menekannya, dengan sedikit dorongan akhirnya ciuman panas itu terlepas.
__ADS_1
"Kak, aku ga bisa nafas lagi dong" omel shira sambil memasang mimik wajah gemeshh.
Bian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf sayang, ini karena aku sangat rindu sama kamu, dan ini (sambil mengelus bibir shira dengan jarinya) membuat aku tidak bisa menahannya" ucap bian lagi.
"Aku gak disuruh masuk?" tanya bian yang menyadari posisi mereka saat iniasih didepan pintu.
"Eh iya lupa" ucap shira sambil nyengir
"Silahkan duduk kak, aku bikin minum dulu" ucap shira lagi
"Ga sayang, aku kesini mengkhawatirkan kondisi kamu, jangan banyak bergerak, aku gak mau kamu bikinkan minum" jawab bian
"Kesinilah" bian menepuk sofa di sebelahnya meminta shira mendekat kepadanya
"Gimana kondisi kamu? maafkan aku ga temani kamu disaat kamu butuh aku" bian berbicara sembari menatap shira dengan penyesalan.
"Aku pikir kakak sudah tidak peduli sama aku" ucap shira sambil menundukkan wajahnya.
deg...
Satu kalimat itu saja mampu menggetarkan hati bian.
Maafkan aku...
__ADS_1