Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 10. Rapat 3 serangkai


__ADS_3

Kali ini bukan hanya Draco yang dibuat repot dengan rencananya sendiri. Sebuah rencana untuk menyatakan perasaannya terhadap Calandra tapi Raline dan Hakim juga dibuat repot oleh Draco guna mempersiapkan acara pernyataan rasa sukanya tersebut.


“Jadi apa tugas gue nih?“ tanya Raline berantusias saat diundang oleh Draco ke rumahnya untuk rapat acara penting bagi Draco kali ini.


“Tugas lo simple bin mudah banget kok, lin. Lo cukup cari tahu semua hal yang menjadi kesukaan si Calandra,”jawab Draco.


“Wah sebenarnya tugas ini susah susah gampang sih menurut gue,” tukas Raline.


“Kenapa emangnya, kok begitu?“ tanya Hakim penasaran.


“Pertanyaan 'apa kesukaan lo' itu terlalu jelas,” jawab Raline.


“Jelas bagaimana nih maksud lo?“ Hakim bertanya lagi karena justru makin kebingungan.


Draco kali ini yang justru menjawab pertanyaan dari Hakim sambil merapikan rambutnya, “Terlalu jelas kalau si Raline ini sengaja diutus seseorang buat cari tahu.“


“Kalau gitu, ribet dong ya berarti,” balas Hakim yang mulai mengerti alur pembicaraan.


“Nah itu dia. Gue harus pelan-pelan banget mengamati si Calandra ini. Kalau gue terlalu terburu-buru dan gegabah nanti si Calandra bisa langsung curiga sama deretan pertanyaan dari gue itu,” ujar Raline memberi penjelasan.


“Jadi lo mau bergerak cepat apa lambat nih co?“ tanya Hakim sambil berusaha mengatur strategi.


“Ya udah intinya mah gini, sekarang mah kalian bantuin gue aja dulu buat bikin persiapan rencana penembakan gue ke Calandra. Kita ambil dan kumpulin apa aja yang jadi kesukaan si Calandra yang udah kita tahu sampai saat ini,” Draco memberi instruksi.


Hakim dan Raline terbawa rasa bergelora dan semangat dari Draco lalu mereka dengan senang hati menyetujui untuk membantu misi pernyataan cinta dari Draco ke Calandra itu.


Draco sempat berpikir sejenak lalu bertanya pada Raline, “Menurut lo Calandra suka makan malam romantis ga sih, lin?“


“Menurutn gue ya, kemungkinan dia suka sih kecil co. Kayaknya kalau gue perhatiin si Calandra itu lebih suka jalan-jalan ke alam gitu. Kayak pergi ke gunung atau bisa juga main ke pantai.”


“Jadi menurut lo nih, lebih baik kalau gue mengutarakann perasaan hati gue ke Calandra di alam terbuka aja, gitu?“


“Tapi kalau niat lo kayak gitu, coba bayangin tempat kayak gunung atau pantai terdekat dari sini dimana? Jarak tempuh berapa lama? kita ini perlu waktu yang cukup lama buat sampe ke tempat yang bagus. Nah sementara liburan sekolah tuh masih lama banget,” celetuk Hakim sambil memberi gambaran.


Draco memangku dagu dengan tangan kanannya dan kemudian berkata, “Bener juga sih lo, kim.“

__ADS_1


“Gimana kalau lo bilang suka sama si Calandra waktu di sekolah aja!?“ Hakim mengusulkan.


“Dengan cara yang biasa-biasa aja?“ tanya Raline.


“Ya jangan dong. Pake cara yang ngga biasa tentu, harus heboh.“


“Ngga ah, gue malu. Terlalu banyak orang yang kenal gue dan Calandra. Belum nanti para guru yang pasti lihat dan komplen. Jangan di sekolah lah” jawab Draco tidak setuju dengan usul dari Hakim itu.


“Bener tuh co. Malu tahu, Hakim,” timpal Raline menjewer telinga kiri Hakim.


“Jadi gimana dong?“ gerutu Hakim merasa frustasi karena dia sudah tak menemukan cara lain lagi.


Ketiga sahabat itu kembali terdiam, tenggelam dalam skenario masing-masing di dalam kepala mereka. Namun sepertinya ketiganya belum mendapatkan satu ide pun yang sesuai dengan keinginan mereka.


Namun di saat Draco, Raline dan Hakim sedang sibuk mencari ide di dalam otak masing-masing, ponsel Raline berbunyi. Dengan malas Raline meraih ponsel di dalam tas miliknya itu dan di atas layarnya tertulis nama Calandra sebagai penelepon.


“Calandra nih,” ujar Raline dengan heboh dan panik.


“Kok dada gue kayak bergetar hebatnya? Padahal dia nelponnya ke lo bukan ke gue,” ujar Draco juga ikut merasa panik.


“Stttt… “ ujar Hakim memerintahkan Hakim untuk berhenti berbicara karena tak ingin Calandra tahu mereka sedang berkumpul bertiga.


“Halo, ada apa Cal?“ tanya Raline saat dia menjawab telepon dari Calandra.


“Lo sekarang lagi ada dimana lin?“ tanya Calandra di ujung telepon.


“Gue? E… gue ini sekarang lagi ada di… di rumah om gue,” jawab Raline tergugup.


“oh, lo lagi ada acara keluarga ya?“ tanya Calandra merasa tak enak karena mengganggu Raline.


“Ngga kok. Ini gue cuma lagi temenin nyokap buat anter kado,” jawab Raline seadanya.


“Oh gitu. Eh lin, lo udah tahu belum, ada film barunya Vino G Bastian di bioskop,” ujar Calandra dengan riang dan penuh semangat.


“Eh iya kah? Udah keluar film barunya?“

__ADS_1


“Belum sih. Minggu depan kalau ngga salah filmnya baru tayang di bioskop. Kita nonton bareng yuk,” ajak Calandra begitu bersemangat.


“Boleh, boleh. Kapan kita nontonnya?“ balas Raline tak kalah bersemangat karena dia paling suka jika diajak nonton di biokop.


Kebetulan Vino G Bastian adalah salah satu aktor kesukaan mereka. Bahkan Calandra tak pernah satu kali pun melewatkan film atau sinetron bahkan video klip yang di dalamnya ada Vino.


“Ya minggu depan aja. Biar kita kebagian nonton di awal-awal,” balas Calandra bersemangat.


“Okey. Besok kita omongin ini lagi di sekolah,” timpal Raline.


“Okey lin. Besok ya kita omongin lagi rencana nonton kita ini. Bye lin.“


“Siap Cal. Bye Cal.“


Setelah Raline memutus sambungan telepon itu Hakim berkata, “Apa kalian mikirin apa yang bue pikirin?“


Draco menatap Hakim tajam seolah dia berkata bahwa dia tak mengerti dan menunggu jawaban dari Hakim.


“Jangan bilang, kalau menurut lo mending si Draco mengutarakan perasaannya ke Calandra minggu depan, waktu gue sama Calandra nonton filmnya Vino?“


“Ah masa lo kalah pinter dari Raline sih co,” gerutu Hakim.


“Wah gila lo. Mepet amat waktunya kalau gitu sih,” kali ini Draco yang menggerutu.


Raline berpikir sejenak lalu menyetujui ide dari Hakim, “Tapi bener juga si Hakim. Salah satu hal favorit si Calandra itu kan, Vino G Bastian ini. Calandra bakal bahagia banget kalau dia ditembak habis nonton film Vino. Geu bisa banyangin muka senengnya si Calandra, Abis nonton idolanya terus ditembak laki-laki yang dia suka.“


“Hah… itu maksud gue. Ngerti kan lo lin,” timpal Hakim.


Draco merenung, mencoba menimbang-nimbang apakah waktu satu minggu itu cukup buat dia mempersiapkan acara pernyataan cintanya pada Calandra.


“Gimana co?“ Hakim menunggu jawaban Draco.


“Gue pikirin dulu deh,” jawab Draco.


“Segala di pikirin. Kan gue sama Raline juga bantuin lo. Ngga kita suruh lo urusin ini semua sendiri.“

__ADS_1


“Iya, gue pasti bantu lo sih co,” sambung Raline.


__ADS_2