
Mendengar perkataan Rere, teman Hakim, Draco dan Raline semasa SMP soal Draco dan Irma yang kembali menjalin hubungan percintaaan, membuat Calandra seperti tak lagi menapakan kaki di tanah.
Jiwa Calandra seolah tercabut dari raganya sendiri untuk beberapa saat, membuatnya berada antara sadar dan tidak sadar serta seolah tak bisa mendengar suara yang ada di sekitarnya.
“Cal… “ panggil Hakim.
Beberapa kali Hakim harus mencoba memanggil hingga akhirnya Calandra bisa kembali tersadar dan kembali keadaan semula.
“Tadi gue salah denger apa ngga sih kim?“ tanya Calandra, masih menolak untuk percaya dengan apa yang di dengarnya tadi dari Rere.
“Kita balik yuk Cal,” Hakim berusaha mengalihkan perhatian Calandra dari pikirannya sendiri.
“Tadi temen lo bilang kalau Draco sama Irma balikan, bukan?“ Calandra sudah tahu kenyataannya tapi dia terus berusaha menyangkalnya.
“Cal… gue anter lo pulang dulu yuk. Nanti, kita bahas lagi masalah Draco sama Irma."
"Kim, gue salah denger kan ya?"
*****
Sesuai janji Hakim pada Raline, sore itu juga, setelah mengantarkan Calandra pulang sampai rumah dan memastikan bahwa Calandra baik-baik saja, Hakim langsung menyambangi rumah Raline dan menceritakan semua hal yang dia dengar dari Rere saat dia dan Calandra berada di depan SMA Bintang Gemilang.
“Asli ini? si Rere bilang gitu?“ ujar Raline yang terkejut.
“Gue juga kaget, lin. Gue pikir si Draco sama Irma ngga sampe balikan lagi,” balas Hakim.
“Bahkan Draco ngga minta pendapat kita sama sekali!? Itu anak kenapa sih sekarang?“ Raline masih merasa keheranan dengan perubahan sikap Draco yang terlalu mendadak.
“Apa mungkin, karena dia pikir kita bakal ada di pihak Calandra?“ Hakim berusaha menerka.
__ADS_1
“Ya gimana ya!? Gue sih udah pasti ada di pihak Calandra sih.“
“Atau ada yang lebih menyedihkannya lagi, kalau ternyata si Draco udah ngga nganggep kita sahabatnya lagi,” suara Hakim terdengar amat sedih.
“Tapi gue ikut sedih sih buat Calandra. Dia pasti merasa hancur banget saat ini. Draco yang biasanya perhatian banget, ngasih dia kejutan bertubi-tubi mendadak kayak orang asing.“
“Waktu gue anter dia balik ke rumah, sepanjang jalan cuma dia nangis, gue bahkan ngga berani nanya apa yang dia rasain. Kalau lihat Calandra kayak tadi, sumpah rasanya pengen gue tonjok tuh si Draco,” jawab Hakim penuh amarah.
"Maksud gue, kalau emang dia mau balik sama si Irma, kenapa dia ngga putusin aja dulu si Calandra. Kalau kayak gini kan smeua jadi amburadul," gerutu Raline.
Hakim terdiam, menecerna ucapan Raline yang semakin dia pikirkan menjadi semakin masuk akal dan semakin jadi hal paling benar yang seharusnya dilakukan oleh Draco sejak awal.
“Besok gue mau ke rumahnya si Rere ah,” ujar Raline.
“Eh, mau ngapai lo ke rumah Rere?“
"Kan udah jelas mereka pacaran lagi."
"Sejak kapan? Kapan dan dimana mereka ketemu lagi? Si Irma tahu ngga kalau si Draco udah punya pacar?"
"Ampun deh, detail amat pertanyaan lo lin."
"Itu juga belom semua sih. Masih ada yany bakal gue tanyain lewat Rere besok."
"Masih ada lagi? Kacau banget mahluk yang namanya perempuan," ledek Hakim.
“Raline…. “ terdengar suara seseorang memanggilnya dari luar rumah.
“Kayak ada yang manggil lo, lin. Siapa tuh?“ tanya Hakim.
__ADS_1
“Calandra bukan sih?“ Raline berusaha menebak.
“Iya. Itu suara si Calandra,” jawab Hakim setelah mendengar dengan cermat.
Lalu dengan cepat Raline dan Hakim berjalan menuju teras rumah.
Benar saja, di luar pagar rumah Raline berdiri Calandra dalam guyuran hujan yang cukup deras sore itu. Dengan cepat Hakim mengambil payung dan menjemput Calandra untuk sesegera mungkin masuk ke dalan rumah.
“Ngapain lo hujan-hujanan, Cal? Nanti lo bisa sakit,” ujar Raline penuh kekhawatiran sembari membawakan handuk bersih untuk Calandra dan menyelimuti kepala Calandra yang sudah lepek tertimpa air hujan.
“Gue mau minta tolong sama lo lin,” ujar Calandra sambil meremas handuk yang diberikan oleh Raline.
Setelah melempar pandangan ke arah Hakim, Raline memberanikan diri untuk bertanya kepada Calandra, “Gue bisa nolong lo apa Cal?“
“Tolongin gue, lin. Gimana caranya supaya gue bisa ketemu sama Irma.“
“Ngapain lo mau ketemu sama Irma Cal?“ tanya Hakim dengan nada kaget.
“Gue mau supaya Draco bisa memutuskan dan milih, antara gue atau Irma.“
“Cal…”
“Ngga apa-apa lin. Gue mau urusan yang nyiksa hati gue dan nyita pikiran gue ini cepet beres. Gue ngga mau fokus gue bercabang antara hubungan gue sama Draco dan mimpi gue buat bisa masuk universitas impian gue. Paling ngga gue harus fokus pada salah satunya sebelum akhirnya gue menyesal.“
Selama beberapa menit ruang tamu di rumah Raline menjadi begitu hening. Tak satu orang pun diantara mereka yang berani membuka mulut, seolah takut mengatakan hal yang salah.
“Apa pun. Apa pun yang nantinya yang bakal terjadi di ujung semua persoalan ini, lo dan lo, kim. Kalian akan selalu jadi sahabat terbaik dalam hidup gue.“
Dan kemudian, ruang tamu itu kembali menjadi sangat hening. Hanya irama hujan yang jatuh dari langit yang cukup deras yang memenuhi ruangan yang juga semakin lama menjadi semakin dingin terasa.
__ADS_1