
Sejak hari pernyataan perasan Draco ke Calandra beberapa hari lalu di lobbi bioskop, keduanya kini jadi semakin tidak terpisahkan satu sama lain.
Begitu pula persahabatan empat sekawan itu, semakin hari jadi semakin lengket dan penuh canda tawa. Semakin saling memberi dukungan untuk hal-hal positif yang mereka lakukan.
Pagi ini pun, Draco dan Hakim menyambangi kelas Calandra dan Raline di lantai empat gedung, sebelum pelajaran pertama dimulai.
Raline dan Hakim asyik bercanda saling ledek, sementara Calandra dan Draco justru malah asyik ngobrol berdua, menikmati pelangi dan kupu-kupu dalam kehidupan mereka saat ini.
Kemudian Draco tiba-tiba mengeluarkan sebuah buku dari kantong celananya dan memberikan buku itu pada Calandra.
"Buat apa ini, co?" tanya Calandra saat menerima buku itu.
"Buka dulu aja Cal," balas Draco.
Calandra menuruti perintah Draco dan melihat dua lembar di awal buku itu sudah terisi penuh dengan tulisan tangan Draco.
Pelan-pelan Calandra membaca tulisan Draco itu, lalu wajahnya terasa hangat dan memerah karena malu namun di saat yang bersaman hatinya merasakan percikan kebahagia.
"Ini ceritanya surat cinta?" tanya Calandra setelah selesai membaca seluruh tulisan dari Draco.
"Ya anggap aja begitu," jawab Draco dengan wajah yang sama merahnya.
"Terus aku apain ini buku?" Calandra kembali bertanya.
"Ya kamu bales lah suratnya." jawab Draco dengan setengah malu.
"Maksudnya aku tulis juga di buku ini sebagai balesannya?"
"Iya betul. Mulai saat ini, buku ini jadi alat kita berkomunikasi. Ini buku privasi kita berdua," Draco memberi Calandra penjelasan soal buku tulis itu.
"Kamu tuh ya co, ada-ada aja idenya," sungguh Calandra kagum dengan hal-hal kreatif dari Draco, kekasihnya yang baru dia pacari beberapa minggu itu.
"Buku apaan tuh? Liat dong," Raline berusaha merebut buku yang sedang dipegang oleh Calandra namun dengan reflek yang bagus, Calandra menyembunyikannya.
"Ih apaan sih lo lin," gerutu Draco.
__ADS_1
"Kenapa? Kan gue cuma mau liat. Itu buku apaan," balas Raline yang kebingungan melihat reaksi Calandra dan Draco.
"Ngga boleh. Lo ngga boleh liat lin," balas Draco ketus.
"Apaan sih lo Draco. Kenapa jadi pelit banget lo sama gue?! Lo juga nih, malah ikutan Cal," celetuk Raline setengah marah.
"Dih ini anak, malah ketus ngomong sama gue," balas Draco ikutan semakin ketus.
"Lo duluan sih, kan gue juga jadi kesel," balas Raline masih tetap dengan nada ketus.
Di tengah perdebatan Raline dan Draco yang cukup sengit, bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Hakim dan Calandra berusaha memisahkan Raline dan Draco yang masih beradu argumen dengan sekuat tenaga, karena perdebatan Draco dan Raline terlalu sengit, seperti dua ekor kucing yang berebut daerah kekuasaan.
Setelah merasa tidak bisa menghentikan Draco dan Raline dari mempertahankan argumen masing-masing, akhirnya Hakim menarik paksa tubuh Draco menjauh dari kelas Raline, menuruni tangga untuk sampai ke lantai dimana kelas mereka berada.
Begitu juga dengan Calandra yang menarik Raline masuk ke dalam kelas mereka dengan sekuat tenaga yang dia miliki.
"Ih lepasin gue!" teriak Raline.
Mendengar itu, Calandra langsung melepaskan tangannya dari pinggang Raline.
"Kenapa misahin gue dari Draco sih?"
"Gue lagi seru-serunya berantem sama dia, malah lo tarik gue masuk kelas." gerutu Raline merasa tidak terima dengan tindakan Calandra.
"Lo ngga denger, itu bel masuk kelas udah bunyi?" tanya Calandra berusaha menyadarkan Raline.
"Iya. Gue denger kok." jawab Raline masih dengan nada ketus.
"Kalau lo udah denger, tahu dong kenapa gue narik lo ke dalam kelas?!"
Setelah Calandra menenangkan Raline, kedua sahabat itu berjalan menuju meja mereka yang tak jauh dari pintu masuk kelas.
Daan ketika keduanya sudah duduk di kursi mereka masing-masing, Calandra memasukan buku cinta yang diberikan Draco tadi ke dalam tas miliknya.
"Itu apaan sih Cal?" Raline masih penasaran.
__ADS_1
"Bukan apa-apa lin," jawab Calandra pelan.
"Bukan apa-apa gimana? Kalau bener bukan hal yang penting kenapa kok Draco kayak yang panik banget pas gue mau lihat? Gue ngga boleh banget lihat"
"Mana gue tahu." jawab Calandra seolah tak perduli.
"Lo pasti tahu lah. Ngga asyik banget sih kalian. Sekarang kalian mulai rahasia-rahasiaan sama gue. Padahal gue yang juga bantu kalian jadian," gerutu Raline sambilo membuang muka.
Calandra berhenti sebentar melihat ke arah Raline sambil berpikir dengan seksama apakah dia boleh memberi tahu Raline perihal buku yang diberikan Draco tadi namun lalu dia berkata, "Emang lo beneran pengen tahu banget ini buku apaan lin?"
Dengan mata berbinar layaknya kucing yang akan diajak bermain pemiliknya, Raline menjawab, "Iya gue pengen tahu bangeeeettt."
Calandra akhirnya mengambil kembali buku yang tadi sudah dia masukan ke dalam tas sekolahnya, meletakannya dia tas meja mereka. Lalu Calandra melirik Raline dan berkata, “ Buku ini Draco kasih ke gue kayak semacam buku harian kita berdua. Di dalam situ ada tulisan tangan Draco yang dia tulis buat gue, nah nanti gue harus nulis balasan buat dia baca.“
“Semacam balas-balasan surat cinta?“
“Iya, semacam kayak gitu mungkin deh,” jawab Calandra yang juga tidak terlalu yakin.
“Ih si Draco kreatif banget, mana sweet pula,” tukas Raline.
“Mungkin ini semacem kebiasaan buat si Draco waktu dia pacaran sama barisan para mantan dia dulu,” ucap Calandra berspekulasi.
“Setahu gue sih ya Cal, si Draco ngga pernah bikin gini-ginian sama orang-orang yang udah jadi mantannya,” sambut Raline berusaha menenangkan Calandra dan menyelamatkan Draco daalam waktu yang bersamaan.
“Mana lo tahu lin,” Calandra sangsi.
Raline menarik wajah Calandra sedekat mungkin pada wajahnya dengan kedua telapak tangan, “Mungkin lo lupa ya, makanya gue ingetin lagi ke lo, Cal. Gue, Draco dan Hakim udah berteman dari kecil. Apa yang Draco dan Hakim lakuin, rasain, laluin pasti gue tahu. Begitu juga sebaliknya. Gue jamin itu“
Calandra yang mendengar perkataan Raline terdiam berusaha menepiskan yang ada di dalam pikiranya dan berusaha untuk mempercayai Raline.
“Nanti, kapan-kapan gue baca ya itu buku,” ujar Raline tersenyum lebar setelah melepaskan Calandra.
“Ih apaan sih. Ngga mau gue, Nanti Draco marah sama gue,” balas Calandra sambil mengambil buku yang masih tergeletak di atas meja itu dengan cepat dan mendekapnya.
“Ih amit-amit banget, sumpah. ngga lo, ngga Draco sama pelitnya,” ledek Raline.
__ADS_1
“Biarin, weee…” balas Calandra sambil menjulurkan lidahnya.
Setelah itu, kedua teman sebangku itu tertawa terbahak menyadari kekonyolan diri mereka masing-masing