
"Ini anak ngga dateng lagi Cal?" tanya Raline sambil melirik meja di sebelah meja milik Calandra.
"Padahal tadi dia ada. Pas bel keluar bunyi, tahu-tahu dia hilang aja gitu," jawab Calandra setelah menghela nafasnya yang panjang.
"Gue kemarin udah ketemu sama temen SMP yang bakal bisa ketemuin lo sama si Irma."
"Beneran?" Calandra langsung antusias.
"Iya, bener. Pas gue ceritain semua tentang lo dan Draco, dia langsung bilang mau bantu."
"Kapan gue bisa ketemu sama Irma?"
"Tenang dulu Cal. Gue sama dia lagi ngatur dan rencanain dulu buat kalian berdua ketemu. Tapi masih belum pasti kapannya."
Mendadak ekspresi wajah Calandra berubah kembali. Antusias di wajahnya sirna begitu saja.
"Semoga aja hari ini kalian bisa ketemu ya Cal," ujar Raline sambil menggenggam tangan Calandra.
Saat Calandra dan Raline sedang berbicara, tiba-tiba Draco masuk ke dalam kelas. Yang awalnya mereka pikir Draco sudah pergi justru kaget mendapati kehadiran Draco di kelas itu.
"Kenapa? Kalian lagi ngeliat setan?" ujar Draco membuat keduanya tersentak.
"Tumben lo ikut pengayaan co," celetuk Raline.
"Emang ngga boleh?" balas Draco ketus.
"Ngga ada yang bilang ngga boleh, Raline bilang tumben," timpal Calandra.
"Lagi pengen aja. Aku ngga ikut pengayaan salah, ikut pengayaan juga salah kayaknya."
Draco langsung menduduki kursinya dan meletakan kepalanya di atas tas yang dia letakan di meja.
Hakim yang baru saja melangkahkan satu kakinya ke dalam kelas Calandra untuk menemui Raline dan Calandra namun dia urungkan niatnya karena dia melihat Draco yang ada di mejanya.
Raline menyadari kedatangan Hakim dan tahu benar alasan Hakim bersikap seperti itu akhirnya memilih untuk keluar dan menemui Hakim di luar kelas.
"Gue balik ke kelas dulu ya Cal," ujar Raline.
"Kan belom mulai juga kelasnya lin."
"Gue lupa, gue dapet tugas dari pak Tri kemarin, belum gue kerjain. Gue balik ya."
Setelah Raline keluar dari kelas itu, Calandra berusaha untuk berbicara dengan Draco yang nampak sekali tak antusian untuk ikut kelas pengayaan kali ini.
"Makasih ya co, hari ini kamu udah mau ikut pengayaan," ujar Calandra.
"Hem..."
"Kamu bawa buku? Ini aku ada buku buat kamu nulis," Calandra menawarkan.
__ADS_1
"Tenang aja, aku bawa kok," balas Draco tanpa merubah posisi tubuhnya.
Karena buku tulis yang ditawarkannya ditolak oleh Draco, Calandra memasukan kembali buku itu ke dalam tasnya.
Ketika itu mata Calandra melirik ke sebuah buku yang telah lama tak dia sentuh, buku harian milik dia dan Draco dengan sampul beegambar beruang teddy yang memegang sebuah hati besar berwarna merah.
Calandra mengambil buku itu dan membaca isinya, mulai dari halaman pertama. Senyumnya berkembang sempurna, membaca tulisan yang dibuat oleh Draco untuk dirinya. Halaman itu bertuliskan tanggal tujuh maret, satu bulan yang lalu dan hingga kini, buku itu belum juga disentuh lagi baik oleh dia maupun Draco.
Sudah habis enam lembar Calandra membaca buku harian itu ketika akhirnya teman-temannya setengah berlari masuk ke dalam kelas dan diikuti oleh bu Devi, tanda mereka akan segera memulai program pengayaan di hari itu.
"Alhamdulillah hari ini Draco hadir ya nak," ujar bu Devi saat melihat Draco yang masih meletakan kepalanya di atas meja.
Dengan malas Draco mengangkat kepalanya dan membetulkan posisi duduknya dan berkata singkat, "Iya, bu."
"Oke. Kita mulai ya pengayaan kita hari ini anak-anak."
Lalu semua pun langsung fokus kepada kegiatan pengayaan mereka.
*****
Semua siswa berhamburan keluar kelas ketika bel kembali berbunyi. Pengayaan sepanjang dua jam cukup menguras energi mereka dan tentu saja suara bel itu adalah hal yang mampu membuat senyum mereka kembali berkembang.
"Draco, anterin gue dong," Raline langsung menarik tangan Draco saat dia baru saja keluar dari dalam kelas yang membosankan baginya.
"Mau kemana?"
"Ke tempat temen gue."
"Dia ngga bisa anter, mamanya mau ke rumah sakit."
"Mamanya sakit?" nada khawatir di suara Draco terdengar jelas.
"Bukan. Bukan mamanya yang sakit, tapi mau jenguk tantenya."
"Oh, gue pikir mama yg sakit."
"Lo mau ya anter gue," rengek Raline.
Draco dia sebentar lalu berkata, "Tapi jangan lama-lama ya. Atau gue anter aja, lo balik sendiri."
"Yang penting anterin gue dulu, lagian emang lo ngg tahu?"
"Tahu apaan?"
"Tuh kan, gue udah mikir kalau lo emang ngga tahu. Ya udah pokoknya anter gue aja sekarang,;" ujar Raline.
"Terserah lo aja. Cepetan deh naik, gue masih ada urusan."
Raline merasa lega karena akhirnya Draco mau juga mengantarnya. Awalnya Raline sangsi jika Draco akan mau mengantarnya setelah apa yang terjadi belakangan ini diantara mereka.
__ADS_1
Kedua sahabat itu langsung berjalan menuju parkiran motor, sementara Hakim akhirnya menemui Calandra yang baru saja selesai melakukan diskusi untuk memecahkan sebuah soal akuntansi dengan bu Devi.
"Yuk!"
"Kemana?" tanya Calandra yang kebingungan tiba-tiba diajak pergi oleh Hakim.
"Katanya mau ketemu sama si Irma."
"Eh, gimana? Sekarang nih ketemuan sama Irmanya?"
"Iya sekarang atuh."
Calandra mulai celingak celinguk berusaha mencari, "Tapi..."
"Lo nyari si Draco? Dia udah jalan sama si Raline tadi," jawab Hakim.
"Oh ternyata Darco juga kalian ajak."
"Iya. Kata si Raline lo mau kalau kalian bertiga yang ketemu biar bisa menyelesaikan masalah ini!?" ujar Darco.
Tanpa menunggu jawaban dari Calandra, Hakim lalu menarik tangan Calandra dan membawanya ke parkiran sekolah.
"Hakim..."
"Iya?"
"Maaf," ujar Calandra dan mereka menghentikan langkah.
"Kenapa lo minta maaf?"
"Lo masih mau susah-susah bantuin gue, padahal gara-gara gue dan Draco, lo sama Sofi malah putus."
"Ngaco. Gue sama Sofi putus ya karena jelas dia emang selingkuh. Ngga ada urusannya sama lo atau Draco, cuma jalannya aja."
"Makasih banyak ya kim."
"Sama-sama. Hayu, jangan lama-lama kasihan si Raline di sana sendirian dan rencana kita keburu katahuan dan si Draco keburu ngabur lagi," ujar Hakim.
Mendengar itu, Calandra pun langsung naik ke atas motor milik Hakim.
"Hayu," ujar Calandra.
"Ngapain lo di situ?" tanya Hakim.
"Lah gimana sih lo? katanya mau anter gue ketemuan sama Irma."
"Iya, gue pasti anter lo Cal tapi yang bener atuh, lo kan tahu kalo motor gue harus di sela, kalau lo udah nangkring di situ, beban gue makin bertambah berat atuh buat nyelanya."
"Oh iya lupa. Maaf ya kim," ujar Calandra sabil nyengir dan turun dari motor milik Hakim.
__ADS_1
"Dasar lo," balas Hakim sambil menggelengkan kepalanya dan mulai menyela motor, berusaha menyalakan motornya.