
Sejak malam itu, Calandra telah memutuskan menjadi oranga yang tak baik. Dia memlih bersama Birawa walau dia tahu bahwa dia masih menjalin hubungan dengan Draco.
Calandra kini pun hampir tak pernah beeangkat dan pulang bersama Draco seperti hari-hari mereka sebelumnya.
“Calandra selalu mencari alasan supaya dia dan Draco tak berangkat bareng. Kalau pun Draco sudah terlanjur menjemputnya, maka dia harus memutar otak berusaha menemukan cara agar Birawa tak mengetahuinya.
Seperti siang ini, Draco sudah memarkir motonya di lahan parkir kampus Calandra. Kini Calandra sebisa mungkin menghilang dari kampus tanpa diketahui oleh Birawa.
“Kak tiba-tiba udah di sini?“ tanya Calandra begitu dia bertemu Draco.
“Kalau aku bolang mau jemput kamu pasti bilang jangan. Ada aja alasannya,” jawab Draco.
“Ya udah yuk pulang,” ujar Calandra berusaha agar mereka secepatnya keluar dari lingkungan kampus.
“Ada yang mau aku omomgin dulu sama kamu Cal.“
“Iya ngomongnya sambil jalan aja.“
“Kenapa ngga di sini aja?! Kampus kamu kan adem.“
“Aku kebelet pipis. Kita cari cafe atau tempat pengisian bensin. Yuk,” desak Calandra.
Melihat kekasihnya yang terlihat begitu buru-buru dan terus mendesak, akhirnya Draco mengalah juga. Dia nyalakan mesin motornya dan mearik gas motor setelah Calandra sudah naik ke atas motor.
Begitu ada kesempatan di atas motor, Calandra langsung mengirimi Birawa pesan teks berusaha mengabari agar Birawa tak mencarinya.
“Aku pulang duluan. Perut aku bermasalah. Kamu nanti langsung pulang aja.“
Setelah mengirim pesan teks itu, Calabdra langsung mematiakan suara di ponselnya agar Draco tak merasa curiga.
“Di depan itu ada SPBU. Mau pipis di situ?“ Draco menawarkan.
__ADS_1
“Pipis? Oh… ngga, ngga jadi. Kita langsung pulang aja ya.“
Namun bukannya langsung pulang, Draco justru membelokkan motornya dan berhenti di sebuah restoran cepat saji.
“Ngapain kita ke sini co?“ tnaya Calandra.
“Kan tadi aku bilang, aku mau ngomong sama kamu.“
Mendengar perkataan dari Dcato itu, jantung Calandra yang sudah tenang kembali berdetak kencang. Wajahnya memerah terasa hangat.
Dengan lembut Draco menuntun Calandra dan mereka duduk di bagian depan restauran itu. Saat itu Calandra juga khawatir jika Birawa bisa melihatnya di sini bersama Draco.
Draco pergi meninggalkan Calandra sendiri duduk di sana. Di kesempatan itu, Calandra memeriksa ponselnya dan ternyata sudah ada lima panggilan tak terjawab dari Birawa.
Namun baru saja Calandra akan membalas telepon Birawa itu dengan sebuah pesan teks, Draco sudah keburu kembali sambil membawa tray berisi burger, minuman dan es krim kesuakaan Calandra.
Calandra langsung memasukan kembali ponselnya ke dalammtas dan berkata, “Wah makasih ya co.“
“Makan deh, sambil kita ngobrol.“
“Makan dulu Cal,” ujar Draco.
“Kalau aku makan dulu nanti es krimnya keburu cair,” ujar Calandra manja.
Draco hanya bisa menggeleng sambil tersenyum melihat kelakuan kekasihnya itu.
Di tengah aktifitas makan keduanya Draco berkata, “Kamu kok belakangan ini susah banget buat ditemuin?!“
Calandra berhenti mengigit burgernya dan berkata, “Maaf ya co. Akhir-akhir ini dosen aku banyak yang rapel SKS. Ngga tahu kenapa?“
“Emang di kelas kamu ngga ada yang protes SKS selaku di rapel gitu?“
__ADS_1
“Namanya juga mahasiswa baru co, siapa juga yang berani protes,” Calandra memberi alasan.
“Iya juga ya. Namanya juga mahasiswa baru, mana boleh banyak ngeluh.“
“Ya walaupun sebenernya anak-anak pada kesel sih. Tapi kita cuma bisa menggerutu dalam hati aja.“
“Oh…”
“Kenapa oh-nya begitu?“
“Ngga apa-apa,” jawab Draco.
“Ish, ngga apa-apa gapi nadanya begitu.“
“Mau aku terusin oh-nya?“
“Terserah.“
“Oh… aku pikir kamh lagi menyusun rencana buat membalaskan dendam ke aku. Aku pikir kamu lagi mulai selingkuh.“
Calandra kaget namun berusaha tetap terlihat santai di hadapan Draco yang kata-katanya barusan seakan telah membaca kondisi dan keadaan Calandra.
“Ngga kok co. Aku beneran lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Waktu kayak berharga banget, jadi kalau aku harus nunggu-nunggu kamu kayak aku tuh berasa kehabisan waktu.“
“Iya aku ngerti kok Cal. Tapi aku berharap kita bisa kayak dulu lagi, punya banyak waktu sama-sama.“
“Iya aku juga pengen kok,” balas Calandra berbohong.
Namun di sisi lain hatinya, dia inhin Draco tahu perselingkuhannya dengan Birawa dan merasakan rasa sakit yang sama saat Draco mengabaikannya dulu.
Saat mereka sedang menikmati makanan mereka, ponsel Calandra di dalam tas terus bergetar. Dia tahu bahwa yang menghubunginya adalah Birawa namun kalau dia jawab sekarang momentnya belum pas.
__ADS_1
Kalau sampai ketahuan sekarang, maka Draco akan segera tahu dan sakit yang akan Draco alami belum terlalu menyakitkan.
Calandra menahan diri untuk tak menghiraukan getaran yang berasal dari ponselnya itu dan dalam hati pun Calandra berkata, “Oh, ternyata ini kenikmatan berselingkuh?!“