
“Lo beneran suka sama si Calandra atau ngga sih co?“ tanya Hakim ketika keduanya selesai pengambilan nilai lari untuk bidang study olah raga dan keduanya tengah terduduk di tengah lapangan.
“Kan lo tahu kalau gue emang suka sama dia dari sejak awal kita masuk sekolah. Kenapa pake lo tanya lagi sih kim?“ Jawab Draco sambil mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan kedua telapak tangannya.
“Tapi ya, gue perhatiin kok lo dari kemarin cuma diem aja, ngga ada pergerakannya sama sekali. Padahal setahu gue biasanya lo paling cepet kalo urusan tembak menembak perempuan.” ujar Hakim yang makin hari makin geregetan dengan Draco.
“Gue juga ngga ngerti kenapa sama gue yang sekarang. Kenapa ya gue belom juga berani ngomong sama si Calandra soal perasaan gue,” timpal Draco.
“Lo belom yakin, maksudnya?“ tanya Hakim.
“Kalau pertanyaannya apa gue yakin sama dia, jawabannya gampang banget. Gue suka banget sama si Calandra. Tapi gue kayak belum berani aja buat ngomong suka sama dia buat sekarang ini.“
“Jangan-jangan ada cewek lain yang lagi lo suka juga dan sekarang ini mengalihkan perhatian lo nih,” Hakim mulai curiga.
“Ngga ada. Tapi sama Calandra kayak gue pengen mastiin diri gue sendiri dulu buat ngga akan ditolak sama si Calandra.“
“Ah lo mah ngga akan ditolak sama si Calandra, percaya deh.“
“Lo sok tahu banget kim. Walau kelihatannya si Calandra suka sama gue tapi gue kayak belum bisa meraba isi hati dia yang sesungguhnya kayak apa ke gue.” ujar Draco sambil merapikan tali sepatunya yang ternyata terlepas saat mereka selesai berlari tadi.
“Ayo, buat kalian yang sudah diambil nilai larinya boleh ambil minum di pinggir lapangan!“ ujar pak Yuda, guru olah raga mereka sambil berjalan melintasi lapangan.
Hakim membantu Draco untuk bangun dari duduknya dengan cara menarik tangan kanannya dan berkata, “Gue udah nanya sama si Raline.“
“Lo nanya apa sama si Raline?“ Draco penasaran.
“Soal perasaan si Calandra ke lo saat ini,” jawab Hakim.
“Terus, apa kata Raline soal perasaan Calandra ke gue?“ Draco semakin dibuat penasaran oleh Hakim.
“Raline bilang ke gue kalau si Calandra sebenernya udah suka juga sama lo. Tapi menurut Raline kalau si Calandra yang harus berinisiatif duluan buat bilang suka sama lo, si Calandra ngga akan mau. Biasalah, cewek. Lo pasti ngerti,” jawab Hakim menjelaskan.
“Lo yakin nih kim?“ Draco berusaha memastikan apa yang barusan dia dengar.
“Kenapa sih lo ngga pernah nanya sendiri sama di Raline co. Kalau si Raline yang ngomong ke lo, pasti lo akan lebih percaya dari pada kalau gue yang kasih tahu ke lo,” gerutu Hakim.
“Sebenarnya udah lama gue mau nanya hal ini ke si Raline,” ucap Draco.
“Terus, kenapa lo ngga nanya?“ ujar Hakim mulai sewot.
__ADS_1
“Gue belom berani aja. Gue takut jawaban si Raline juga ngga sesuai sama keinginan gue selama ini.“
“Ah lo mah emang ribet, co.“
Hakim dan Draco sedang berjalan melintasi lapangan di tengah sekolah mereka itu ketika Raline berteriak memanggil mereka dari balkon lantai empat gedung kelas mereka sementara di sebelah Raline berdiri Calandra yang tengah tersenyum manis memandangi Draco, membuat jantung Draco terasa akan loncat keluar dari tempatnya.
Hakim yang konyol melambai ke arah Raline dan tubuhnya ikut bergerak mengikuti gerakan tangannya seperti gerakan boneka angin pemanggil para pembeli. Tingkah Hakim itu membuat Draco merasa malu tapi Raline justru merasa terhibur dan terbahak.
Draco berusaha sebisa mungkin menahan gerakan tubuh Hakim yang membuat Draco semakin malu tapi ternyata usaha Draco sia-sia. Karena Hakim justru makin menjadi karena merasa mampu membuat Raline tertawa gembira.
“Berhenti ngga lo kim, gue malu tahu.“ gerutu Draco
“Dih, gue begini buat Raline tahu, bukan lo,” jawab Hakim sewot.
“Tapi lo lagi sama gue ini. Berhenti ngga, gue pukul nih.“
Hakim menghentikan gerakan tubuhnya yang konyol lalu dia berteriak ke arah Raline, “Gue disuruh berhenti sama si Draco.“
Draco mendorong kepala Hakim karena dia tahu bahwa Raline di atas memasang wajah tak senang dengan apa yang dilakukan olehnya.
Di atas sana, Raline mengepalkan tangan kanannya dan diacungkan ke arah Draco serta memberikan wajah kesal.
“Gue pikir lo udah ngga takut sama si Raline,” ledek Hakim dan tertawa.
“Berisik lo,” gerutu Draco.
“Tapi gue penasaran, lo lebih takut sama Raline atau Calandra sekarang ini?“ ledek Hakim.
“Eh kim, lo mau nolongin gue ngga?“ tanya Draco mendadak.
“Nolongin apa dulu nih?“ kini Hakim yang bertanya.
“Gue mau nembak si Calandra.“
Hakim yang sedang meminum air dari botol tersedak dan batuk.
“Lo beneran ngga nih?“ tanya Hakim memastikan.
“Bener. Gue pengen menyatakan perasaan gue ke Calandra.“
__ADS_1
“Lo udah yakin?“
“Kan lo sendiri yang tadi bilang kalau sebenernya si Calandra juga suka sama gue, jadi mau gue percepat aja deh pernyataan cinta gue ke dia.“
“Iya juga sih,” sahut Hakim.
“Jadi gimana, lo mau bantu gue apa ngga nih?“ tanya Draco.
“Urusan mudah itu mah,” jawab Hakim.
“Beneran ya, lo mau bantuin gue.“
“Draco, sebut kapan gue ngga bantuin lo?“ tanya Hakim.
Draco mengatuk kepalanya dan tersenyum lalu berkata, “Lo emang temen yang paling hisa gue andelin sih emang.“
“Nah lo tahu dan mengakui itu,” balas Hakim sambil nyengir.
“Nanti lo juga minta bantuan si Raline ya,” usul Draco.
“Ya udah pasti kalau itu mah. Gue kan satu paket sama si Raline.“
“Suruh Raline cari tahu, apa-apa aja yang jadi kesukaan Calandra. Mulai dari warna, bunga, idol. Pokoknya semua deh.“
Hakim berdiri dengan sikap sempurna lalu memberi hormat kepada Draco sambol berkata, “Siap pak!“
“Lagi pada ngapain kalian?“ Raline yang baru turun dari tangga gedung dan langsung berteriak.
Draco pun menyenggol kaki Hakim, memberi isyarat untuk tak membocorkan rencananya dulu kali ini karena di samping Raline ada Calandra, berdiri tegak sambil menatap kedua sahabat itu.
Hakim yang mengerti maksud isyarat yang dibrikan oleh sahabatnya itu langsung merangkul Raline sambil mengarahkannya berjalan menuju ke kantin sekolah.
“Biasa si Draco. Gue di suruh latihan mulu biar bisa masuk tentara.“
Raline yang mendengar jawaban itu kaget namun beberapa detik kemudian tertawa, "Lo? Mau jadi tentara? Wah gila sih kalo bener lo bisa jadi tentara."
"Wah... Lo ngeledek gue nih lin," balas Hakim bercanda.
Draco yang mendengar jawaban dari Hakim itu merasa lega dan yakin bahwa sahabatnya yang satu itu memang bisa dia andalkan sejak dulu hingga saat ini.
__ADS_1
Keempat orang itu pun beriringan berjalan menuju kantin sekolah karena memang bel istirahat telah berbunyi sejak beberapa menit lalu.