Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 17. Akhirnya Calandra mendapatkan keinginannya


__ADS_3

Setelah hampir dua minggu terombang ambing tanpa kelas yang bisa dimasuki, hari ini kelas tiga si SMA Angkasa Biru akhirnya mendapatkan sebuah gedung yang bisa mereka gunakan untuk kegiatan belajar mengajar.


Calandra sendiri masuk ke kelas 3IPA1 sesuai dengan dimana namanya terdaftar terakhir kali. Nia memilih jadi teman sebangku Calandra dan dengan gembira menyalami teman sebangku barunya itu.


Diantara kebahagiaan dan rasa bangga teman sekelasnya, Calandra justru masih merasa tak puas.


Sebelum berangkat sekolah, bu Tahta belum bisa memastikan keputusan persetujuan atau penolakan dari pihak sekolah tentang permintaan bu Tahta untuk mengganti jurusan Calandra.


Calandra pun berangkat sekolah hanya dengan setengah semangat. Bagaimana tidak, setelah beberapa hari merasa tenang, dua hari terakhir Calandra kembali dilanda rasa khawatir yang teramat karena belum menerima persetujuan perpindahan jurusannya.


“Lo sakit ya Cal?“ tanya Nia yang melihat Calandra tak seriang biasanya.


“Ngga. Ngga kok, gue baik-baik aja,” jawab Calandra.


“Lo yakin!?“ Nia berusaha meyakinkan.


“Emang kekihatannya gue pucet ya?“ tanya Calandra.


“Ngga sih. Tapi tumben aja lo kok ngga banyak omong. Biasanya lo kan lincah banget,” jawab Nia.


“Lagi lemes aja sih Ni, tapi gue ngga apa-apa,” Calandra berusaha membuat Nia percaya.


“Apa mau gue cariin makanan di kantin?“ Nia menawarkan diri.


“Ngga usah. Kenapa jadi repot-repot sih,” Calandra melemparkan senyum kepada Nia.


“Duh seneng banget gue akhirnya bisa sebangku sama lo, cewek paling pinter di angkatan kita. Akhirnya gue ngerasain juga gimana beruntungnya Hakim, Draco dan Raline selama ini,” binar di kedua mata Nia menunjukan bahwa dia bersungguh-sungguh dengan rasa syukur itu.


Calandra kembali tersenyum lalu berujar, “Jadi selama ini lo berpikir bahwa mereka itu beruntung!? Menurut lo apa gue ini ngga beruntung memiliki mereka sebagai sahabat?“


“Keuntungan apa coba yang lo dapet dengan berteman sama mereka? Waktu kelas satu aja, kerjaan Hakim sama Draco tuh nyontek sama gue,” celoteh Nia.


“Gimana kalau gue bilang ke lo, hubungan gue, Raline, Draco dan Hakim itu kayak simbiosis mutualisme, lo percaya?“ tanya Calandra.


“Apa yang lo dapet dari mereka?“ tanya Nia penasaran.

__ADS_1


Calandra memundurkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan sambil tersenyum tulus dia menjawab, “Persahabatan tulus tanpa embel-embel, tanpa saling memanfaatkan.“


*****


Kegiatan belajar mengajar di hari pertama ini pun akhirnya dimulai. Dan di jam pelajaran pertama, di kelas Calandra justru langsung bertemu dengan matematika. Badannya bergetar, pulpen yang dia gunakan untuk menulis pun ikut bergetar.


Calandra berusah untuk menenangkan dirinya dengan cara menarik nafas panjang serta menghembuskannya keluar berlahan.


Calandra berpikir, apakah dia bisa membuka kekurangannya ini kepada Nia? Dan apakah Nia akan bisa memahami kekurangannya itu atau justru akan menjadikan ini senjata untuk menjatuhkan dirinya.


Walau kadang Calandra menginginkan teman yang bisa membantunya keluar dari ketakutannya terhadap matematika namun di sisi lain dia tak bisa sepenuhnya memperlihatkan sisi lemahnya kepada sembarang orang.


Raline dan Hakim selama ini bukan tak pernah membantu Calandra mengerti matematika, namun ternyata memang di bawah alam sadarnya, Calandra menolak keras pelajaran yang satu ini. Bahkan bukan hanya Raline dan Draco yang gagal membuat Calandra berdamai dengan mata pelajaran ini, namun juga tiga guru matematika di SMA Angkasa Biru serta dua guru pembimbing di tempat les matematika yang pernah Calandra ikuti.


Bahkan nilai matematika di dalam raportnya selama ini diyakini Calandra adalah hasil usaha Raline dan Hakim dalam mengajarinya. Di tambah dengan kebaikan hati dari guru matematika yang selama ini mengajarnya.


Guru yang sedang mengajar di depan kelas Calandra kali ini adalah pak Tri. Guru matematika yang selalu ingin mengajar Calandra dan selalu memberi motivasi serta dengan senang hati selalu siap memberi Calandra ilmu matematika agar dia bisa sempurna di segala bidang mata pelajaran.


Pak Tri juga pernah berkata pada Calandra, “Mustahil bagi murid seperti kamu tidak bisa matematika. Saya tidak bisa percaya kalau kamu bilang mau menyerah dengan matematika. Saya akan memberi waktu saya untuk jadi pembimbing kamu.“


Pada saat setelah pak Tri mengatakan hal itu, semangat Calandra untuk mencoba memahami dan berdamai dengan matematika sempah berkobar cukup kencang, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk mengambil les khusus matematika di luar sekolah saat kelas dua kemarin.


“Pak, saya menyerah… lagi!“ ujar Calandra.


“Kamu itu pintar Cal. Saya percaya kamu pasti bisa.“


“Saya sudah mencoba sampai titik batas terbaik yang saya mampu. Tapi bapak lihat sendiri nilai yang sama miliki. Saya berusaha mengejar nilai matematika yang hanya tujuh puluh dan mengorbankan pelajaran lain yang biasanya saya dapat nilai hampir sempurna,” sungguh Calandra meras kecewa dengan dirinya sendiri, namun jika dia terus mengikuti ambisi dirinya sendiri maka kemungkinan dia akan kehilangan semuanya.


Pada akhirnya pak Tri pun mengikuti jejak Calandra dan membiarkan Calandra kembali kepada pilihan yang membuatnya senang dan nyaman.


Namun sejak saat itu pak Tri tak pernah meninggalkan Calandra. Setiap ada kesempatan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, pak Tri akan memberi bimbingan matematika kepada Calandra dan dengan senang hati Calandra akan mendengarkan dan mempelajari.


Hari ini, saat pak Tri masuk kelas dan melihat Calandra duduk di barisan kedua, senyumnya terkembang sempurna. Pak Tri merasa kini akhirnya Calandra mau memilih tetap berada di jurusan IPA. Namun yang tidak diketahui oleh pak Tri, saat ini hati Calandra diliputi rasa cenas yang teramat yang membuat tubuhnya bergetar.


Sebegitu menakutkan matematika bagi Calandra yang padahal adalah murid teladan, yang sering kali diikut sertakan oleh pihak sekolah untuk ikut kompetisi atau kejuaraanmewakili sekolah. Dan hampir tidak pernah Calandra membuat pihak sekolah kecewa. Minimal juara ketiga dalam sebuah kompetisi pasti dia raih. Namun entah mengapa matematika membuatnya tak mampu berkutik hingga kadang Calandra sendiri merasa dia sampai ke titik phobia pada matematika.

__ADS_1


Calandra melihat ke sekeliling dan memeprhatiakan teman-teman sekelasnya yang terdiri dari siswa-siswa berprestasi berkumpul, sedang larut dalam mata pelajaran matematika. Semua siswa terlihat begitu menikmati mata pelajaran ini seolah sedang menonton film romansa yang membawa penontonhya larut dalam situasi yang digambarkan. Sementara Calandra masih kebingungan dan belum juga bisa mengerti materi yang dibagikan oleh pak Tri.


“Berapa lama pelajarnya pak Tri?“ bisik Calandra pada Nia.


“Tiga jam pelajaran,” jawab Nia seolah mendapatkan hadiah yang sangat menyenangkan.


Satu jam pelajaran berarti empat puluh menit maka akan dikali dengan tiga jam pelajaran berarti lebih dari dua jam Calandra akan terjebak dalam amta pelajaran ini.


Calandra merasa seakan asam lambungnya naik ke leher membuatnya mual nqmun dia tetap berusaha menguasai dirinya sendiri.


Di tengah rasa panik yang teramat yang dirasakan oleh Calandra, pintu kelas 3 IPA 1 diketuka dari luar.


TOK!TOK! TOK!


“Masuk!“ pak Tri mempersilahkan orang yang mengetuk untuk masuk.


Terlihat bu Lilis di ambang pintu kelas 3 IPA 1 lalu berkata, “Maaf pak Tri. Saya mau jemput Calandra.“


“Mau dijemput kemana bu?“ tanya pak Tri.


“Pindah kelas sesuai permintaan orang tua dari Calandra,” jawab bu Lilis.


“Calandra jadi dipindahkan ke jurusan IPS bu?“ pak Tri terlihat sangat kaget.


Namun ternyata bukan hanya pak Tri yang sangat kaget mendengar perpindahan Calandra namun juga seisi kelas 3 IPA 1 merasa kaget. Kelas itu sempat riuh karena tak menyangka akan hal itu. Namun diantara rasa kaget yang lain, Nia adalah yang paling kecewa mendengar berita itu. Dia sudah begitu bahagia bisa bersebelahan dengan Calandra namun pada akhirnya kehilangan Calandra juga.


Calandra tak perduli dengan apa yang terjadi. Dengen kehebohan teman sekelasnya taua dengan rasa kecewa yang dialami Nia. Dia bahagia karena akan masuk ke jurusan IPS yang dia harapkan sejak pertama kaki masuk lagi sebagai siswa kelas tiga di SMA Angkasa Biru.


Calandra bangun dari duduknya ketika bu Lilis memanggilnya. Calandra berjalan melewati pak Tri yang dengan jelas memperkihatkan wajah sedihnya.


Calandra hanya bisa melihat kearah pak Tri dan berharap perminta maafnya yang tak terucap bisa sampai dan dimengerti olah pak Tri.


Bu Lilis membimbing Calandra menuju kelas barunya setelah meninggalkan kelas lamanya yang baru satu jam dia duduki. Langkah yang mereka ambil ternyata tak lebih banyak dari lima langkah hingga akhirnya bu Lilis mengetuk pintu di sebrang kelas 3 IPA 1.


“Permisi bu Devi. Saya antar siswa pindahan jurusan.“

__ADS_1


“Silahkan masuk bu Lilis,” terdengar suara bu Devi mempersilahkan.


Calandra pun masu ke dalam kelas itu dan beberapa detik kemudian seisi kelas bergemuruh. Lalu mata Calandra tertuju pada bagian paling belakang kelas, ada Draco di sana.


__ADS_2