Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 19. Draco dan Calandra membawa beban baru


__ADS_3

Sejak Calandra dan Draco berada di satu kelas yang sama, kelas 3 IP 1 itu jadi tempat nongkrong baru untuk keempat sahabat itu.


Setiap jam istirahat tiba, mereka lebih memilih untuk tetap berada di kelas itu. Biasanya mereka memilih salah satu orang untuk bergantian membelikan makanan dan minuman serta membawanya ke dalam kelas serta menikmatinya di sana sambil ngobrol ngalor ngidul, bercanda atau bahkan kadang-kadang membahas pelajaran yang salah satu diantara mereka belum mengerti.


“Nih pesenan kalian,” kali ini Raline yang kebagian membeli makanan dan minuman di kantin serta mrmbawanya sendiri ke kelas 3 IPS 1.


“Lama-lama kelas kita dikuasain sama empat orang ini nih,” celetuk salah satu siswa kelas itu.


“Ya numpang sih,” ujar Hakim.


“Kenapa ngga main aja di kelas lo. Di sini mulu,” ujarnya lagi dengan nada menyindir, namun sepertinya tak ada satu pun siswa lain yang ikut mengusik keempat sahabat itu.


“Masalahnya apa buat lo kala kita ada di sini setiap hari? Ini kelas lho, bukan rumah lo,” Hakim terpancing juga.


“Ya emang, kelas sama rumah tuh mirip-mirip lah. Kalau misal ada barang ilang di sini, apa kalian mau tanggung jawab,” ujarnya semakin sewot.


“Maaf, maaf nih ya. Ngga ada sejarahnya salah satu diantara kita berempat ini yang klepto. Tapi gue ngga tahu deh kalau lo,” celetuk Raline.

__ADS_1


“Heh Raline, jaga ya mulut lo itu,” ucapnya sambil berusaha untuk mendekati Raline. Namun dengan sigap Hakim dan Draco memblokade, berusaha melindungi Raline dari serangan siswa laki-laki itu.


“Udah sih. Di sini kan ada gue dan Calandra. Kalau emang terjadi sesuatu atau sampe terjadi ada kehilangan di kelas ini, gue sama Calandra yang bakal tanggung jawab,” ujar Draco sambil mendesak siswa itu mundur.


Melihat Draco yang menatapnya dengan kedua mata tajamnya serta nada bicara yang dingin, akhirnya siswa laki-laki itu pun mundur teratur walau jelas dia masih terus menggerutu tak jelas sambil meninggalkan kelas itu, membuat Raline jadi makin kesal dibuatnya.


“Kenapa sih dia? Kok gitu amat.“ gumam Raline.


“Ngga tahu gue juga, lin. Ngga biasanya dia kayak gitu,” jawab Calandra juga merasa keheranan.


“Udah ngga usah dipanjangin lagi. Ngga usah lo ambil pusing juga lin,” sambung draco.


Pemanggilan ke ruang BP menjadi lebih sering dari biasanya. Para guru berkali-kali mengingatkan Calandra dan Draco untuk bisa konsentrasi penuh dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.


Akhir-akhir ini bahkan Calandra merasa beberapa guru memberinya tanggung jawab lebih dalam penerimaan materi pelajaran namun dia tak pernah merasa bertambah bebannya, justru makin menikmati setiap proses dalam mengerti materi tersebut.


Namun sepertinya semua sorotan itu justru membuat Draco merasa tidak nyaman. Selama ini dia hanya perlu nilai terendah untuk bisa naik kelas tapi sejak dia dan Calandra satu kelas, standar itu dinaikan oleh para guru.

__ADS_1


“Karena kamu dan Calandra udah satu kelas, pasti proses belajar kamu akan lebih mudah bukan, co. Makanya saya, harusnya paling ngga kamu bisa lah masuk peringkat sepuluh besar di kelas,” ujar bu Lilis saat mereka bertemu di ruang BP.


“Masuk peringkat sepuluh besar bu? Di kelas yang termasuk kelas unggulan? Ibu pasti lagi bercanda nih sama saya,” ujar Draco menjawab keinginan bu Lilis.


Ya, walaupun kelas yang ditempati oleh Draco dan Calandra adalah jurusan IPS namun kelas itu adalah kelas unggulan di jurusan itu.


Mereka yang masuk kelas itu pun bukan sembarang orang tetapi juga kebanyakan adalah mereka yang sering juga masuk peringkat sepuluh besar di kelas mereka sebelumnya.


“Ya kamu belajar dong, Draco. Emang kamu ngga malu, punya pacar pintar macam Calandra tapi kamunya cuma begini aja,” tukas bu Lilis seolah meremehkan.


“Mungkin saya memang terlahir tidak pintar bu tapi mungkin ibu ingin tahu, saya tetap belajar dengan segala kemampuan saya,” jawab Draco dengan nada sesopan mungkin.


“Dengan kata lain, kamu ini menyerah sebelum berperang, Draco?“ tanya bu Lilis.


“Saya masih berperang kok bu. Saya belum menyerah sama sekali, kita lihat nanti hasil perjuangan saya ya bu,” balas Draco dengan tersenyum.


Calandra yang melihat beberapa kali kekasihnya itu terus ditekan oleh beberapa guru pun menjadi tak enak hati. Dia merasa andai dia tak minta pindah jurusan mungkin Draco dan dia tidak perlu menghadapi situasi yang tidak nyaman seperti ini.

__ADS_1


Tapi selain memikirkan masalah itu, Calandra pun tetap harus terus fokus untuk berusaha mendapatkan beasiswa di salah satu universitas negri di kotanya. Sudah lama sekali dia mengincar universitas itu sebagai tujuannya selanjutnya untuk dia gapai.


Walau sebenarnya kedua orang tua Calandra sangat sanggup memasukannya ke universitas itu namun dia akan merasa jauh lebih puas jika dia bisa masuk ke universitas impiannya itu dengan kerja kerasnya sendiri melalui jalur beasiswa.


__ADS_2